Possessive Love

Possessive Love
Pernikahan Rendy 2



"Re, awas!!" teriak Richard yang sedari tadi memperhatikan Aretha.


Melihat Aretha yang hilang keseimbangan, dengan reflect Richard segera menghampirinya dengan sedikit tergesa. Alhasil, ia berhasil menangkap tubuh Aretha. Tangannya tampak menyangga punggung Aretha, sehingga wanita itu tampak jatuh ke pelukannya.


Mendengar sedikit kegaduhan membuat semua mata tertuju pada mereka hanya dalam hitungan detik. Tampak beberapa orang yang memperhatikan mereka berdua.


Seketika dunia mereka seakan terhenti. Richard tampak menatap wajah Aretha yang tepat berada di bawah wajahnya, ia menatap intens manik berwarna cokelat itu, pun sebaliknya.


Aretha menatap pria yang tengah menatapnya saat itu, dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat, merasa takut dan khawatir karena nyaris terjatuh. Berbeda dengan jantung Richard yang memang selalu berdetak kencang, ketika dihadapkan dengan Aretha, meski wanita itu sudah bukan lagi kekasihnya. Tatapan mereka terkunci beberapa saat.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba suara bariton mengagetkan mereka, sehingga membuat keduanya tersentak, lalu Richard memfokuskan pandangan ke arah suara. Betapa terkejutnya pria itu, ketika mendapati David tengah berdiri di sana.


Dengan sigap, Richard langsung mengangkat tubuh Aretha berdiri tegak, lalu melepaskan wanita itu dari tangannya.


Baik Aretha maupun Richard, mereka tampak memasang wajah yang sangat sulit digambarkan, antara terkejut, merasa tidak enak hati dan khawatir, seketika semuanya bercampur aduk.


"Mas?" Aretha tampak kaget melihat sang suami yang tampak menatapnya tidak suka.


"Sorry, Dave, tadi Rere hampir saja terjatuh, maka dari itu gue langsung menolongnya," jelas Richard sedikit bergetar dan canggung.


Namun, David masih menatap nanar wajah pria itu. Tentu saja, ia tidak begitu saja percaya dengan apa yang dikatan Richard saat itu.


Dengan rasa ragu, Aretha menghampiri suamianya yang kala itu masih menatap sinis ke arah Richard.


"Apa yang dikatakan kak Richard memang benar. Aku tertabrak seseorang dan hampir saja terjatuh. Maka dari itu, Kak Richard menolongku," jelas Aretha.


"Mas, lain kali hati-hati kalau sedang berjalan," ucap Richard kepada salah satu tamu undangan laki-laki yang tidak sengaja menabrak Aretha yang kala itu masih berdiri tidak jauh dari mereka.


Laki-laki itu langsung memfokuskan pandangan kepada Aretha dan suaminya. "Maaf Mbak, saya benar-benar tidak sengaja," ucapnya dengan ekspresi menyesal.


"Tidakkah Anda tau bahwa istri saya ini sedang hamil? Kalau terjadi apa-apa dengan istri saya bagiamana, ha?" geram David seraya membeliak tajam.


Tentu saja David telah dibuatnya naik pitam, mengingat istrinya yang sedang hamil, bagaimana jika terjadi sesuatu pada istri dan bayi yang ada di dalam kandungannya itu, siapa yang akan bertanggung jawab? Itu benar-benar membuatnya merasakan rasa takut yang begitu mendalam.


Tidak hanya itu, selain ia naik pitam karena istrinya hampir saja celaka, ia juga geram dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Lagi-lagi ia melihat Richard memeluk istrinya. Ya, mungkin semua pria akan merasakan hal yang sama, ketika melihat istrinya berada di posisi itu. Sungguh adegan yang membuat David meradang dan cemburu dalam waktu sekejap, sehingga membuat mood-nya berantakan.


Namun, karena sadar bahwa itu adalah kecelakaan, David pun tidak ingin memperpanjang perihal itu, karena walau bagaimanapun Richard telah menolong istrinya, apapun alasannya, baginya keselamatan Aretha adalah hal yang paling menjadi prioritas baginya. Hanya saja, ia menyesal kenapa bukan dirinya sendiri yang melindungi sang istri, ketika peristiwa itu terjadi, kenapa harus pria lain?


"Maaf, Mas ... saya memang tidak hati-hati, saya minta maaf," ucap pria itu lagi, tak henti-hentinya ia meminta maaf. Tatapan David saat itu benar-benar membuatnya bergetar ketakutan.


"Sudahlah, Mas ... dia tidak sengaja menabrakku, tidak perlu diperpanjang, aku juga tidak apa-apa, kan?" bisik Aretha berusaha menenangkan suami.


"Tapi—"


" Sudah, Dave. Jangan sampai membuat keributan di acaranya Rendy," sela Richard memotong pembicaraan.


David hanya menghela napas kasar. "Thanks, Bro, sudah menolong Rere," ucapnya kepada Richard.


"It's okay," balas Richard santai.


Akhirnya, mereka pun mengakhiri keributan itu. David hanya bisa berlapang dada menerima maaf dari pria yang hampir menabrak istrinya.


"Tidak, Mas, kamu tenang saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawab Aretha.


Renata yang sedari awal menyaksikan kejadian tersebut, membuatnya beberapa saat terperangah melihat adegan sang kakak dan Aretha, sebagaimana yang ia tahu seperti apa hubungan antara keduanya. Adegan itu sungguh membuatnya terpaku beberapa saat. Namun, kali ini ia telah tersadar kembali, tepat ketika mereka mengakhiri semua keributan itu. Gadis itu segera menghampiri mereka.


"Re, kamu tidak apa-apa?" tanyanya cemas.


"Aku baik-baik saja, Rena," jawab Aretha.


"Syukurlah, hampir saja jantungku copot," balas Renata sedikit khawatir.


"Sayang, kamu mau minum?" tanya David.


"Iya, Mas. Rasanya aku haus sekali malam ini," jawab Aretha.


"Baiklah, ayo kita ambil minum," ajak David.


Setelah Aretha menyetujui, David segera berpamitan kepada Richard, lalu menghampiri sebuah meja prasmanan yang di sana terdapat beberapa jenis minuman dan makanan.


***


"Deasy, Tania, ya ampun ... akhirnya ketemu kalian juga di sini!" seru Aretha saat menemukan sosok kedua sahabatnya di acara tersebut.


Setelah beberapa menit ia mencari sahabatnya, akhirnya mereka dipertemukan secara tidak sengaja, ketika Aretha dan David baru saja akan mengambil minum yang tertata di atas meja.


Mereka tampak melepas rindu dengan saling berpelukan beberapa saat. Namun, sayang sekali ada yang kurang diantara mereka yaitu tidak adanya Diandra.


"Selamat malam, Mas," sapa Tania dan Deasy kepada David yang sedari tadi tampak cuek. Sudah bukan hal yang baru lagi bagi mereka melihat ekspresi dingin wajah suami sahabatnya yang satu itu.


"Malam," balas David datar.


"Eh, Diandra mana?" tanya Aretha seraya celingukan mencari sosok yang ia tanyakan keberadaannya.


"Entahlah dia kemana," jawab Deasy.


"Kita belum sempat bertemu dengannya, entah dia hadir atau tidak," timpal Tania.


"Sayang, kita duduk di sana, yuk!" sela David seraya mengajak Aretha. Tangannya tampak menunjuk salah satu kursi kosong yang berada beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Mengingat sang istri yang tengah hamil. David tidak ingin jika Aretha terus menerus berdiri.


"Boleh, Mas," jawab Aretha seraya memfokuskan pandangan ke arah meja yang dituju. "Des, Tan, kalian mau ikut?" tanyanya kepada kedua sahabatnya.


"Nanti kita nyusul deh, Re. Kasian doi soalnya lagi nunggu," jawab Tania.


"Baiklah, gue tinggal ya," pamit Aretha.


Setelah Aretha dan David berhasil mengambil minuman, mereka segera pergi ke tempat yang mereka maksud, sementara Deasy dan Tania, mereka kembali ke tempat di mana kekasih mereka tengah menunggu.