RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



Rahasia besar sudah Ghaisan ungkapkan kepada sahabatnya. Kini hati Ghaisan lebih tenang lagi. Walaupun sifat juteknya tidak berkurang sedikitpun. Selain Mala sang asisten yang selalu menerima amukan sang macan, Arumi adalah korban kedua.


"Malaa"


"Ya pak"


"Atur ulang jadwal saya untuk tiga hari kedepan. Saya akan keluar kota meninjau pembangunan kerjasama dengan Wijaya grup"


"Baik pak"


"Atur juga hotel untuk saya dan tim. Kamu pastinya tau tim yang harus ikut saya"


"Maaf pak. Sepertinya saya tidak bisa ikut"


"Apalagi alasan kamu Kumala"


"Maaf pak tiga hari kedepan saya bapak utus untuk mengikuti pelelangan di Bandung. Apa perlu saya batalkan"


"Enak sekali kamu ngomong. Batalin. Tetap berangkat"


"Baik pak"


"Ingat cari asisten cadangan buat saya"


"Arumi saja pak"


"Bisa gak merekomendasikan yang tidak ceroboh"


"Tapi hanya Arumi yang sudah sangat hafal dengan pekerjaan bapak"


"Ck. Ya sudah. Awas aja kalau ceroboh. Gaji kamu saya potong"


"Hah. Kok"


"Apa mau protes"


"Nggak pak"


"Sana balik ke ruangan kamu"


"Permisi pak"


"Hmm"


Mala kembali dengan wajah cemberut. Mala sangat kesal dengan keputusan Ghaisan yang seenak udelnya.


"Emak aja asal potong gaji. Dasar singa jomblo. Huh. Tuhan semoga saja bos jomblo segera dapat pendamping. Biar hilang tuh penyakit galaknya"


Mala terus menggerutu sambil menyelesaikan pekerjaannya. Mengatur ulang semua jadwal yang sudah dipastikan selam satu minggu sama saja mengantarkan Mala kepada serangan dari para klien.


Sedangkan di divisi keuangan, Arumi sedang fokus menyelesaikan beberapa laporan. Bukan depan mau tak mau dia harus segera resign. Karena itu deadline yang papa Arumi berikan. Arumi sedang memikirkan alasan yang tepat untuk pengunduran dirinya nanti.


"Rum. Makan siang dimana"


"Kantin kayaknya put. Kenapa"


"Sesekali nyoba kafe depan kantor yuk. Ganti suasana gitu"


"Oke deh. Gue ngikut loe put. Tapi cuma kita berdua nih"


"Ghina ikut kok. Gak mungkin dia gak ikut"


"Oke. Tapi Ghina kemana put kok gak kelihatan"


"Dipanggil manager pelaksana. Kasus pembangunan dikota J kemarin itu loh"


"Emang Ghina terlibat"


"Gak tau juga"


"Semoga aja nggak"


"Hee"


Arumi tak lupa mencetak surat pengunduran dirinya dan hari ini akan diserahkan pihak HRD. Karena memang aturan di perusahaan milik Ghaisan ini, jika ingin mengajukan pengunduran diri harus satu bulan sebelum waktu pengunduran diri surat sudah diterima HRD.


"Yuk udah jam makan siang nih"


"Yuk"


Arumi bersama kedua temannya Ghina dan Puput berjalan keluar ruangan mereka dan menunggu lift. Entah sial atau beruntung. Didalam lift tersebut Ghaisan berada. Ghina tersenyum senang bisa berada satu lift dengan Ghaisan. Puput pun merasakan hal yang sama. Hanya Arumi saja yang kesal.


Ghina bahkan sengaja berdiri didekat Ghaisan. Ghaisan hanya sedikit melirik saja. Arumi yang melihat temannya bersikap genit, hanya bisa menghela nafasnya saja.


"Gila Ghina sama Puput gak takut apa dicaplok tuh singa"


Arumi hanya bergumam dalam hati sambil tetap menatap lurus ke depan. Arumi berdiri tepat didepan Ghaisan. Ghaisan mulai merasa tak nyaman dengan ulah Ghina yang sengaja menggeser tubuhnya semakin mendekat kearahnya.


Tanpa aba-aba, Ghaisan bergeser hingga paling tepi dan menarik tubuh Arumi kesampingnya untuk menghalangi Ghina yang semakin mendekat.


"Aduh. Apa sih pak"


"Diam kamu disini. Saya geli sama teman kamu"


Ghina yang mendengar itu, bibirnya menjadi cemberut. Sedangkan Arumi berusaha menahan senyumnya. Tiba di lobby, Arumi buru-buru keluar dari lift sambil berlari. Dan kembali Arumi tersandung. Ghaisan refleks menarik lengan Arumi. Sehingga wajah Arumi tidak sempat menyentuh lantai.


"Dasar ceroboh"


Ghaisan pun kemudian melepaskan tangannya dari lengan Arumi. Ghaisan berjalan meninggalkan ketiga wanita tadi. Ghina dan Puput sangat heboh melihat apa yang baru saja Ghaisan lakukan pada Arumi.


"Aaaa. Kenapa bukan gue sih yang jatuh"


"Iya, gue juga mau dong dipegang pak Ghaisan"


"Ck. Lebay banget sih kalian. Bukannya nolongin gue malah heboh"


"Nggak ya. Bagi gue sial"


Mereka kembali berjalan keluar perusahaan dan menyebrangi jalanan yang cukup padat. Ada kafe yang terletak didepan perusahaan Ghaisan. Kafe yang cukup terkenal dan banyak karyawan disekitar kafe makan disana.


"Wow penuhnya"


"Eh masih ada meja kosong tuh"


"Ayo buruan kesana"


Mereka bertiga berhasil mendapatkan meja kosong. Mereka memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu mereka asyik bercanda.


"Rum. Gue baru tau kalau loe mantannya Andi"


"Iya loh gue juga. Padahal kalian kerja disatu perusahaan yang sama udah hampir empat tahun. Kok bisa ya gak ada yang tau"


"Gak penting juga kali"


"Kalian putus kenapa sih. Kepo gue. Padahal Andi itu lumayanlah tampangnya. Ya walaupun masih jauh kalau sama pak bos. Penghasilan juga sudah pasti. Kurang apa coba"


"Kurang ajar"


"Maksud loe. Kepo beneran ini"


"Udahlah gak usah dibahas. Lagian itu kan masalalu. Udah lama juga putus"


"Ck. Arumi pelit"


"Heem. Tapi emang kalian kapan jadian"


"Huh. Nih dengerin baik-baik ya gaes. Biar gak ada salah paham juga. Gue sama Andi kenal dari SMA. Gue jadian dia dari kelas dua SMA sampai semester enam kuliah. Terus kita putus. Habis itu hilang kontak. Dan gue juga gak tau Andi kerja diperusahaan Mahendra"


"Gila pacaran lama bisa putus"


"Gak jamin kali put pacaran lama itu bakalan langgeng"


"Alasan putus apa rum"


"Huh. Selingkuh. Puas"


"Loe diselingkuhin. Ck. Gak tau diri amat. Terus sampai sekarang loe jomblo. Gak bisa move on"


"Eh sorry ya. Sudah lama move on"


"Terus kenapa jomblo. Bukannya bulan lalu loe ditembak sama Rio dari divisi perencanaan. Ganteng juga loh doi"


"Ganteng buat apa kalau ujungnya nyakitin"


"Yaelah rum belum dicoba juga sudah langsung loe samain kayak si mantan"


"Intinya gue gak mau pacaran. Kalau ada yang serius harus berani lamar gue langsung ke bokap"


"Setuju gue"


Mereka tidak menyadari jika seseorang yang duduk membelakangi mereka adalah Ghaisan. Sedari tadi Ghaisan mendengar percakapan ketiganya. Termasuk pujian dari Ghina. Mereka terlalu asyik bergosip sambil makan. Orang yang mereka bicarakan ternyata juga berada dikafe tersebut. Sang mantan mendekati meja Arumi.


"Rumi boleh duduk sini"


Mereka bertiga saling tatap. Beruntung makanan mereka sudah habis. Mereka saling tatap. Dan kompak ketiganya berdiri.


"Boleh silahkan. Kita sudah selesai kok"


"Tapi rum"


"Maaf kita mau balik ke kantor dulu"


Andi hanya bisa menatap kepergian Arumi dan teman-temannya. Ketiganya kembali terkejut saat akan membayar tagihan dikasir .


"Kak mau bayar"


"Meja nomor bertapa kak"


"Dua lima kak"


Sang kasir membuka bon untuk meja yang Arumi tempati bersama ketiga temannya tadi.


"Maaf kak sudah dibayar"


"Apa sudah dibayar. Seriusan kak"


"Iya kak serius"


"Siapa yang bayar kak"


"Tadi ada mas-mas yang bayar. Lima menit yang lalu keluarnya"


"Oh gitu. Tapi beneran sudah dibayar kan Kak"


"Sudah kak. Ini buktinya"


Arumi melihat kertas tagihan tersebut. Saat melihat tanda tangannya Arumi seperti mengenalinya. Namun dia lupa.


"Ya sudah kalau gitu kak. Terimakasih"


"Sama-sama kak. Silahkan kembali lagi lain kali kak"


_____


Ini masih cerita awal ya gaes. Untuk cerita Ghaisan memang aku buat beda. Sesuai karakter Ghaisan yang melow garang. Dan masih misteri loh siapa jodoh Ghaisan. Jadi jangan kabur dulu ya....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading