
"Masuk!" teriak Aretha kepada seseorang di luar sana, ketika baru saja ia mendengar suara ketukan pintu di ruang kerjanya.
"Mell?" ucapnya saat menyadari sekretaris pribadinya yang masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi, Bu," ucap Melly dengan hormat.
"Kenapa, Mell? Apa klien kita sudah datang?" tanya Aretha langsung menebak.
Melly sedikit mengangkat tangan kanannya, lalu menatap arloji berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tanganya. "Baru lima menit yang lalu, Bu," jawabnya.
"Baiklah, saya akan segera ke sana. Tolong kamu bawakan laptop saya ke ruangan meeting," ujar Aretha seraya bangkit dari kursi putar kebanggaannya.
"Sudah saya siapkan, Bu," jawab Melly.
"Bagaimana dengan beberapa berkas dan contoh produk kita? Apakah sudah kamu persiapkan juga?" tanya Aretha.
"Saya sudah menyiapkan semuanya sesuai yang Ibu minta. Apa ada tambahan lain yang harus saya persiapkan juga?" tanya Melly memastikan.
"Tidak ada, kalau kamu memang sudah menyiapkannya lengkap sesuai dengan yang saya minta. Terima kasih, Mell. Kamu benar-benar bisa diandalkan," jawab Aretha.
Aretha segera mengajak Melly untuk menemui kliennya di ruang meeting. Namun, sebelum mereka memasuki ruangan tersebut, tiba-tiba Aretha menghentikan langkahnya, lalu memutar badan menghadap sekretarisnya yang kala itu tengah berdiri mengekorinya.
"Mm ... Mell," panggil Aretha seraya menoleh ke belakang yang sontak membuat Melly tersentak, lalu dengan sigap mengerem kakinya.
"Iya, Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Melly.
"Itu klien kita yang menggantikan pak Adi siapa namanya?" tanya Aretha ingin tahu.
"Oh ... namanya pak Fathur, Bu. Fathur Putra Hutama, beliau putra kandung dari pak Adi," jawab Melly.
"Oh, begitu. Baiklah," balas Aretha.
Melly segera membuka knop pintu ruangan tersebut, lalu mempersilakan atasannya untuk masuk lebih dulu. Di ruangan itu sudah terdapat empat orang pria dan satu wanita berparas cantik yang memiliki rambut lurus sebahu yang tergerai begitu indah.
"Selamat sore, maaf sudah lama menunggu."
Kedatangan Aretha menjadi pusat perhatian mereka. Di antara keempat pria itu, dua di antaranya tampak tidak asing di mata Aretha, dan ia sudah mengenalnya. Dua di antara mereka adalah pak Tristan dan Erlan, selaku jajaran direksi di perusahaannya, sementara sisanya adalah klien dari PT. Adi Jaya Hutama.
Seketika perhatian Aretha tertuju kepada salah satu pria yang duduk di antara seorang wanita muda serta pria lain di sebelahnya. Ia sedikit terkejut, ketika menyadari pria tidak asing di sana. Ia memang belum mengenalnya, tetapi ia pernah dipertemukan secara tidak senaja dengan pria tersebut.
Dia?
"Pagi, Bu Aretha." Suara Erlan membuat Aretha sedikit tersentak.
Mereka yang berada di ruangan itu segera bangkit untuk menyambut kedatangan Aretha.
"Perkenalkan ini pak Fathur, klien baru kita dari PT. Adi Jaya Hutama. Kebetulan beliau yang mewakili pak Adi untuk meeting hari ini," ucap Erlan seraya memperkenalkan klien baru mereka, karena memang Erlan sudah lebih dulu mengenalnya.
Seulas senyuman terbit di wajah pria bernama fathur itu, lalu ia mengulurkan tangannya kepada Aretha. "Perkenalkan saya Fathur, Bu Aretha," ucapnya.
Dengan rasa ragu Aretha pun menyambut uluran tangan pria itu dengan sedikit tertegun, karena tiba-tiba mendapati pria itu di kantornya. "Saya Aretha," ucapnya.
Entah itu kebetulan atau apa, tiba-tiba ia dipertemukan kembali dengan pria yang tidak sengaja bertemu dengannya di toko buku beberapa hari lalu.
Jadi, dia adalah putra dari pak Adi? Ah, sungguh dunia ini sempit sekali.
Dua di antara mereka pun tampak melakukan hal yang sama, secara bergantian menjabat tangan Aretha. Pria yang bersama Fathur bernama Mario, selaku sekretaris pribadi pak Adi yang sengaja ikut serta dalam acara tersebut, sedangkan wanita di sebelah Fathur bernama Alya, selaku sekretaris pribadi Fathur.
"Silakan duduk," ucap Aretha, lalu mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di bagian ujung meja kayu yang berbentuk persegi panjang itu. Yang lain pun tampak mengikuti untuk duduk kembali di tempat duduk mereka masing-masing.
Setelah acara perkenalan selesai, Aretha langsung memulai acara meeting tersebut dengan meminta Melly untuk segera membuka acara, kemudian mereka secara bergantian mempresentasikan tentang perusahaan yang saat itu tengah ia pimpin, juga tentang kaunggulan dari beberapa produk yang sudah dihasilkan oleh perusahaannya.
Aretha menjelaskannya dengan begitu detail, tanpa memberi sedikit pun celah untuk hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasinya saat itu, sehingga membuat kliennya merasa kagum akan apa yang tengah ia jelaskan. Bahkan, Fathur seolah tidak ingin mengedipkan matanya barang sedetik pun. Baginya, Aretha adalah wanita yang sangat cerdas, maka wajar saja jika wanita itu bisa memimpin perusahaan tersebut dengan baik.
"Jadi, bagaimana? Apakah ada yang masih kurang jelas?" tanya Aretha, ketika ia telah selesai mempresentasikan semua materi rapat saat itu.
"Baiklah, Bu Aretha. Saya rasa semua cukup jelas, dan saya tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan Anda," ucap Fathur yang seolah sudah yakin dengan apa yang baru saja Aretha jelaskan. Tentu saja itu membuat Aretha sedikit tertegun seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut klien barunya itu.
"Bagaimana, Pak?" tanya Aretha memastikan kembali. "Bapak mau bekerja sama dengan perusahaan kami?" sambungnya masih tidak percaya.
"Iya, kenapa? Bu Aretha tidak keberatan, bukan?" Fathur malah bertanya balik. "Saya rasa tidak ada alasan untuk saya tidak melanjutkan kerjasama ini, setelah apa yang baru saja saya dengar dan saksikan secara langsung," imbuhnya mempertegas pernyataan sebelumnya.
"Tidak, bukan seperti itu maksud saya. Hanya saja, saya sedikit terkejut dengan keputusan Bapak yang saya rasa terlalu cepat. Apa Bapak tidak ingin melakukan observasi terlebih dahulu di perusahaan kami untuk lebih meyakinkan?" tanya Aretha memastikan kembali.
Fathur sedikit terkekeh. "Tidak perlu, saya percaya dengan apa yang Ibu sampaikan, dan saya tidak akan merubah keputusan saya," jawabnya seraya mengamati wajah Aretha, sehingga membuat wanita itu sedikit salah tingkah.
"Baiklah, terima kasih atas kepercayaan Bapak, saya sangat senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Bapak, semoga rencana kita dapat berjalan dengan lancar," jawab Aretha yang tiba-tiba menjadi gugup, karena sedari tadi mendapatkan tatapan intens dari klien barunya itu.
Sungguh Aretha masih tidak percaya jika kliennya akan memutuskan kontrak kerjasamanya secepat itu, tanpa melakukan observasi terlebih dahulu akan perusahaan yang tengah dipimpinnya. Entah bagaimana untuk mendeskripsikan perasaannya saat itu, yang jelas Aretha merasa sangat senang dan ada kebanggaan tersendiri, ketika ia bisa melakukan hal yang dapat menarik perhatian kliennya dengan baik.
"Baiklah, kalau begitu saya tutup rapat hari ini," ucap Aretha segera mengakhiri pertemuannya dengan klien barunya itu, lalu mereka semua bangkit dan saling menjabat tangan satu sama lain.
"Maaf, bisakah kita berbicara empat mata?" tanya Fathur tiba-tiba yang sontak membuat Aretha sedikit merasa heran.
Tak lama tampak Alya dan Mario—kedua rekan dari Fathur pun ikut berpamitan hingga hanya tersisa Aretha dan Fathur serta Melly di ruangan itu.
Aretha melirikkan matanya kepada Melly seolah memberi isyarat agar sekretaris pribadinya itu untuk keluar lebih dulu, karena ia akan merasa tidak enak hati, ketika menolak permintaan Fathur saat itu. Melly pun segera menuruti permintaan atasannya waktu itu.
Aretha menerbitkan senyuman simpulnya, berusaha bersikap elegan, meski sebenarnya ia dalam keadaan heran dan sedikit gugup.
"Silakan duduk, Pak," ucap Aretha mempersilakan kembali tamunya untuk duduk.
"Terima kasih," balas Fathur tampak membalas senyuman Aretha.
"Saya tidak menyangka kalau kita akan dipertemukan kembali di sini," ucap Fathur mulai membuka topik pembicaraan.
Lagi-lagi Aretha tersenyum, lalu menundukkan kepalanya sejenak dan mendongak kembali seraya memfokuskan pandangan ke wajah kliennya tersebut.
"Saya pun begitu, tidak menyangka orang yang tidak sengaja bertemu dengan saya di toko buku beberapa hari lalu, ternyata akan menjadi klien saya," balas Aretha.
Mereka pun tampak terkekeh, sehingga suasana pun seakan mencair begitu saja, tanpa ada kecanggungan di antara mereka.
"Mm ... maaf, bolehkah saya berbicara lebih santai layaknya seorang teman, bukan sebagai klien?" tanya Fathur sedikit ragu. Namun, Aretha hanya diam tak mejawab. Tentu ia merasa takut terkesan tidak sopan jika berbicara dengan kliennya dengan begitu santai. Ia pun harus berpikir ulang untuk melakukan hal itu.
"Ayolah ... supaya kita lebih akrab," bujuk Fathur dengan nada santainya. "Hanya di luar jam kerja," imbuhnya kemudian.
Lagi-lagi Aretha tersenyum menanggapinya. Sungguh ia ragu untuk menerima tawaran Fathur saat itu. "Bukankah ini masih jam kerja?" tanya Aretha.
Pertanyaan Aretha tak lantas membuat Fathur menyerah begitu saja. Ia masih bersikap santai dalam menghadapi sikap Aretha saat itu. "Bukankan urusan pekerjaan kita untuk hari ini sudah selesai?" Fathur tidak mau kalah, dan lagi-lagi membuat Aretha kembali terkekeh.
"Baiklah, terserah Anda saja, Pak Fathur," jawab Aretha menyerah.
"Oke, panggil saya Fathur," pinta Fathur yang sontak membuat Aretha terkejut.
"Wah ... mohon maaf, kalau untuk itu saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak berani. Akan sangat kurang ajar sekali jika saya berani memanggil klien saya dengan sebutan nama, meski itu di luar jam kerja," ucap Aretha menolak.
"Baiklah kalau kamu keberatan, saya tidak akan memaksa." Fathur memasang ekspresi kecewa. Namun, itu bukanlah masalah yang besar baginya.
Sedari awal pertemuannya dengan Aretha, pria tampan yang memiliki mata elang itu memang sudah terhipnotis oleh pesona Aretha. Jadi, bukan hal yang aneh, ketika ia ingin langsung memiliki kedekatan dengan wanita yang saat itu sudah resmi menjadi rekan bisnisnya, setelah setengah jam yang lalu mereka menandatangani kontrak kerjasama.
Meski ia sedikit kecewa akan penolakan Aretha, tetapi tak menyurutkan semangatnya untuk tetap bisa mewujudkan keinginannya itu. Kapanpun itu, ia pasti bisa melakukannya. Ia sangat yakin dengan kemampuan yang ia miliki, ia bisa menarik perhatian Aretha terhadapnya. Tanpa ia ketahui bahwa Aretha sudah memiliki suami dan dua orang anak.
"Saya sangat kagum dengan kamu," ujar Fathur tanpa berbasa-basi, karena memang ia bukanlah tipikal orang yang suka berbasa-basi, termasuk dalam hal mendekati wanita. "Di usia yang sangat muda, kamu sudah mampu memimpin perusahaan sebesar ini. Jarang sekali lho, ada wanita yang pandai dalam berbisnis. Saya rasa kamu adalah wanita pilihan," sambungnya yang terkesan gombal. Namun, apa yang keluar dari mulut pria itu sangatlah sungguhan, berdasarkan apa yang ia dengar dan ia lihat dari sosok Aretha.
"Pak Fathur ini terlalu berlebihan. Masih banyak wanita lain yang lebih hebat daripada saya," balas Aretha merendah, meski memang kenyataannya seperti itu. "Bahkan, Pak Fathur sendiri tidak tahu usia saya berapa," imbuhnya kemudian.
"Dua puluh tiga tahun, maybe?" tebak Fathur seraya menatap Aretha penuh tanya dan penasaran.
Lagi-lagi Aretha terkekeh mendengar tebakan rekan bisnisnya itu yang sangat jauh sekali dari kenyataan. "Pak Fathur salah. Usia saya sudah mencapai kepala tiga," jawab Aretha.
Mendengar jawaban dari Aretha, Fathur sedikit tertegun seolah tidak percaya. Sungguh ia menyangka bahwa Aretha masih berusia sekitar dua puluh tiga tahunan. Bahkan, lebih muda dari itu. Bagaimana bisa wajah Aretha terlihat sangat muda di usianya yang sudah mencapai kepala tiga, pikirnya.
"Wah ... kepala tiga? Saya pikir malah usia kamu di bawah dua puluh tiga tahun. Sungguh mahakarya yang sempurna. Bahkan, di usiamu yang sudah mencapai kepala tiga, kamu masih terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usia kamu," ucapnya tak kehabisan cara untuk memuji Aretha.
Namun, sayang sekali tidak membuat Aretha sedikit pun tersanjung akan pujian yang diberikannya. Justru Aretha merasa kurang nyaman, karena sudah terlalu jauh membahas masalah pribadinya dengan pria lain, di belakang suaminya sendiri. Dan, hanya empat mata pula.
"Pak Fathur ini memang paling bisa ya memuji orang," ledek Aretha.
"Lho, saya hanya mengatakan apa yang saya lihat, bukan hanya sekadar omongan belaka," bantah Fathur. "Bagi saya, itu sangatlah mengagumkan," imbuhnya yang hanya ditanggapi dengan tawa oleh Aretha.
Merasa sudah cukup lama bercengkerama dengan Fathur yang mana tidak ada hal penting yang mereka bahas, Aretha pun memutuskan untuk segera mengakhiri perbincangan mereka.
Meskipun Fathur menyetujui permintaan Aretha, nyatanya tidak berakhir sampai di situ. Bahkan, ketika mereka sudah berada di depan ruang meeting pun, Fathur masih saja melemparkan beberapa pertanyaan tidak penting kepada Aretha, yang tentu itu membuat Aretha semakin merasa bingung, bagaimana cara menghindar dari pria itu.
"Jadi, kamu sudah menikah?" tanya Fathur tercenung mendengar pernyataan Aretha. Nampaknya, Aretha sedikit curiga dengan kliennya itu, sehingga ia memutuskan untuk mengatakan statusnya kepada Fathur, berharap pria itu tidak lagi bersikap aneh-aneh di depannya.
"Ya, bahkan saya sudah memiliki dua anak," jawab Aretha dengan pandangan yang fokus ke depan.
Fathur memaksakan senyumannya. Sungguh pernyataan Aretha membuatnya sedikit terluka, meskipun ia baru mengenal Aretha, entah kenapa ia merasa bahwa ada suatu perasaan yang berbeda terhadap wanita itu.
"Jadi, saya terlambat nih ceritanya?" tanya Fathur.
"Maksud Pak Fathur, terlambat dalam hal apa, ya?" tanya Aretha bingung.
"Sayang sekali, orang yang sangat saya kagumi saat ini, ternyata sudah berkeluarga," ujar Fathur.
"Saya sama sekali tidak mengerti apa maksud Pak Fathur," balas Aretha.
"Sayang ...."
Tiba-tiba suara David mengalihkan perhatian mereka berdua. Fathur sangat terkejut saat mendapati sosok tidak asing berada di sana dan memanggil Aretha dengan sebutan 'Sayang'.
Dave?
Tampak David memberikan tatapan sinis kepada Fathur yang kala itu tengah berdiri di samping istrinya. Pun sebaliknya. Seketika mereka saling beradu pandang.