
Satu minggu kemudian, Aretha mulai disibukkan kembali dengan aktivitas kuliahnya.
Pukul 13.00, ia tampak berada di kantin kampus bersama ketiga sahabatnya. Sembari berbincang ringan. Namun, di tengah-tengah kegiatan mereka, tiba-tiba Samuel datang menghampirinya.
"Boleh gabung?" tanyanya, sontak membuat mereka mengalihkan perhatian kepada pria berkaus biru dongker itu.
Samuel tampak berdiri di samping Aretha, sembari mengaitkan sebelah tali ranselnya pada bagian atas tangan kirinya.
"Silakan saja, Sam, tempat umum, kok," jawab Tania. Sementara, yang lain tidak berkomentar apapun.
Samuel duduk di salah satu kursi kosong yang berada di tengah-tengah Tania dan Deasy. Sementara di depannya terdapat Diandra yang duduk di sebelah Aretha.
Samuel tampak memesan minuman kepada salah satu ibu kantin. Baru saja Samuel akan menyesap kopi pesanannya, tiba-tiba Aretha pamit beranjak dari sana, sebelum Samuel berhasil berkata sepatah kata pun.
"Aduh, sorry ya gue tinggal, gue harus segera menghadap dosen pembimbing nih, di perpustakaan," kata Aretha, seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Yah, kamu sengaja menghindar dariku, Re?" celetuk Samuel yang sontak membuat Aretha merasa tidak enak hati.
"Hh? Bu-bukan, Sam," jawab Aretha kaget. "Aku memang ada janji dengan pak Iksan untuk bimbingan skripsi," imbuhnya menjelaskan.
"Yakin?" tanya Samuel memastikan, khawatir Aretha memang sengaja menghindarinya, setelah menikah dengan David.
"Ya ampun, Sam ... aku buru-buru nih. Sorry, ya." ucapnya. "Guys, gue duluan, ya ...," imbuhnya seraya berpamitan kepada ketiga sahabatnya.
Aretha segera beranjak dari tempat itu, berniat menemui dosen, sesuai janji mereka akan melaksanakan bimbingan di perpustakaan.
Sementara, Samuel dan ketiga sahabatnya tampak masih di tempat yang sama. Samuel meraih cangkir kopi itu, lalu menyesapnya sedikit. Ia menaruh kembali cangkir kopinya di meja.
Deasy dan Tania tampak beradu pandang sejenak. Deasy memberikan isyarat bahasa tubuh melalui mata, entah apa maksudnya.
"Gue duluan juga ya, ada urusan sama teman," ucap Tania seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Wah, kayaknya gue juga harus pergi, nih, sudah ditunggu Ferdy," timpal Deasy, sebelum Samuel dan Diandra berhasil menanggapi Tania. Ia tampak beralasan akan bertemu dengan Ferdy, sang kekasih.
Deasy pun ikut bangkit dari tempat duduknya. Samuel dan Diandra tampak menengadah, menatap mereka berdua secara bergantian.
"Kalian mau kemana, sih?" tanya Diandra heran. "Masa gue ditinggal sendiri," imbuhnya.
"Tahu, nih. Gue datang, kok tiba-tiba pada pergi. Apaan, sih?" timpal Samuel yang juga ikut heran.
Deasy menatap Diandra. "Udahlah, Ra ... 'kan ada Samuel," ujar Deasy. "Sam, temani Diandra ya," imbuhnya seraya menatap beralih pandangan kepada Samuel.
Samuel hanya melengos sembari berdecak kesal. Sementara Diandra tampak berdecih.
"Kalian nggak asyik!" gerutu Diandra kesal.
"Sudah ya, gue buru-buru. Bye, Ra!" ucap Deasy.
Deasy dan Tania langsung beranjak dari tempat itu berbarengan. Diandra tampak menatap punggung mereka dari kejauhan, hingga keduanya tampak lenyap dari netranya.
Diandra beralih pandangan ke arah Samuel yang terlihat tengah menyesap kopi yang masih tersisa banyak itu. Namun, seketika tatapannya berubah sinis, ketika ia menyadari netra Samuel yang tertuju padanya.
"Apa lo?" ketus Diandra, sontak membuat Samuel seketika berubah menjadi masam mendapat tatapan sinis dari Diandra.
Lagi-lagi Samuel melengos kesal, lalu menatap tajam wajah Diandra. "Lo itu jadi cewek kok galak banget, sih! Pantas saja sampai detik ini masih jomblo!" kesalnya.
"Itu masnya tolong ngaca dulu, kayak sendirinya bukan jomblo saja!" balas Diandra tak mau kalah.
"Gue? Jomblo? Bedalah sama lo! Kalau gue mau, gue bisa merubah status gue dalam hitungan detik!" angkuh Samuel.
"Oh ya? Dan menurut lo, itu mengagumkan buat gue? NGGAK!" cetus Diandra.
Samuel hanya terkekeh. "Hello, Diandra ... ini gue lho, Samuel Benedict, Mahasiswa berprestasi, tampan, kapten basket, dan ... idola di kampus ini. Cewek yang mau jadi pacar gue, banyak. Gue nggak yakin, kalau lo nggak tertarik sama gue!" ucapnya seraya menatap nanar wajah Diandra.
Diandra tahu betul kalau Samuel sangat ilfil sama Cecil, makanya ia jadikan senjata untuk mengejek pria itu.
"Ck! Nggak usah sebut nama dia kenceng-kenceng! Kedengaran orangnya bisa berabe nanti!" gerutu Samuel.
"Bodo amat! Memangnya gue pikirin!" ledek Diandra tidak peduli.
Diandra tampak bangun dari tempat duduknya, dengan belum menghentikan tawanya, lalu ia tampak fokus ke belakang Samuel.
"Eh, itu Cecil!" tunjuk Diandra, sontak membuat Samuel terkejut, lalu segera bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk kabur dari tempat itu. Namun, sebelumnya ia menengok ke belakang, dan betapa kesalnya ia, ketika tidak mendapati sosok Cecil di sana.
"Lo sengaja ngerjain gue?" Samuel tampak membulatkan matanya geram.
"Haha!" Diandra hanya tertawa lepas, sehingga mengalihkan perhatian beberapa pengunjung kantin. Namun, ia tampak tidak peduli dengan mereka.
"Ck! Lo beneran ngeselin ya, jadi cewek!" geram Samuel.
"Dan gue, BODO AMAT!" ucap Diandra dengan memberi penekanan pada kalimatnya. "Yowes, gue pergi dulu, malas lama-lama di sini!" imbunya seraya beranjak, melewati Samuel.
"Pergi, pergi saja!" ketus Samuel seraya membalikkan badannya menatap Diandra yang kala itu sudan memunggunginya.
Diandra tampak berjalan perlahan. Namun, baru tiga langkah, kakinya sedikit terkilir, akibat memakai high heels, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu hendak terjatuh.
Namun, Samuel yang menyadari itu, dengan sigap segera meraih tubuh Diandra dari belakang, sehingga membuat Diandra tidak sampai jatuh ke lantai.
Tangan kiri Samuel tampak meyangga punggung Diandra, sedangkan tangan kanannya, ia lingkarkan di perut Diandra, sontak membuat semua mata yang berada di sana tampak tertuju kepada mereka berdua, menyaksikan adegan itu secara live.
Tatapan mereka bertemu tanpa disengaja. Mereka beradu pandang beberapa saat. Samuel tampak memperhatikan wajah Diandra yang berada tepat beberapa jengkal di bawah wajahnya, pun dengan Diandra yang tampak melakukan hal yang sama.
"Samueeeel ... lepasin!!!" teriak Diandra, ketika menyadari bahwa tubuhnya berada dalam pelukan Samuel.
Teriakan Diandra cukup membuat Samuel tersentak, lalu membuyarkan lamunannya. Ia tampak mengerjapkan matanya berulang kali, lalu dengan reflect melepaskan tangannya dari tubuh Diandra, sontak membuat Diandra terjatuh. Bahkan, tersungkur di lantai, hanya dalam hitungan detik.
Kejadian itu tak ayal membuat semua pengujung kantin yang menyaksikannya langsung tertawa terbahak-bahak, dan yang pasti mereka menertawakan Diandra.
Diandra bangkit dari lantai, ia berdiri sembari merasakan sakit di beberapa titik tububnya.
"Eh, lo gila ya? Gue sakit tahu, sakit! Dasar cowok nggak waras!" geram Diandra seraya menunjuk wajah Samuel. Bahkan, ia sudah tidak mempedulikan gelak tawa yang masih memecah di udara.
"Lo yang gila! Udah gue tolongin juga, malah teriak-teriak! Bukannya lo yang minta dilepas? Lalu, salah gue dimana, ha?" balas Samuel tidak mau mengakui bahwa ia salah.
"Makanya kalau ngelakuin apa-apa itu pakai otak! Lo punya otak, kan? Percuma ngaku jenius, kalau hal sekecil ini saja nggak bisa lo atasin dengan baik!" teriak Diandra.
"Siapa elo, sampai gue harus memperlakukan lo dengan lembut? Memangnya lo ibu gue? Istri gue? Atau pacar gue?" tanya Samuel seraya memberi jeda sejenak. "BUKAN!" imbuhnya penuh penekanan, dengan pupil mata yang melebar, sontak membuat Diandra sedikit terlonjak.
"Kenapa jadi lo yang lebih galak dari pada gue, sih? 'Kan yang salah bukan gue!" geram Diandra seraya memegang pinggangnya yang terasa sedikit nyeri.
"TERSERAH!" balas Samuel yang langsung meninggalkan Diandra di sana.
"Sam!" panggil Diandra. "Lo itu cowok paling bodoh, ngeselin dan nyebelin yang pernah gue temuin!" teriaknya, tetapi Samuel tidak peduli.
Samuel hanya mengibas-ngibaskan tangannya di udara tanpa menoleh ke belakang, hingga ia lenyap dari penglihatan Diandra.
Diandra yang merasa sangat kesal tampak menghentakkan kakinya dua kali, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seketika wajahnya bersemu merah, ketika menyadari beberapa pengunjung yang sedari tadi memperhatikannya. Diandra segera pergi dari tempat itu, menuju tempat yang paling aman.
\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT
HAPPY READING