Possessive Love

Possessive Love
Kurang Waras



Dua hari setelahnya, Denis telah menemukan keberadaan Alivia dan menangkapnya di Amsterdam, yang tak lain adalah kota terbesar sekaligus ibu kota negara Belanda.


Setelah penangkapannya berhasil, Denis segera menyeret Alivia ke Indonesia dan membawanya langsung ke pihak berwajib, sesuai perintah David. Tak hanya itu. Ia juga mengumpulkan beberapa bukti yang akurat mengenai kejahatan Alivia sehingga memperlancar proses hukum perempuan itu.


Kebencian David terhadap perempuan itu, membuatnya tidak sudi mengotori matanya sendiri dengan melihat sosok perempuan itu di bui. Biarkan saja Alivia menerima hukuman atas kejahatan yang ia lakukan. Yang terpenting baginya adalah kesehatan dan keselamatan Aretha, dan ia hanya fokus dengan itu dan kerjaan serta rencana pernikahannya dengan Aretha.


Seminggu setelah penangkapan Alivia, Aretha telah kembali pulih dengan melakukan beberapa kali pengobatan dan terapi kakinya. Ia telah kembali seperti sebelumnya dengan melakukan serangkaian aktivitasnya, termasuk kuliah.


"Ra, lo kan sahabatnya Aretha, bantu gue kenapa, biar bisa dekat sama sahabat lo!" teriak Samuel kepada Diandra.


Perasaan cintanya terhadap Aretha, nampaknya sudah memutus urat malu Samuel sehingga ia berani berkata seperti itu di depan teman-teman sekelasnya.


Tentu saja itu membuat Aretha yang juga berada di kelas merasa malu, meski teman-teman sekelasnya jelas sudah mengetahui akan Samuel yang sedari awal mengejarnya.


Aretha hanya menundukkan kepala tanpa berkomentar apapun. Biarkan saja Samuel melakukan apa yang ia mau. Bukan lagi hal yang asing baginya melakukan hal-hal aneh.


Sementara, Diandra yang kala itu duduk di samping Aretha tampak mendongak, lalu menatap Samuel yang tengah duduk di bangku belakang dengan barisan yang berbeda.


"Gue, bantuin lo? OGAH!" ketus Diandra penuh penekanan akan kata terakhirnya. Gadis itu lalu melengos kembali, memfokuskan pandangannya ke arah Aretha.


"Gue rasa dia udah gila, Re," gerutunya kepada Aretha.


"Udah, biarin aja. Bukan Samuel dong namanya kalau gak sengklek," ucap Aretha menanggapi. Seketika gelak tawa pun memecah dari keduanya.


"Udah, Sam ... dari pada nunggu yang gak pasti, mending lo fokus sama yang udah di depan mata, kasian Cecil ngebet banget sama lo. Haha!" teriak salah satu mahasiswa yang diketahui bernama Aldo.


"Sialan lo!" umpat Samuel seraya melemparkan buku yang kala itu terletak di atas meja.


Tepat pada sasaran, buku itu mengenai wajah Aldo. Seketika ulah Samuel membuat semua orang yang berada di kelas itu tergelak.


"Gue heran sama lo, Sam. Lo itu kan salah satu mahasiswa berprestasi ya, tajir pula, dan soal ketampanan semua orang juga tahu, kira-kira apa yang salah dari diri lo sampai Rere sebegitu menolaknya?" timpal mahasiswi bernama Meisya.


"Nah, itu lo juga tahu, kan? Gue kurang apa coba?" balas Samuel sedikit penasaran.


"Banyak, Sam!" tegas Aretha mulai menanggapi.


"Apa, Re? Coba kamu bilang, kurangnya aku dimana! Biar aku bisa memperbaikinya," ucap Samuel seraya berdiri dari tempat duduknya, lalu menatap Aretha dari kejauhan. Nampaknya Samuel sudah merasa sangat frustasi karena terlalu lama mengejar seseorang yang tidak pernah menganggapnya.


"Aku tanpa kamu itu ibarat senja tapi tak jingga. Gak sempurna, dan cuma kamu yang bisa mengisi kekurangan itu agar aku bisa sempurna, Re," imbuhnya memelas.


"Mau gue bantu jawab, Re?" tanya Diandra seraya menatap Aretha penuh tanya.


"Boleh," jawab Aretha singkat.


Diandra bangkit dari tempat duduknya, lalu sedikit memutar tubuhnya menghadap Samuel. "Lo mau tahu apa kekurangan lo?" tanyanya. Namun, Samuel hanya diam seolah menunggunya. "Pertama, lo itu kurang pandai memikat hati Aretha, cara lo basi, gak mengesankan sama sekali dan tidak mencoba berkembang," jelasnya yang sontak membuat Samuel tertegun.


"Kedua, kurangnya chemistry antara lo sama Aretha. Lo pikir dia akan nyaman pacaran dengan orang yang sama sekali tidak ada chemistry-nya? Dan yang ketiga ...." Diandra menggantungkan ucapannya seraya menyeringai. "Lo kurang waras!" ejeknya yang sontak semakin membuat gelak tawa semakin memecah.


"Ya ampun, Ra. Itu mulut kok pedes banget sih!" kesal Samuel. "Itu bisa-bisanya lo aja, kan?" imbuhnya seolah tidak percaya dengan ucapan Diandra.


"Mana ada, gue ngomong sesuai kenyataannya, kok," jawab Diandra seraya mendudukkan kembali tubuhnya.


"Bahasa lo kelewatan, Ra," gerutu Aretha berbisik.


"Udah biarin aja, biar dia tahu rasa. Hihi ...," balas Diandra.


"Sam, sama gue aja, yuk! Gue gak neko-neko kok orangnya," ucap Meisya menggoda sehingga memebuat yang lainnya mengalihkan perhatian.


"Gue sama elo? Bagaikan langit sama bumi. Jauh ... gak mungkin bisa bersatu!" ketus Samuel dengan mulut level boncabenya.


Seketika celotehan mereka terhenti begitu saja, ketika salah satu dosen memasuki kelas, menandakan kegiatan perkuliahan akan segera dimulai.


***


"Sayang ... bagaimana kuliah hari ini?" tanya David seraya menoleh ke arah Aretha yang kala itu tengah duduk di sampingnya. Namun, hanya sejenak. Pria itu kembali memfokuskan ke arah kemudi.


"Masih seperti biasa," jawab Aretha datar.


"Samuel masih ganggu kamu?" tanya David ingin tahu.


Aretha terdiam sejenak, lalu menghela napas pendek. "Dia masih seperti biasanya, tidak ada yang berubah," ucapnya.


"Apa aku perlu sewa bodyguard buat jagain kamu?" tanya David sedikit kesal.


"Apaan sih, Mas. Tidak perlu segitunya," tolak Aretha.


"Aku khawatir dia akan macam-macam sama kamu," cemas David.


"Tidak akan, Mas. Percaya sama aku! Aku tahu dia." Aretha tampak meyakinkan David.


Mereka terdiam beberapa saat. David tidak menanggapi perkataan Aretha. Meskipun Aretha sudah berusaha meyakinkannya, tetap saja ia merasa khawatir jika Samuel berbuat nekat demi mendekati kekasihnya.


"Aku akan hati-hati, Mas, kalau sekiranya ada hal yang mencurigakan dari dia," lirih Aretha yang seolah mengerti akan kekhawatiran yang tengah dirasakan oleh David saat itu. David hanya mengacak rambut gadis itu sembari tersenyum.


"Sayang ...," panggil David, setelah beberapa saat yang sontak membuat Aretha menoleh.


"Hn?" Aretha sedikit terkesiap. "Kenapa?" tanyanya.


David terdiam sejenak seraya berpikir. "Mm ... kamu kan sudah sembuh, jadi kapan kita akan melanjutkan rencana kita?" tanyanya.


"Rencana apa?"


"Kamu lupa?" tanya David membeliak. Mana mungkin Aretha lupa secepat itu.


"Apa ya?" Aretha seolah berpikir mengingatnya.


"Haiish, sepertinya kamu minta dikecup ini," goda David yang langsung membuat Aretha membeliak.


"TIDAK!" jawab Aretha tegas seraya sedikit menghindar, sementara David hanya terkekeh. "Aku ingat, kok! Aku terserah kamu saja," gumamnya.


"Lusa?" tanya David.


"Ha, lusa??" Aretha semakin membulatkan matanya sempurna.


"Iya, kenapa?" David tampak heran.


"Apa tidak terlalu cepat, Mas?"


"Kurasa tidak," jawab David yakin.


"Tapi ... kan kita perlu menyiapkan segala sesuatunya, Mas," rengek Aretha.


"Kan sudah diurus sama mama dan mami kamu. Besok sore, kita fitting baju pengantin," jelas David.


___________________


HAPPY READING!