
"Aaaaaa mas ih gak tau malu masa icha dilihatin pusaka mas"
"Hahaha. Tadi siapa yang penasaran sama yang gerak-gerak tadi"
"Tapi masa icha harus buka sendiri sih"
"Gapapa sayang. Toh itu juga punya kamu. Spesial terong jumbonya icha"
Pipi Icha merah merona dia duduk membelakangi Arash saking malunya menyadari jika sang suami menjahilinya. Arash bangun dari tidurnya dan duduk tepat dibelakang tubuh Icha.
"Sayang...."
Perlahan tangan Arash membuka jubah baju tidur Icha dari belakang. Icha menegang karena mulut Arash sudah menjelajah dileher putih istrinya.
"Mmmas..."
"Hmm"
Jubah tidur itu telah terogok jauh dari tempat mereka berada. Tangan Arash mengusap lengan sang istri dengan lembut. Bibirnya terus menjelajahi leher memberi gigitan yang meninggalkan tanda kepemilikan. Icha hanya bisa menutup matanya. Menikmati setiap perlakuan lembut sang suami. Entah tersadar atau tidak, Icha mulai mendesah.
"Emmmmh"
"Jangan menhan sayang. Keluarkan suara indahmu"
Icha tak menyadari jika lengan gaun tidurnya itu sudah turun sempurna dan terlepas dari tempatnya. Tangan Arash beralih pada perut mulus sang istri. Perlahan perjalanan travelingnya pun dimulai.
"Emmh mass"
"Apa sayang"
Mendapat squisy baru, Arash benar-benar merasakan sesuatu yang baru. Mainan baru itu bisa membuatnya semakin bersemangat. Dia memijit perlahan dan sesekali memainkan tombol ujung squisy itu.
"Massss"
"Nikmati sayang"
Tubuh Icha dibaringkan oleh Arash perlahan. Arash sudah siap untuk menunggang kudanya. Gerakan awal dia kembali ulangi. Arash menuju bibir tipis merah milik istrinya. Dia mengecupnya perlahan. Dari kecupan itu beralih menjadi ******* lembut. Icha spontan membuka mulutnya karena ulah suaminya. Daging tak bertulang milik Arash menemukan lawan sebanding yang masih amatir untuk saling berkenalan.
Saat pasokan udara menipis, mereka saling melepaskan. Arash kembali menjelajah untuk mencari sumber air minum. Bak tersengat listrik berjuta - juts volt, respon tubuh Icha saat pertamakali dia merasakan seorang bayi besar menikmati asupan makanannya.
"Emmmph mas"
"Hmmmm"
Dari kanan pindah kekiri. Entah rakus atau lapar bayi itu masih terus menghisap tanpa rasa bosan. Tangannya pun ikut mencari pegangan disaat mulutnya sedang asyik diatas bukit sumber air minum.
"Masssss"
"Sayang. Enak sekali. Mereka sangat indah sayang"
Icha hanya bisa memalingkan wajahnya karena malu. Baru kali ini tubuhnya ditatap oleh pria. Arash bangkit dari atas pelana kudanya. Dia meloloskan kain yang masih tersisa ditubuh Icha. Icha tak ingin menatap lama tubuh sang suami yang begitu menggoda dengan terong jumbo yang sudah menjulang menantang siap menerjang setiap halangan dihadapannya menuju puncak kenikmatan bersama.
Mata Arash beralih pada hutan lebat yang memiliki mulut gua belum pernah terjamah sama sekali. Tanpa menunggu lama, Arash memberi salam perkenalan didepan mulut gua dengan sentuhan jarinya.
"Ahhh. Masssss. Uhhhh"
"Apa sayang"
"Gak ku at lagi massss. Emmmphhhh"
"Sayang sekarang ya"
Icha mengangguk. Arash langsung mengarahkan max untuk berkenalan dengan pasangan sehidup sematinya.
"Max beri salam pada pussy"
Perlahan tapi pasti max mulai mengetuk pintu gua. Icha menahan sensasi sakit namun nikmat yang baru pertama kali dia rasakan. Max yang memiliki ukuran diatas normal harus berjuang untuk masuk kedalam gua yang masih sempit.
"Ahhh sakit masss"
"Tahan sayang"
Icha mencengkram pundak Arash. Sedangkan Arash berusaha mengalihkan rasa sakit sang istri dengan cara memakan habis bibir cherinya.
"Ahhhh. Ouhhhh. Sempit sekali sayang"
"Mas ini ter la lu gede"
"Terimakasih pujianmu sayang"
Mereka terus melakukan paduan suara didalam kamar itu. Mereka bermandikan peluh yang terus bercucuran. Sedang asyik-asyiknya untuk mencapai puncak bersama, terdengar suara gedoran dari pintu kamar Arash.
tok tok tok
"Ma s si apa i itu"
"Bi arkan saja sa yang. Uhh"
"Tapi ber risik mas. Ohhhh"
"Biarin sa yang"
Arash tak memperdulikan gedoran pintunya. Dia terus memacu dengan kencang agar bisa mencapai puncak bersama.
"Mas aku mau pi pis lagi"
"Bareng sayang"
Tak lama mereka sama-sama mencapai puncak dan menyebut nama masing-masing dengan merdunya
"Massss"
Semburan mayones hangat langsung terbenam dalam rahim Icha. Arash yang masih berada diatas Icha, memberikan kecupan diseluruh wajah Icha. Sedangkan Icha hanya bisa pasrah tanpa tenaga.
"Terimakasih sayang. Kamu memberikab yang terbaik untuk mas dan max"
"Hmmm"
Arash berguling kesamping Icha dan menarik selimut menutupi tubuh mereka yang sama-sama polos. Subuh yang mereka lalui sangat indah dan bermandikan peluh. Arash menarik Icha kedalam pelukannya. Namun itu membuat max terbangun kembali.
"Shit"
"Kenapa mas"
"Max bangun lagi sayang"
"Mau lagi ya"
"Kalau kamu capek gapapa sayang"
"Lakukanlah mas"
"Tak apa sayang"
"Iya"
"Terimakasih sayang"
Arash langsung melakukan pemanasan dan kembali membangkitan gairah istrinya. Entah ini sudah ronde keberapa mereka masih sama-sama belum tumbang juga.
"Ouh terong jumbo"
Setelah menyembur berkali-kali akhirnya si terong jumbo tumbang tak berdaya. Mereka bahkan tak melihat jam berapas saat ini.
"Capek banget ya Allah serasa habis mendaki gunung bawa beban berton- ton. Remuk"
"Hehe. Maaf ya sayang mas terlalu bersemangat. Kamu mau dipijat. Biar mas panggilkan terapis"
"Malu ah mas"
"Kenapa"
"Badan Icha belang-belang kayak macan tutul. Mas bikin lukisan gak kira-kira deh"
"Hehehe. Biar semua tahu kamu milikku sayang"
Icha tampak kegerahan walaupun pendingin sudah dinyalakan. Dia meminta sang suami membuka balkon agar ada angin masuk.
"Mas kalau balkon di buka dari luar kelihatan gak"
"Gak sayang. Balkon kita menghadap ke danau buatan sayang. Dan hanya ada hamparan taman bunga"
"Buka aja mas. Masih panas ini"
"Oke. Tunggu ya"
Arash berjalan tanpa sehelai benang ditubuhnya. Icha yang melihat itu hanya bisa menatap tanpa arti apapun. Saat Arash berbalik, Icha tanpa sengaja hanya menatap pada satu fokus.
"Ada apa. Kok lihatnya gitu banget"
"Mas. Apa yang Icha lihat semalam itu max"
"Semalam"
"Iya icha kayak lihat cowok berdiri tanoa apapun didepan icha"
"Oh itu. Iya sayang itu max. Kamu yang narik handuk mas sehabis mandi"
"Kok beda sih mas"
"Beda apanya sayang"
"Semalam kayak sosis goreng yang sudah dingin. Letoy. Tapi tadi kok dia gede banget ya. Mas obatin ya"
"Hahaha. Ya bedalah sayang. Max tidur sama max siap tempur. Gimana mantapkan"
"Huh. Terlalu besar mas kayak habis direndam minyak tanah jadi bengkak"
"Enak aja. Itu alami sayang. Kamu orang pertama yang melihat dan merasakan ganasnya max"
"Hmm mas, icha boleh minta sesuatu gak mas"
"Apa sayang"
Icha memikirkan cara untuk mengungkapkan. Mereka berbincang sambil berpelukan diatas ranjang. Bahkan suara getaran ponsel mereka masing-masing tak mengusik mereka sama sekali.
"Boleh gak ukuran max dikecilin dikit gitu"
_______
Icha minta max dikecilin.... Gimana caranya coba. Udah ya jebol gawangnya. Kalau yang gak paham bahasa yang aku gunain silahkan translete sendiri. Takut di banned...
Jangan lupa jempol
Happy reading