RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Meyakinkan Hati



Chila masih belum paham tentang apa yang sebenarnya dia rasakan pada Bagas. Dia nyaman jika ada Bagas didekatnya namun juga kesal karena selalu saja ada topik yang berujung perdebatan.


"Dek kamu uda siap nerima lamaran Bagas"


"Chila masih bingung bang"


"Bingung kenapa. Kamu ragu"


"Jujur bang. Chila nyaman dengan Bagas. Tapi kami masih sering berantem bang. Chila ingin menjalani hubungan hanya sekali seumur hidup. Seperti kisah cinta keluarga kita sendiri bang. Bahkan chila sangat kagum dengan Atuk yang tidak ingin menikah lagi hingga saat ini. Saat chila tanya apa alasan atuk tak ingin menikah lagi. Atuk bilang agar bisa kembali bertemu Ambu disurga"


"Dek kamu sudah sholat istikharah"


"Sudah bang. Namun masih samar"


"Dek setiap hubungan itu bermacam-macam rintangannya. Bisa jadi saat ini kalian seperti kucing dan tikus. Tapi dimasa depan bisa saja kalian seperti perangko dan lem. Sudah coba membuka hati"


"Chila sedang berusaha bang. Abang ada usulan agar chila bisa meyakinkan perasaan chila ini"


"Abang pengen tahu jika kamu gak bertemu seminggu saja, apa yang kamu rasakan"


"Belum tau bang, Bagas kan selalu datang ke kantor atau kerumah kalau mau ketemu chila"


"Iya kayak resep dokter. Sehari tiga kali. Hahaha"


"Ish abang gitu ih"


"Lah bener kan yang abang bilang"


"Hahaha iya juga. Sampai kemarin pas Daddy yang nemuin dipanggil paracetamol sama Daddy"


"Abang punya ide. Sementara kamu nginap rumah opa Aidil aja dirumah uyut Fathir. Bagas kan gak tau rumah uyut. Kalau dia nyari dikantor, usahakan untuk tidak bertemu. Cukup seminggu saja, agar kamu bisa memantapkan hatimu honey"


"Hmm boleh juga ide abang. Tapi keluarga kita gimana"


"Ya kita jujur saja sayang. Abang yakin mereka akan membantu juga"


"Syiap bang. Makasih abangku sayang"


"Sama-sama honey"


"Kak Icha kapan balik bang"


"Tau ah lagi kesel abang"


"Heleh sok kesel, palingan sepuluh menit lagi baikan. Kalian itu romantis tau gaj sih. Beda waktu sama kak Malika dulu"


"Udah gak usah bahas mantan. Uda tamat"


Ponsel arash berdering. Dia melihat layar ponselnya itu tertera nama sang kekasih. Dia mengangkatnya dan lupa jika masih ada chila dikamarnya.


"Assalamualaikum mas"


"Waalaikumsalam ada apa"


"Huaaaah. Icha nyasar mas. Gak bisa balik"


"Heh. Sayang kamu nyasar dimana. Jangan matikan ponselmu. Mas lacak kamu dari sini"


"Nyasar dihatimu masku. Hehe. Maafin Icha ya ngeyel sama mas"


"Ya Allah yang mas kira beneran. Iya mas juga minta maaf karena uda ngomel. sayang.."


"Apa masku"


Bersamaan mereka berkata membuat chila berteriak dan menggoda pasangan unik itu.


"Kangennn"


"Ehem. Woy kalian itu kalau gak niat berantem gak usah sok berantem. Ini ada jomblo disini hargai dong"


Icha tertawa mendengar teriakan chila itu. Sedangkan Arash hanya tersenyum saja melihat sang adik cemberut.


Pagi hari Chila benar-benar menjalankan rencana yang diusulkan Arash. Keluarga Malik ikut mendukung. Mereka juga tidak mau jika putri mereka salah menentukan keputusan.


"Dek nanti abang antar ke rumah uyut"


"Tadi rencananya chila mau bawa mobil sendiri bang"


"Sayang menurut daddy, kamu pakai saja mobil yang berada dirumah opa aidil. Kalau mau ngetes itu yang total dong sayang. Bikin kalangkabut tuh si paracetamol"


"Oke daddy"


Mereka menyelesaikan sarapan paginya. Arash akan ke bandara menjemput Icha pagi ini. Mereka berangkat lumayan pagi untuk menghindari bertemu Bagas.


Sedangkan dirumah Kelarga Gautama, Bagas sedang sarapan bersama kedua orangtuanya yang sedang menjenguknya.


"Kapan kamu mau melamar Arsyila gas"


"Sebenarnya sudah bagas lamar mah, tapi masih ditolak"


"Kok bisa"


"Kesalahan tempat melamar"


"Kamu lamar dimana emangnya"


"Didepan toilet kafe"


Mama Bagas langsung menjitak kepala anaknya itu. Dengan kesal dia memarahi sang anak.


"Heh dodol. Kamu sekolah jauh-jauh sampai Prancis, lamar anak gadis orang didepan toilet. Kalau mama jadi chila langsung mama coret dari daftar calon suami. Bikin malu keluarga aja kamu gas. Dulu mama ngidam apa punya anak kayak kamu ini. Duh gusti. Anak kamu itu loh pa, sama kayak papa"


"Loh kok cuma papa yang salah si mah. Kita buatnya bareng loh ya"


"Ya iyalah salah papa. Yang nurunin sifat gak sabaran. Gak ingat dulu papa nglamar mama dimana"


"Emang papa nglamar mama dimana, bagas jadi penasaran"


Kedua orangtua Bagas kompak menjawab pertanyaan sang putra.


"Pemakaman umum"


"Hahaha. Papa mau nyatain perasaan ke mama atau ke kunti"


"Iya sama kan kayak kamu"


Bagas langsung diam. Dia tidak akan sanggup menjawab atau berdebat dengan ratu dirumahnya itu.


"Papa minta kamu jangan terlalu lama menggantungkan perasaan seseorang gas. Kasih kejelasan"


"Iya pah. Bagas lagi mempersiapkan kejutan untuk Chila saat lamaran nanti"


"Wanita istimewa harus diperlakukan istimewa juga gas. Ingat menyakiti hati seorang wanita sama saja kamu menyakiti hati mama kamu"


"Iya pah bagas selalu ingat itu"


Usai menghabiskan sarapannya Bagas langsung menuju kediaman keluarga Malik. Bagas memang sering menjemput Chila saat akan berngkat kerja. Walaupun arah kantornya dengan chila berbeda, baginya itu bukan masalah besar.


Sampai dirumah Chila, penjaga sudah sangat hafal dengan Bagas langsung membuka pintu gerbang. Kebetulan Jay sedang santai diteras menunggui sang istri sedang membersihkan taman bunganya.


"Assalamualaikum om tante"


"Waalaikumsalam eh paracetamol"


"Daddy"


"Hehe kelepasan mom sorry"


"Hehe gapapa om. Chila belum berangkat kan om"


"Chila sudah berangkat pagi tadi dengan Arash"


"Oh tumben om"


"Iya kebetulan Chila ada meeting pagi didekat bandara. Dan kebetulan Arash menjemput Annisa dibandara"


"Oh gitu. Ya sudah bagas pamit om tante"


"Iya hati-hati ya"


"Iya tante. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Bagas kembali menjalankan kendaraannya menuju kantor chila. Sebelum dia sendiri pergi ke kantornya sendiri. Tiba di perusahaan milik Arash, bagas langsung menuju kantor Chila.


"Pagi. Bu Arsyila sudah datang"


"Bu Arsyila hari ini akan ke kantor siang atau sore"


"Apa ada acara yang sedang dikerjakan"


"Iya pak Bagas kebetulan kami sedang menangani beberapa event"


"Oh gitu. Makasih infonya"


Bagas memang hanya bertemu sekretaris Chila saja karena kebetulan kantor Chila sedang sepi. Bagas langsung pergi dan berangkat menuju kantor. Sedangkan Chila masih meeting didekat bandara.


"Secara keseluruhan saya suka konsep anda nona"


"Terimakasih pak"


"Ya sudah saya ambil yang anda sarankan tadi nona"


"Baik pak. Terimakasih atas kepercayaan anda kepada perusahaan kami"


"Sama-sama nona. Untuk pembayaran akan segera kami transfer"


"Baik pak. Sekali lagi terimakasih"


"Saya permisi. Pesawat saya sebentar lagi take off"


"Hati-hati pak"


Setelah klien pergi Chila membereskan semua berkas yang dibawanya. Dia lalu mengaktifkan mode suara pada gawainya. Disana sudah terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Bagas dan kantornya. Bahkan Bagas mengirim puluhan pesan menanyakan keberadaan Chila saat ini.


"Belum genap setengah hari dia uda ribut gini. Gimana seminggu"


Chila tetap membalas pesan dari Bagas. Dia mengatakan jika hari ini sangat sibuk diluar. Dan meminta maaf karena tak bisa menemani Bagas makan siang. Usai membalas pesan Chila keluar lobby hotel dan memanggil taksi.


Bagas yang menerima pesan dari Chila merasa tak tenang. Sesibuk - sibuknya Chila diluar, pasti mereka tetap bertemu sekedar makan siang bersama.


"Loe kenapa sih fugu ngelamun aja"


"Fugu-fugu enak banget ya ngrubah nama orang"


"La bener kan, ikan buntal itu sama aja fugu-fugu"


"Chila yang manggil gak masalah asal bukan loe"


"Uda gak usah uring-uringan lagi. Ada masalah apa"


"Chila gak bisa gue temuin"


"Sejak kapan"


"Pagi tadi"


"Yaelah gue kirain sebulan atau setahun gas"


"Ck mau sehari atau sedetik bagi gue sama aja"


"Dasar bucin. Loe gak mau meeting nih"


Bagas berjalan keluar ruangan diikuti Jimmy. Pikiran Bagas masih tertuju pada Chila. Bagas dan Jimmy meeting direstauran sambil makan siang. Dalam benak Bagas sudah menyusun rencana setelah meeting akan mengunjungi Chila.


Berbeda dengan Bagas. Chila masih santai belum merasa ada yang salah dalam hidupnya. Dia memang sedang sibuk dan lusa dia harus ke Surabaya karena klien yang ditemuinya pagi tadi berasal dari Surabaya.


"Kak makan siang dulu"


"Makasih Din. Yang lain udah loe kasih"


"Uda kak"


Chila makan siang dengan nasi box yang dipesan oleh karyawannya di sebuah hall yang akan digunakan sebagai acara resepsi seorang anak pejabat. Kini Chila dan karyawannya sedang istirahat. Ponsel chila berdering. Karyawannya menghubungi dari kantor.


Bagas yang tak bisa konsen dalam meetingnya, membuat Jimmy yang harus menghandle. Sambil makan siang Bagas berusaha menghubungi Chila namun selalu saja sibuk.


"Kamu kenapa sih beib. Gak biasanya gini"


Jimmy yang mendengar keluhan Bagas merasa kasihan. Dia mengirim pesan pada salah satu anak buah Chila yang ia kenal. Menanyakan keberadaan Chila.


"Loe kenapa si gas makanan buat mainan kayak abege labil aja"


"Gue gak bisa hubungi Chila jim. Dia juga gak balas pesan gue lagi. Terakhir pagi tadi"


"Yaelah tinggal ke kantornya aja susah"


"Iya rencananya sih gitu. Tapi kok kayaknya dia gak mungkin dikantor. Sekretarisnya bilang dia sibuk diluar"


Jimmy yang baru mendapat balasan dari salah satu karyawan Chila, langsung menunjukkan pesan itu pada Bagas.


"Nih. Bini loe lagi di gedung ini. Persiapan buat resepsi klien"


"Loe dapat dari mana"


"Dena karyawan dia. Kebetulan dia tetangga gue"


"Makasih banget. Loe emang asisten gue. Ayo cabut"


"Ya elah gak inget umur uda kayak bocah aja"


Jimmy cuma geleng-geleng kepala. Melihat tingkakh Bagas yang sangat aneh setelah jatuh cinta pada Chila. Sifat dan kelakuannya sangat berbanding terbalik dari yang dulu. Bagas yang mengendarai mobilnya. Jimmy hanya diam. Bagas membawa mobil lumayan kencang membuat Jimmy kesal.


"Gas gue masih mau hidup. Pelanin dikit. Ini bukan game gas"


"Diem loe kalau masih mau hidup"


"Ya Allah selamatkan nyawa Jimmy ambil saja nyawa bagas. Dia punya cadangan nyawa banyak ya Allah"


"Emang gue kucing"


Jimmy hanya bisa menutup mata pasrah. Perutnya juga mual gara-gara Bagas menjadi pembalap dadakan. Bagas sudah sampai ditempat Chila berada. Saat Bagas sedang memarkirkan mobil, Jimmy melihat Chila keluar dan pergi dengan Damar dan satu pegawai wanita.


"Gas. Gas bini loe tuh mau pergi"


Bagas melihat kearah mobil yang akan dinaiki Chila. Bagas emosi melihat Damar membukakan pintu untuk Chila. Dan cara mempersilahkan Chila masuk membuat Chila tertawa. Apqlagi Chila duduk didepan disamping Damar.


Jimmy melihat wajah Bagas berubah muram dan mencengkram stir mobil kuat hanya bisa menenangkan sang sahabat.


"Sabar gas. Mereka cumq patner kerja"


Bagas sama sekali tak menghiraukan omongan Jimmy. Dia langsung melesat mengikuti mobil milik Chila. Mungkin takdir sedang mendukung niat Chila. Bagas kehilangan jejak mobil yang digunakan chila saat dipersimpangan.


"Sial. Kemana mobil tadi"


"Gas sabar. Loe coba telpon chila dulu"


Bagas mengeluarkan gawainya menghubungi Chila. Bagas masih menunggu jawaban dari Chila.


"Hallo"


"Hallo. Maaf Arsyilanya ada"


"Oh kak Chila sedang sholat kak. Ada pesan nanti dinda sampaikan"


"Nanti tolong bilang untuk menghubungi saya kembali"


"Baik"


Bagas mematikan ponselnya. Karena kesal dia memilih pergi ke mushola terdekat untuk beribadah. Usai melaksanakan kewajibannya, Bagas memilih pergi ke kafe.


"Loe ada masalah sama Chila"


"Nggak"


"Ya uda loe gak usah uring-uringan gitu. Chila mungkin emang sibuk banget"


"Iya gue tau itu. Tapi tetap saja gue belum ketemu dia dari pagi rasanya ada yang aneh"


"Huh bucin boleh tapuli akal tetap jalan. Loe kan bisa samperin ke rumahnya. Gak mungkin kan dia gak pulang"


"Iya juga ya. Kok gue bisa lupa ya"


"Oh cinta membutakan segalanya. Membuat orang pintar menjadi bego"


"Sialan loe Jim"


Bagas pulang kerumah untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia tidak makan malam dirumah dan langsung menuju rumah Chila. Dia sudah lebih tenang dan berharap bisa bertemu dengan Chila malam ini.


Saat tiba dirumah Chila, penjaga rumah mengatakan jika seluruh keluarga sedang tidak ada dirumah. Bagas menanyakan keberadaan chila. Sang penjaga mengatakan jika Chila sedang tinggal dirumah uyutnya. Namun bagas lupa menanyakan alamat rumah uyut Chila.


Bagas pulang dengan perasaan kecewa. Namun dia memberi semangat dirinya sendiri


"Palingan juga besok uda balik"


Bagas langsung pulang kerumah. Dan beristirahat. Dia masih berusaha menghubungi Chila namun ponsel milik Chila sedang tidak aktif.


Sudah tiga hari Bagas susah menemui Chila. Namun Chila masih menjawab teloin atau membalas pesan dari Bagas. Bagas sering marah-marah tak jelas. Beberapa kali dia kerumah Chila hasilnya masih sama. Hingga sebuah kabar dari Jimmy membuat Bagas secepat mungkin mengejar Chila ke bandara.


"Gas gue baru dapat kabar Chila mau ke Surabaya siang ini"


Tanpa mendengar penjelasan dari Jimmy, Bagas sudah melesat pergi menuju bandara. Seperti orang kesetanan.


"Kenapa kamu mau ninggalin aku beib. Apa salahku beib"


Bagas terus menekan klaksonnya tak sabaran. Dia bahkan mengumpat pada pengendara lainnya.


"Tolong jangan pergi sayang. Aku gak bisa tanpa kamu sayang"


Tiba di bandara Bagas memarkir sembarangan mobilnya. Dia langsung masuk mencari keberadaan Chila. Dan dia melihat dipapan, jika pesawat yang membawa Chila sudah mengangkasa lima menit yang lalu.


"Kamu benar meninggalkan aku sayang"


Bagas berjalan gontai. Tanpa sengaja Arash melihat Bagas berjalan dengan lesu. Dia mendekati Bagas.


"Loe mau pergi Gas"


"Eh bang. Nggak bang"


"Terus"


Bagas hanya diam. Arash tahu maksud Bagas ke bandara.


"Oh jangan bilang loe ngejar Chila"


"Iya bang. Kenapa Chila ninggalin gue bang"


Arash memiliki ide untuk mengerjai Bagas.


"Yang sabar lusa dia uda pulang kok"


Bagas yang sedang tidak konsen tidak memperhatikan perkataan yang keluar dari mulut Arash.


"Salah gue apa bang. Kok dia tega ninggalin gue"


"Salahnya kelamaan digantung"


"Gue uda lamar dia kok bang. Dia saja yang belum mau"


"Siapa juga yang mau dilamar depan toilet"


"Ya yang pentingkan uda dilamar"


"Udah gak usah dipikirin ntar juga balik kok si Chila"


"Iya bang semoga cepat balik"


"Dasar orang kalaubuda cinta jadi bego. Uda dikasih kode kapan pulang, masih aja gak ngeh"


Arash membatin sambil tersenyum. Dia merangkul Bagas dan membawanya ke mobil miliknya.


Saat dipesawat, Chila merasa kehilangan sesuatu di hidupnya, setelah tanpa sengaja melihat sepasang kekasih disampingnya sedang bermesraan. Dia mengingat perkataan seseorang yang beberapa hari ini tidak ditemuinya.


"Fugu aku rindu"


_______


Ternyata pekerjaan Chila tak semudah yang dia bayangkan. Bahkan Chila dan teamnya harus menambah waktu menetap disurabaya. Saking fokusnya Chila bekerja, dia lupa dengan gawainya. Dan keluarganya yang mebghubungi Chila biasanya melalui Dinda atau Damar.


"Kak ini dekorasi uda diubah lagi buat acara ke tiga"


"Oke kita tanya Pak Safar dulu setuju tidak"


"Semoga deal kak. Sumpah gue ngantuk banget kak. Anaknya ternyata banyak maunya"


"Sabar. Kita bekerja menyenangkan pelanggan itu juga ibadah"


Chila menemui kliennya direstauran hotel tempat dirinya dan team menginap. Anak dari kliennya masih merasa kurang sempurna. Beruntung kliennya bisa memberi pengertian kepada putrinya. Setelah dua hari mereka hanya tidur ayam, akhirnya beres semua.


"Alhamdulillah. Akhirnya bisa tidur. Setelah hari H kita baru balik kak"


"Iya Din. Kita molor sampai dua minggu disini. Semua diluar kendali"


"Iya baru nemu orang seribet ini"


"Iya bener Din"


"Hush sudah. Sebaiknya kita isturahat. Nanti malam jalan-jalan karena besok kita perang hari terakhir"


Mereka masuk kedalam kamarnya masing-masing. Sambil menunggu Dinda yang sedang mandi, Chila kembali membuka pesan dari Bagas.


"Apa kabar kamu jailangkung"


Sambil menatap foto yang dikirim Bagas, chila baru menyadari jika dia memang sudah menerima kehadiran Bagas dihatinya. Dan merasa kehilangan karena Bagas tak mengganggunya hampir dua minggu ini.


Malam hari Chila dan teamnya berjalan-jalan ke Mall. Bermain diarea permainan dan makan bersama. Saat melintasi sebuah toko boneka, Chila berhenti dan mengambil salah satu boneka.


"Aku kangen kamu fugu"


"Aku juga kangen kamu preman pasar"


Suara seseorang yang sangat dikenalinya sudah berdiri dibelakang sambil tersenyum menatap penuh kerinduan.


"Jailangkung"


______


Cinta itu memang perlu diuji. Jangan sampai salah dalam mengambil keputusan hanya berdasarkan cinta yang sudah dijalani lama. Lamanya sebuah hubungan tak akan menjamin kelanggengan hubungan itu.


Ini masih part duo aneh ya...


jangan lupa jempol


happy reading