
"Pak Ghaisan kemana Ta"
"Gak tau juga. Bukannya loe asistennya"
"Gak biasanya molor gini tuh bos. Bentar gue cek ke kamarnya dulu"
"Oke"
Arumi kembali berjalan menuju kamar hotel milik Ghaisan. Pagi ini mereka akan kembali meninjau lokasi pembangunan. Sudah tiga hari mereka berada di luar kota. Jadwal Ghaisan memang sangat padat. Terkadang mereka akan lembur hingga malam hari.
Hari ini untuk pertama kalinya Ghaisan tidak tepat waktu. Karyawan yang menjadi tim Ghaisan sudah menunggu direstoran hotel, namun Ghaisan masih belum tampak hampir setengah jam lamanya.
Tok tok
Arumi mengetuk pintu kamar Ghaisan, namun tak ada jawaban. Arumi juga menghubungi ponsel Ghaisan dan tetap sama tidak ada jawaban.
"Haduh jangan-jangan pak bos diculik lagi. Atau jatuh kejedot meja"
Arumi semakin panik, karena tiba-tiba ponsel Ghaisan sudah tidak bisa dihubungi. Beruntung ada petugas hotel sedang melintas. Arumi meminta pertolongan kepada petugas tersebut.
"Maaf mas bisa minta tolong"
"Bisa saya bantu kak"
"Bos saya didalam gak ada respon. Saya sudah hampir lima belas menit disini. Ditelpon juga gak diangkat. Malahan sekarang ponselnya mati. Bisa minta tolong dibukakan pintunya. Saya takut terjadi sesuatu"
"Sebentar kak. Saya hubungi manager hotel terlebih dahulu"
"Oke. Tapi jangan lama-lama mas. Takutnya sesuatu yang berbahaya terjadi"
"Ya kak. Sebentar"
Pegawai hotel tersebut langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor seseorang. Hanya berselang beberapa menit saja. Manager hotel bersama salah satu karyawan lainnya datang menghampiri Arumi.
"Selamat pagi Bu. Saya Rendra manager hotel disini. Ada yang bisa saya bantu"
Arumi menceritakan kondisinya saat ini. Dan tanpa berlama-lama, manager hotel meminta kunci cadangan pada salah satu resepsionis yang sedang bersamanya.
"Silahkan masuk Bu"
"Terimakasih pak"
Arumi bergegas masuk kedalam kamar Ghaisan dan diikuti oleh manager dan dua orang yang tadi sudah berada disana. Pihak hotel juga berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dengan tamunya.
Arumi masuk kedalam kamar Ghaisan dan menemukan Ghaisan diatas ranjang dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.
"Pak. Pak Ghaisan. Anda baik-baik saja kan"
Hanya suara rintihan yang terdengar. Arumi memberanikan diri memeriksa kening Ghaisan. Karena wajah Ghaisan memang nampak pucat.
"Ya Allah panas sekali"
Arumi meminta manager hotel untuk memanggilkan dokter. Dan dengan cepat sang manager memanggil dokter dari klinik terdekat. Selama pemeriksaan, Arumi memang meminta manager hotel tetap berada dikamar Ghaisan. Dia tidak ingin ada berita buruk nantinya.
"Terimakasih pak Rendra sudah membantu saya"
"Sama-sama Bu. Ini juga bentuk pelayanan dari hotel kami. Kalau begitu saya pamit dulu. Semoga pak Ghaisan segera pulih"
"Terimakasih doanya"
Manager hotel tersebut keluar dari kamar Ghaisan. Mau tak mau kini hanya Arumi yang berada disana. Dokter meminta agar Arumi mengawasi demam Ghaisan. Jika setelah meminum obat. Demamnya masih meninggi, Arumi harus segera membawa Ghaisan ke rumah sakit.
Arumi juga sempat meminta dokter melakukan tes darah kepada Ghaisan. Dia takut Ghaisan terserang penyakit serius. Arumi hampir lupa jika mereka sedang ditunggu di lobby hotel.
"Hallo Tata. Pak bos ternyata sakit. Kalian tolong langsung ke lapangan dulu. Nanti kalau bos sudah sadar, saya nyusul"
"Oh oke. Kita berangkat sekarang"
Arumi sudah mematikan ponselnya. Dia membuka laptopnya mengerjakan beberapa laporan. Seperti perkataan dokter, Arumi harus memeriksa suhu tubuh Ghaisan setiap satu jam. Arumi ragu meletakkan termometer diketiak Ghaisan. Apalagi dia harus menyingkap sedikit bajunya agar mudah memasukkan termometer tersebut.
"Ini kalau orangnya gak sakit pasti udah ngamuk"
"Maaf ya pak bos. Permisi bajunya Rumi buka dikit. Gak ngintip kok. Sumpah"
Saat Arumi berusaha menyingkap sedikit baju Ghaisan sambil memalingkan wajah, sang pemilik tubuh membuka matanya perlahan. Dia melihat siapa yang sedang menyentuhnya. Dengan suara lemahnya Ghaisan masih berusaha untuk memarahi Arumi.
"Kamu ngapain disini. Mau memperkosa saya"
Arumi kaget mendengar suara Ghaisan. Walaupun lemah namun aura mengerikan masih bisa Ghaisan tampakkan.
"Ohh. Ya sudah nih. Jangan ngintip. Dosa"
"Iya pak"
Ghaisan dengan sukarela Ghaisan mengangkat tangannya agar Arumi mudah menyusupkan termometer kedalam ketiaknya.
"Sudah pak. Bapak bisa turunkan lagi tangannya"
Ghaisan menurunkan tangannya dan memalingkan wajahnya kearah lain. Arumi bangkit dari sisi ranjang Ghaisan dan memilih kembali ke sofa.
"Kamu bisa masuk kamar saya, bagaimana caranya"
"Tadi saya minta tolong manager hotel membuka pintu kamar bapak. Karena bapak tidak merespon panggilan saya"
"Oh"
Ponsel Arumi berdering. Salah satu rekan timnya menghubungi dan mengatakan jika mereka menunggu Arumi untuk datang. Ghaisan yang mendengar itu langsung berusaha bangkit namun tubuhnya masih belum begitu kuat akhirnya terjatuh kembali.
"Bapak mau kemana. Biar saya bantu"
"Saya mau kencing. Emang kamu mau bantu saya bukain celana saya"
"Eh. Nggak pak nggak. Kalau gitu saya pamit pak. Saya harus ke lokasi pembangunan"
"Tunggu saya mandi sebentar"
"Bapak masih sakit. Dan demam bapak belum turun"
"Sakit. Saya gapapa. Nanti juga sembuh. Kamu tunggu saya diruang tamu saja"
"Baik pak"
Arumi membereskan beberapa berkas miliknya dan juga laptopnya. Arumi menunggu Ghaisan diruang tamu kamar hotel Ghaisan. Ghaisan berusaha berjalan menuju toilet dengan tertatih.
Arumi masih fokus dengan laptopnya. Saat terdengar suara dentuman benda jatuh dan suara lenguhan orang kesakitan. Arumi langsung berlari menuju kamar Ghaisan.
"Bapak gak pa.."
Arumi dan Ghaisan saling menatap. Wajah Arumi berubah memerah begitu juga Ghaisan.
"Arumiiii. Balik badan kamu"
"Hahhhh. Akhhh maaaf pak"
"Cepat kamu keluar Arumi"
"Ba ba baik pak. Maaf"
Arumi membanting pintu kamar Ghaisan. Sedangkan Ghaisan masih membekap bathrobenya yang tadi terbuka lebar saat Arumi masuk.
"Akhhh. Mama udah ada yang lihat si Ujang"
Teriak Ghaisan didalam selimut. Memang saat Arumi masuk tadi Ghaisan baru selesai mandi dan tanpa sengaja menabrak pinggiran meja. Ghaisan hanya menggunakan bathrobe dan tidak dia talikan. Hingga sesuatu menggantung disana nampak dengan jelas.
Sedangkan Arumi diruang tamu sangat gugup. Bahkan setiap barang yang hendak dia masukan kedalam tas selalu saja jatuh.
"Haduh kenapa keinget terus sih. Otakku. Mataku tercemar belalai Sinchan"
Arumi berusaha mengembalikan kesadarannya. Dia bahkan memukuli kepalanya sendiri. Namun tetap saja dia masih teringat benda keramat itu.
"Plis deh Rumi. Jangan mesum gini. Sadar Rumi sadar"
Ghaisan yang sudah berpakaian lengkap sedang berusaha mengatur nafasnya. Dia berusaha mengusir kegugupannya.
"Ehem. Ayo berangkat"
"Heh. Ba baik pak"
Arumi hanya bisa menunduk. Wajahnya masih sangat merah. Arumi tidak tahu saja jika saat ini Ghaisan pun merasa hal yang sama. Hanya saja Ghaisan pandai dalam menyimpan kegugupannya.
______
Wah wah rumiii
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading