
"Lho, Den? Di sini juga?" tanya Richard kaget.
Bukan hanya Richard, melainkan Rendy juga. Mereka tampak beradu pandang sejenak, seolah menaruh kecurigaan dari keduanya. Ya, tentunya mereka tahu apa yang membuat David bertemu dengan pria itu, kalau bukan karena ada masalah. Terlebih lagi Denis sampai di panggil ke rumahnya, itu terkesan sangat serius menurut mereka.
"Seperti yang kalian lihat," jawab Denis santai.
"Silakan duduk, Kak!" titah Aretha mempersilakan kedua tamunya untuk duduk.
Richard dan Rendy pun mendaratkan tubuhnya di sofa kosong, mereka tampak duduk bersebelahan di sofa berukuran panjang.
"Kalian mau minum apa?" tanya Aretha.
"Apa saja, Re," jawab Richard.
Aretha segera berlalu ke dapur, berniat membuatkan minuman untuk kedua tamu yang baru saja datang itu. Tak lama kemudian ia telah kembali membawakan minuman itu, tanpa bantuan Ratih. Setelah selesai, ia kembali pamit undur diri dari hadapan mereka, fokus melanjutkan rencana awalnya untuk membantu kegiatan Ratih di dapur.
Sementara di ruang tamu, Richard dan Rendy masih menatap David dan Denis penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Richard tanpa berbasa-basi, sehingga membuat Denis dan David sedikit tersentak.
Ya, entah kenapa Richard merasa yakin dengan dugaannya. Ia merasa bahwa memang sedang ada sesuatu yang tidak beres menyangkut sahabatnya itu.
"Saya juga belum tahu, Mas, kenapa tiba-tiba pak David memanggil saya kemari," jawab Denis.
Richard mengalihkan pandangan ke arah David. "Ada apa, Dave?" tanyanya penasaran.
"Hebat sekali feeling lo, Bro!" puji David menanggapi.
"Haiish! Gue nanya serius!" Richard melengos sejenak.
"Ada yang tidak beres, Dave?" tanya Rendy menimpali.
"Gue tahu, lo tidak akan mungkin panggil Denis kemari, kalau bukan karena ada masalah serius," celetuk Richard.
David terdiam beberapa saat, sebelum ia menanggapi pertanyaan kedua sahabatnya, lalu menghela napas pendek. Ia sedikit tidak menyangka jika kedua sahabatnya bisa memiliki feeling sejauh itu terhadapnya.
"Ya, kalian benar. Gue memang sedang ada masalah, dan itu cukup serius, maka dari itu gue panggil Denis kemari," jawab David.
"Masalah apa?" tanya Richard dan Rendy bersamaan.
David mulai menceritakan peristiwa yang ia alami bersama istrinya belakangan ini kepada Denis dan juga kedua sahabatnya.
Pria itu menceritakan sedetail mungkin kejadian yang menimpanya, tanpa ada yang dikurangi sedikit pun.
Cukup mengejutkan bagi ketiga pria yang berada di depan matanya. Terlebih lagi Richard dan Rendy. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika David akan mengalami masalah serius seperti itu, setelah dirinya menikah dengan Aretha.
Ada hal yang membuat keduanya merasa khawatir. Walau bagaimanapun nyawa David dan Aretha terancam. Mereka tidak bisa menganggap bahwa masalah itu adalah masalah sepele. Itu cukup serius, dan harus ditangani dengan serius pula. Mereka tidak ingin hal buruk apapun terjadi kepada keduanya, baik David maupun Aretha.
"Bagaimana menurutmu, Den?" tanya David, setelah ia selesai bercerita.
Denis mendengus lembut. "Ya, sudah dapat dipastikan bahwa memang ada maksud kejahatan di balik teror-teror itu," jawabnya seraya menganggukkan kepala.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?" tanya David antusias.
"Perketat keamanan!" jawab Denis pasti.
"Apa lo tidak bisa melakukan sesuatu, untuk mengetahui siapa peneror itu?" tanya Rendy yang terlihat lebih santai dan akrab berbicara dengan Denis. Ya, memang seperti itu adanya.
"Ya, benar. Mungkin kamu bisa melacak nomor teleponnya?" timpal Richard.
"Bisa diupayakan, hanya saja tidak setiap nomor telepon bisa dilacak," jawab Denis.
"Kenapa bisa begitu?" tanya David.
"Ya ... bisa saja karena pelaku sengaja menghilangkan jejak dengan gonta-ganti nomor telepon," jelas Denis.
"Mungkin bisa kamu coba dulu," saran David.
"Boleh, Pak."
Denis tampak menyetujui perintah David. Dengan sigap David segera memanggil sang istri untuk membawakan handphonenya.
"Sayang!" teriak David dari ruang tamu yang langsung terdengar oleh telinga Aretha.
"Iya, Mas?" sahut Aretha segera menghampiri sang suami. Namun, baru beberapa langkah, David telah merespon kembali, sehingga membuatnya mengurungkan niat.
"Tolong kamu bawa handphone kamu ke sini!" titah pria itu.
"Sebentar!"
Aretha membalikkan badannya, lalu beranjak menuju kamar untuk mengambil gawai miliknya yang memang sengaja ditinggal di sana.
Hanya dalam hitungan menit, Aretha telah berhasil memberikan handphone itu kepada sang suami. Ya, hanya memberikan itu saja. Setelahnya, ia kembali ke dapur.
Denis segera meraih gawai itu dari tangan David, lalu memeriksa nomor pengirim teror pesan itu.
"Pak, apa saya boleh pinjam laptop?" tanya Denis seraya mendongak.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
David bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak ke ruang kerjanya untuk mengambil laptop.
***
Denis tampak membuka laptop itu, lalu entah apa yang ia lakukan dengan laptop dan handphone milik Aretha. Cukup lama ia mengoperasikan kedua gawai itu, sementara baik David, Richard ataupun Rendy, mereka hanya memperhatikannya, tanpa berkomentar apapun, seolah tidak ingin mengganggu konsentrasi sang agen rahasia itu.
Sesekali Denis menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang masih fokus ke layar laptop, sehingga membuat ketiganya bertanya-tanya dalam hati. Namun, masih belum ingin berkomentar, sebelum Denis yang memberikan informasi terlebih dahulu.
"Nomornya tidak bisa dilacak," ungkap Denis seraya mendongak menatap David.
"Ah, sial!!" umpat David melengos kesal.
Lalu apa yang harus mereka lakukan, jika nomor teleponnya saja tidak bisa dilacak? Bagaimana caranya Denis bisa menemukan pelaku itu? Sungguh itu membuat David geram.
"Lo yakin, Den?" tanya Rendy seolah tidak percaya. "Tidak ada cara lain, gitu?" imbuhnya.
Denis tersenyum sejenak. "Sebenarnya sih, masih ada satu cara lagi," ucapnya menyeringai.
Tak ayal membuat ketiganya begitu antusias menanggapi.
"Apa?" tanya mereka bertiga kompak sembari membulatkan matanya dengan sempurna, seolah benar-benar dibuat penasaran.
"Entah akan berhasil atau tidak, saya juga masih belum pernah mencoba," jawab Denis sedikit memberi jeda. "Saya baru tahu informasinya beberapa hari lalu, sepertinya patut dicoba, salah satu cara yang dilakukan oleh kepolisian Inggris. Katanya dengan cara ini kita akan tetap bis melacak, meski pelaku sudah gonta-ganti nomor," imbuhnya.
"Keren!" puji Rendy.
"Lalu, tunggu apa lagi?" tanya David tidak sabar.
"Sabar, Pak!" sindir Richard menanggapi.
"Shit!" kesal David.
"Ya, tidak bisa sekarang juga, Pak," jawab Denis.
"Kenapa bisa begitu?" tanya David heran.
"Saya butuh konsentrasi tinggi untuk hal yang belum saya tekuni, jadi ya ... harap bersabar," balas Denis dengan nada bercanda.
"Tapi tolong, kamu segera lakukan secepatnya! Nyawa saya dan istri saya dalam bahaya, lho!" tegas David.
"Siap, Pak!" sigap Denis. "Apa selama ini saya pernah mengecewakan?" angkuhnya.
"Ya ... ya ... ya ... kamu memang yang terbaik, maka dari itu saya selalu meminta bantuan kamu!" balas David mengakui.
"Kita lihat saja, kalau kali ini gagal, habis kamu, Den!" canda Richard.
"Haha ... Saya bukan tipikal orang yang mudah terancam, Mas, maaf," ledek Denis.
"Haiish! Memang sialan ini anak!" umpat Rendy menimpali yang seketika membuat gelak tawa mereka memecah di setiap sudut.
Pada kenyataannya mereka memang sudah mengetahui bahwa Denis bukanlah agen rahasia yang terlalu serius dalam bersikap. Ia bahkan, seringkali menanggapi ketiganya dengan candaan di tengah-tengah keseriusan mereka. Kendatipun begitu, Denis tetap menjalankan tugas dengan semestinya, sesuai apa yang diharapkan kliennya.
"Sebaiknyan Bapak pasang CCTV. Tadi saya lihat di luar tidak ada CCTV," saran Denis.
"Ya, kamu benar!" David tampak menganggukkan kepalanya, mengindahkan perkataan Denis.
"Dasar bodoh!!" umpat Richard.
"Ck! Gue sudah beli, tinggal pasang, PUAS?" kesal David yang sontak membuat Denis terkekeh.
"TELAT! Coba dipasang dari kemarin?" timpal Rendy.
"Nah, itulah bodohnya gue," ucap David menyadari.
Lagi-lagi gelak tawa memecah dari ketiganya. Akhirnya, seorang David Wijaya yang selama ini terlihat sangat adikuasa, ia menyadari akan kebodohannya sendiri, dan itu tentu membuat mereka seolah merasa menang.
"By the way, lo bisa menyadap handphone?" tanya Rendy tiba-tiba dengan nada sedikit berbisik, sementara tubuh dan kepalanya ia condongkan sedikit, mengarah kepada Denis, meski dengan jarak yang tersisa beberapa jengkal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING
TBC