
Pengumuman kelulusan telah berlalu, sorak-sorai dan canda tawa siswa-siswi memecah di seluruh penjuru sekolah, tak terkecuali Aretha dan ketiga sahabatnya. semua terlihat berbeda dari beberapa hari yang lalu. Tidak ada lagi wajah frustasi ataupun tertekan, yang ada hanya wajah kegembiraan.
Tidak ada perayaan khusus untuk momen tersebut, baik yang sifatnya umum maupun khusus. Hanya saja, setelahnya Aretha dan ketiga sahabatnya melakukan kegiatan makan siang bersama di kantin sekolah. Itu hal biasa, ritual yang hampir setiap hari mereka lakukan. Bukankah tidak bisa dikatakan sebuah perayaan untuk sesuatu yang biasa?
Sepulangnya dari sekolah, tak banyak yang ia lakukan selain mengecek kondisi rumah yang sore itu terlihat sepi. Papinya mungkin belum pulang dari kantor. Lantas, kemana sang mami?
Gadis itu Segera bergegas menghampiri asisten rumah tangga yang mungkin ada di dapur, dengan alasan untuk mencari informasi akan keberadaan Carmila yang tak lain adalah ibu kandungnya.
Di dapur, terlihat Wati yang tengah sibuk memasak untuk makan malam keluarganya.
"Bi, Mami kemana?" Pertanyaan Aretha membuat Wati yang kala itu sedang memunggunginya sedikit terlonjak karena belum sempat menyadari akan keberadaan majikannya.
"Eh, Mbak Rere sudah pulang? Bibi jadi kaget," ucap Wati terkesiap sembari mengusap dadanya. "Ibuu lagi pergi ke acara arisan, Mbak," imbuhnya.
"Oh ...," Aretha tampak menganggukkan kepala.
"Ya sudah, Bi. Makasih ya, aku ke kamar dulu," pamit Aretha. Wati pun mengangguk. Sejenak ia menghentikan kegiatan memotong bawang, kemudian dilanjutkannya kembali, setelah Aretha berlalu dari hadapannya.
Setelah Aretha mendapatkan informasi akan keberadaan sang mami, ia segera beranjak menaiki anak tangga menuju ke kamar yang selama ini menjadi tempat favoritnya. Dimana di ruangan yang serba ungu itu ia bisa melakukan sesuatu sesukanya, selama tidak mengganggu ketentraman penghuni seisi rumah dan tetangganya.
Setelah meletakkan tas ransel yang dikenakan di belakang pintu kamar, ia segera melakukan beberapa ritual. ritual pertama yang dilakukannya adalah mandi. Seusai mandi dan berganti baju, ia meraih salah satu buku yang tertata rapi di rak buku miliknya. Aretha mendudukan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di dekat jendela kamarnya.
sebuah buku novel teens berjudul Aku Ora Popo menjadi pilihannya kala itu. Dibukanya cover buku berwarna kuning tersebut, Belum sampai satu lembar buku itu dibaca, ia kembali menghentikan kegiatannya karena merasa tidak fokus. Entah apa yang membuatnya seperti itu?
"Bahkan di hari kelulusan sekolahku pun, dia tidak datang, meski hanya sekedar untuk mengucapkan selamat." lirihnya.
Aretha tampak melamun. Ya, Richard lah yang menjadi objek dari ucapannya tersebut. Pria yang selama beberapa minggu telah membuatnya gelisah, gundah, galau dan merana.
Hubungan yang seakan digantung membuatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan, pada pertemuan terakhir di taman seminggu yang lalu, pria itu tidak memberi pesan apapun selain memintanya untuk berjanji tetap tersenyum. Setelah itu, ia seakan hilang di telan bumi, tak ada kabar berita yang menyangkut dirinya, entah pergi kemana pria itu? Mengingat hal itu, mata Aretha terlihat berkaca.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, Aretha masih mengurung diri di kamar mengingat semua kenangan bersama Richard, mengingat hari terakhirnya bersama Richard dimana mereka menghabiskan waktu seharian dengan penuh gelak tawa. Rasanya kebahagiaan itu begitu singkat untuknya.
"Aaargh!" erangnya frustasi.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang diiringi suara Wati sehingga membuat Aretha seketika tersadar.
"Mbak, ini bibi!" panggil Wati. Aretha segera beranjak dari tempat duduknya kemudian membuka pintu itu.
Ceklek!
"Iya, Bi ... ada apa?" tanya Aretha dengan masih memegang daun pintu kamarnya.
"Ini Mbak, tadi bibi lupa, ada titipan dari mas Richard," ucap Wati seraya menyodorkan kotak kecil berwarna merah muda kepada Aretha. Aretha segera meraih kotak kecil itu dari tangan Wati.
"Siapa yang ngirim, Bi?" Tanya Aretha dengan penasaran yang menggelayuti pikirannya.
"Tadi pagi, mas Richard kesini dan menitipkan ini, Mbak!" jawab Wati. Aretha seketika terdiam melihat kotak kecil yang dipegangnya.
"Ya sudah, makasih ya, Bi!" ucap Aretha.
"Iya, Mbak," jawab Wati singkat. "Kalau begitu ... saya permisi, Mbak!" pamitnya. Aretha mengiyakan kemudian menutup kembali pintu kamarnya.
"Kenapa dia menitipkan ini kepada Bibi ya? Kenapa tidak langsung menemuiku? Apakah sesibuk itu?" gerutu Aretha yang saat itu telah menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dalam posisi duduk menyila.
Aretha segera membuka kotak kecil berwarna merah muda yang dihias dengan pita berwarna merah itu. Gadis itu sempat berpikir kenapa Richard tidak memberikan langsung kepada dirinya? Namun, ia tidak mau ambil pusing akan hal itu. Kala itu ia hanya memfokuskan pikirannya kepada isi kotak itu.
Setelah kotaknya terbuka, terdapat boneka smile yang sangat mungil berwarna kuning dan sepucuk surat yang tertindih boneka itu. Sebelum mengambil dan membaca surat itu, seketika Aretha tersenyum memandang boneka smile itu. Tak lama kemudian Aretha menyimpan boneka itu di sampingnya, lalu meraih surat yang masih tersimpan di dalam kotak itu. Sepucuk surat yang di balut amplop berwarna merah muda.
Di zaman yang modern dan serba canggih seperti sekarang, itu memang terkesan kuno, tetapi entahlah mungkin Richard memiliki alasan lain sampai ia harus mengirim surat yang sebetulnya bisa dilakukan melalui tekhnologi canggih. Dengan perlahan Aretha membuka surat tersebut.
Dear Aretha,
Sayang, selamat ya. Aku senang melihat kamu telah lulus sekolah. Semoga kelak kamu menjadi orang yang sukses.
Sayang, sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terluka atau menyakiti perasaanmu. Hanya saja, posisiku saat ini memaksaku untuk mengambil keputusan yang menurutku sangat berat. Aku tidak bermaksud menyianyiakanmu atau bahkan tidak memprioritaskanmu. Namun, sebagai seorang anak, aku tidak bisa menentang kehendak orangtuaku. Mungkin setelah kamu membaca surat ini, kita tidak akan bersama kembali seperti dulu. Namun percayalah, sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu, sangat ... sangat mencintaimu!
Menerima perjodohan dari papa, bukan lantas aku sudah tidak mencintaimu. Kuharap kau mengerti posisiku saat ini. Aku tahu ini sangat menyakitkan bagimu, begitupun sebaliknya. Bahkan, lebih menyakitkan dari sebuah sayatan pisau. Untuk yang kedua kalinya aku harus merelakan kehilangan wanita yang sangat aku cintai setelah kehilangan Mama. Itu tidaklah mudah bagiku. Aku sudah berusaha untuk meyakinkan papa agar kita tetap bisa bersama. Namun, apalah dayaku? Aku hanyalah seorang yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Sayang, kamu pernah bertanya, kan, kenapa aku tidak sempat mengabarimu?
Aku memang sengaja menghindarimu, bahkan sengaja mengganti nomor ponselku. Namun percayalah, semua itu kulakukan bukan karna aku sudah tidak peduli terhadapmu, melainkan aku hanya ingin melihatmu terbiasa hidup tanpa aku. Karna percuma saja jika kita terus-terusan menjalankan hubungan ini, kalau pada akhirnya akan membuatmu terluka juga. Aku terjebak dalam situasi yang sangat sulit kuhadapi. Aku tidak tau entah ini salah atau benar. Tapi, kita harus percaya bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita. Aku yakin akan ada hikmah di balik semua yang terjadi saat ini. Bukankah setelah gelap selalu ada terang?
Sayang, lusa aku akan menikah dengan wanita pilihan papa. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku. Aku tidak berharap kamu datang di pesta pernikahanku, karna aku tahu itu akan membuatmu semakin terluka dan melihatmu terluka adalah titik terlemahku. Aku sudah lemah dan tidak ingin semakin lemah hanya karna melihatmu terluka.
Aku tidak pernah salah mencintaimu, begitupun sebaliknya. Tuhan juga tidak pernah salah mempertemukan kita, hanya saja keadaan yang belum menakdirkan kita untuk bersama selamanya.
Apa kamu tahu? Tidak sedetik pun aku mampu menghapus bayangmu dari imajinasiku. Aku memang terlalu berharap bisa hidup selamanya bersamamu. Namun, nyatanya takdir berkata lain. Aku tidak bisa mempertahankan apa yang sudah kita bangun selama dua tahun ini dan itu sangat menyakitkan, sangat sangat menyakitkan.
Mungkin ini adalah hal terkuno dan ternorak yang pernah aku lakukan selama hidupku, tapi apa kamu tahu? Aku melakukan ini semua karena aku memang tidak mempunyai keberanian mengatakan ini semua secara langsung. Aku tahu kamu pasti akan terluka dan aku tidak mau melihat itu.
Aku memang orang bodoh yang tidak bisa menepati janjiku sendiri. Disaat aku berjanji tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu, justru aku sendiri yang telah menyakitimu.
Melalui surat ini aku memberanikan diri mengungkapkan semuanya, maka dari itu, ku mohon mengertilah. Aku berharap kelak kamu akan mendapatkan orang yang lebih tepat.
Maaf untuk kata yang menyayat hati,
Maaf untuk rasa yang harus terhindari,
Maaf untuk sayang yang tak mungkin terucap kembali,
Maaf untuk kebersamaan yang harus terhenti.
Terima kasih untuk semuanya,
Terima kasih untuk selalu setia menemaniku selama dua tahun ini,
Terima kasih untuk senyum yang pernah kau ukir di wajahku,
Terima kasih untuk senyum yang selalu terukir di wajahmu,
Terima kasih telah mencintaiku.
Jika kau mencintaiku, Tersenyumlah!
Karena itulah sejatinya kebahagiaanku, dengan melihat orang yang aku cintai bahagia. Yaitu, kamu, ARETHA CHAIRANI GRISSHAM
Yang mencintaimu,
RICHARD
Air mata tak bisa terbendung lagi setelah Aretha membaca beberapa baris isi dari surat tersebut. Di tengah isak tangisnya, ia mencoba meraba kata perkata yang diucapkan Richard dalam surat tersebut. Setiap kata yang dibacanya sungguh menyakitkan, sungguh... sungguh menyakitkan. Ternyata inilah akhir dari kisah cintanya bersama Richard.
Setelah selesai membaca surat itu, Aretha mulai menbenamkan wajahnya yang bertumpu pada kaki dengan surat yang masih dalam genggaman. Disitulah dia menangis, benar-benar menangis sampai isak tangisnya terdengar keluar. Untung saja orang tuanya tidak sedang berada di rumah.
"Tuhan ... seburuk ini kah aku, sampai aku harus menerima hadiah termenyakitkan di hari kelulusanku?" lirihnya terbata.
"Jika aku tahu patah hati akan semenyakitkan ini, aku tidak akan berani untuk jatuh cinta," gumamnya kemudian.
Di tengah-tengah isak tangisnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Terdengar suara langkah kaki yang menghampirinya. Seketika gadis itu mengerjap dan langsung memeluk sosok yang berada di hadapannya dengan begitu erat tanpa menghentikan tangisnya.
Sosok itu tak lain dan tak bukan ialah Carmila, sang mami gadis itu, yang selama ini selalu menjadi penenang disaat dirinya sedang kalut.
Carmila memang telah tiba di rumah sejak Pukul 17.45. Hal pertama yang dilakukan perempuan paruh baya itu adalah menanyakan putri kesayangannya kepada Wati yang saat itu terlihat sedang membersihkan dapur seusai masak.
" Bi, apa Rere sudah pulang?" Tanya Carmila.
"Sudah dari tadi, Bu!" Jawab Wati seketika menghentikan kegiatannya menunjukkan kesopanan kepada seorang majikan.
"Sekarang dia dimana?"
"Sepulang sekolah, Mbak Rere, belum terlihat keluar kamar, Bu."
"Oh ... Baiklah, saya akan menemuinya!"
Perempuan paruh baya itu pun langsung bergegas menuju kamar anak gadisnya. Namun, ketika ia tiba di depan pintu kamar Aretha, ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar anak semata wayangnya itu.
Tersirat kecemasan dalam dirinya. Siapa yang tidak jika cemas mendengar putrinya menangis hingga sesenggukan seperti itu.
Ada apa dengan Rere? Apa telah terjadi sesuatu?
Carmila pun kembali membalikan badannya, lalu pergi ke dapur untuk menanyakan apa yang sudah terjadi pada Aretha. Wati pun menceritakan bahwa ia hanya memberikan titipan dari Richard.
Setelah menangkap apa yang disampaikan oleh asisten rumah tangganya itu, Carmila segera kembali menuju kamar Aretha. Karena pintu kamar tidak dikunci, ia membukanya secara perlahan dengan penuh kecemasan. Setelah berada di dalam kamar, ia melihat putriya tengah menangis sesenggukan. Dengan tatapan memelas, Carmila pun menghampirinya.
"Sayang, kamu kenapa, Nak? Ayo cerita sama mami!" lirih Carmila. Namun, Aretha hanya memeluknya erat tanpa menghentikan tangisnya.
"Apa ini karna Richard?" tanya Carmila, setelah ia melihat kotak hadiah dan boneka smile yang tergeletak tak berdaya di samping Aretha. Pandangannya ia alihkan ke sebuah pucuk surat yang masih dalam genggaman gadis itu. Aretha menganggukkan kepala sembari tetap menangis.
"Sayang, mami tahu ini sangat menyakitkan, tetapi kamu juga harus sadar bahwa mencintai itu tidak harus memiliki. Adakalanya kita harus merelakan orang yang kita cintai demi kebahagiaan orang lain," ucap Carmila sembari mengusap punggung Aretha mencoba menenangkan.
"Mami tahu betul kalau Richard sangat menyayangimu. Jadi, kamu tidak perlu sampai seperti ini, Nak. Karena mami yakin jika Richard tahu kamu menangis seperti ini, pasti dia akan merasa terluka," tuturnya seolah mengingatkan akan ucapan Richard. Aretha mendongakan kepalanya.
"Ma-mami **-**- tau dari mana?" tanya Aretha terbata-bata dengan suara yang sedikit serak akibat menangis.
Carmila tersenyum sembari menyingkap sebagian rambut Aretha yang sedikit amburadul dan menutupi sebagian wajahnya.
"Mami tahu, karena letak kebahagiaan seseorang itu, ketika melihat orang yang dicintainya tersenyum bahagia dan mami yakin Richard akan bahagia jika dia melihatmu tersenyum, sayang. Karena dia mencintaimu." Jelas Carmila panjang lebar.
"Menangis boleh, tapi sewajarnya aja, jangan terlalu berlebihan!" lanjutnya.
Aretha pun menyadari setiap ucapan Carmila. Ia juga sadar bahwa ia ingin melihat Richard bahagia dengan siapapun kelak ia akan hidup. Karena ia sangat menyayanginya dan tidak ingin melihat orang yang dicintainya seperti Richard, tidak hidup bahagia.
"Tapi, apa dia akan bahagia menikah dengan keterpaksaan seperti ini?" tanya Aretha. Carmila kembali tersenyum mendengar pertanyaan dari anak gadisnya itu. Nampak kekhawatiran di wajah Aretha.
"Sayang, Richard itu orang yang baik. Dan Tuhan selalu mempersiapkan jodoh terbaik untuk orang yang baik seperti Richard. Kamu jangan terlalu mencemaskannya. Kita doakan saja semoga Richard selalu diberikan kebahagiaan," jelas Carmila, Aretha hanya menganggukkan kepalanya.
"Sudah jangan menangis lagi, nanti cantiknya hilang!" ledek Carmila kemudian sembari mengusap air mata yang berjatuhan membasahi pipi Aretha.
Memang tidak semudah itu menghapuskan rasa sakit yang ada dihatinya. Walau bagaimanapun Aretha sudah terlanjur terluka dengan semua itu. Namun, ia juga tidak ingin jika terlalu larut dalam kesedihan. Mungkin hal terberat yang akan ia hadapi setelahnya adalah melupakan sosok Richard, yang tak lain adalah cinta pertama Aretha. Aretha ingat bahwa ia harus menepati janjinya kepada Richard. Apapun yang terjadi, ia akan selalu tersenyum.
Setelah Aretha terlihat sedikit tenang, Carmila pun meninggalkannya sendiri di kamar. Rasa khawatirnya sebagai seorang ibu sudah sedikit berkurang melihat anak gadisnya telah berhenti dari kegiatan menangisnya.
Aretha terlihat sedang memandangi boneka smile yang di berikan oleh Richard untuknya, kemudian Aretha tersenyum layaknya boneka tersebut.
"Aku janji, aku akan tersenyum untukmu, kak Richard. Meskipun sekarang kita tidak lagi bisa bersama seperti dulu. Tapi, jika melihatku tersenyum adalah kebahagiaan untukmu, aku rela melakukannya setiap waktu," lirihnya sembari menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipinya.
Hai Readers...
Aku bikin chapter ini sampe begadang lho... dua malam. nyari inspirasi untuk bikin surat itu ternyata susah juga. pengalaman pertama yang tak pernah aku lakukan sepanjang perjalanan hidupku 😂🤣
so, jika berkenan tolong berikan karya author ...,
1. LIKE
2. COMMENT (Kritik & Saran)
3. RATE 5 STAR
4. VOTE seiklhlasnya.
No. 2 yang paling ditunggu!
Chapter ini jumlah katanya 2304 lho .. jadi, jangan lupa LIKE-nya ya, Insya Allah gak bakal bikin jempol kalian kriting kok... 😂🤣🤣
ditunggu krisannya ya...
THANK YOU 😘😘😘
HAPPY READING.......!!