
"Sayang, hari ini kamu tidak ke kampus?" tanya David.
"Tidak, Mas," jawab Aretha yang kala itu tengah menyimpulkan dasi suaminya. "Sudah selesai," imbuhnya seraya melepaskan tangannya dari dasi berwarna biru tua itu.
"Terima kasih, Sayang."
"Ayo, sarapan. Kasihan anak-anak pasti sudah menunggu," ajak Aretha yang segera beranjak keluar dari kamarnya.
"Sa-Sayang," panggil David. Namun, nampaknya Aretha tak mendengarnya. Itu terbukti saat wanita itu terus melenggangkan tubuhnya tanpa menggubris panggilan suaminya. "Padahal aku belum kasih kecupan terima kasih, lho," desisnya kemudian.
Sebagaimana yang biasa pria itu lakukan. Ia selalu mengecup kening istrinya, setelah sang istri selesai menyiapkan semua keperluannya sebelum berangkat kerja.
Pria itu mematung sejenak, menatap punggung istrinya yang sudah mejauh dari pintu kamar yang kala itu masih terbuka lebar. Seketika menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya di atas nakas, sebelum akhirnya ia menyusul sang istri ke ruang makan.
"Selamat pagi anak-anak papa," sapa David kepada kedua buah hatinya yang kala itu telah duduk di kursi makan dan siap untuk melakukan kegiatan sarapan.
David mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di dujung meja makan.
"Selamat pagi, Pa," sapa Arkana dan Aruna yang terlihat sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Wah ... anak-anak papa semangat sekali pagi ini," seru David yang tampak memerhatikan senyum semringah dari kedua buah hatinya.
"Iya dong, Pa. Aruna tidak boleh kalah sama Papa," ujar Aruna yang selalu saja punya cara untuk menjawabnya. Sedangkan Arkana, ia terlihat lebih cuek, tak berkomentar apapun, selain tersenyum.
"Sudah siap sarapan semua?" tanya Aretha sembari menata beberapa menu sarapan pagi itu di atas meja.
"Siap!" seru Aruna dengan sangat ceria.
"Siap, Ma," jawab Arkana dengan nada lirih.
Mereka pun melakukan kegiatan sarapan pagi mereka seperti biasanya dengan menu sarapan sesuai pilihan masing-masing.
Pagi itu David dan Aretha memilih sarapan nasi, sedangkan Arkana lebih memilih sarapan dengan sandwich, sesuai permintaannya. Berbeda dengan Aruna yang hanya makan sehelai roti tawar yang dilumuri oleh selai cokelat kesukaannya.
Kegiatan mereka terlihat begitu tenang, tak ada keributan apapun yang biasanya terjadi setiap paginya, akibat ulah si kembar. Namun, tidak dengan hari itu. Jangankan keributan, percakapan antara keduanya pun tidak ada.
Setelah selesai sarapan, David segera beranjak keluar dengan diantar oleh Aretha menuju mobilnya, sedangakan Arkana dan Aruna telah lebih dulu berangkat ke sekolah dengan diantar oleh perawat dan supir pribadinya.
"Sayang, aku berangkat dulu," pamit David sebelum beranjak naik ke dalam mobil.
"Hati-hati, Mas," balas Aretha, lalu mencium tangan sang suami.
David langsung masuk ke dalam mobil, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sementara Aretha kembali masuk ke dalam rumah, lalu mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga yang tak ada selesainya.
Kebetulan hari itu adalah hari ulang tahun papinya, dan ia berencana akan memberikan kue hasil karyanya sendiri. Maka dari itu, pagi itu ia langsung disibukkan dengan kegiatan tersebut.
Bahan sudah selesai Aretha sediakan. Dimasukkannya beberapa butir telur ke dalam wadah, lalu ditambahkan emulsifier. Setelah itu, Aretha menyiapkan mixer untuk mengocok bahan yang sudah dimasukkan ke dalam wadah tersebut.
"Mbak, apa yang bisa saya bantu?" tanya Ratih yang sedari tadi memerhatikan kegiatan majikannya.
"Tidak ada, Bi. Saya mau membuat ini sendiri saja, soalnya ini untuk ulang tahun papi, jadi saya harus bisa melakukannya sendiri," jawab Aretha.
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi untuk melakukan pekerjaan lainnya," pamit Ratih yang memang harus mengerjakan tugas menyetrika pakaian.
PRAANG!!!
Baru saja Aretha akan melakukan kegiatan mengock telur-telur itu, tiba-tiba tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah gelas yang berada tak jauh dari jangkauannya, sontak membuat gelas itu terjatuh dan pecah. Aretha segera meraih pecahan gelas itu untuk membereskannya kembali.
"Auuww!" pekik Aretha, ketika pecahan gelas itu melukai telunjuknya, sehingga membuatnya berdarah. Seketika hatinya merasa tidak tenang. Namun, ia berusaha menepisnya kembali. Ia berusaha yakin bahwa kejadian itu bukanlah pertanda buruk baginya.
"Ada apa, Mbak?" tanya Ratih segera menghampiri majikannya, ketika mendengar benda terjatuh. "Ya ampun, tangan Mbak terluka. Biarkan ini saya yang membereskan," imbuhnya setelah menyadari sedikit darah pada jari telunjuk Aretha.
Aretha segera mencuci tangannya, karena ia rasa lukanya tidaklah seberapa, jadi tidak perlu memakai obat merah. Setelah itu, ia melanjutkan kembali kegiatannya. Meski Ratih sudah berusaha mengambil alih pekerjaannya, tetapi Aretha tetap saja menolak.
Wanita itu terlalu antusias dan bersemangat untuk membuat kue ulang tahun untuk papinya.
"Oke, seprtinya sudah cukup," ucap Aretha seraya mematikan mixer, ketika adonan telur itu sudah cukup menembang. Ia meraih wadah yang sudah berisi campuran terigu dan cokelat bubuk, lalu akan mencampurkannya ke dalam adonan yang sudah di kocok. Namun, belum sempat ia melakukannya, tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumahnya.
"Seperti suara mobil mas David," lirihnya heran. "Kenapa dia balik lagi, apa ada yang tertinggal?" imbuhnya seraya meletakkan kembali wadah berisi campuran terigu dan cokelat bubuk itu.
Aretha melangkahkan kakinya menuju ruangan depan. Namun, belum sempat ia membukakan pintu rumahnya, pintu itu telah lebih dulu terbuka, dan benar saja bahwa orang itu memang David. Entah apa yang tertinggal, sehingga membuat pria itu memilih untuk kembali pulang dalam waktu secepat itu.
"Mas kenapa pulang lagi? Apa ada yang tertinggal?" tanya Aretha penasaran.
David hanya berdiri mematung sembari menatap wajah istrinya dengan sendu. Tentu saja membuat Aretha semakin merasakan keheranan.
"Mas, kamu kenapa? Ditanya kok malah diam saja?" tanya Aretha sekali lagi. Namun, lagi-lagi David hanya bergeming.
Entah apa yang membuat David tiba-tiba seperti itu. Sungguh membuat Aretha bingung. Wanita itu semakin penasaran dan hatinya mulai merasa tidak tenang.
"Mas?" desak Aretha yang semakin dibuat tidak tenang melihat ekspresi sang suami saat itu. Seketika David dibuatnya tersentak.
"Yang menelepon? Siapa, Mas?" Aretha semakin bingung dengan pertanyaan suaminya. "Aku dari tadi sibuk di dapur, Mas. Lagi membuat kue untuk ulang tahun papi," sambungnya memberi tahu.
Mendengar pernyataan Aretha, mata David yang sedari tadi menatap sendu istrinya semakin terlihat berkaca-kaca. Aretha yang menyadari hal itu, lagi-lagi dibuat bingung.
"Mas ada apa?" tanya Aretha semakin merasa tidak tenang.
Dengan langkah yang sedikit gontai, David menghampiri sang istri. Tanpa berkata apapun, David segera memeluk tubuh istrinya dengan erat. Tentu saja Aretha semakin tahu bahwa suaminya tidak sedang baik-baik saja dan ada sesuatu yang sudah terjadi, sehingga membuat suaminya seperti itu. Namun, entan itu apa.
"Mas ada apa?" tanya Aretha.
Tak terasa air mata David jatuh, ketika ia memeluk istrinya. Entah ia harus memulai dari mana. Yang jelas, ia tahu bahwa apa yang akan ia katakan pasti akan melukai hati istrinya, dan ia benar-benar tidak siap jika harus melihat sang istri bersedih.
Namun, seberapa pun menyakitkannya, ia tetap harus menyampaikan kabar buruk yang beberapa menit lalu baru ia dengar dari asisten rumah tangga yang bekerja di rumah mertuanya. Dan itu sangat menyakitkan baginya. Lantas, bagaimana dengan Aretha? Pikirnya. Pasti Aretha akan sangat terpuruk mendengar itu semua.
Menyadari hal itu, David semakin mempererat pelukannya. Sungguh ia ingin memberikan ketenangan kepada Aretha, sebelum wanita itu mendengar kabar buruk yang akan ia sampaikan, meski ia sendiri sebenarnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Mas, apa terjadi sesuatu?" tanya Aretha yang sudah menyadari bahwa telah terjadi sesuatu, meski ia belum tahu pasti apa itu. Namun, ia sudah bisa merasakan bahwa ada sesuatu hal buruk yang akan ia dengar.
David terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia menanggapi pertanyaan Aretha yang ke sekian kalinya.
"Sayang ...," lirih David, lalu terdiam kembali mencoba menetralkan perasaannya. Sungguh ia merasa tidak kuasa mengatakan itu langsung kepada istrinya. Namun, keadaan seolah memaksanya untuk mengatakan itu. Dan memang tidak ada pilihan lain.
"Sayang, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat. Kamu sudah melewati ribuan, bahkan mungkin jutaan masalah dengan kekuatan yang kamu miliki. Pun dengan hari ini. Aku yakin kamu pasti bisa melewatinya. Kamu percaya? Bahwa aku akan selalu ada di samping kamu, kapanpun itu. Dan kita akan melewati semuanya bersama," jelas David dengan nada berat, karena sedikit menahan tangisnya.
"Katakan, Mas! Apa yang sudah terjadi?" desak Aretha tanpa ingin menanggapi pernyataan suaminya.
"Papi," lirih David tidak kuasa melanjutkan kembali perkatannya.
DEG!
Aretha terdiam sejenak, berusaha mencerna pernyataan suaminya. "Kenapa dengan papi?" tanya Aretha yang tanpa disadari ia sudaj meneteskan air matanya. Ia tidak tahu persis apa yang sudah terjadi dengan papinya, tetapi ia bisa menebak bahwa telah terjadi sesuatu yang sangat buruk terhadap papinya itu.
"Katakan, Mas! Apa yang sudah terjadi dengan papi?" Lagi-lagi Aretha mendesak suaminya di tengah air mata yang semakin derasa membanjiri pipinya.
Akhirnya dengan nada berat dan rasa ragu, David menceritakan kabar buruk yang menimpa papi mertuanya kepada Aretha. Ya, sekitar satu jam yang lalu, papi mertuanya mengalami serangan jantun, seusai sarapan di rumahnya. Dan nahas, nyawanya tidak dapat tertolong.
Sebetulnya, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kedua orang tua Aretha sudah berusaha menghubungi nomor Aetha. Namun, berulang kali tidak mendapatkan jawaban, sehingga ia memutuskan untuk menelepon David yang kala itu masih diperjalanan dan baru beberapa menit berangkat dari rumahnya.
David syok mendengar kabar tersebut. Benar-benar sulit dipercaya. Setelah dua hari yang lalu ia beserta istri dan anak-anaknya baru saja pulang menginap dari rumah mertuanya, tiba-tiba ia mendengar kabar yang mengejutkan.
Dengan perasaan sakit dan hancur, pria itu pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya dengan membawa kabar buruk tersebut.
"Mas, kamu bohong 'kan sama aku?" tanya Aretha tidak percaya. Sungguh ia tidak ingin percaya itu, tetapi entah kenapa hatinya justru mengatakan 'iya' bahwa apa yang dikatakan suaminya adalah benar.
"Mas, katakan bahwa kamu bohong!"
David tidak menanggapi. Pria itu semakin mempererat pelukannya, berusaha memberi ketenangan, meski ia tahu tidak semudah itu membuat istrinya tenang dalam situasi yang tengah mereka hadapi saat itu.
Dan apa yang Aretha rasakan saat itu? Hancur. Benar-benar hancur. Secepat itukah ia harus kehilangan orang yang sangat ia cintai di hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagi papinya itu? Lalu, apa yang sudah ia lakukan hari ini untuk papinya, ternyata sia-sia?
"Mas, kamu bohong 'kan, Mas?" Aretha masih ingin mendengar bahwa apa yang baru saja ia dengar adalah kebohongan.
David menggelengkan kepalanya, sebagai tanggapan atas pertanyaan Aretha bahwa apa yang ia katakan bukanlah kebohongan.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Aretha mengelengkan kepalanya seolah masih tidak percaya. "Mas, ini tidak mungkin. Papiii!" teriaknya kemudian seraya ingin memberontak dan melepaskan pelukan suaminya. Namun, Davis sekuat tenaga menahannya.
David dapat merasakan betapa hancurnya Aretha saat itu. Sebab, ia pun merasakan hal yang sama. Anton memang mertuanya, tetapi ia sudah menganggap papi Aretha seperti orang tua kandungnya sendiri, dan Anton pun sama, selalu memperlakukannya seperti anak kandungnya, bukan layaknya seorang menantu.
Andai saja ia tahu akan seperti itu jadinya, mungkin ia tidak akan meminta Aretha untuk pulang secepat itu dari rumah mertuanya dua hari yang lalu. Dari sebelumnya, David memang sudah merasakan firasat tidak baik. Terlebih ketika ia melakukan perbincangan empat mata dengan papi mertuanya di ruang tamu, sebelum ia pulang dua hari yang lalu.
"Nak, papi ini sudah semakin tua. Sewaktu-waktu, bisa saja Tuhan memanggil papi, entah besok atau lusa. Papi titipkan Aretha dan cucu-cucu papi padamu. Bimbing dan jagalah mereka dengan baik. Papi mohon, berikan kebahagiaan untuk putri papi. Sebab, hanya kamu yang saat ini papi percaya bisa membahagiakan Aretha," pesan Anton yang sontak membuat David heran.
Pada waktu itu, David berusaha menanggapinya dan tetap menunjukkan sikap biasa di hadapan papi mertuanya, meski sebenarnya ia sudah memiliki firasat lain.
"Papi tidak boleh berbicara seperti itu. Yang namanya usia tidak ada yang tahu. Baik tua ataupun muda, ketika ajal sudah tiba waktunya, tidak ada yang bisa mencegah atapun memilih berdasarkan usia. Siapapun akan bertemu dengan ajal mereka masing-masing, setelah tuhan berkehendak, sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan ketika kita lahir ke dunia," ujar David menanggapi.
Sekilas senyuman terbit di wajah Anton saat itu. "Ya, kamu benar, Nak," ucapnya seraya menganggukkan kepala.
"Papi tidak perlu khawatir soal Aretha dan anak-anak. Mereka adalah prioritas saya saat ini. Apapun yang dapat membahagiakan mereka, saya pasti akan lakukan semampu saya. Sebab, tak ada yang lebih membahagiakan saya, selain melihat mereka bahagia," terang David.
"Papi percaya padamu, Nak."
Itulah sepenggal cerita yang masih terekam jelas di memori otak David saat itu. Perbincangan yang ternyata menjadi pesan terakhir dari papi mertuanya. Dan mulai hari itu ia harus menepati janjinya kepada Anton untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya.
"Sayang, kamu yang sabar. Tidak ada yang bisa kita perbuat selain mengikhlaskan kepergian papi," ucap David berusaha menyadarkan bahwa itu adalah takdir Tuhan yang memang sudah seharusnya mereka hadapi dengan lapang dada.
Namun, Aretha masih saja terisak menangis. Bagaimana tidak? Ketika seluruh jiwanya merasakan luka dan sakit yang teramat dalam. Dan ia harus percaya dan menerima dengan lapang dada kehilangan seseorang yang sangat ia cintai untuk selama-lamanya. Sungguh itu membuatnya hancur dalam waktu sekejap.