RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakattu"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakatu"


"Ijinkan saya Ghaisan Mahendra berdiri dihadapan seluruh tamu undangan dan keluarga besar untuk menyampaikan sesuatu kepada Arumi Nasha Razeta"


Arumi yang dipanggil namanya langsung beridiri dan saling berhadapan dengan Ghaisan.


"Arumi. Mungkin kedekatan kita terjalin belum terlalu lama, namun itu tak perlu bagiku untuk waktu lama mengenalmu. Dan hari ini aku ingin meminang kamu menjadi calon pendamping hidupku. Menjadi calon ibu dari anak-anakku. Apakah kamu bersedia menerimaku"


"Ya aku bersedia"


"Alhamdulillah"


Dengan penuh keyakinan dan senyuman, Arumi menjawab Ghaisan. Dan Ghaisan membalas dengan ucapan syukur. Suara riuh tepuk tangan terdengar didalam ballroom hotel tersebut. Acara dilanjutkan dengan menyematkan cincin yang dilakukan oleh kedua ibu dari pasangan masing-masing.


Kini baik tamu undangan dan pasangan yang sedang berbahagia sedang menikmati hidangan yang ada. Dan malam ini juga akan dibicarakan tanggal pernikahan Ghaisan.


"Kami dari pihak perempuan hanya menurut saja kapan akan diadakan pernikahan"


Papa Arumi mengawali pembicaraan saat tadi sebelumnya Atuk Syakir sudah menanyakan kesiapan keluarga Arumi.


"Ichan. Apa kamu punya rencana lain untuk tanggal pernikahan kalian"


"Tidak Atuk"


"Baiklah. Jika saya putuskan dalam waktu tiga bulan lagi kalian akan melangsungkan pernikahan. Bagiamana kalian siap"


Ghaisan dan keluarganya hanya tersenyum karena mereka sudah tau pasti seperti apa Atuk Syakir. Tak mengijinkan hubungan yang belum sah terlalu lama digantung. Apalagi dulu Ghaisan pernah bertunangan dengan Malika. Berujung perpisahan.


Keluarga Arumi semua hampir melongo mendengar perkataan Atuk Syakir. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar. Mereka harus bisa menyiapkan semuanya. Papa Arumi mencoba untuk bernegosiasi.


"Apa tidak terlalu cepat"


"Hal bagus harus disegerakan. Apalagi Ichan pernah mengalami satu kali kegagalan. Jadi saya tak mau itu terulang lagi. Apa kalian asih meragukan cucu saya ini"


"Oh tidak Datuk. Kami tidak berani. Bahkan saya sendiri sangat mengenal seperti apa Ghaisan"


"Lalu apa yang membuat kalian ragu"


"Kami takut tidak cukup waktu mengurus semua dalam waktu tiga bulan. Kecuali jika pernikahan mereka dilaksanakan secara sederhana"


"Saya tidak setuju. Ini cucu laki-laki dari putra pertama saya. Saya akan memberikan pesta terbaik"


Atuk Syakir dengan tegas menolak ide pernikahan sederhana dari papa Arumi. Atuk Syakir menjeda sesaat perkataannya. Lalu melanjutkan.


"Jika yang kalian risaukan adalah masalah waktu, kalian tak perlu khawatir. Saya akan meminta semua cucu saya untuk membantu. Apa kalian lupa sekarang kalian juga bagian keluarga Alfatir, Malik dan Santoso. Selain keluarga Mahendra sendiri"


Papa Arumi baru menyadari kesalahannya. Bagaimana bisa papa Arumi mengabaikan kekuasan tiga nama besar dan juga nama besar keluarga Mahendra yang sama kuatnya. Tak akan susah bagi mereka membuat acara dalam waktu singkat.


"Maafkan saya Datuk. Karena terlalu kaget, saya jadi melupakan itu"


"Haha. Tidak masalah itu hal biasa. Sekarang saya minta kalian cukup menyiapkan diri saja. Terutama calon pengantin. Jangan sampai sakit"


"Baiklah Datuk"


Mereka berbincang sambil menikmati makan malam sekaligus hidangan pesta. Dalam satu meja itu dikhususkan untuk keluarga dan kedua pasangan baru.


"Oke. Karena semua sudah setuju. Maka Atuk minta untuk cucu Atuk si kembar mengurus persiapan pernikahan Ichan. Dari gedung, dekorasi, undangan dan hidangan. Bagaimana"


Duo Rashsya tersenyum dan dengan kompak menyetujui apa yang diminta atuknya.


"Siap Atuk. Serahkan pada kami"


"Good boy. Atuk yakin kalian mampu. Wedding organizer kalian itu sudah profesional"


"Terimakasih Atuk"


"Dan cucu cantik Atuk, Naomi Mahendra. Kamu buatkan gaun untuk Abang dan kakak ipar kamu. Oke cantik"


"Okay"


"Semua Atuk anggap beres. Masalah mas kawin dan lainnya, itu bisa diurus berdua"


"Alhamdulillah"


Kompak mereka menjawab dengan penuh rasa syukur. Walaupun disana ada Arka dan juga Afnan. Bagi mereka Atuk Syakir tetaplah yang paling dituakan. Apa yang menjadi keputusan Atuk Syakir sudah pasti dalam perhitungan yang tepat.


"Kan mulai"


Semua tertawa dengan candaan Atuk Syakir. Dan mereka terdiam kala Azzam mulai melancarkan aksinya. Ghaisan sudah tau jika Azzam akan melakukan ini. Azzam berdiri dari kursinya dan meminta ijin untuk menemui seseorang.


"Maaf Azzam sudah selesai makan. Azzam ijin menemui teman. Permisi"


Azzam berjalan ke meja dimana keluar Datuk Hamid berada. Disana juga duduk gadis bernama Nabila. Gadis yang awalnya akan dijodohkan dengan Ghaisan, namun Ghaisan sudah terlebih dulu memilih Arumi.


Ghaisan melihat sang adik berada dimeja seberang. Dia pun membisikan sesuatu kepada mamanya yang duduk disampingnya.


"Mah. Siapa-siapa tuh bocah kemarin beli cincin"


"Ya Allah beneran bang"


"Hm"


"Dasar bocah tengil. Minta mama jewer beneran tuh anak"


Benar seperti dugaan Ghaisan. Azzam sudah beralih ke area musik hiburan. Dia hanya menyapa keluarga Nabila dan berlalu menuju area hiburan. Dengan penuh percaya diri Azzam mengutarakan niatnya.


"Assalamualaikum. Selamat malam semua. Perkenalkan nama saya Azzam Mahendra. Putra ketiga dari keluarga Syamil Mahendra. Saya berdiri disini berniat mengutarakan sebuah niat baik. Niat yang ingin saya tujukan. kepada seorang gadis bernama Athifa Nabila Hamid. Putri Datuk Hamid. Nabila mau kah kamu menjadi calon istriku"


Azzam langsung pada poin tujuannya tanpa berbasa-basi lagi. Tak hanya keluarga Nabila. Keluarga Mahendra pun ikut terkejut. Dimeja keluarga Ghaisan orang pertama yang terkikik geli atas keberanian adik bungsunya itu. Atuk Syakir menegur Syamil atas kelakuan Azzam.


"Syamil. Ada apa ini. Mengapa Azzam berkata demikian. Apa kalian tahu"


Syamil memang tidak mengetahui rencana putra bungsunya itu. Syamil pun tak bisa berkata apapun.


"Gak tau ayah. Syamil saja kaget"


"Dasar bocah tengik"


Atuk Syakir meminta agar Syamil membawa Azzam kembali ke meja keluarga. Syamil berjalan dan langsung menggandeng tangan Azzam. Azzam hanya pasrah dengan tatapan elang Syamil yang selalu membuatnya takut. Azzam sengaja diminta duduk disamping kursi Atuk Syakir. Dan tanpa aba-aba, Atuk Syakir menjewer telinga Azzam.


"Dasar bocah tengik. Bisa tidak satu hari saja kamu tidak membuat Atuk kesal"


"Aduh aduh sakit Atuk. Apalagi salah Azzam Atuk"


"Masih tak mau mengakuinya hah. Apa cara kamu seperti itu ada didalam keluarga kita Azzam"


"Iya Atuk ampun. Azzam kan mengikuti jaman saat ini. Biar romantis"


Telinga Azzam sudah tidak dijewer lagi. Disatu meja tersebut semua tertawa. Apalagi keluarga Arumi yang baru mengetahui jika keluarga Ghaisan tak sekaku yang didengarnya selama ini.


"Romantis apa itu romantis. Tidak etis itu baru benar"


"Ah Atuk. Gak gaul"


"Mengapa kamu melamar Nabila. Apa kamu sudah siap menikah"


"Siaplah Atuk"


"Ingat. Kamu punya kakak perempuan. Naomi dahulu baru kamu"


"Ck. Salah sendiri kak Naom gak punya pacar. Dahlah Azzam dulu saja"


"Tidak. Tunggu Naomi menikah baru Atuk ijinkan kamu menikah"


"Yah keburu kayak Abang tuk"


"Apa maksud loe bocah tengik. Bosan loe jadi adik gue"


"Ampun bang. Gak bosan bang. Beneran deh"


Ghaisan langsung memukul kepala belakang Azzam. Bahkan Naomi yang tadi disinggung olehnya juga ikut melemparkan sendok kearah Azzam.


______


Gagal zam...kasiannnn


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading