
Rizky sedang berjalan bersama beberapa pemuda dan bapak-bapak tetangga rumahnya. Mereka baru saja usai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Suasana masih sedikit gelap. Terdengar suara ayam bersautan berkokok.
"Ky. Minggu besok ada kegiatan baksos pemuda masjid. Loe mau ikut gak". Tanya slaah satu teman Rizky bernama Rio.
"Baksos dimana Yo". Rizky bertanya lokasi tempat diadakannya baksos. itu juga
"Di kota sebelah. Kebetulan kemarin ketua takmir masjid mereka datang mengajukan proposal bantuan. Terus sudah kita survey dan lolos. Makanya besok kita mau baksos disana". Rio kembali menjelaskan.
"Insyaallah ya. Nanti kalau gue gak sibuk, gue hubungi loe lagi buat mastiin bisa ikut atau gak". Rizky memberikan jawaban kepada Rio.
"Oke gak masalah". Rio menjawab sembari menepuk pundak Rizky.
Perjalanan mereka terhenti karena melihat orang sedang berjalan mengendap-endap. Rizky dan rombongannya bersiap jika terjadi hal-hal yang buruk. Mereka tetap memantau dari jarak yang cukup aman.
"Maling itu". Rio bertanya kepada Rizky.
"Masa sih. Tapi kenapa rambutnya panjang kayak perempuan". Rizky mengamati dengan seksama walaupun dalam keadaan gelap.
"Bisa aja gondrong". Rio mencoba berfikiran positif.
Mereka masih memantau orang tersebut. Saat orang tersebut akan memasuki halaman belakang rumah ibu Fitri, terdengar suara teriakan.
"An***g. Woy kenapa gue disiram". Teriakan dari orang yang sedari tadi mengendap-endap.
Rizky dan rombongannya bergegas berlari menuju arah suara. Dan mereka terkejut melihat sosok yang mereka kira maling tersebut ternyata putri satu-satunya ibu Fitri.
"Maksud bunda apa nyiram Dina. Gak suka ngomong. Gak usah pake nyiram gini juga". Putri Bu Fitri sangat marah karena tersiram air.
"Medina. Maaf nak bunda tidak tahu kalau kamu ada disitu nak". Bu Fitri merasa bersalah karena tak sengaja menyiram air kotor kepada putrinya. Bahkan Bu Fitri mengelap tubuh putrinya dengan handuk yang dibawanya.
"Lepasin gue. Minggir sana. Gue ngantuk". Medina menghempaskan tangan sang bunda dengan kasar dan mendorongnya ke tepi karena Bu Fitri berdiri menghalangi jalannya.
Bu Fitri hanya bisa tertunduk sedih dan mengusap dadanya sambil mengucapkan istighfar berkali-kali. Bu Fitri beranjak masuk kedalam rumah dan menutup pintu belakang. Sedangkan Rizky dan rombongannya masih berdiri dan beristighfar melihat kelakuan Medina.
"Astaghfirullah. Ya Allah semoga hamba tidak dijodohkan dengan gadis seperti itu". Rio mengangkat tangan dan berdoa.
"Iya benar kata nak Rio. Sayapun juga gak mau punya menantu kayak dia. Kasian Bu Fitri". Sautan dari salah satu bapak-bapak yang berjalan bersama Rizky dan Rio.
Rizky terdiam dan masih menatap kearah rumah Bu Fitri. Perlahan senyum Rizky nampak terukir dibibir tipisnya. Mereka melanjutkan berjalan dan pulang kerumah masing-masing.
"Assalamualaikum ibu". Rizky mengucapkan salam saat membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam nak". Ibu Rizky menjawab salam sang putra tak lupa diringi senyuman.
Rizky mencium telapak tangan sang ibu dan duduk disamping sang ibunda yang sedang membersihkan sayuran untuk dimasak. Rizky membantu sang ibu menyiapkan sarapan pagi mereka dan juga bekal untuk Rizky bawa.
"Bu. Ayamnya biar Rizky goreng saja. Ibu duduk saja". Pintanya pada sang ibu.
"Sebaiknya kamu mandi sana. Apa gak ada meeting pagi ini". Tanya sang ibu.
"Tidak Bu. Meeting sore nanti. Iky masih punya banyak waktu kok. Biasanya juga Iky bantu masak ibu kan". Rizky tetap membantu sang ibu memasak.
"Ya sudah kalau memang seperti itu". Ibu Rizky hanya tersenyum menanggapi perkataan sang anak.
Kekompakan ibu dan anak itu membuat ikatan mereka semakin harmonis. Rizky pun juga pandai memasak menuruni bakat sang ibu. Sehari-hari ibu Rizky membuka catering untuk beberapa tetangga yang terlalu sibuk bekerja dan tak sempat memasak. Namun dua hari ini beliau mengambil libur atas permintaan Rizky. Karena Rizky khawatir jika ibundanya kelelahan dan jatuh sakit.
Usai sarapan dan mandi, Rizky bersiap untuk berangkat ke kantor. Bekal makanan juga sudah disiapkan sang ibunda. Rizky memanasi sepeda motornya sebelum berangkat. Rizky sebenarnya memiliki mobil dan juga rumah selain yang ditempati bersama sang ibunda. Namun Rizky memilih menempati rumah lama mereka dan menyewakan rumah barunya. Sedangkan mobil miliknya disimpan dikediaman Malik. Karena rumah lama mereka masuk kedalam gang yang hanya bisa dilalui dengan motor.
"Ibu. Iky berangkat dulu ya". Rizky berpamitan kepada kepada ibundanya sebelum berangkat dan tak lupa mencium tangannya.
"Hati-hati nak. Jangan lupa makanannya dibagi sama Arsya nak". Ibunda Rizky mengingatkan putranya untuk memberikan makanan untuk Arsya. Bos sekaligus kakak angkatnya.
"Syiap ratuku. Assalamualaikum". Rizky mengucapkan salam dan segera menjalankan kendaraannya.
"Waalaikumsalam". Jawaban sang ibu dengan senyum hangatnya.
Rizky mengendari motor miliknya dengan perlahan karena jalan dikampung ya memang sangat ramai jika pagi hari. Sesekali dia menyapa para tetangga yang berpapasan dengannya.
Cittt
"Innalilahi". Rizky terkejut dan mengerem mendadak.
"Dasar cowok kere sialan. Mau nabrak gue loe". Teriakan dari seorang perempuan yang membuat Rizky menghentikan laju kendaraannya secara mendadak karena dia berlari sangat kencang.
"Medina". Gumam Rizky pelan saat perempuan itu sudah menghilang dari hadapannya.
Rizky kembali melajukan kendaraannya menuju kantor. Rizky kembali melihat sosok Medina saat dia melintas dipemberhentian bus. Medina masuk kedalam sebuah mobil yang berhenti dihadapannya. Rizky meneruskan perjalanannya.
Walaupun hanya sepeda motor biasa, namun Rizky memiliki tempat khusus. Para karyawan juga sangat menghormati Rizky. Rizky terkenal ramah dan murah senyum berbanding terbalik dengan Arsya.
"Selamat pagi pak Rizky". Sapa salah seorang sekuriti hotel milik Arsya.
"Alhamdulillah sudah pak". Jawab sekuriti tersebut.
Rizky berjalan menuju ruangannya dan setiap berpapasan dengan karyawan selalu menjawab sapaan mereka. Membuat para karyawati jomblo meleleh setiap melihat senyuman Rizky.
Ruangan Rizky dan Arsya berada dilantai lima. Dan Rizky tak pernah menggunakan lift khusus kecuali jika itu sedang bersama Arsya. Pesona Rizky memang snagat istimewa. Arsya pun memberi julukan Rizky tukang pelet. Karena hanya dengan melihat senyumnya saja semua perempuan sudah bertekuk lutut.
Rizky masuk kedalam ruangan Arsya untuk merapikan dokumen yang sudah selesai diperiksa. Dan menyiapkan keperluan Arsya. Karena hanya Rizky yang Arsya percaya.
"Assalamualaikum pak sutat". Sapa Arsya saat membuka pintu ruangannya.
"Waalaikumsalam bang". Jawab Rizky tetap sambil bekerja.
"Bawa apa hari ini". Arsya melepaskan jasnya sambil bertanya kepada Rizky.
"Nasi uduk". Jawab Rizky yang sudah paham maksud Arsya.
"Mantap. Mana". Arsya mengacungkan kedua jempolnya dan meminta apa yang dikatakan Rizky tadi.
"Itu sudah gue taruh ditempat biasa". Jawab Rizky sambil menunjuk ketempat dimana sudah terdapat kotak bekal makanan.
"Asyekk. Lama gak makan nasi uduk ibu". Jawab Arsya sambil menghampiri kotak bekal tersebut.
"Loe belum sarapan bang". Tanya Rizky.
"Udah. Makan sandwich aja". Jawab Arsya sambil membuka tutup kotak bekal tersebut.
"Buat siang aja bos. Engap ntar perutnya" Rizky mengingatkan Arsya.
"Iya. Gue cuma mau lihat ada sambel terasinya nggak". Jawab Arsya.
"Ada kok". Jawab Rizky.
Rizky mengambil ponselnya dan mengambil gambar makanan tersebut. Lalu mengirimkan kepada kakak kembarnya. Sudah pasti akan terjadi kehebohan hanya karena semangkok nasi uduk.
"Ky. Loe nanti ke tolong cek resort yang baru proses pembangunan ya. Tolong loe lihat seperti apa cara kerja mereka". Arsya meminta Rizky mengecek resort yang sedang dibangunnya.
"Oke. Nanti sebelum makan siang gue udah smapai sana bang". Rizky mengiyakan permintaan Arsya.
Usai menyelesaikan semua pekerjaan didalam kantor, Rizky bergegas berangkat melaksanakan tugas dari Arsya. Karena perjalanan jauh, Rizky menggunakan mobil Arsya.
Satu jam perjalanan, Rizky baru tiba dilokasi. Dia turun dari mobil dan langsung berjalan menuju lokasi pembangunan. Para pegawai yang melihat kedatangan Rizky, merasa terkejut. Mereka yang awalnya bersantai dengan sigap berubah menjadi lebih tekun.
"Maaf pak. Pak Adi dimana ya". Rizky bertanya kepada salah satu pekerja bangunan.
"Ada didalam kantornya pak Rizky". Pekerja tersebut memberitahu dimana keberadaan pengawas lapangan pembangunan resort tersebut.
"Terimakasih pak". Dengan ramah Rizky berterimakasih.
Rizky berjalan menuju satu gedung yang digunakan sebagai kantor pengawasan. Nampak raut wajah terkejut dari para karyawan didalam kantor tersebut saat melihat kedatangan Rizky. Mereka nampak ketakutan dengan kedatangan Rizky.
"Assalamualaikum. Selamat siang". Rizky menyapa semua pegawai disana.
"Waalaikumsalam. Selamat siang pak". Mereka berdiri menjawab salam Rizky sambil tertunduk bahkan suara gugup terdengar disana.
"Pak Adi ada di ruangan". Rizky bertanya sambil menunjuk pintu sebuah ruangan dihadapannya.
"Ada pak". Jawab salah satu karyawan dengan gugup.
"Terimakasih". Rizky berjalan menuju ruangan tersebut sambil tersenyum kepada semua karyawan.
Tok tok tok
Walaupun Rizky memiliki kedudukan tinggi, namun dia masih memiliki rasa sopan. Dia selalu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan. Lima menit berlalu masih belum juga ada yang membuka pintu. Rizky kembali mengetuk pintu tersebut. Dan seorang pria seumuran dengan Arash keluar dengan wajah tak suka.
"Saya bilang jangan ganggu sa..". Pak Adi tidka bisa lagi menyelesaikan kata-katanya setelah melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
"Selamat siang pak Adi". Rizky menyapa dengan nada dingin.
"Si...siang pak Rizky". Pak Adi nampak salah tingkah.
Rizky berusah melihat kearah dalam ruangan pak Adi, namun pak Adi berusaha menghalang-halangi. Tiba-tiba Rizky dikejutkan dengan sesosok perempuan yang berlari keluar dari dalam ruangan tersebut dan menubruk bahu Rizky. Rizky tak memperdulikan wanita itu. Dia menatap penuh kemarahan kepada pak Adi.
"Dia....". Rizky menunjuk perempuan tadi. Namun pak Adi hanya bisa menunduk mencoba mencari alasan.
______
jangan lupa jempolnya gaess