Possessive Love

Possessive Love
Ganas



"Jadi, kapan rencananya?" tanya Kris.


"Mm ... itu belum kita bicarakan, Pa. Sebaiknya kita tunggu Aretha pulih dulu, baru nanti kita bicarakan lagi," jawab David, lalu menoleh sembari tersenyum kepada Aretha.


"Kalian tidak perlu khawatir. Nanti, kamu fokus saja dengan kuliahmu ya, Nak. Biar tante dan mami kamu yang urus semuanya," ucap Maria seraya menatap Aretha.


Aretha tersenyum simpul. "Iya, Tante. Terima kasih," jawabnya.


"Terima kasih, Ma," timpal David.


Akhirnya rona bahagia terpancar dari kedua keluaga itu, tak terkecuali. Mereka melanjutkan kembali perbincangan terkait rencana pernikahan itu. Terlebih lagi dua perempuan paruh baya yang terlihat heboh membicarakan seputar surat undangan, gaun pengantin dan sebagainya.


Namun, tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian Kris dan Maria izin pamit untuk pulang terlebih dahulu, sementara David masih di sana. Nampaknya pria itu masih sangat rindu dengan sang kekasih sehingga ia enggan untuk pulang, meski waktu sudah semakin sore.


"Nak David, om tinggal sebentar ya, kamu di sini saja temani Aretha," ucap Anton seraya bangkit dari tempat duduknya.


"O' ya, Om, silakan," jawab David seraya menyeringai senang. "Tidak apa-apa om ditinggal lama juga," imbuh batinnya.


"Tante juga ya, Nak, mau mandi dulu," timpal Carmila, lalu David pun mengiyakan.


Seketika fokus pria itu kembali teralihkan kepada gadis yang masih terduduk di atas kursi roda, di sampingnya. Ia menatap lekat gadis itu, lalu mengulas senyumnya.


Aretha yang menyadarinya sedikit tersipu mendapatkan tatapan itu dari David. Ia tampak membuang muka ke sembarang arah sembari menahan senyum, seolah tidak kuasa menerima tatapan yang begitu menusuk jantung sehingga membuatnya beregetar hebat.


"Kenapa membuang muka seperti itu?" tanya David masih belum mengakhiri senyumnya, seolah ingin menggoda Aretha.


"Enggak apa-apa," ucap Aretha menanggapi. Namun, tidak menoleh sedikit pun.


David semakin melebarkan senyumnya. "Kamu tahu? Aku itu suka sekali lihat ekspresi kamu seperti sekarang ini. Malu-malu, makin cantik dan menggemaskan," godanya.


Pipi Aretha memerah. Hidungnya seketikan melebar dan kembang kempis. itu menandakan bahwa gadis itu tengah merasa bahagia dan tersanjung atas pujian yang diberikan oleh David, meski ia tahu bahwa sebenarnya David hanyalah sedang menggodanya.


Gadis itu langsung memfokuskan pandangannya kepada David. "Apaan sih, Mas?" Aretha menanggapinya dengan tersenyum malu.


"Lho, memang benar, kok. Kamu tidak percaya?" tanya David masih belum puas. "Sini, aku kasih lihat," imbuhnya seraya menaikkan sedikit telepon genggamnya, lalu mengarahkan kamera handphone ke wajah Aretha, sontak membuat Aretha semakin merasa malu. Gadis itu terkekeh menahan tawa.


"Mas, apaan sih, kamu!" ucap Aretha seraya menutup wajahnya, menghindari jeperetan kamera itu. Namun, sayangnya David telah lebih dulu mengambil gambarnya.


"Tuh ... kan, lihat deh ekspresi kamu!" ucap David seraya menunjukkan hasil jepretan kameranya.


Gadis itu tampak membeliak, tatkala melihat fotonya sendiri di layar ponsel David. "Akh, Mas ... jelek banget, sshh!" umpatnya seraya memberengut. "Hapus, Mas!" titahnya.


"Jangan!" tolak David seraya menarik kembali ponselnya itu, sedikit menjauhkan dari jangkauan Aretha.


"Hapus, Mas!" rengek Aretha memaksa.


"Tidak mau!" Lagi-lagi David menolaknya. "Biarkan saja, aku suka," imbuhnya seraya tersenyum.


"Mas, hapus gak?" kesal Aretha. Namun, David masih kekeh tidak ingin menghapus foto pertama Aretha yang ia miliki. Aretha semakin memberengut. Ia tampak mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal tidak bisa mengalahkan pertahanan David.


"Tuh ... kan, apalagi kalau lagi marah begini, semakin menggemaskan!" Alih-alih menuruti keinginan Aretha, David malah semakin menggoda gadis itu sehingga membuat Aretha yang sebelumnya cemberut malah dibuatnya tertawa.


"Mas ... Mas nyebelin banget, sih!" gerutu Aretha sembari mencubit tangan David yang sontak membuat pria itu mengerang kesakitan.


"Aauuw, Sayang. Sakit tahu!" gerutu David seraya melihat tangannya yang terkena cubitan Aretha. "Lihat! Sampai memerah begini? Wah .. aku jadi semakin tidak sabar ingin menikah denganmu," imbuhnya seraya mengedipkan sebelah matanya yang sontak membuat Aretha terkejut dan keheranan.


"Apa hubungannya?" tanya Aretha seraya mengerutkan kedua alisnya, menatap penuh tanya.


"Apaan, sih? Enggak jelas kamu, Mas!" gerutu Aretha.


Drt ... drt ... drt ....


Seketika mereka menghentikan perdebatan mereka, tatkala terdengar suara getar ponsel. Fokus mereka teralihkan ke sebuah meja yang berada di hadapan mereka.


"Mas, tolong dong ambilkan HP aku!" titah Aretha seraya menunjuk telepon genggam miliknya yang terletak di atas meja.


David pun bersedia mengambilkan handphone Aretha. Namun, tangannya terhenti sejenak. Tatapannya terdiam mengamati panggilan masuk yang tertera pada layar ponsel tersebut, lalu sedikit mendongak, menatap Aretha.


"Siapa, Mas?" tanya Aretha heran. Wajahnya sedikit termangu. Namun, David tidak menanggapi. Ia segera meraih ponsel itu, lalu menempelkannya ke telinga, tanpa menghiarukan Aretha.


"Mas, siapa?" Aretha semakin dibuat penasaran. Namun, David telah lebih dulu menyapa penelepon itu.


"Hallo, selamat sore!" ucap David menyapa seseorang di seberang sana.


"Sore! Bisa bicara dengan Aretha?" suara di seberang sana kembali menyapa dan menanyakan Aretha.


"Maaf, Aretha sedang istirahat, tidak bisa diganggu!" tegas David.


"Saya hanya ingin menanyakan kondisinya saja. Apakah Aretha sudah pulang ke rumah?" tanyanya.


"Aretha sudah pulang dan kondisinya sudah lebih membaik. Anda tidak perlu khawatir, karena sudah ada orangtuanya dan saya yang akan menjaga dia," jelas David dengan nada sedikit sinis.


Aretha masih memperhatikan gelagat David sedari awal. Ia tampak bingung. Batinnya bertanya-tanya. Sebenarnya siapa yang tengah berbicara dengan David melalui saluran telepon itu?


"Lho, memangnya anda sebagai siapanya Aretha?" tanya orang itu seolah ingin tahu.


"Saya?" David terdiam sejenak. "Saya calon suaminya!" jawabnya yang tidak langsung mendapat jawaban dari si penelepon itu.


Beberapa detik kemudian, orang itu kembali membuka suaranya. "Dari kemarin bilangnya calon suami terus, kapan jadi suaminya?" ucapnya yang sontak membuat David membelalakkan mata. Namun, hanya sejenak.


David kembali menetralkan perasaannya yang sedikit terganggu oleh kata-kata si penelepon itu. "Memang apa urusannya dengan anda, Saudara Samuel?" ketusnya yang sontak membuat Aretha tertegun.


Samuel? Jadi ... yang meneleponku Samuel?


Aretha sedikit terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak merasa marah kepada David. Justru menurutnya tingkah David sangatlah lucu. Pantas saja dari awal ekspresi David sudah beda, ternyata yang menelepon itu Samuel.


"Lho, kenapa? Ada yang salah dengan ucapan saya, Bapak David Wijaya?" tanya Samuel seolah tidak ingin kalah. David sedikit termangu, lalu mengerutkan alisnya.


Dari mana dia tahu nama lengkapku? Baguslah kalau dia sudah tahu!


"Baiklah, saya rasa sudah tidak ada lagi hal penting yang ingin anda bicarakan, jadi ... saya tutup saja teleponnya. Selamat sore!"


Tut!


David segera menutup telepon itu, sebelum mendapat jawaban dari Samuel. Ekspresinya sedikit kesal. Jujur saja ia khawatir jika Samuel terus menggoda Aretha, terlebih lagi jika pria itu sering menelepon kekasihnya.


David menoleh ke arah Aretha. Gadis itu masih tampak mengulum senyum sembari menatapnya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya David penuh tanya.


___________________


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING