
"Pagi mam"
"Pagi sayang"
"Idih tumben manggil atha pake sayang"
"Lah kan emang mami sayang abang"
"Pi. Semalam berapa ronde. Kok mami kayaknya plong banget"
"Tau aja kamu tha"
"Tau lah pi. Mami kan jarang manggil atha sayang kecuali ada sesuatu"
"Hahaha. Kamu tha gak kapok bikin mami kamu ngomel"
Tian sudah biasa dengan sikap atha yang seperti itu. Dulu dia paling tidak suka dengan anak yang berbicara tidak sopan pada orangtua. Dia lebih sering berbicara formal. Namun atha bukan semakin dekat malah semakin menjauh. Tian baru menyadari kesalahannya saat atha memutuskan untuk tinggal diapartemen. Bahkan tian tidak pernah tau apa saja yang dialami putranya selama ini.
Semua urusan yang menyangkut atha, selalu jay yang turun tangan. Atha seperti tak menganggap tian sebagai ayahnya. Sikap itu yang sempat membuat tian dan jay beradu mulut. Dan tian baru sadar jika selama ini sikapnya salah kepada putranya. Perlahan tian memperbaiki sikapnya. Dia mulai menghilangkan sikap formalnya dan berusaha menjadikan atha sebagai teman.
"Abang makasih ya. Mami bahagia"
"Kenapa mam. Dapat lotre"
"Lebih dari itu. Mami dapat mantu"
"Oh galang mau merried duluan mam"
"Enak aja bang. Gak gue gak mau nikah muda. Kuliah aja belum kelar"
"Iya lagian siapa yang bilang galang mau nikah bang"
"Lah mami tadi bilang mau dapat mantu. Siapa lagi kalau bukan galang"
"Kamulah bang"
"Ck. Ngaco mami ah"
"Kok ngaco sih bang. Dengar ya. Tante nindi ngabarin kalau seila juga seneng ketemu kamu. Jadi bisa berlanjut kan"
"Gak ah mam. Lagian atha gak suka gaya pakaian dia. Mami kan tau atha maunya kayak apa"
"Loh kan maminya uda nyari yang sesuai sama mau kamu abang. Sholehah, cerdas, cantik. Kurang apalagi"
"Kurang bahan. Dah ah atha mau ke bandung takut kesiangan"
"Tunggu maksud kamu kurang bahan apa bang"
"Gak usah bahas lagi. Pokoknya atha gak nerima perjodohan ini. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah kepergian atha, septian dan galang adik atha penasaran dengan wanita yang akan dijodohkan pada putra pertama keluarga septian.
"Mam kayak apa sih cewek yang dijodohin ke abang. Kok kayaknya abang gak seneng banget"
"Iya papi juga penasaran"
"Bentar mami ada fotonya kok"
Friska beranjak dari meja makan dan mengambil ponsel di meja dapur. Beruntung friska sempat meminta foto seila kepada sahabatnya.
"Coba lihat ini. Cantik kan"
"Ini cantik banget mam. Buat galang aja mam kalau abang gak mau"
"Nggak. Ini jatah abang kamu dek"
"Ini beneran selera abang mam. Tapi kenapa abang bilang kurang bahan"
"Soak kali itu matanya abang pap"
"Hahaha. Tapi biarkan saja mam. Jangan mengulang kesalahan yang sama"
"Iya pap. Mami ingat itu"
Tak berbeda jauh dari keluarga Atha. Mama nindi juga meyakinkan putrinya agar mau bertunangan dengan atha.
"No mam. Kayak gak ada yang lebih baik aja. Dia tuh tukang gombal"
"Eh kok kamu ngomongnya gitu sayang. Dia itu hafidz quran loh"
"Hafidz kok tangannya suka traveling. No pokoknya no. Seila kuliah dulu mam. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Dasar keras kepala kayak bapaknya"
Seila masih menempuh pendidikan disebuah kampus. Dan tanpa seila tau ghaydan adalah pemilik yayasan kampus tempat seila menempuh pendidikan. Seila mengambil jurusan kedokteran. Dan saat ini masih semester lima. Seila juga hafizd qur'an. Almarhum ayahnya seorang dosen agama. Keluarga mereka juga memiliki pesantren.
.
.
.
"Bos besok bos harus ke kampus alma karena ada seminar manajemen. Bos diundang sebagai pembicara"
"Kamu lupa son. Besok saya akan ke surabaya. Haul nenek"
"Astaghfirullah saya lupa bos"
"Ya udah kamu aja yang ngisi seminar"
"Baik bos"
"Ingat jangan tebar pesona. Awas bikin image gue ancur"
"Asyiaap"
"Habis ini kosong kan son. Gak ada jadwal meeting lagi kan"
"Selesai semua bos"
"Ya udah saya mau pulang dulu"
"Oke bos"
Atha berjalan masuk kedalam. Didalam mereka sudah menunggu. Hanya si kembar yang tidak ada. Bagas tidak bisa membujuk arsya. Apalagi arsya calon kakak iparnya.
"Hai gaesss. Nungguin ya"
"Lama amat loe tha"
"Ealah bang dave gak sabaran banget sih. Macet jalannya"
"Gas buruan panggil instruturnya. Gue gak mau shanum ngamuk"
"Oke oke bentar"
Bagas memanggil instruktur untuk mereka. Pertamakali latihan mereka, sang instruktur hanya bisa tertawa. Mereka bergoyang sesuka hati.
"Ganti aja lagunya jangan yang ngebit gini"
"Iya. Ganti goyang dumang aja"
"Setujuu"
Atha langsung mengganti musik dengan goyang dumang. Mereka menari dengan gerakan yang dulu viral. Sang instruktur akhirnya mengikuti mereka. Bukan mereka yang mengikuti sang instruktur.
"Hah. Udah udah. Gak sanggup gue lelah"
"Loe uda tua zha. Nafas ngos ngosan"
"Kayak loe gak ngos ngosan aja bang dave"
"Gila ini mah sekalian fitness"
Tidak hanya bagas. Semuanya juga kelelahan. Mereka memang jarang berolahraga.
"Gue ketoilet dulu. Kalian uda mau pulang"
"Bentar lagi tha. Ngatur nafas dulu. Encok ini"
Atha mengambil barang bawaannya dan keluar menuju toilet. Karena baru pertama ditempat itu, atha bingung mencari letak toilet.
"Dimana sih. Uda kebelet banget masa gue tampung dibotol minum"
Atha masih mencari toilet berada. Dan menemukan tempat itu sedikit tersembunyi. Atha melihat jika toilet itu tanpa tanda untuk pria atau wanita. Karena sudah diujung atha langsung masuk kedalam.
"Lega ahhhh"
Atha yang sedang membenahi resleting celananya tak menyadari ada perempuan ditempat yang sama.
"Akhhhhh dasar cowok mesum gak tau diri"
"Aduh aduh. Stop sakit bege"
"Loe yang bege. Loe mau ngintipin kita ya. Dasar mesum"
"Stopp. Gue gak mesum. Loe aja tuh yang mesum mau ngitipin gue"
"Enak aja"
Perkelahian atha dan seorang wanita berjilbab ditoilet terdengar hingga keluar ruangan. Beruntung sekuriti langsung masuk kedalam toilet tersebut.
"Berhenti kalian berdua"
"Ah pak tangkap pria mesum ini. Dia seenaknya masuk kedalam toilet wanita"
"Enak saja. Dia saja yang ditangkap. Dia yang nylinap ngintipin saya. Untung uda pake celana. Kalau gak bisa bahaya"
"Enak aja. Gue juga gak rela mata gue lihatin barang haram"
"Stop kalian berdua ikut saya ke kantor"
Ghaydan dan perempuan itu berjalan menuju ruangan sekuriti. Bagas yang melihat atha dibawa sekuriti langsung mengejarnya.
"Loh bang kirain uda balik. Ada apa ini"
"Gue males jelasin gas. Loe dengar saja nanti. Temani gue"
"Iya"
Bagas menemani atha diruang sekuriti. Atha menceritakan kejadian awalnya. Dan dia juga menjelaskan jika tidak melihat tanda itu toilet wanita atau pria.
Sedangkan wanita yang memukuli atha juga mengatakan yang sama. Akhirnya mereka berdamai. Atha langsung pergi meninggalkan perempuan tadi dengan kesalnya.
"Dasar cewek aneh"
"Cowok mesum"
Atha dan gadis itu sama-sama melempar tatapan sengitnya. Bagas yang melihat hanya bisa menahan tawa. Menurutnya sangat lucu CEO Persada Group yang jarang diekspos media mendapat julukan cowok mesum.
"Dasar cewek jutek. Sumpah baru kali iji gue digebukin kaya maling"
"Haha kalau gue videoin tadi keren bang"
"Awas loe berani nyebarin berita ini gas"
"Ampun bang hahaha"
"Penampilan aja alim. Tapi juteknya minta ampun"
"Jangan benci-benci jodoh baru tau"
"Amit-amit gas. Tiap hari gue disleding terus yang ada"
Atha dan Bagas berpisah diparkiran sanggar senam tadi. Saat dia di lampu merah tak sengaja dia melihat wanita yang mengajaknya ribut tadi bersama seorang pria. Dan wanita tadi asyik menempel pada pria disebelahnya.
"Cewek aneh. Kelakuan gak jelas"
_______
Hayo mas atha a.k.a ghaydan ketemu siapa...
Oya makasih ya gaesss berkat kalian. Babang rashsya story dpt level. Jangan bosan buat baca cerita gk jls ini
Jempol jangan lupa...jempol diklik
Happy Reading..