
"Dara? Kamu di sini juga rupanya?" tanya David tersenyum, ketika mendapati Dara, wanita yang tak lain adalah teman sewaktu SMA-nya dulu.
Aretha yang berdiri di samping David tampak memperhatikan ekspresi suaminya saat itu yang terlihat tersenyum ramah.
"Iya, aku baru saja tiba," jawab Dara tersenyum simpul. "Kamu baru datang juga?" tanyanya kemudian.
"Sebenarnya kami dari kemarin menginap di villa, cuma memang baru sempat ke sini," jelas David.
"Ehem!" Aretha berdeham dengan pandangan yang fokus ke sembarang arah.
Tentu saja itu menyadarkan David yang tampak asyik bernostalgia dengan teman lamanya. Pria itu langsung menoleh kepada Aretha.
"Oh iya, kenalkan ini istriku," ucap David kepada Dara. "Sayang, kenalkan Dara teman sekolahku dulu," imbuhnya kepada sang istri.
Aretha tampak tersenyum, pun dengan Dara. Namun, entah kenapa senyuman Dara seolah terlihat sedikit dipaksakan. Mereka tampak saling menjabat tangan, memperkenalkan diri masing-masing.
"Aretha," ucap Aretha.
"Dara," balas Dara.
Ternyata Dave beneran sudah menikah. Cantik sekali istrinya.
Mereka melepaskan kembali tangan mereka, setelah sama-sama menyebutkan namanya.
Berbeda dengan Aretha, yang lainnya tampak tidak begitu peduli dengan kehadiran Dara di sana, setelah melihat sosok tersebut. Selain tidak penting, mereka juga tidak mengenal sosok itu.
Mereka malah menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Deasy dan Tania terlihat sedang bercanda dengan kekasih mereka masing-masing sembari selfie. Sementara, Richard sedang mengobrol dengan Rendy dan kekasihnya, juga Renata, meski sesekali ia melirik ke arah dimana David dan Aretha berada.
Lain lagi dengan mereka, Samuel dan Diandra malah sibuk dengan gawai masing-masing. Entah apa yang menarik dari handphone cerdas miliknya itu, sehingga membuat mereka terlihat sangat fokus.
"Kamu sendirian saja?" tanya David kepada Dara. Ia tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah, barangkali ada orang lain yang menemani wanita itu.
"Tidak, aku sama teman-temanku, cuma sepertinya mereka masih di jalan, mungkin aku akan menunggunya sebentar lagi," terang Dara.
"Oh ... baiklah, kalau begitu, aku permisi duluan," ujar David pamit.
"Oh iya, silakan!" balas Dara tak masalah.
David dan Aretha langsung beranjak dari tempat itu, lalu mengajak yang lainnya untuk langsung turun ke pantai.
Mereka sudah menginjakkan kaki mereka di hamparan pasir putih yang cukup luas. Mereka tampak menyebar, mencari tempat yang menurut mereka nyaman. Setelah beberapa saat, Rendy dan Richard menghampiri David, rupanya mereka ingin mengajak David untuk berselancar.
"Dave, surfing yuk!" ajak Rendy.
"Boleh," jawab David tanpa berpikir panjang.
Mereka tampak menyiapkan alatnya, lalu langsung turun ke laut, setelah semuanya siap. Mereka tampak menunjukkan aksi mereka yang mengagumkan, melewati ombak yang pasang surut. Tak lama, Samuel mengikuti aksi mereka. Ternyata, mereka juga memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyukai olahraga surfing.
Sementara yang lainnya tampak duduk di atas hamparan pasir putih, sembari menyaksikan aksi ke empat pria itu. Deru ombak terdengar lirih di telingan mereka bersamaan dengan dersik angin yang bertiup sepoi-sepoi begitu menyejukkan, juga menenangkan. Namun, sesekali ombak itu terdengar sangat bergemuruh nyaring di telinga mereka.
Melihat aksi ke empat pria itu yang menurut mereka menegangkan, sesekali membuat mereka menjerit histeris ketakutan. Namun, terkadang mereka juga heboh mengagumi keahlihan mereka.
"Huh, awesome, Maaaas!" teriak Aretha, ketika David melakukan aksi menakjubkan di atas gulungan ombak.
"Kak Richard, ayo!!" teriak Renata tak mau kalah, ketika Richard juga melakukan hal yang sama menakjubkannya seperti yang dilakukan oleh David.
"Beb, aku di sini untukmu, love you!" Clara yang juga antusias tampak meneriaki Rendy, lalu menautkan kedua jari-jari tangannya membentuk hati.
Lain halnya dengan mereka, Diandra hanya diam, tak melakukan apapun. Dalam hati, ingin sekali ia memberikan semangat kepada Samuel, tetapi rasanya itu sama sekali tidak mungkin, mengingat pria itu bukanlah siapa-siapa baginya.
Ketika keempat waniita itu tengah sibuk melihat pertunjukkan yang cukup ekstrim, Deasy dan Ferdy malah sibuk berfoto, dengan dibantu oleh Alan, kekasih Tania. Mereka tampak bergantian melakukan itu.
"Oke, sekarang fotoin aku sama Alan ya," pinta Tania kepada Ferdy dan Deasy.
Sepasang kekasih itu pun menuruti permintaan Tania. Tania dan Alan langsung berfose, dengan latar belakang laut.
***
Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu untuk berselancar. Setelah merasa lelah, akhirnya mereka mengakhiri kegiatan mereka, lalu menghampiri kembali wanita yang sudah menunggunya.
"Kamu lelah, Beb?" tanya Clara kepada Rendy.
"Lumayan, Sayang," jawab Rendy seraya tersenyum manis. "Kamu nggak kepanasan menungguku di sini?" tanyanya seraya menatap intens sang kekasih.
"Panas sih, tapi demi kamu, apa sih yang nggak," jawab Clara.
"Mm ... sweet banget sih," ucap Rendy seraya menarik hidung mancung wanita itu, sehingga membuat Clara merintih kesakitan.
"Lebay!" sindir Richard yang baru saja melewati mereka bersama Renata.
Rendy tampak menatap Richard yang kala itu tidak menghentikan langkahnya.
"Move on, Bro!" sindirnya. Namun, Richard tak menghiraukan. Beruntung Aretha dan David tidak mendengarnya.
Richard dan Renata terus berjalan. Entah mereka mau kemana. Renata tampak merangkulkan tangannya di lengan sang kakak.
"Kak, kita cari makan, ya," ucap Renata seraya menoleh ke arah sang kakak.
"Boleh, kamu mau makan apa?" tanya Richard.
"Apa saja," jawabnya.
Namun, seketika langkah Renata terhenti, ketika mendapati Samuel di depannya, yang terlihat sedang memperhatikannya dengan Richard.
Dengan reflect, Renata langsung melepaskan tangannya dari lengan Richard, sontak membuat pria itu terhenti dan merasa curiga, sebenarnya ada apa antara Samuel dan adiknya itu? Batinnya bertanya.
Richard tampak mengangkat sebelah alisnya, menatap mereka berdua, bergantian.
"Sam," lirih Renata terlihat gugup. Namun, Samuel tidak menanggapi.
Renata memutuskan kembali untuk mengajak sang kakak untuk pergi dari hadapan Samuel.
"Yuk!" ajaknya tanpa merangkul tangan sang kakak.
Richard tak berkomentar apapun, ia hanya mengikuti langkah adiknya, dengan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Dek, kamu mau makan apa?" tanya Richard.
Renata berpikir sejenak. "Mm ... seafood," jawabnya.
"Baiklah, nanti kita ke sana," ajak Richard seraya menunjuk salah satu restoran yang berada di kawasan itu. "Tapi, kakak mau ganti pakaian dulu," imbuhnya.
***
Richard dan Renata langsung menghampiri salah satu restoran yang tak jauh dari pantai itu, setelah Richard berganti pakaian.
Restoran bernuansa alam dengan taman di depannya, juga bangunannya yang terbuka, sehingga siapapun pengunjungnya bisa menikmati hidangan yang diinginkan, sembari melihat pemandangan pantai dan laut yang begitu indah.
Setelah mereka tiba di sana, ternyata yang lain juga sudah sibuk dengan kegiatan makan siang yang sempat terlewatkan. Namun, tidak dengan David dan Aretha, juga Samuel dan Diandra, sepertinya mereka masih berada di pantai.
Mereka tampak duduk di kursi yang berbeda-beda, pun dengan Deasy dan Tania yang memutuskan untuk duduk terpisah.
"Kamu mau makan apa?" tanya Richard seraya mendongak, menatap sang adik.
"Kepiting saus tiram," jawab Renata.
"Ada lagi?" Richard tampak memastikan. Sebab, ia tahu betul bahwa sang adik sangat menyukai olahan seafood.
"Mm ... cumi asam manis, kerang dara saus padang dan lobster bakar." Renata tampak mengabsen satu-persatu makanan yang ia inginkan, sontak membuat Richard termangu.
"Banyak sekali?" protes Richard tak percaya.
Sebagai seafoodholic, Renata memang selalu memanfaatkan kesempatan selagi ia bisa memakan olahan seafood dengan bebas. Namun, menurut Richard itu sangatlah berlebihan untuk perutnya yang sangat mungil.
Renata tampak memberengut, ketika mendapat protes dari sang kakak. "Tapi aku mau semuanya," rengeknya memasang wajah memelas, sontak membuat sang kakak selalu merasa tidak tega.
"Siapa yang mau makan?" tanya Richard.
Ia tahu betul bahwa Renata tidak mungkin makan sebanyak itu. Lalu, untuk apa dipesan, kalau nantinya malah tidak dimakan? Pikirnya.
"Aku," jawab Renata yakin.
"Baiklah, terserah!" balas Richard masa bodoh. Ia juga tidak akan bisa mencegah sang adik dalam hal itu, meski ia sudah dapat memastikan bahwa Renata tidak akan mungkin menghabiskan itu semua sendirian.
"Salmon bakarnya satu," ucapnya kepada seorang waiter berjenis kelamin perempuan.
Waiter itu tampak menuliskan pesanan Renata dan Richard pada buku nota kecil yang ia bawa.
"Minumnya mau apa?" tanya waiter itu, setelah ia mencatat semua pesanan makanan mereka berdua.
"Es kelapa muda dua," jawab Richard.
Richard dan Renata tampak menunggu beberapa saat. Di tengah-tengah kegiatan mereka yang hanya menunggu, mereka mengisi dengan perbincangan santai.
"Dek, kakak boleh tanya sesuatu?" tanya Richard seraya menatap serius wajah Renata.
"Tanya apa sih, Kak? Biasa saja kali ekspresinya, serius banget!" balas Renata sedikit tertawa kecil melihat ekspresi sang kakak.
"Ini serius," ucap Richard memberi tahu.
"Ya sudah, mau tanya apa?" Renata menjadi penasaran.
"Jujur sama kakak, kamu ada hubungan apa dengan Samuel?"
Jleb!
Seketika pertanyaan Richard membuat Renata menciut, lalu menurunkan tatapannya. Entah ia harus menjawab apa atas pertanyaan kakaknya itu.
Ah, kenapa kak Richard tanya soal Samuel, sih? Apa tidak ada pertanyaan lain yang bisa ia tanyakan.
"Hey! Ada apa? Ada yang salah dengan pertanyaan kakak?" tanya Richard yang langsung menyadari perubahan ekspresi sang adik.
Renata mendongak dengan sedikit ragu. "Mm ... dia ... dia ... dia mantan aku," ucapnya sedikit gugup.
Sudah kuduga!
Richard tidak terlalu terkejut mendengar jawaban dari Renata, karena dari awal ia sudah menduga bahwa adiknya dan Samuel memang sempat memiliki hubungan lebih dari sekadar teman.
"Oh, jadi ceritanya adikku ini waktu SMA sudah punya pacar, tapi nggak mau cerita sama kakaknya yang tampan?" goda Richard.
"Ish, kakak, jangan keras-keras! Nanti kedengaran yang lain, bagaimana?" kesal Renata.
Seketika obrolan mereka terhenti, ketika waiter sebelumnya kembali dengan membawakan semua pesanan mereka, lalu menghidangkan makanan-makanan itu di atas meja, tepat bersamaan dengan kehadiran David dan Aretha di restoran itu.
Sebagaimana yang lainnya, Aretha dan David juga memilih kursi yang berbeda. Mereka langsung memesan makanan dan minumannya kepada waiter. Dan percaya atau tidak, David dan Aretha memesan makanan lebih banyak daripada yang dipesan oleh Renata. Sebab, mereka adalah sama-sama seafoodholic.
Mereka pikir itu adalah kesempatan bagus untuk berwisata kuliner, karena boleh jadi setelahnya mereka juga akan mengunjungi restoran lain yang didominasi olahan seafood dengan cita rasa yang berbeda.
"Ini sih namanya makan besar, Mas," seru Aretha, setelah seorang waiter menghidangkan semua pesanan mereka.
"Ya, kamu benar," balas David.
"Nanti kalau aku gendut bagaimana?" tanya Aretha.
David tersenyum simpul. "Kan bisa diet lagi, Sayang," jawab David.
"Kalau gagal?" tanya Aretha lagi memastikan, sebelum ia melahap habis hidangan yang ada di depannya.
"Tidak boleh gagal!" jawab David, sontak membuat Aretha memberengut kesal. Ia menjadi sedikit paranoid. Bagaimana kalau berat badannya naik hanya karena makan seafood sebanyak itu? Batinnya.
Setelah David sibuk memilah dan memilih mana dulu yang akan ia makan, Aretha justru hanya berdiam diri, masih berpikir panjang untuk memutuskan antara makan atau tidak.
David yang menyadarinya seketika mendongak, menatap sang istri yang duduk di hadapannya.
"Ayolah, Sayang ... bukankah kita kemari untuk bersenang-senang? Janganlah membatasi dirimu seperti itu!" keluh David.
"Nanti kalau aku gemuk, kamu pasti berpaling," lirih Aretha.
David tersenyum menanggapinya. "Mana mungkin aku bisa berpaling darimu, ha?" ucapnya yakin. "Segalanya sudah ada pada dirimu, lalu aku harus cari yang seperti apa lagi sih, Sayang?" imbuhnya yang sontak membuat Aretha tersipu malu, sekaligus merasa tersanjung.
"Beneran?" tanya Aretha seolah tidak percaya.
"Ikuti kata hati kamu! Sebab, apa yang dikatakan oleh hati kamu itu tidak pernah salah," jelasnya yang langsung mendapat seringaian senang dari Aretha.
Tentu saja hati Aretha percaya bahwa David tidak akan meninggalkannya hanya karena masalah fisik. Meski ia tidak tahu seberapa besar cinta David untuknya, tetap saja ia mampu merasakan betapa besarnya rasa sayang David terhadapnya.
"Terima kasih, Mas," ucap Aretha senang.
"Tetap tidak boleh makan yang pedas, oke?" balas David seraya memperingati sang istri.
"Oke, sedikit saja," balas Aretha. David hanya menggeleng sembari tersenyum memperhatikan sang istri.
Setelah beberapa menit David dan Aretha berada di tempat itu, Diandra tampak menyusul. Ia terlihat berdiri dan sedikit bingung harus duduk dimana, mau ikut gabung dengan yang lain takut mengganggu. Akhirnya ia memutuskan untuk memilih tempat sendiri.
Ia berjalan menuju salah satu meja kosong yang berada tepat di samping meja Aretha dan David. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di kursi itu. Setelah ia memesan makanan kepada seorang waiter, ia lalu fokus ke gawai di tangannya.
"Ra, duduk di sini saja!" ajak Aretha.
Diandra langsung menoleh. "Iya, Re, santai saja," ucapnya, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke layar ponsel.
Malas banget makan bareng sama pak David!
"Boleh duduk di sini?"
Seketika suara Samuel mengalihkan perhatian Diandra. Ia kenal betul pemilik suara itu.
"Hmm ...." Diandra menanggapi tanpa menoleh.
Samuel langsung duduk di hadapan Diandra.
Diandra menyimpan ponselnya, lalu mendongak menatap Samuel. "Itu semalam maksud lo apa, ya?" tanyanya penasaran.