Possessive Love

Possessive Love
Ngidam Dielus Mantan



"Bagaimana gue tidak kesal, ketika tahu dia ngidam ingin dielus sama lo!" Ketus Davis seraya mengangkat tubuhnya dari sandaran sofa.


Mendengar pernyataan dari David, membuat ketiga tamunya terlonjak hebat, merasa sangat terkejut. Detik itu juga Rendy langsung terkekeh menahan tawanya. Ia tampak menutup mulutnya itu dengan sebelah tangannya, sehingga membuat David seketika mendelik kesal kepadanya.


Di samping Rendy, ada Clara yang juga ikut mengulum senyumnya. Ingin sekali ia memecah tawanya detik itu juga. Namun, melihat ekspresi David yang kala itu terlihat sudah sangat berantakan, membuat wanita itu tetap diam bertahan untuk tidak tertawa.


Seketika David berdecak kesal karena pasangan kekasih itu yang terlihat jelas bahwa ekspresi mereka sedang mengejeknya. Ia tampak membuang muka, lalu memfokuskan pandangan ke arah Richard yang kala itu tengah duduk tepat satu meter di depannya.


Richard tampak tertegun beberapa saat, memandang wajah David dengan tatapan penuh tidak percaya. Seketika ia mengangkat sebelah alisnya, pertanda bahwa ia merasa sangat heran. Namun, justru membuatnya berniat menjahili sang sahabat.


"Oh ya? Begitukah?" tanyanya seraya mengerutkan dahi. "Well, dengan senang hati," imbuhnya sembari tersenyum menggoda, sontak membuat David membeliakkan mata, menatapnya tidak suka.


Richard seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dengan tidak mengakhiri senyumannya. "Akhirnya ... semesta merestui," ucapnya yang langsung mendapat lemparan bantal dari David. Namun, dengan sigap ia menangkapnya.


Bagaimana tidak? David benar-benar geram dibuatnya. Ia tidak menyangka jika ekspresi Richard akan sangat senang seperti itu. Ya, tentu saja ia senang, pikirnya.


"HAHAHAHA!!!"


Akhirnya tawa Rendy dan Clara yang sedari tadi ditahan pun, seketika memecah di ruangan itu. Mereka benar-benar sudah tak bisa lagi menahan tawa yang ingin dikeluarkannya sedari awal David memberi tahu perihal konyol itu.


Tak hanya Rendy dan Clara, Richard pun ikut tertawa bersama mereka. Mana mungkin bisa ia hanya terdiam, setelah mengetahui kekonyolan dari sang mantan kekasih. Sungguh itu sangat sulit dipercaya. Bagaimana bisa Aretha mengidam ingin dielus olehnya, itu benar-benar membuatnya sangat lucu. Bahkan, lebih lucu ketika Aretha masih menjadi kekasihnya dulu.


Ternyata dia tidak berubah, meski sudah menikah. Kasihan sekali David, pasti dia sangat frustrasi sekali malam ini.


Richard masih terkekeh sembari menatap David. Seketika ia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Ya ampun, Dave ... gue rasa lo terkena karma, deh," sindir Rendy di tengah kegiatan tawanya.


Lagi-lagi David mendelik kesal ke arah Rendy. "Sial! Maksud lo apa, ha?" geramnya.


"Wah ... ada apa nih? Tawa kalian seru sekali sepertinya, sampai terdengar ke dapur!"


Belum sempat Rendy menanggapi pertanyaan David tiba-tiba Aretha muncul dengan membawakan minuman beserta camilan yang langsung disuguhkan kepada ketiga tamunya itu.


Seketika mereka terdiam menghentikan kegiatannya. Namun, sungguh mereka berusaha keras untuk menahan itu semua, hanya karena mereka tidak ingin Aretha mengetahui bahwa mereka tengah menertawakannya, juga suaminya.


"Ya, karena suamimu kami seperti ini," ujar Rendy.


"Apa yang sudah kamu lakukan, Mas?" tanya Aretha seraya mendaratkan tubuhnya di samping David.


"Sudahlah, Sayang. Jangan dengarkan apa kata mereka," balas David sedikut memasang ekspresi kesal.


Aretha hanya memberengutkan wajahnya sejenak. Setelah itu, ia tidak ingin ambil pusing dengan hal itu. Ia justru sudah tidak sabar perutnya ingin segera dielus oleh Richard, ketika ia mendapati sosok tersebut tengah duduk satu meter di depannya.


Ya ampun ... kenapa ngidam semengerikan ini, sih? Aneh-aneh saja kamu, Nak!


Aretha tampak menundukkan kepalanya, lalu mengelus perutnya sendiri. Seketika ia merasakan gerakkan di dalam perutnya itu. Bukanlah hal yang mengejutkan baginya, karena itu sudah sering ia rasakan. Nampaknya bayi yang ada di dalam kandungannya itu tampak aktif sekali. Seketika wanita itu menerbitkan senyumannya.


Richard tampak memperhatikan kegiatan Aretha sedari tadi. Ia pun mengulas senyumnya, melihat Aretha yang tampak senang, ketika mengelus perutnya sendiri.


"Kandungan kamu sehat, Re?" Seketika suara Rendy membuat Aretha tersentak, lalu mengalihkan fokusnya.


"Alhamdulillah sehat, Kak," jawab Aretha seraya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.


"Syukurlah. Tidak ngidam yang aneh-aneh, kan?" tanya Rendy yang tentu saja punya maksud terselubung di balik pertanyaannya itu.


Aretha termangu mendapat pertanyaan semacam itu. Ia tampak bingung harus menjawab apa, karena pada kenyataanya ia memang ngidam yang aneh-aneh, terlebih lagi malam itu. Namun, ia pikir malu sekali untuk mengakuinya.


Dengan wajah sedikit memberengut, Aretha menatap sang suami yang ada di sampingnya, pun sebaliknya. David yang tahu persis ekspresi sang istri, langsung menanggapi pertanyaan Rendy saat itu juga.


"Tidak! Tidak, kok. Alhamdulillah istri gue baik, tidak ngidam yang aneh-aneh, hmm ...," jelas David sedikit ragu.


Demi tidak ingin melihat ekspresi menyeramkan sang istri, ia rela berkata bohong di depan sahabat yang jelas-jelas sudah mengetahui yang sebenarnya. Baginya, cari aman adalah salah satu jalan ninjanya agar tidak terjadi terjerat masalah kecil yang terkesan dibesar-besarkan.


"Kalaupun dia minta yang aneh-aneh, bukankah itu hal yang wajar bagi wanita hamil?" imbuhnya yang seketika membuat Aretha tersenyum bahagia, meski ia tahu bahwa suaminya itu tidak sungguhan dengan ucapannya itu, karena pada kenyataannya David sendiri merasa keberatan dengan ngidamnya Aretha kali ini.


"Sayang, nanti kalau kamu hamil, jangan ngidam yang aneh-aneh ya, baik-baiklah seperti Aretha." Rendy tampak menatap Clara yang duduk di sampingnya, sehingga membuat wanita itu seketika mengulum senyumnya.


Tentu saja Clara masih merasa lucu dengan ngidamnya Aretha. Namun, ia berhasil menahannya, terlebih ketika David melempar tatapan menusuk kepadanya dan juga Rendy.


"By the way, gue dipanggil kemari untuk apa?" tanya Richard sengaja mengulangi pertanyaan yang sudah ia ketahui jawabannya. Ia tampak memfokuskan tatapannya kepada David.


Seketika David menelan salivanya berat, lalu menatap sang istri, pun sebaliknya. Aretha pun menoleh ke arah sang suami. Tatapan mereka terkunci beberapa saat. Mereka tampak bermain kontak mata, seolah saling melempar kebingungan harus menjawab apa.


Meski Richard sudah mengetahuinya, tetapi David bingung harus menjawab apa di depan Aretha, sedangakan Aretha juga tidak mungkin mau jika mengatakannya sendiri.


"Dave? Mau apa?"


Lagi-lagi suara Richard membuat keduanya tersentak, lalu mengalihkan tatapan kepadanya.


"Hmm ... kamu saja deh, Mas," rengek Aretha memasang wajah memelas.


David menghela napas kasar, lalu menatap Richard kembali.


"Gue butuh bantuan lo," ucapnya sedikit ragu.


"Apa?" tanya Richard pura-pura tidak tahu. Ingin rasanya ia tertawa saat itu juga. Namun, ia tahan dan tetap bersikap elegan di depan Aretha.


"Ehem!" David berdeham kasar. "Aretha mengidam sesuatu dari lo," imbuhnya sedikit ketus.


Richard tampak mengangkat alisnya. Ia memasang ekspreis heran, setelah ia berpura-pura tidak tahu.


"Apa itu?" Tatapan Richard beralih kepada Aretha, sedangkan Rendy dan Clara hanya memperhatikannya tanpa berkomentar apapun. Mereka hanya mengulum senyumnya menyaksikan adegan penuh kecanggungan diantara mereka.


"Lo mau 'kan bantu elus perut istri gue?" tanya David sedikit ragu.


Richard tampak memasang ekspresi terkejut. Namun, belum sempat ia menanggapi, tiba-tiba tawa Rendy dan Clara memecah. Mereka benar-benar sudah tak bisa lagi menahannya, sontak membuat David mendelik kesal, sedangkan Aretha? Seketika wajahnya berubah seperti kepiting rebus. Nampaknya ia malu sekali, tetapi mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, dengan senang hati," ucap Richard seraya mengedipkan sebelah matanya, sontak membuat David semakin melebarkan pupil matanya. Namun, Richard tampak santai, ia hanya terkekeh.


"Maaf ya, Kak. Aku tidak ada maksud apapun, hanya saja ...."


"Aku paham, Re," ucap Richard memotong pembicaraan. "Aku sama sekali tidak merasa keberatan, kamu tenang saja," imbuhnya seraya tersenyum.


Richard paham betul bagaimana ekspresi Aretha saat itu. Maka dari itu, ia langsung berusaha membuat Aretha tidak terlalu merasa canggung di hadapannya.


"Terima kasih, Kak, atas pengertiannya," lirih Aretha.


"Baiklah, mau dimulai sekarang?" tanya Richard seraya menatap David, seolah meminta persetujuan, karena walau bagaimanapun David adalah suami dari Aretha, jadi ia harus benar-benar mendapat persetujuan dari pria itu daripada dari Aretha langsung.


"Bagaimana, Sayang?" tanya David kepada Aretha.


"Boleh, deh," singkat Aretha sedikit antusias, karena memang sudah tidak sabar sedaei tadi.


"Waduuuuh ... bakal ada adegan menegangkan, nih!" goda Rendy.


"Diam lu!" Dengan sigap David melempar wajah Rendy dengan bantal. Namun, secepat kilat pula Rendy menangkapnya.


"Baiklah, mau di mana?" tanya Richard memastikan.


"Di sini saja! Memangnya lo mau di mana, ha?" ketus David.


"Shit! Gue cuma tanya!" kesal Richard.


Perdebatan mereka tak berlanngsung begitu lama.


Aretha dan David masih duduk di tempat semula, sedangkan Richard tampak bangkit dari tempat duduknya, seraya menghampiri Aretha dan David, setelah mendapat ijin dari keduanya.


Dengan rasa ragu, Richard mendaratkan tubuhnya di samping Aretha. Sungguh, rasanya ia sangat gemetaran sekali. Ia benar-benar dibuat gugup. Bagaimana tidak? Ia aka menyentuh perut sang mantan kekasih yang tengah mengandung anak dari sahabatnya sendiri. Andai saja, janin yang ada di dalam kandungan Aretha itu adalah benihnya, mungkin ia akan merasa senang sekali.


"Jangan lama-lama!" tegas David, sebelum Ricahrd berhasil melakukan aktivitasnya.


Richard tampak melengos. Jangankan untuk menyentuh Aretha dengan waktu yang lama, untuk memulai saja, rasanya ia tidak akan berani.


Tak berlangsung lama, Richard segera melakukan kegiatannya dengan disaksikan oleh Rendy dan Clara, juga David. Dengan perasaan yang bergetar, Richard menyentuh perut Aretha. Aretha tampak melebarkan senyumnyam. Seketika David memejamkan matanya sejenak, melihat adegan yang membuat api di dalam hatinya berkobar hebat. Namun masih berusaha ia tahan.


Richard berusaha menetralkan kembali perasaannya, lalu mulai menggerakkan tangannya di atas perut Aretha, dengan gerakan memutar.


"Hai, adik bayi ... semoga kamu sehat ya di dalam sana. Nanti kalau sudah besar, menikahlah dengan om, Agar om tidak kesepian lagi."


Jleb!


Seketika David dan Aretha tampak membeliak, ketika Richard berkata seperti itu.


Dengan sigap, David segera melepaskan tangan Richard dari perut Aretha.


"Ah, sudah ... sudah!" tegas David.


"Sayang, sudah cukup, kan?" tanya David seraya menatap sang istri.


"Hmm ... sudah sepertinya, Mas," jawab Aretha.


"Belum juga selesai," ujar Richard seraya ingin menyentuh perut Aretha kembali, tetapi David segera menepisnya. Benar-benar sudah cukup baginya, melihat Aretha satu kali di sentuh oleh Richard saat itu.


Seketika gelak tawa Rendy dan Clara memecah kembali hingga pada akhirnya suasana pun mencair kembali dan tak ada yang membuat mereka terlihat canggung sama sekali.