Possessive Love

Possessive Love
Gadis Kecil Bernama Aruna



Setelah empat tahun berlalu, Arkana dan Aruna tumbuh menjadi anak yang aktif dan sangat lucu dengan segala kelincahan dan tingkah laku mereka yang menggemaskan. Namun, tetap saja mereka memiliki perbedaan yang terlihat sangat dominan. Jika Aruna tumbuh menjadi anak yang manja dan cerewet, berbeda dengan Arkana yang justru terlihat sedikit pendiam dan cuek. Namun, adakalanya ia juga jahil dan suka mengganggu adiknya yang memang sangat menggemaskan.


Meski mereka masih balita, tetap saja, baik David maupun Aretha sudah bisa menebak bagaimana karakter putra-putri mereka. Arkana yang terlihat lebih senang bermain sendiri dan memilih diam untuk hal-hal yang memang tidak perlu ia ceritakan. Berbeda dengan Aruna yang selalu ingin bercerita mengenai hal apapun kepada kedua orang tuanya. Kendatipun begitu, ketika waktunya berselisih, ya tetap saja mereka akan bertengkar, sebagaimana anak-anak lainnya.


"Mama ... Arka tidak mau diajak main," rengek Aruna mengadu kepada sang mama, ketika kakak kembarannya tidak ingin diajak bermain boneka barbie.


Tentu saja Arkana menolak, ketika Aruna mengajaknya bermain. Jelas selera mereka berbeda. Arkana sama sekali tidak tertarik untuk bermain boneka yang jelas-jelas itu permainan anak perempuan.


Arkana yang kala itu tengah asyik bermain lego, terlihat cuek dan tidak ingin menghiraukan tingkah laku sang adik yang memang sudah bukan hal yang asing baginya. Arkana sudah khatam betul bagaimana adiknya itu. Hal apapun yang tidak Aruna dapatkan sesuai keinginannya, selalu saja menjadi bahan aduan kepada kedua orang tuanya.


"Sayang ... kamu main sama suster ya. Kasihan kakakmu kalau harus main boneka sepertimu," bujuk Aretha yang kala itu tengah sibuk membantu Ratih memasak di dapur.


"Tapi aku maunya main sama Arka, Mama," kekeh Aruna dengan ekspresi cemberut.


Aretha yang kala itu tengah memotong wortel pun seketika menghentikan kegiatannya, lalu menatap sang putri yang kala itu tengah berdiri di hadapannya.


Aretha tampak menatap lekat putrinya, lalu menghela napas panjang.


"Aruna kenapa? Main dengan papa saja, yuk!"


Baru saja Aretha akan menanggapi putrinya, tiba-tiba saja David datang menghampiri mereka, lalu mengajak Aruna untuk bermain. Seketika ia menarik napas lega.


Aruna memutar tubuhnya ke belakang, lalu menatap sang papa yang kala itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Seketika David berjongkok demi menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan putrinya itu.


"Mau main dengan papa?" tanya David seraya menatap lekat wajah putrinya itu.


"Arka tidak mau diajak main." Lagi-lagi Aruna merengek karena ia tidak berhasil mengajak kakak kembarannya itu untuk bermain bersama, padahal ia ingin sekali bermain dengan Arkana.


David menoleh sejenak ke belakang, tampak Arkana yang masih asyik bermain lego sendiri tepat di depan layar televisi. David memutar kembali kepalanya, menatap manik cokelat yang ada di depannya.


"Ya sudah, main dengan papa saja." David tampak merengkuh tubuh putrinya itu, lalu menggendong Aruna.


Aretha dan David yang memang sama-sama sudah memahami bagaimana putra-putrinya itu, harus bisa saling membantu mengendalikan situasi yang seperti itu. Sebab, Aruna yang manja memang sering sekali membuat mereka kelabakan menghadapinya.


Aretha menerbitkan senyuman simpulnya. Ia tampak senang karena sang suami selalu saja ada disaat ia benar-benar menbutuhkannya. Dan ia sangat bangga, ketika sang suami tidak pernah mengeluh meskipun harus mengajak anak-anak mereka untuk bermain di tengah-tengah kesibukannya.


David beranjak dari tempat itu dengan menggendong putrinya menuju tempat di mana Arkana sedang bermain. Namun, baru beberapa langkah kakinya bergerak, tiba-tiba suara bel berbunyi, pertanda bahwa ada tamu yang entah itu siapa. Dengan sigap David menghentikan langkahnya, lalu mengarahkan pandangan ke arah pintu yang jelas sangat jauh dari jangkauannya.


Seketika David tersentak, lalu menoleh kembali ke belakang. Ia tampak menggelengkan kepalanya sebagi tanggapan.


"Baiklah, biarkan aku yang membuka pintunnya." Aretha tampak melepaskan pisau dan wortel di tangannya, lalu melepas apron berwarna hitam yang melekat di tubuhnya.


Ratih yang kala itu berniat untuk membuka pintu, seketika mengurungkan niatnya ketika Aretha yang memintanya.


Aretha segera beranjak dari tempat itu, berniat untuk membuka pintu rumahnya. Tampak David yang mengikuti langkahnya dari belakang.


"Hai, Re," sapa Richard saat Aretha baru saja membukakan pintu untuknya.


"Kalian?"Aretha sedikit membulatkan matanya.


"Ayo masuk," titah Aretga kepada tiga bHgia


Aruna dan David yang kala itu sedang mengamati dari kejauhan, tiba-tiba gadis kecil itu langsung turun dari pangkuan David saat itu.


"Om, Richard!!!" teriak gadis kecil itu seraya berlari menghampiri Richard. Richard yang menyadarinya seketika berjongkok, lalu menangkap gadis kecil itu dan menggendongnya.


"Gadis kecilnya om makin cantik saja," goda Richard kepada Aruna, sehingga membuat gadis kecil itu tersenyum senang seolah sudah paham betul dengan ungkapan pujian.


Ya, entah kenapa gadis kecil Aretha dan David itu sangat akrab sekali dengan Richard. Dari usia masih sangat kecil, Aruna memang selalu senang ketika bertemu dengan Richard. Mereka memamg sangat cocok sekali. Terlebih lagi, Richard yang juga selalu memanjakan gadis kecil itu, sehingga membuat Aruna semakin betah jika sedang berada dengan pria itu, seolah sudah menganggap Richard seperti papanya sendiri.


Namun siapa sangka, kedekatan mereka yang terpaut usia sangat jauh, ternyata memberikan kekhawatiran yang lebih bagi David.


"Aku lagi kesal sama Arka, Om." Tiba-tiba Aruna memasang wajah cemberut, lalu bercerita tentang kekesalannya kepada Richard.


Richard yang kala itu masih menggendongnya tampak sedikit mendongak, menatap gadis kecil itu. Seketika ia tersenyum menatap gemas putri sahabatnnya sendiri. Entah kenapa ia sangat menyukai wajah polos gadis kecil itu. Benar-benar sangat menggemaskan.


"Kesal kenapa, Sayang? Apa yang dilakukan kakakmu itu, ha? Cerita sama om." Richard tampak menanggapi cerita Aruna dengan nada yang seolah memang memanjakan gadis kecil itu.


Rendy dan Clara yang kala itu turut hadir tampak memerhatikan kedekatan keduanya yang memang sudah tidak asing bagi mereka.


"Lihat mereka! Awas saja kalau Richard berani macam-macam kepada anak gadis kita, aku tidak akan membiarkannnya hidup!" bisik David kepada Aretha yang baru saja berdiri di sampingnya. Ia tampak berbicara penuh penekanan dan ancaman seolah memang tidak ingin terjadi sesuatu kepada putrinya itu, karena terlalu dekat dengan Richard.


Ya, nampaknya lelucon Richard beberapa tahun lalu yang mengatakan bahwa pria itu akan menikahi putrinya masih saja menjadi pemikiran yang membuat David merasa khawatir, jika sampai itu benar-benar terjadi. Terlebih lagi, melihat kedekatan Richard dengan putrinya selama ini semakin membuatnya merasa khawatir jika memang Richard benar-benar memiliki niat busuk dibalik sikap baiknya terhadap putrinya itu.