
Pasangan pengantin baru itu tak muncul dari kamarnya hingga malam menjelang. Malam ini akan ada makan malam bersama keluarga besar. Apalagi Annisa baru pertama ketemu keluarga besar Arash yang berada diluar negeri.
"Sayang kalau kamu masih lelah gak ikut gapapa"
"Aku gapapa mas. Aku juga belum pernah bertemu mereka. Mumpung mereka disini semua kan"
"Ya sudah. Tapi jangan maksa. Kamu bisa jalan kan"
"Bisalah. Walaupun agak gimana gitu"
"Hehehe. Maaf ya. Habis kamu bikin candu sayang. Mas kan gak tahan"
"Ck. Pokoknya max harus disuruh diet biar agak rampingan"
"Gak adalah yang kayak gitu sayang. Semakin sering dipake malah makin ngembang dia sayang"
"Emang siapa yang mompain bisa ngembang dadakan"
"Kamulah siapa lagi"
"Ck. Baru tidur aja kamu segede sosis jumbo letoy max. Nasib lubangku akan segede pralon beton"
"Hahaha. Kamu sayang ngasal aja"
Annisa menatap max karena Arash baru saja selesai mandi. Dan tak canggung lagi untuk berpakaian dihadapan istrinya. Awalnya Arash mengira jika Icha akan histeris saat pertama kali mereka saling bersentuhan. Namun semua dugaannya salah. Bahkan tadi saat mandi Icha berani menyentil max karena kesal dengan ukurannya.
"Udah yuk keluar. Kamu nanti kalau digodain gapapa kan. Tau sendiri keluarga dan sahabatku kayak apa"
"Sante saja mas. Jangan sebut aku Icha Syauqi Malik kalau gak bisa balas mereka"
"Istri cerdas"
Arash mengenakan pakaian santai. Celana selutut dan kaos polos berwarna marun. Sedangkan Icha menggunakan gamis marun. Arash merangkul pundak istrinya yang sedang membalas pesan dari teman-temannya mengucapkan selamat.
"Sayang teman-teman yang diJogja minta traktir"
"Boleh. Kapan kamu balik Jogja"
"Belum ada kabar sih kapan dosen aku balik. Nanti aku tanya Dea dulu"
Arash masih setia merangkul pundak sang istri. Saat di lift Arash meletakkan dagunya dipundak sang istri. Dan ikut membaca pesan di ponsel istrinya.
"Sayang coba lihat pesan yang baru saja masuk"
"Kenapa emangnya mas"
"Buka aja dulu"
Icha langsung membuka pesan itu. Arash langsung bertanya tentang siapa pria yang berani mengirim pesan kepada istrinya dengan ancaman bunuh diri.
"Dia siapa sayang"
"Oh orang gila mas"
"Teman kamu"
"Bukan mas dia tetangga kos beda kampus"
"Dapat nomor kamu darimana sayang"
"Gak tau mas. Aku uda sering blokir dia sampai bosan"
"Hmm siniin ponsel kamu sayang mas pinjam dulu"
Icha langsung memberikan ponselnya pada sang suami. Arash mengeluarkan ponsel miliknya juga. Setelah mengirim pesan pada seseorang, Arash mengembalikan ponsel istrinya.
"Ini sayang"
"Sudah mas"
"Uda. Simpan saja. Nanti lagi kalau mau balas pesan"
"Syiap bosque"
Mereka langsung menuju restauran hotel. Keluarga sudah menunggu pengantin baru itu. Semua langsung menggoda pasangan itu.
"Widiw basah terus tuh rambut bro"
Arash yang langsung mengambil makanan tak begitu memperdulikan ledekan Ghaydan. Icha pun sama cueknya. Bahkan terkesan savage.
"Cha gimana, ganas gak arash. Mantap gak cha goyangannya"
"Mau tau apa mau tau banget"
"Pelit amat sih cha"
"Yang jelas sudah terbukti dia lelaki sejati dibanding anda"
Arash tersenyum mendengar jawaban sang istri. Mereka berjalan untuk bergabung dengan keluarga Arash. Keluarga Icha juga masih dihotel. Mereka saling mengenal satu sama lain. Keluarga Icha sangat kagum, karena keluarga Arash begitu welcome dengan mereka yang notabene tak sebanding dengan kondisi keluarga Malik.
"Assalamualaikum. Maaf kami terlambat"
"Waalaikumsalam. Gak papa kami paham sekali"
"Hai Annisa saya paman suami kamu. Dan ini keluarga saya. Yang duduk dikursi roda adalah daddy saya. Opa kamu"
"Salam kenal semua. Ini uwak bule ya"
"Sebaiknya kamu memanggil saya uncle saja biar nyaman"
Arash dan Jay senyum mengejek Afnan yang hingga saat ini masih berusaha untuk mendapat panggilan sebagai uncle.
"Tapi lidah Icha suka kesleo. Uwak aja ya biar sama dengan yang lain"
"Hmmm. Nasib"
Arash menyuapi makanan sang istri dengan menu yang berbeda dengan yang diambil Icha.
"Enak mas"
Kini Jay ingin menggoda sang putera. Dia tak mengingat jika menantunya ini berbeda dengan Retha.
"Bro sekarang uda basah terus tuh rambut. Nikmat ya bro"
"Daddy aja basah gak nyadar"
"Iya ih Icha baru lihat daddy keramas malam-malam. Atau jangan-jangan daddy gak mandi cuma keramas aja biar kelihatan habis mandi. Ups"
Jay langsung kicep. Afnan menahan tawanya. Dia ingin tahu si raja tengil dibantai habis sang menantu.
"Sorry daddy icha keceplosan"
"Tapi itu fakta sayang. Sepertinya daddy kita tak mau kalah sama kita sayang"
Afnan mencoba mengambil bagian untuk menjatuhkan Jay. Kapan lagi Afnan mendapat kesempatan emas menjatuhkan raja tengil. Itu pikiran Afnan. Tapi ternyata pikirannya mengalahkan kenyataan yang ada.
"Iya Jay mana mau kalah sama yang muda. Kayak gak sadar umur"
"Uwa. Uwa pun sama rambut juga sudah beruban. Itu juga lembab karena keramas kan bukan karena minyak pomed. Ingat kalian udah berumur. Gak takut encok gitu. Kan kasian nanti saat anak kami lahir para opanya gak sanggup gendong karena encok"
Jay dan Afnan sama-sama melongo. Sedangkan Icha ngomong santai sambil makan dan saling suap dengan sang suami.
Keluarga lain menertawakan Jay dan Afnan yang langsung mati kutu. Arka dan Alex kompak langsung memberikan pendapat
"Gue suka gaya loe Cha"
Icha menyadari kesalahan omongannya. Membuat Afnan menyadari jika ingin membully sang menantu harus bijak dalam memilih kata.
"Maafkan Icha. Icha gak sengaja keceplosan. Mulut ini remnya blong"
Arash langsung memegangi tangan Icha yang memukul-mukul mulutnya sendiri. Dan menggantikannya dengan sebuah kecupan membuat semua keluarga dan sahabatnya kesal.
"Jangan dipukul sayang. Cup. Ini lebih baik"
"Huuuu pamer"
"Sok mesra"
Arash tak peduli cibiran itu. Bahkan dimeja itu ada Malika. Akhir-akhir ini Malika seperti menyesal melepas Arash. Namun Ghaisan selalu memperingatkan Malika dengan tegas.
"Jika kamu menyesal itu sudah terlambat. Dan ingat berani kamu mengusik mereka, Aku sendiri yang akan menghabisimu"
Malika diam tertunduk. Ghaisan yang sebenarnya sudah mulai membuka hati harus dikecewakan oleh sikap Malika yang beberapa bulan terakhir ini selalu memperhatikan Arash.
"Ghaisan benar. Disini aku yang salah. Aku harus ikhlas. Kamu bahagia bersamanya itu sudah cukup buatku"
Malika langsung memeluk lengan Ghaisan dan membisikkan kata-kata yang setidaknya membuat Ghaisan tenang.
"Maafkan aku sayang. Aku akan ikut kamu menetap di Malaysia sementara waktu"
"Kamu serius"
"Iya. Aku serius. Tapi kita harus merried dulu"
"Itu pasti. Setelah acara ini, aku akan membicarakan pernikahan kita dengan papa dan mama"
Seluruh keluarga masih asyik bercengkrama. Dengan bertambahnya Icha menjadi anggota keluarga Malik, menambah warna dalam keluarga ini.
"Jay sepertinya kita harus waspada"
"Kenapa bang"
"Pasangan baru ini memiliki sifat yang lebih tengil. Jangan-jangan keturunan mereka nanti lebih bahaya"
"Bisa jadi. Dan pastinya hanya keluarga abang yang jadi sasaran"
"Idih gak nyadar baru aja diskakmat sama mantu sendiri masih songong"
__________
Buat pasangan satu lagi nanti upnya. Mereka lagi petak umpet....
Jangan lupa jempolnya
Happy reading