Possessive Love

Possessive Love
Rindu



"Sayang, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal di rumah sendiri?" tanya David yang baru saja selesai sarapan.


David tampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia harus terpaksa meninggalkan Aretha di rumah baru sendirian karena pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Terlebih lagi, ia sedang merencanakan kerjasama dengan klien barunya dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan.


"Tidak apa-apa, Mas," jawab Aretha.


Karena Aretha sudah memasuki liburan semester, David sedikit merasa khawatir jika meninggalkannya di rumah sendirian, meski diluar ada Adhi, satpam yang selalu menjaga keamanan rumahnya.


"Harusnya sih, bi Ratih sudah harus ke mari, tetapi kenapa sampai saat masih belum datang ya?" ucap David heran.


David memang telah memiliki janji dengan seseorang yang akan menjadi asisten rumah tangganya di rumah barunya itu.


Ratih, namanya. Dia adalah salah satu asisten rumah tangga yang sebelumnya bekerja di rumah kedua orangtuanya. Namun, mamanya David menyarankan agar wanita itu pindah bekerja untuk membantu David dan istrinya. Terlebih rumah wanita itu tidak jauh dari rumah David.


"Sepertinya kamu maksa sekali ingin memakai jasa asisten rumah tangga, Mas. Kamu takut kuracuni? Gak sudi makan masakan aku yang tidak enak itu?" tanya Aretha seolah curiga.


"Haiish!" David melengos kesal. Tidak habis pikir istrinya akan berpikir seperti itu terhadapnya. "Pikiran kamu dangkal sekali!" celetuknya.


"Bisa saja, kan?"


"Mana mungkin aku seperti itu. Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat pagi-pagi begini!" tukas David mengakhiri.


Aretha tampak mengantar David ke depan. Namun, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Aretha segera menghampiri pintu yang kala itu tidak jauh dari jangkauannya.


Tampak seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan tengah bediri di depan rumahnya. Seketika ia tersenyum ramah kepada Aretha dan David.


"Assalamu'alaikum, Maaf saya terlambat," ucap wanita itu sedikit tidak enak hati.


Aretha dan David tampak kompak menjawab salam itu.


"Syukurlah, Bibi sudah datang," ucap David.


Ya, wanita itu adalah Ratih, calon asisten rumah tangga yang baru saja menjadi topik pembicaraan keduanya.


"Iya, Mas ... eh, Pak. Sekali lagi, maaf saya terlambat," lirih Ratih tampak bingung.


"Panggil saja saya seperti biasa, Bi," titah David.


"Baik, Mas." Ratih tampak mengangguk pelan.


"Oh iya, kenalkan ini istri saya, Aretha," ucap David memperkenalkan istrinya kepada Ratih.


Aretha tampak tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Ia memang belum mengenal Ratih sebelumnya, tetapi mendengar cerita dari David, sepertinya ia akan cocok dengan asisten rumah tangganya itu. Terlebih, setelah melihatnya, Ratih tampak begitu ramah dan sopan.


"Baiklah, kalau begitu saya masuk dulu, Mas, Mbak," pamit Ratih yang langsung mendapat anggukkan dari kedua pasangan suami istri itu.


Aretha mecium tangan suaminya, sebelum sang suami masuk ke dalam mobil.


"Sayang, nanti kalau butuh sesuatu, kamu bisa minta bantuan sama bi Ratih, atau bisa juga ke pak Adhi, ya," ucap David, sebelum ia pergi.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati ya, nyetirnya pelan-pelan saja!" Aretha tampak mengingatkan.


David tersenyum, lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya. Setelah itu, ia langsung meninggalkan rumahnya dengan mengendarai mobil mewahnya.


***


Di ruang rapat, David dan beberapa jajaran direksi beserta kliennya, baru saja selesai melaksanakan rapat mengenai rencana kerjasama yang akan dilakukan dengan PT. Angkasa Corporindo Tbk.


Sebuah perusahaan sektor perdagangan terbesar di kotanya yang nantinya akan membantu menjual barang hasil produksi perusahaannya. Itu merupakan proyek besar yang akan membuat perusahaan KW Group semakin membuana.


Beruntung sekali hari itu ia telah menandatangani kontrak dengan perusahaan tersebut. Tampak seringaian bahagia darinya dan beberapa rekan kerja lainnya.


"Rangga, kamu tolong minta bagian staf gudang, untuk mengecek stok barang, jika stok barang sudah tidak memungkinkan, segera minta untuk produksi barang terbaru secepatnya! saya tidak ingin mereka kecewa!" perintah David kepada Rangga sang asisten pribadinya.


"Baik, Pak."


Rangga segera melakukan perintah sang atasan, setelah David keluar dari ruangan itu.


David meraih gawai yang ada di dalam saku jasnya, lalu segera menyambungkan saluran telepon ke nomor Aretha.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya David, setelah berhasil tersambung dengan istrinya.


"Baik, Mas. Kenapa?" suara di seberang sana.


"Syukurlah. Apa kamu tidak rindu denganku?"


"Baru juga beberapa jam, Mas."


"Lho, memangnya kenapa? Aku sangat merindukanmu, Sayang."


"Cepatlah pulang, kalau kamu rindu!"


"Kamu benar-benar tidak merindukanku?" tanya David sangat penasaran. Ingin rasanya ia mendengar kata-kata rindu dari Aretha.


"Kalau aku jawab tidak, kenapa?"


"Haish! Kenapa kamu menyebalkan sekali!" umpatnya.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Aretha.


"Belum," jawab David.


"Mau kubawakan makan siang ke kantormu?" tanya Aretha menawarkan.


"Hmm ... tidak perlu, Sayang! Sepertinya aku akan pulang cepat hari ini," jawab David.


"Baiklah, aku tunggu!"


David kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja kerjanya, lalu mengecek beberapa email yang masuk. Ia tampak fokus ke layar laptopnya. Hampir seperempat jam ia sibuk dengan kegiatannya.


Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Tampak seorang karyawan laki-laki yang masuk ruangan, setelah David mengijinkan. Nampaknya, ia memberikan beberapa laporan kepada David.


David segera memeriksa laporan itu dengan seksama. Namun, seketika ia tampak geram, rahangnya mengeras seolah memendam amarahnya. David mendongak menatap karyawan bernama Indra yang tengah duduk di hadapannya.


"Apa ini? Kenapa pengeluaran bulan ini membengkak sekali?" geram David seraya membulatkan matanya menatap tajam Indra


"Maaf, Pak, saya tidak tahu soal itu. Saya hanya menyampaikan laporan dari manajer keuangan," jawab Indra sedikit gugup.


Ada yang tidak beres ini. Harusnya kan tidak sampai menghabiskan budget sebesar itu.


"Baik, tolong kamu sembunyikan dulu masalah ini, biar nanti saya yang akan tangani sendiri," ucap David sedikit menahan emosinya.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Indra segera keluar dari ruangan itu.


"Sial! Kenapa aku bisa kecolongan begini!" umpat David semakin geram. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera menyelidiki kasus ini, sebelum semuanya berantakan. Aku yakin sekali ada yang sedang tidak beres!" imbuhnya.


David tampak mengacak rambutnya kasar. Mengingat berapa kerugian yang dialami perusahaannya dalam satu bulan.


"Aaarrgh!" erangnya frustrasi.


David segera membereskan meja kerjanya, lalu memasukkan laptopnya ke dalam tas kerja, sebelum ia pulang. Mengingat ia sudah berjanji kepada Aretha bahwa akan pulang lebih awal. Namun, sebelum itu ia telah meminta Rangga yang handle pekerjaannya, selama ia tidak ada.


Baru saja David akan keluar dari ruangannya, tiba-tiba pintu ruangan itu kembali di ketuk, sehingga membuat David kembali mengurungkan niatnya.


David meminta makhluk di luar sana untuk masuk. Namun, seketika ia membeliak tak percaya, ketika mendapati sosok tidak asing baginya, menyembul dari balik pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING


TBC