Possessive Love

Possessive Love
Merasa Kasihan



Keesokan paginya, mereka telah bersiap-siap mengemas barang-barang mereka, lalu sebagian memasukkannya ke dalam mobil. Ya, benar. Hari itu adalah hari terakhir mereka berada di villa yang menjadi tempat mereka menginap selama liburan.


Selama satu minggu mereka menghabiskan waktu di tempat asing bagi mereka. Begitu banyak canda, tawa, juga kesedihan yang melengkapi liburan mereka dalam waktu sesingkat itu. Entah itu akan menjadi kenangan terindah bagi mereka atau malah sebaliknya.


"Bi, Pak, kami pamit dulu. Terima kasih atas bantuannya selama kami di sini. Mohon maaf sudah merepotkan," ucap David seraya berpamitan kepada kedua pasangan yang mengurus villa tersebut.


"Merepotkan apa to, Mas. Justru saya senang kalau di sini ramai. Jangan pernah kapok, kapan-kapan main lagi kemari," balas Sri seraya tersenyum ramah.


"Iya, Bi. Nanti kalau kami ada waktu lagi, kami pasti berlibur lagi kemari," ujar David.


"Baiklah, kalau begitu Mas dan Mbaknya hati-hati di jalan." Sri tampak mengingatkan.


Setelah David mewakili berpamitan kepada Sri dan Karman, nampak yang lainnya juga ikut berpamitan, sekadar mengucapkan terima kasih dan meminta maaf, sebagaimana yang David lakukan.


"Re, gue bareng lo, ya?" Tiba-tiba Diandra meminta untuk ikut satu mobil sama Aretha, ketika Aretha dan David baru saja akan masuk ke dalam mobilnya.


Aretha terlihat bingung, entah harus menyetujuinya atau malah menolaknya. Namun, jika ia menolak, tentu sahabatnya itu akan merasa kecewa berat, pun sebaliknya. Jika ia mengijinkan, tentu Samuel yang mungkin akan merasa kecewa karena tidak ada teman untuk mengobrol.


"Mm ... gue sih nggak apa-apa, Ra. Cuma ... nanti Samuel sendirian saja dong?" jawab Aretha sedikit ragu.


Diandra tampak memberengutkan wajahnya, merasa kecewa. Bagaimana bisa Aretha lebih memikirkan perasaan Samuel daripada dirinya yang jelas-jelas sudah sejak lama menjadi sahabatnya, pikirnya.


"Sejak kapan dia lebih penting dari pada gue?" Diandra melayangkan protesnya kepada Aretha sembari mendelik ke arah Samuel yang kala itu ia sadari tengah berdiri di samping mobilnya, sembari meperhatikan ke arahnya.


"Bukan seperti itu, Ra," bantah Aretha tidak menerima tuduhan itu.


Aretha memang kasihan kepada Diandra yang terlihat kurang nyaman dengan Samuel. Entah kenapa wanita itu terlihat sangat tidak nyaman dengan pria itu, seolah ada rasa canggung terhadapnya. Padahal, sebelumnya ia mana peduli mau bersikap seperti apapun di depan pria itu.


Mungkinkah itu terjadi karena adanya rasa cinta yang tumbuh secara perlahan, tetapi ia tidak mampu mengungkapkan, sehingga lebih memilih untuk diam dan mengendapkan rasa? Batin Aretha saat itu. Entahlah, hanya dirinya yang tahu.


Namun, di samping itu, Aretha juga merasa kasihan kepada Samuel kalau harus pulang sendirian, sementara perjalanannya cukup jauh. Pasti pria itu akan merasa sangat jenuh selama perjalanan pulang.


Lagi pula, rencana wanita itu dengan kedua sahabatanya untuk mendekatkan Samuel dan Diandra masih belum berhasil, meski ia pikir Samuel sudah mulai menaruh hati pada Diandra. Bukankah ini kesempatan baik untuk membuat mereka semakin lengket?


"Lalu?" Diandra menatap penuh tanya.


"Sudahlah, Sayang ... kalau memang dia mau ikut dengan kita, biarkan saja," timpal David tiba-tiba menyetujui.


Seketika Diandra tidak percaya dengan sikap David yang tiba-tiba baik terhadapnya.


Tumben pak David peka? Baguslah!


"Aku sih ... silakan saja, Mas," balas Aretha sedikit ragu.


"Ayo pulang!" ajak Samuel seraya menarik tangan Diandra agar ikut dengannya. Namun, Diandra hanya diam saja. Ia menahan kakinya kuat-kuat agar tidak terjadi pergerakan sedikit pun.


"Gue bareng Aretha, Sam!" ketus Diandra seraya menarik paksa tangannya dari cengkeraman pria itu.


"Lo sengaja mau menjatuhkan harga diri gue sebagai laki-laki, iya?" Seketika Samuel dibuatnya murka. Ia menatap dengan ekspresi kesal wajah Diandra.


"Apa maksudnya?" Diandra membeliak sempurna, mencoba mencerna perkataan pria yang kala itu berdiri di hadapannya.


"Lo 'kan ke sini bareng sama gue, lalu pulangnya juga harus sama gue dong!" protes Samuel mencari alasan. Padahal, bukanlah itu tujuannya. Ia hanya ingin jika Diandra pulang satu mobil dengannya, karena boleh jadi setelah ini mereka tidak akan bisa melakukan hal itu lagi. Tidak ada yang tahu.


Diandra terdiam beberapa saat, lalu menatap nanar wajah pria di depannya, sebelum akhirnya ia menanggapi pria itu.


Memangnya dia siapa? Pacar bukan, saudara bukan, lalu untuk apa aku harus terus-menerus menguntitnya? Hello ... apakah dunia memang seribet ini?


"Dari awal kita nggak ada komitmen apapun 'kan untuk hal itu?" tanya Diandra memastikan. Sebab, ia merasa bahwa tidak membuat perjanjian semacam itu, hanya karena dirinya yang datang bersama Samuel, lalu ia juga harus pulang bersamanya? peraturan macam apa itu?


"Gue nggak terima alasan apapun!" Samuel meraih paksa gagang koper yang ada dalam genggaman Diandra, lalu menyeretnya ke mobil yang tak begitu jauh dari tempat itu. Samuel langsung memasukkan koper berwarna pink itu ke dalam bagasi mobilnya, lalu menutup kembali pintu bagasi mobilnya dengan satu kali hentakan, sehingga suaranya terdengar begitu nyaring.


"Gue tunggu di mobil!" tegas Samuel seraya mendelik kesal ke arah Diandra, lalu segera masuk ke dalam mobil dan mendaratkan tubuhnya di atas jok kemudi.


"Sam, lo nggak bisa maksa gue gitu dong!" teriak Diandra kesal. Namun, mana mau Samuel peduli dengan teriakannya.


"Sorry ya, Ra ... sepertinya lo memang harus bareng lagi sama dia deh, gue ngeri lihat taring dia keluar," lirih Aretha.


"Ya sudahlah, Ra ... bareng sama dia saja kenapa, sih?" timpal Tania dari kejauhan, tetapi masih dapat mendengar dan menyaksikan keributan itu.


"Hanya beberapa jam saja, Ra. Nanti kalau sudah sampai di rumah, lo juga akan bebas." Deasy berkata tanpa beban sama sekali.


Beberapa jam? Memangnya dia pikir beberapa jam itu waktu yang singkat apa? Mereka tidak tahu betapa tersiksanya gue kalau satu mobil dengan Samuel. Mau mengobrol canggung, bersenda gurau apalagi, yang ada hanya diam, tidur, tak bersuara, tak berkomentar, sekalinya bersuara hanya untuk bertengkar. Hello ... itu bukan jiwa gue banget!


"Kalian tuh kenapa, sih? Terus saja belain dia!" Diandra tampak menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu dengan terpaksa menghampiri mobil Samuel dan terpaksa juga harus ikut pulang dengan pria itu.


Ketiga sahabatnya hanya mengulum senyum melihat aksi Diandra yang sama sekali tidak ada ekspresi menyeramkan sedikit pun, meski dalam keadaan sedang marah.


Sementara dari kejauhan, Renata yang sedari tadi menyaksikan adegan kedua pasangan yang entah status hubungannya seperti apa, entah mereka teman, kekasih atau malah musuh bebuyutan. Namun, yang jelas Renata dapat menangkap sesuatu yang luar biasa dari tatapan Samuel terhadap Diandra. Ya, ia tahu betul bahwa itu bukanlah sekadar tatapan kepada seorang teman, tetapi lebih dari itu, seolah Samuel memiliki rasa. Namun, pria itu sengaja memendam rasa itu. Ya, apalagi kalau bukan perasaan cinta.


Sepertinya Samuel sangat mencintai Diandra. Ya, mereka sangat cocok, tampan dan juga cantik. Tidak heran jika Samuel sangat mencintainya.


Diandra duduk di samping Samuel dengan ekspresi memberengut dan wajah yang ditekuk. Sementara Samuel yang menyadari kehadirannya seketika menyeringai penuh kemenangan.


Jangan panggil aku Samuel, kalau hal sekecil itu saja tidak bisa kuhadapi dengan mudah!