Possessive Love

Possessive Love
Tindakan Defibrilasi



"Ada apa, Nak?" tanya Anton yang sigap mambuka pintu ruangan itu, ketika mendengar teriakan Aretha dari dalam ruangan.


"Pi, tolong mas David, Pi!" ucap Aretha masih berteriak karen terlalu panik.


Air mata wanita itu semakumin deras berjatuhan. Antara rasa sakit, panik dan takut, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Entah apa yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan suara monitor itu kembali seperti semula. Alat itu yang tiba-tiba berhenti telah membuatnya retlect untuk berpikiran negatif.


"Dokter!" teriak Anton yang juga menyadari apa yang sudah terjadi dengan David.


Pria paruh baya itu tampak berlari melewati koridor rumah sakit sembari berteriak memanggil dokter. Namun, belum jauh dari ruangan di mana David berada, seorang dokter dan dua orang perawat tampak berlari menghampirinya.


"Dokter, tolong menantu saya, saya mohon. Selamat 'kan dia!" ucap Anton memohon sembari menangis. Ia pun sudah tidak bisa membendung air matanya, karena merasa panik dan takut, seperti halnya yang dirasakan Aretha saat itu.


"Pak, tolong bersabar sebentar. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien," jawab dokter itu yang juga terlihat sedikit panik.


Tanpa berpikir panjang dokter dan kedua perawat itu segera berlari menuju ruangan tanpa menghiraukan Anton kembali, karena situasinya sangan darurat, sehingga tidak ada waktu banyak untuk mereka membahas hal itu.


dokter dan kedua perawat itu tampak memasuki ruangan yang dimaksud. Terlihat Aretha yang masih menangis histeris di dalam ruangan itu sembari memeluk tubuh David.


"Mas ... jangan tinggalkan aku, Mas!" ucap Aretha terbata.


Seketika rasa sakit bekas operasi pun menghilang, tergantikan oleh rasa panik. Baginya, melihat sang suami seperti itu lebih menyakitkan dari apapun, terlebih jika sampai David tidak bisa bertahan, lalu pergi meninggalkannya dan juga kedua bayi kembarnya. Entah apa yang akan terjadi, jika itu sampai terjadi pada dirinya.


Wanita itu tampak mengangkat tubuhnya, ketika menyadari kehadiran dokter dan dua perawat itu.


"Dokter, tolong suami saya!" ucap Aretha di tengah isak tangisnya.


"Sabar ya, Bu. Saya akan melakukan yang terbaik, berdoa saja," balas dokter itu.


Satu orang perawat tampak menyiapkan alat defibrilator, sedangakan satu orang perawat lagi berjalan menghapiri Aretha dan memintanya untuk keluar dari ruangan, meski wanita itu menolak. Namun, perawat tersebut tetap memaksa, sekadar mematuhi aturan rumah sakit.


Aretha di dorong ke luar ruangan, lalu diserahkan oleh perawat itu kepada Anton.


"Papi ...," ucapnya sembari menangis.


Anton segera berjongkok, lalu merengkuh tubuh putrinya. Ia tahu betul apa yang tengah Aretha rasakan saat itu.


"Kamu yang sabar, Nak," ucap Anton yang juga sama sedari tadi meneteskan air mata. Rasanya itu sangat berat sekali baginya. Harus melihat putri kesayangannya merasakan sakit seperti itu. Sungguh ia tidak kuat.


Namun, selemah apapun Anton, ia tetap berusaha menguatkan sang putri, meski putrinya juga tahu bahwa sang papi juga merasakan hal yang sama.


Laki-laki paruh baya itu tampak mengusap lembut punggung putrinya, sementara Aretha sudah semakin menjadi-jadi.


Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu apa yang terjadi di dalam saja. Entah apa yang sedang dilakukan oleh dokter dan perawat-perawat itu.


Tuhan, beri mas David kesempatan untuk bisa hidup normal kembali seperti biasa dna kembali berkumpul dengan keluarganya. Aku hanya berharap pada-Mu. Kumohon kabulkanlah doaku ini.


Aretha semakin mengeratkan pelukannya, lalu menangis semakin keras dan terisak. Bahkan, ia sudah tak bisa menghentikan air mata itu, walau barang sedetik pun.


Di dalam ruangan, dokter dan perawat-perawat itu melakukan defibrilasi—tindakan mengembalikan normalitas jantung pasien dengan menggunakan alat kejut jantung yang sudah tersedia di ruangan itu.


Dokter itu tampak menempelkan alat defibrilator di atas dada pasien, sehingga tubuh pria itu tampak mengejut ke atas dalam hitungan detik.


Satu kali dokter melakukan itu, hasilnya masih sama, sehingga dokter itu melakuannya berulang kali dengan bantuan salah satu perawat yang masih memantau layar monitor—melihat gambaran hasil EKG (Elektrokardiogram) pasien.


Seketika suasana di ruangan itu berubah menjadi semakin menegangkan. Dokter itu tak mau menyerah. Bahkan, ia juga sudah berusaha memompa jantung pasien dengan tangannya sendiri yang ditempelkan di dinding dada pasien dengan posisi telapak tangan yang saling bertumpuan.


***


"Pi, ada apa?" tanya Carmila yang baru saja tiba di depan ruangan ICU, setelah beberapa menita tadi Anton menghubunginya.


"Pak Anton, ada apa dengan Dave?" panik Kris yang juga baru tiba di sana dengan istrinya, setelah ia mengurus beberapa obat yang harus di tebusnya di bagian farmasi. Bahkan, obat yang belum ia dapatkan pun ditinggalkan begitu saja, karena telepon mengejutkan dari Anton.


Alih-alih memberikan jawaban, Aretha malah semakin menangis tersedu sedan. Ia benar-benar menunjukkan ekspresi sedihnya kepada mereka, seolah ingin mereka tahu bahwa David tidak sedang baik-baik saja di dalam sana.


Sebagaimana Aretha, Anton pun hanya diam menatap mereka. Seketika laki-laki paruh baya itu menurunkan tatapannya, seolah tidak kuasa harus berkata apa untuk memberi tahu kondisi David saat itu kepada kedua orangtuanya.


"Pak Anton, ada apa? Apa yang sudah terjadi? Kenapa kalian menangis seperti ini?" cecar Maria yang sudah memiliki firasat buruk akan putranya.


Lagi-lagi Aretha menanggapinya dengan tangisan. Pun dengan Anton yang hanya diam. Sementara, kedua orang tua David terus menerus bertanya apa yang sudah terjadi dengan David, sehingga dengan berat hati Anton pun menceritakan apa yang sudah terjadi kepada David.


"Tiba-tiba jantung nak David terhenti," ucapnya sedikit ragu, sontak membuat Maria tidak sadarkan diri detik itu juga. Namun, beruntung Kris segera meraih tubuhnya, sehingga sang istri tidak sampai jatuh ke lantai.


"Ma ... Ma ...." Kris tampak dibuat terkejut dengan kejadian itu. Ia langsung membawa Maria ke kursi tunggu yang berada di depan ruangan itu, lalu meluruskan kedua kaki perempuan paruh baya itu di atas kursi tunggu tersebut dan meletakkan kepala sang istri di pangkuannya.


Berbeda dengan Maria, Carmila tampak terperangah seolah tidak percaya. Mata yang sedari tadi sudah berkaca-kaca akhirnya butiran bening itu luruh membasahi pipinya seketika. Ia tampak mendekati sang putri yang masih belum berhenti menagis, lalu memeluknya dengan erat. Akhirnya sepasang ibu dan anak itu menangis sembari memeluk satu sama lain.


Di tengah kepanikannya, Kris sibuk membangunkan sang istri yang masih belum sadarkan diri. Ia tampak menepuk-nepuk pipi istrinya berulang kali dengan pelan, seolah ingin membuat wanita itu segera sadar. Namun, ternyata hasilnya nihil. Maria masih belum sadarkan diri.


Kris pun tidak ingin menyerah. Di tengah kekhawatirannya saat itu, ia butuh sekalo seseorang yang bisa menguatkan dirinya. Sungguh, meskipun ia adalah laki-laki yang lebih kuat dari istrinya, tetapi dalam kondisi seperti itu ia juga butuh sosok sang istri di belakangnya, tetapi jika sudah seperti itu, ia bisa berbuat apa?


Dalam waktu bersamaan ia diberikan kekhawatiran oleh dua orang yang sangat ia sayangi. Setitik air mata pun berhasil menetes membasahi pipinya.


"Ma, bangun!" ucapnya dengan nada berat.


"Saya akan panggilkan dokter atau perawat," ucap Anton yang sedari tadi memerhatikan rekan bisnis sekaligus besannya itu.


"Terima kasih, Pak," balas Kris seraya menatap Anton sejenak.


Anton segera berlari untuk menemui perawat ataupun dokter yang bisa membantu Maria saat itu. Meskipun ia dalam keadaan panik dan masih memikirkan kondisi menantunya, tetapi ia juga tidak tega melihat Kris dan Maria yang juga sama terpuruknya. Bahkan, mungkin mereka lebih terpuruk darinya. Jelas, karena mereka adalah orang tuanya David dan juga mertua dari putrinya. Jadi, ia tidak mungkin membiarkan mereka semakin kesulitan di tengah situasi yang memang sangat sulit dan menyakitkan.


Tak berlangsung lama, Anton sudah kembali dengan membawa dua orang perawat yang tengah berlari mendorong ranjang pasien kosong, lalu menghentikannya tepat di depan Maria dan Kris saat itu.


"Ini kenapa, Pak?" tanya salah satu perawat itu.


"Tolong istri saya, dia pingsan," jawab Kris.


"Baik, Pak."


Kris tampak mengangkat tubuh sang istri, lalu mebaringkannya di atas ranjang itu. Namun, ia sedikit bingung, entah harus mengikuti istrinya untuk melakukan pemeriksaan, atau tetap diam di tempat itu, menunggu kabar tentang David.


"Mi, bisa tolong temani bu Maria dulu?" tanya Anton kepada Carmila.


Carmila yang saat itu masih memeluk Aretha pun seketika melepaskan pelukannya. Sungguh ia tidak tega jika harus meninggalkan putrinya dalam kondisi seperti itu.


"Rere, Pi?" tanya Carmila ragu.


"Ada papi. Mami tenang saja," jawab Anton.


Akhirnya, Carmila menyetujui permintaan sang suami untuk mengikuti kedua perawat yang membawa Maria dalam keadaan masih tidak sadarkan diri.


Sedangkan, Aretha dan kedua laki-laki paruh baya itu tampak masih diam di tempat, menunggu dokter keluar dan memberi kabar tentang kondisi David, setelah menjalankan pemeriksaan di dalam sana. Mereka harap hasilnya bagus dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


Hanya selang beberapa menit, setelah Maria di bawa oleh kedua perawat itu. Tiba-tiba pintu ruangan ICU itu terbuka lebar. Muncullah seorang dokter dari dalam ruangan bersama kedua perawat yang berdiri di belakangnya. Mereka tampak berdiri di depan pintu itu, setelah seorang perawat menutup rapat pintu ruangan tersebut.


Dengah sigap, Anton dan Kris segera menghampiri dokter tersebut, sedangkan Aretha masih diam di tempat semula, karena posisinya ia paling dekat dengan dokter itu.


"Dok, bagaimana kondisi anak saya?"


"Dok, bagaimana kondisi suami saya?"


Aretha dan papa mertua tampak sangat kompak, ketika menanyakan kondisi David kepada dokter itu.