
Mama Bagas datang membawa dokter kandungan. Jika selayaknya seorang suami cemburu jika istrinya dipegang oleh pria lain, meskipun itu seorang dokter sekedar memeriksa. Berbeda kondisi dengan Icha. Dimana Ichalah yang kesal dipegang-pegang oleh dokter muda nan tampan itu. Arash hanya bisa tersenyum.
"Dokter gak usah lihat ke Icha. Balik badan"
"Ouh. Tapi saya harus memeriksa kondisi nyonya"
"Siniin tuh bulet-buletnya. Biar suami saya yang megang. Dokter cukup dengerin aja"
Dokter muda itu memijit pelipisnya sambil nyengir melihat kearah Arash. Arash terkikik dan mengangguk. Dikter muda itu menyerahkan ujung steteskop pada Arash dan ujung lainnya berada ditelinganya. Sang dokter memberi pengarahan kepada Arash.
"Hmm. Apa tadi sudah mencoba menggunakan testpack"
"Sudah dok"
"Hasilnya bagaimana"
"Belum kami lihat dok. Sebentar saya ambil ditoilet"
Arash beranjak menuju toilet dikamarnya. Mengambil alat uji kehamilan yang sudah digunakan tadi. Arash tersenyum bahasia melihat dua garis merah disana.
"Dok. Ini akurat kan"
"Coba saya lihat dulu tuan"
Dokter itu tersenyum melihat hasil yabg terlihat dialat uji kehamilan itu. Dia langsung menuliskan resep dan menjelaskan kondisi Icha kepada Arash.
"Selamat ya tuan dan nyonya karena kalian akan segera menjadi orang tua. Untuk usia kandungannya menurut perhitungan hari terakhir nyonya menstruasi, diperkirakan sekitar tiga minggu"
"Alhamdulillah. Sayang dia sudah disini"
"Iya mas. Hasil mayonaise anak sultan"
Dokter dan kedua orangtua Bagas yang mendengar perkataan Icha hanya bisa menahan tawa. Sedangkan Arash tersenyum sambil mengusap - usap perut sang istri.
"Maaf pak bisa kita bicara berdua"
"Baik dok. Sayang aku keluar sebentar ya"
"Heem"
Arash mengikuti sang dokter begitu juga papa Bagas. Arash menampakkan wajah khawatir takut terjadi sesuatu pada istri dan calin anak pertamanya itu.
"Ada apa dok. Apa ada masalah serius dengan kehamilan istri saya"
"Tidak pak. Saya hanya ingin memberikan sedikit edukasi tentang ibu hamil. Apalagi ini pengalaman pertama bagi anda"
"Benar sekali dok. Bahkan saya lupa untuk menanyakan hal itu tadi"
"Begini pak. Emosi seorang ibu hamil itu berbeda dengan seorang ibu yang sesang tidak hamil. Dia akan sangat sensitif. Mudah menangis bahkan marah tanpa sebab. Dan biasanya tingkat kecurigaan ataupun kecemburuannya sangat tinggi. Jadi saya minta untuk bapak bersabar hingga sembilan bulan saja. Tolong jaga emosi istri anda. Buat dia bahagia. Dengarkan segala keluhannya. Hanya hal sederhana seperti itu saja istri anda akan bahagia. Jangan sampai istri anda kelelahan tiga bulan awal adalah masa terawan bagi ibu hamil"
"Iya dok saya paham. Terimakasih sudah mengingatkan saya. Saya memang belum memiliki pengetahuan tentang kehamilan"
"Saya juga akan memberitahu anda tentang peningkatan aktivitas ranjang bagi ibu hamil pak"
"Maksudnya bagaimana dok"
"Jadi selain sensitif ibu hamil juga mengalami peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Karena kedua hormon itulah membuat nafsu ibu hamil lebih tinggi. Tapi sarankan agar tiga bulan awal ini anda untuk menahannya. Khawatir jika kandungan istri anda tidak terlalu kuat"
"Oh begitu. Baik dokter saya akan mengikuti semua saran anda. Terimakasih"
"Sama-sama pak. Ini saya resepkan vitamin penambah darah dan asam volat untuk awal kehamilan"
"Terimakasih Dok"
"Tolong jaga baik-baik emosinya pak"
"Pasti dok"
Papa Bagas mengantar dokter tersebut keluar setelah Arash menyelesaikan semua biaya pemeriksaan. Arash langsung masuk ke kamar. Dan melihat Icha sesegukan.
"Eh sayang kenapa menangis"
"Tante juga bingung Rash"
Arash langsung naik ranjang dan memeluk sang istri. Papa Bagas yang baru saja masuk kamar Arash juga bertanya hal yang sama kepada sang istri.
"Icha kenapa mah"
"Gak tau pah. Mama aja bingung tiba-tiba nangis"
Arash mengusap pelan punggung sang istri. Dia berusaha menenangkan sang istri.
"Ada apa hem. Mas ada salah atau kamu mau makan sesuatu sayang"
"Mas jahat"
"Hah. Jahat kenapa sayang"
"Mas gak sayang lagi kan sama aku"
"Heh itu pikiran darimana sayangku"
"Kalau masa sayang sama aku. Kenapa mas berduaan sama dokter itu lama banget. Mentang-mentang dia tampan gitu"
Tidak cuma Arash. Kedua orangtu Bagas juga kaget mendengar ucapan Icha. Merwka ingin tertawa namun takut sang ibu hamil tersinggung.
"Nggak dong. Masa terong makan terong sih sayang. Mas tadi cuma bahas tentang kehamilan kamu saja sayang"
"Beneran. Gak bohong"
"Bener sayangku. Mas cuma milikmu seorang"
"Awas bohong. Icha bakalan pergi"
"Hush gak boleh ngomong gitu. Sekarang bunda bobok ya. Atau mau makan"
"Makan ayah"
"Mau apa"
"Semur jengkol"
"Hahh. Gak salah sayang"
"Gak si adek pengen semur jengkol tapi jengkolnya harus krispy"
Arash menatap mama Bagas yang sama bingungnya.
"Oke aku carikan dulu"
"Gak mau kamu pergi"
"Om tama maukan masakin buat Icha"
Duarrrrr
Meletus balon merah. Hatiku langsung kacau. Itulah yang tetjadi dengan Papa Bagas saat ini. Dalam pikirannya terngiang kata memasak.
"Aku suruh masak. Yang ada padam kebaran datang kesini"
"Mau kan om"
Saat papa Bagas tanpa sengaja menggeleng karena masih kaget. Icha sudah akan menangis. Membuat Mama Bagas memberikan ancaman mematikan.
"Papa kalau gak mau nurutin kemauan Icha. Tidur diruang tamu"
"Mahhhh"
"Mas. Om tama gak mau masakin buat Icha"
"Oh gak gitu kok. Om mau. Sekarang om siap-siap. Kamu istirahat ya nak"
"Makasih om"
"Iya sama-sama. Yuk mah kita ke dapur"
"Oke pah"
Arash meminta Icha untuk istirahat. Icha mau asal Arash disampingnya.
"Bobok bunda. Kasian baby"
"Tapi mas disini aja ya"
"Iya mas tungguin"
Icha mulai terlelap. Arash mengambil gawainya dan menghubungi kedua orangtuanya dan juga ibu mertuanya. Dia akan memberi kabar bahagia untuk mereka. Mereka sangat bahagia mendengar kabar itu. Mereka meminta agar Arash segera kembali ke tanah air agar ada yang membantu menjaga Icha.
Sudah lima belas menit Arash memeluk Icha. Dia merasa ingin buang air. Perlahan dia melepas tangan dari pelukan sang istri. Setelah terlepas Arash langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia tidak lupa tidak mengunci kamar mandi. Tiba-tiba ada tangan melingkar diperutnya.
"Mas kenapa pergi"
"Eh kok bangun"
"Mas gak ada"
"Mas buang air"
Icha melihar kearah yang tak seharusnya atau malah seharusnya dia lihat.
"Ou max kenapa kamu snagat menggoda iman"
Icha terus saja menempel pada punggung Arash. Arash hanya bisa pasrah saja. Kini mereka keluar untuk makan. Apalagi Icha kembali menanyakan jengkol krispinya. Dapur sudah tak berwujud semua kreasi papa Bagas. Mama Bagas hanya memantau saja dari jauh karena permintaan Icha seperti itu.
Seluruh ruangan penhouse Arash berbau jengkol. Icha duduk santai dimeja makan menunggu hidangan papa Bagas selesai. Setelah siap makanan pesanan Icha terhidang. Mata Icha berbinar mihat jengkol didepannya.
"Wah sepertinya lezat"
Hanya Icha yang mengambil makanan itu sedangkan Arash dan Mama Bagas sudah bisa menebak bagaimana rasanya. Semur jengkol krispy dengan penampilan dark chocolate mendekati shiny black.
"Hmmm ini enak. Ternyata om bisa masak ya"
"Hehe. Syukurlah kalau kamu suka"
"Mas cobaiin deh enak loh"
"Ah kamu saja sayang. Mas belum lapar"
"Kalau mas gak mau nyobain. Mas aku sumpahin mual dan muntah kayak aku"
"Eh sayang kok gitu"
"Makamya cobain"
"I i iya sayang"
Arash menerima suapan Icha dengan ekspresi tersiksa. Mama Bagas menatap maya Arash seolah berkata. Tabahkan hatimu.
"Gimana enakkan mas"
"Hehe heem"
"Ya udah ayo dimakan"
Arash menahan rasa eneg diperutnya. Tanpa bisa menahan lagi Arash langsung lari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya itu. Icha yang khawatir langsung memeluk sang suami.
"Mas sakit"
"Nggak sayang. Mas gapapa kok"
"Trus kenapa muntah"
"Hmm mas gak bisa nyium bau jengkol sayang"
"Huh. Ya sudah kalau gitu Icha juga uda kenyang. Om habisin ya. Gak baik buang makanan"
Arash dan mama Bagas menahan tawanya. Icha minta ditemani dikamar karena ngantuk.
"Senjata makan tuan ini namanya"
"Selamat menikmati papa sayang"
Dikamar Icha minta ditemani melihat acara televisi. Dan dia kecewa karena acara yang dicarinya tidak ada.
"Kamu pengen nonton apa sayang"
"Mau nonton kontes dangdut"
"Hah. Gak mau gitu drama cowok sipit"
"Nggak mau. Maunya dangdut"
"Duh gusti kenapa peemintaan anakku selalu amazing. Produk lokal yang diproduksi diluar negeri"
_______
Anak Icha bapriknya diparis coy. Import dia....Ngidam seperti apa lagi yang dialami Icha
Jangan lupa jempol
Happy reading