
"Tapi, Pi!" tukas Aretha mencoba menolak.
"Pendekatan saja dulu, kan tidak ada salahnya, Nak," balas Anton.
"Iya, Sayang. Lagian, kamu juga sedang tidak dekat dengan siapapun, kan?" timpal Carmila.
Ya ampun, Mami, gak perlu segitunya juga kali, kesannya kayak gak ada yang mau sama aku, deh, batin Aretha menanggapi.
Gadis itu mendelik sinis ke arah David, tepat disaat pria itu sedang terkekeh menahan tawa. Tentu saja sikapnya membuat Aretha seketika tersinggung. Gadis itu menganggap bahwa sikap David tak lain hanya untuk meledeknya.
"Bukannya begitu, Mi," rengek Aretha. Sementara kedua orangtua David tampak memperhatikan gadis itu dengan rasa penasaran.
"Aku belum berpikir sampai sejauh itu. Aku masih kuliah dan punya rencana untuk melanjutkan S2," jelas Aretha. "Sejujurnya, aku tidak ingin sekolahku terganggu cuma karena hal-hal seperti itu," imbuhnya.
Kris yang sedari tadi mendengarkan alasan Aretha tampak melebarkan senyumnya. "Bagus itu, Nak. Om suka orang-orang seperti kamu yang sangat memprioritaskan pendidikan," ucapnya memuji. "David pasti akan menunggu sampai kamu lulus," imbuhnya.
Ah, kayaknya aku salah langkah, bisik Aretha.
Niat hati ingin menolak secara halus, tetapi malah menjadi seperti itu. Aretha tampak dibuat kikuk. Tak banyak yang bisa ia perbuat. Namun, sebisa mungkin ia tetap mencari cara agar perjodohan itu tidak berlanjut.
Berani sekali dia menolakku! Tidak tahu apa, kalau di luaran sana masih banyak gadis-gadis cantik yang sedang mengantri ingin menjadi kakasihku? gumam David dalam hati.
"Begini, Om. Aduh! gimana ya ngomongnya?" ucap Aretha tampak bingung. Namun, Kris dan yang lainnya tampak tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Maksud saya begini lho, Pak David, kan, atasan saya. Saya pikir ... rasanya kurang etis saja jika tiba-tiba kami memiliki kedekatan. Lagi pula, di luar sana, kan, banyak juga perempuan yang mengejar Pak David," terang Aretha.
Sebenarnya gadis itu tidak tahu betul tentang seberapa banyak perempuan yang mengejar cintanya David. Namun, mendengar gosip yang selama ini beredar di kantor, dengan terpaksa ia jadikan sebagai alasan.
"Betul begitu, Nak?" tanya Kris kepada David.
David menghela napas. "Betul, Pa, tapi aku lebih cocok dengan pilihan Papa dan Mama," jawab David, lalu melirik ke arah Aretha yang kala itu telah membulatkan matanya. Lagi-lagi ia dibuat mati kutu oleh pria itu.
"Kamu dengar sendiri, kan, Nak?" tanya Kris seraya memandang Aretha sembari mengulas senyuman di wajahnya. Sementara, David tampak menatap gadis itu sembari tersenyum penuh kemenangan.
Aretha hanya menanggapinya dengan senyuman. Dalam hati ingin sekali ia menolak secara langsung. Namun, entah kenapa itu sangat terasa berat di mulutnya. Terlebih, karena ia menghargai Kris sebagai atasan dan rekan bisnis ayahnya.
Lihat saja pak David, seberapa kuat anda bertahan dengan saya.
Gadis itu masih menatap sinis pria di depannya. Rasanya, ingin sekali ia mengumpat pria itu. Namun, itu tidak bisa ia lakukan, dalam situasi seperti itu. Meski David menyebalkan, tetapi tetap saja ia adalah atasan yang patut ia hargai dan jaga kehormatannya di depan umum.
"Papi yakin, Nak David akan menjadi yang terbaik untukmu, Nak," timpal Anton.
"Papi benar! Bukan begitu, Nak David?" tanya Carmila.
"Saya akan berusaha, Tante," jawab David seraya mengukir senyum di wajahnya.
Gadis itu tampak memberengut melihat David yang lagi-lagi bertingkah konyol. Bisa-bisanya ia bersikap seperti itu, pikirnya.
"Mama akan senang sekali jika kalian bisa bersatu, Sayang," ucap Maria menimpali seraya menatap David dan Aretha secara bergantian. Aretha hanya menanggapinya dengan senyuman terpaksa.
***
Acara makan malam telah selesai. Mereka berencana untuk segera pulang dari tempat itu. Namun, tidak dengan David. Pria itu tampak menahan Aretha untuk tidak langsung pulang, dengan alasan karena pekerjaan.
Meski gadis itu sudah sempat menolak, tetapi David malah meminta ijin kepada orangtua Aretha. Tentu saja, dengan mudahnya mereka memberikan ijin.
"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu, ya," ucap Carmila. "Nak David, Tante titip Rere, ya!" imbuhnya.
"Baik, Tante," jawab David. Sementara Aretha hanya diam membisu.
Mereka masih duduk di tempat sebelumnya. Duduk saling berhadapan. Aretha masih menatap sinis kepada atasannya itu. Tentu saja karena ia tidak suka dengan cara David.
Sama halnya dengan Aretha, David pun menatap gadis itu. Namun, ia tampak melemparkan senyuman. Entah itu senyuman apa, sangat susah untuk di tebak, yang jelas ada yang tidak beres di balik senyuman pria itu.
"Hai, calon istri," ucap David, menggoda gadis di hadapannya, sontak membuat Aretha semakin memelototkan matanya.
"Saya tidak suka dengan cara anda, Bapak David Wijaya yang terhormat!" ketus gadis itu penuh penekanan.
David tampak tersenyum getir. "Tapi saya suka dengan cara orangtua kita," ucapnya seolah tidak terpancing akan ucapan gadis itu.
"Maksud anda apa? Anda sengaja mau mengerjai saya?" tanya Aretha seraya menatap tajam pria itu.
David masih bersikap tenang. "Sudahlah, tidak perlu dibahas! Ada hal penting yang harus saya bahas denganmu," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu menghela napas kasar, merasa kesal kepada atasannya. "Apa tidak ada waktu lain sehingga harus membahas pekerjaan malam ini?" tanyanya masih dengan nada sinis.
"Memangnya, siapa yang bilang mau membahas soal pekerjaan?" tanya David pura-pura lupa.
"Lah, tadi kan Bapak sendiri yang bilang kepada orangtua saya!" kesal Aretha.
David menghela napas seolah membenarkan perkataan gadis itu. Namun, ia tidak peduli dengan semua itu karena itu hanya ia jadikan sebagai alasan saja.
"Well, kamu dengar baik-baik!" perintah David seraya menatap serius wajah gadis di depannya. Aretha tampak memperhatikan.
"Berhubung kita sudah dijodohkan, jadi ada beberapa hal yang harus kamu lakukan," imbuhnya, sontak membuat Aretha semakin geram. Namun, belum sempat gadis itu berkomentar, David telah lebih dulu melanjutkan perkataannya.
"Dilarang membantah, apalagi melanggar!" tegas David.
"Pertama, lakukan apa yang saya perintahkan. Kedua, mulai besok, saya yang akan mengantar jemput kamu. Ketiga, dilarang keras berhubungan dekat dengan pria lain, karena saya tidak mau memiliki calon istri yang tipikal seperti itu," jelas David seraya terdiam sejenak, sebelum melanjutkan.
Sementara, mata gadis itu semakin melebar, ketika mendengar setiap tahapan yang harus ia lakukan.
"Keempat, bersikaplah sebaik mungkin kepada saya sebagai atasan, jika di kantor dan sebagai calon suami, ketika di luar kantor. Kelima, bersikaplah biasa, tidak usah kaku seperti itu, ketika berbicara dengan saya!" imbuhnya penuh penekanan.
Setelah David terdiam beberapa menit, Aretha tampak melipatkan kedua tangannya di atas meja. Ia masih menatap tajam pria itu. "Memangnya, siapa yang mau dijodohkan dengan anda?" tanyanya sinis.
"Kenapa, kamu keberatan?" tanya David seraya menatap balik gadis itu. "Sayangnya, kamu tidak bisa menolak. Ini sudah menjadi keputusan kedua orangtua kita," imbuhnya seolah tidak peduli.
Entah apa yang sebenarnya tengah direncanakan oleh pria itu sehingga dengan mudah ia menerima perjodohannya dengan Aretha.
Aretha tampak melengos, lalu berdecak kesal. "Saya tidak menyangka, rupanya anda terobsesi sekali dengan saya," sindirnya seraya tersenyum getir.
"Apa perlu kita adakan pesta pertunangan terlebih dahulu, agar kamu merasa lebih yakin?"
____________
Hai, Readers yang ketjeh!
Author tidak akan bosan untuk menyapa kalian. Sedikit curhat. Aku tidak begitu berharap kalian bisa vote novel aku ataupun kasih tips koin, karena aku tahu betul bagaimana susahnya cari poin dan koin. Cuma, paling tidak kasih like and comment di setiap chapternya. Jangan lupa bantu naikin rating juga, dengan kasih 5 star buat novel aku, biar semangat author semakin menggebu.
Author mohon dengan sangatπ Karena tanpa kalian, aku hanyalan remahan emas yang tak bisa di jualπππππ¬π€£
TO BE CONTINUED ....
HAPPY READING!