RashSya Story

RashSya Story
RashSya~Kepingan Rindu



Waktu terus berjalan sudah hampir lima bulan Arash menetap di London...disana selain menggantikan posisi Dito, Arash juga menimba ilmu...buah jatuh tidak jauh dari pohonnya...pesona Arash dapat menarik lawan jenisnya mendekat namun Arash tak pernah merespon sama halnya dengan Jay waktu muda dulu


Hari ini Ghaisan menjemput Malika atas desakan mamanya... sebelumnya Ghaisan sudah menceritakan mengenai siapa Malika kepada Papanya dan hinaan yang ayah Malika berikan pada Arash...Syamil semakin paham maksud Arash menunda proyek dengan ayah malika karena mungkin sang keponakan sedang merencanakan sesuatu....Syamil pun meminta Ghaisan mengikuti permainan yang ada..saat nanti waktunya tiba untuk membongkar maksud dari ayah Malika


"Pah Ichan jemput Malika dulu"


"Sebentar nak...kamu uda pastikan kalau malika hanya dijadikan alat oleh ayahnya"


"Sejauh ini menurut penyelidikan Daffa sama Iky ada kemungkinan seperti itu...tapi ada hal yang paling menyakitkan Pah tapi Ichan gak bisa ngasih tau karena belum pasti"


"Ya sudah kamu hati-hati"


"Ya Pah"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Ghaisan keluar rumah mengendarai mobil kesayangannya hadiah dari sang Atuk...dia langsung menuju kafe Malika...karena memang hari ini jadwal mereka berkumpul...Karena tak begitu macet Ghaisan pun lebih cepat sampai dikafe milik Malika


"Akhirnya datang juga di shincan...lama amat sih"


"Maaf tadi pergi bentar sama Papa"


"Huh ya sudahlah"


"Oya kita vece ke Arash yuk kangen nih"


Ghaydan memberikan ide untuk menghubungi Arash karena mereka memang jarang berkomunikasi


"Kuylah"


"Ars gimana menurut loe"


Arsya melihat jam ditangannya...karena perbedaan waktu..Arsya takut mengganggu istirahat sang Abang...namun setelah menghitung waktunya..Arsya pun menyetujui


"Ya uda telpon aja...kayaknya Abang jam segini habis sholat malam deh"


"Ok..pake laptop aja ya biar enak"


"Hmmm"


Malika yang duduk disamping Ghaisan sedikit tak tenang...karena dalam hatinya masih menyimpan nama Arash...namun dia juga tak enak dengan Ghaisan...setelah menunggu beberapa menit sambungan telpon itu mendapat tanggapan dari arash


"Assalamu'alaikum..wahai manusia lucknut..Haha"


"Waalaikumsalam...rashhh...gile tuh muka tambah ganteng aja"


"Jelas dong...Haha..apa kabar kalian"


Serempak mereka menjawab


"Alhamdulillah baik...Loe gimana"


"Seperti yang kalian lihat...tambah ganteng kan..Hahahaha"


"Huuu narsis amat njirr"


"Abang...kabar uncle Dito gimana"


"Hai Retha... Alhamdulillah semakin membaik...Ya walaupun masih tahap pemulihan"


"Syukurlah...Retha turut senang...Oya Abang disana jangan sering begadang ya jaga makanan...minum vitamin jangan lupa"


"Hahaha...syiap adik ipar kesayangan Abang..Ret...Loe ngomong gitu gak lihat singa sebelah loe noh...Uda keluar taringnya...Hahaha"


Semua menatap ke Arsya yang tiba-tiba berwajah dingin..mereka pun tertawa...dan mengoloknya


"Yaelah Ars sama kembaran sendiri aja cemburu...ck...ck...tak patut"


"Diem Loe dakocan"


"Wow...Retha jinakin dulu tuh singa loe"


Retha pun mendekat kearah telinga Arsya..dan membisikan sesuatu yang membuat Arsya tertawa


"Dasar price kodok...minta dicium tuh bibir di monyong monyongin... Okay nanti Retha cari pantat panci yang warnamy sungguh eksotik jadi bibir kamu semakin mempesona gimana"


"Hahaha...dasar menyebalkan"


Saat mereka saling bercanda hanya Malika yang berusaha untuk tidak menatap Arash...karena memang layar itu tepat dihadapan Ghaisan dan Malika...namun terkadang Malika berusaha mencuri pandang..tanpa sengaja tatapan mereka pun bertemu..Arash tersenyum dan menyapa Malika


"Hai Mal...apa kabar"


"Hmm... aku eh gue baik"


"Alhamdulillah...Oya maaf ya kayaknya gue gak bisa datang pas tunangan kalian"


"Oh..O.. gapapa Rash"


"Ck..Gak usah bahas itu napa sih Rash...bikin badmood aja"


"Loe gak boleh gitu Chan...Loe lupa pesen gue sebelum gue pergi"


"Dan Loe juga lupa omongan gue ke loe Rash waktu di bandara..hah"


"Sudahlah kita semua disini saudara...susah senang bersama"


"Bang...Loe beneran gak akan balik ya...setau gue itu masa liburan loe kan"


"Huh...ya sudahlah...yang jelas gue bisa merasa apa yang loe rasa saat ini bang"


"Hehe...jaga kesehatan ya Ars...ingat pesan gue...dan Retha ingatin terus Arsya jika dia salah"


"Iya bang pasti"


"Gue tutup dulu ya...gue masih ada kerjaan yang harus diselesaikan...salam buat Shanum...bilang ke dia...kalau punya ponsel hanya buat pajangan mending suruh buang sekalian"


"Haha...kenapa bang"


"Dia nyepam kangen ke gue...Gue telpon selalu gak bisa"


"Hahaha..iya nanti kita bilangin"


"Ya sudah kalian baik-baik jangan berantem harus saling melengkapi"


"Iya Abang juga...jaga kesehatan..jangan diforsir badannya"


"Hehe...iya... Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Usai menutup panggilan itu Arash mendesah panjang sambil menyugar rambutnya secara acak


"Huuhhhh....Ya Allah kenapa susah banget buat lupain dia...Gue harus bisa dia sudah milik sepupu gue...Huh..semoga kamu bahagia Mal...Gue rindu loe Mal...Maaf gue masih belum bisa lupain loe"


Sedangkan dikafe tempat mereka nongkrong apa yang dirasakan oleh Malika tak jauh beda dengan Arash...Malika langsung berpamitan masuk ruangan miliknya dengan alasan menerima telpon penting


"Senyum itu...kenapa harus kamu tunjukkan senyum itu.. rasa sakit ku karena melukai kamu semakin dalam Rash...aku merindukanmu Arash"


"Huh...makanya gak usah gengsi"


Malika berbalik melihat kearah suara yang dia cintai cukup kenal dan sudah berdiri dibelakangnya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya


"Ghaisan..sejak kapan loe disana"


"Sejak loe menyesali kesalahan loe ke Arash"


"Oh...jadi sekarang loe uda tau"


"Sebenarnya gue juga mau bilang sesuatu ke loe Mal...dan mumpung kita cuma berdua jadi gue mau ngomong sekarang sama loe"


"Oke apa yang mau loe omongin"


"Langsung aja ke intinya...gue mau nerima perjodohan sama loe bukan karena gue suka sama loe...tapi karena Arash"


"Maksudnya"


"Gue janji ke Arash jagain loe buat dia...yang artinya saat nanti Arash balik...Loe bisa balik lagi ke dia dan hubungan pura-pura kita selesai"


"Gue gak setuju...karena gue yakin Arash pun demikian"


"Iya loe bener arash memang nolak...tapi gue gak bisa nyakitin hati sepupu terbaik gue"


"Sebaiknya kita jalani saja sejauh mana kita melangkah...kita tidak tau seperti apa takdir kita kedepannya"


"Omongan ini.."


"Ya benar dan karena kata-kata inilah aku selalu yakin jika Arash pria yang sangat baik...dan karena omongan ini juga gue nyakitin hati dia...dan itu sangat dalam"


Ghaisan masih terdiam menatap Malika yang masih memainkan penanya diatas meja...


"Apa loe yang buang Arash"


"Ya gue yang buang dia...gue yang nyuruh dia pergi...dan gue sekarang menyesal"


"Pantas Arash langsung nyuruh gue buat buka hati gue ke loe"


"Maksud loe apa"


"Huh...arash tipe lelaki yang susah jatuh cinta...sekali dapat perempuan sesuai hatinya dia akan selalu setia...namun sekali dia dibuang jangan berharap dia mau kembali...walaupun dia masih cinta...dia akan rela menyiksa dirinya agar bisa melupakan wanita itu...karena loe sekarang uda buang dia...huh...Gue hanya bisa bilang...semoga loe bisa melupakan Arash"


Ghaisan masih diam...dan tak mau mengganggu lamunan Malika..dia tau ada raut penyesalan dalam diri Malika


Sedangkan di London..Daffa memberi kabar tentang seorang pengusaha yang sedang yang mencari investor untuk perusahaannya...dan perusahaan yang dituju adalah perusahaan milik Dito di London


"Wah menarik ini Daf"


"Terus gue harus gimana"


"Lanjutin gue mau nanam saham disana dan usahakan saham gue yang terbesar"


"Oke siap laksanakan"


"Ingat aturan mainnya kan Daf"


"Pasti tuan muda.... Hahaha"


"Sialan loe Daf"


_______


Semoga gak bosan ya..


jangan lupa jempolnya


happy Reading