
"Arghhh. Kesel gue kesel"
"Hahaha. Nikmati saja bang"
"Kampret emang loe Rash. Disaat gue susah loe bahagia"
"Kapan lagi bisa lihat seorang Devin ditindas. Apalagi ini istri sendiri yang menindas"
"Kenapa harus gini sih"
"Tapi gue suka sama calon anak loe bang. Sudah bisa membuat bapaknya galau padahal masih didalam perut"
"Kasih solusi rash. Jangan bully aja bisanya"
"Gue gak paham masalah ginian bang. Loe kan tau sendiri waktu Icha hamil si kembar cuma ngidam makanan pribumi. Jadi gue gak bisa kasih solusi"
"Ckkk. Menyebalkan masa harus sampai sembilan bulan rash gue kayak gini"
"Hahahaha. Karatan tuh rudal"
Devin melempar Arash menggunakan map yang dipegangnya. Arash hanya terus menertawakan sepupunya yang kini merebahkan tubuhnya disofa ruangan Arash dengan satu lengan menutupi wajahnya.
Siang menjelang, Devin masih berada dikantor Arash. Semenjak Tisya dinyatakan hamil, Devin lebih sering menghabiskan waktu dikantor. Semangat hidupnya akan menggelora kembali ketika mendapat telepon dari Tisya. Dan kini ponsel Devin berdering. Tanpa menunggu lama Devin langsung mengangkat berharap ada harapan baru kali ini.
"Assalamualaikum sayang"
"Waalaikumsalam salam. Kakak aku kangen"
"Sama sayang. Nanti pulang ya. Kakak jemput"
"Kakak aku mau makan omlete"
"Siap sayang. Sekarang kakak belikan"
"No"
"Terus. Kakak yang masak lagi"
"Nggak"
"Terus siapa dong"
"Aku pengen Ghaisan yang masakin buat aku kak didepan aku langsung"
"Apa. Sayang jangan main-main"
"Serius ini"
"Kenapa harus dakocan sih sayang"
"Pokoknya Ghaisan yang masak"
Panggilan ditutup sepihak oleh Tisya. Devin hanya bisa menghela nafas dalam. Dia mengacak-acak rambutnya. Arash hanya bisa tertawa.
"Kenapa lagi nyonya"
"Minta omlete yang masak dakocan"
"Itu kan gampang tinggal bilang Sinchan pasti mau"
"Guenya yang ogah. Gak inget Minggu lalu minta susu dibikinin si dakocan. Ujungnya tidur minta ditemenin si dakocan. Gue suaminya diusir"
"Hahaha. Terima nasib bang. Sabar tinggal tujuh bulan lagi"
"Sehari aja gue gak suka apalagi ini tujuh bulan rash. Bisa kejang-kejang gue"
"Janganlah. Ntar kak Tisya bisa jadi janmud"
"Apa tuh"
"Janda muda"
"Loe doain gue koid rash"
"Nggak. Baper amat sih"
"Dahlah. Gue mau nyari si dakocan dulu"
Devin meninggalkan ruangan Arash dengan wajah kusut. Dia benar-benar tersiksa selama Tisya hamil. Itu semua karena ngidam Tisya yang angkat aneh. Setelah dinyatakan positif. Tisya mengalami morning sick selama satu Minggu. Untung saja daya tahan tubuh Tisya termasuk yang kuat. Tisya tidak sampai harus bedrest. Namun dia tidak mau ada Devin disekitar dirinya. Dengan jarak dua meter saja Tisya akan muntah.
Tisya memilih tinggal bersama ibunya. Dan Devin tinggal sendiri dirumah miliknya dan Tisya. Setiap hari Tisya hanya bisa makan makanan Devin. Devin akan mengantarkan makanan untuk Tisya setiap Tisya meminta. Saat mengantar makanan pun Devin tidak bisa bertemu Tisya. Hanya ibunya yang akan menerima makanan itu. Tisya tidak kuat dengan bau badan Devin"
Kali ini cobaan kembali bagi kesabaran Devin. Tisya kembali meminta ngidam namun bukan Devin yang harus menyiapkan melainkan Ghaisan. Ini sudah kali kedua Tisya ngidam meminta Ghaisan yang membuatnya. Saat ini Devin sedang dalam perjalanan menuju kantor Ghaisan. Dan memang kantor Ghaisan searah rumah orangtua Tisya.
Devin sudah berada didepan ruangan Ghaisan. Namun dari luar terdengar suara Ghaisan yang sedang marah-marah.
"Pokoknya saya gak mau ya kerjasama dengan orang yang tidak profesional seperti ini"
"Anda yang tidak profesional bukan saya"
"Anda lupa. Berapa lama saya menunggu anda untuk meeting tapi anda sibuk dengan urusan pribadi"
"Salah anda kenapa tidak konfirmasi sebelumnya"
"Tidak konfirmasi. Anda yang meminta merubah jadwal dan anda sendiri yang melanggar. Sebaknya kerjasama ini batal. Saya juga tidak akan merasa rugi"
"Baik. Kerjasama ini batal. Selamat siang"
Devin yang berdiri didepan rumahan Ghaisan. terkejut melihat seorang wanita cantik keluar dari ruangan Ghaisan dengan wajah jutek diikuti oleh asistennya. Dari penampilannya sudah dipastikan jika wanita tersebut adalah wanita karir. Asisten Ghaisan keluar juga dengan helaan nafas yang cukup dalam.
"Kenapa bos loe dik"
"Biasa ketemu tikus"
"Tikus"
"Wow ada cewek yang gak terpesona sama Ghaisan"
"Ada. Tuh baru aja pergi. Pak Dev mau ketemu bos"
"Iya. Gue masuk dulu"
"Iya pak. Silahkan masuk"
Devin langsung masuk keruangan Ghaisan dan mengetuk terlebih dahulu. Melihat Ghaisan sedang serius dengan berkasnya.
"Ck. Gimana status jomblo gak mau lepas dari loe. Sama cewek cantik aja galak"
"Bang loe kalau kesini cuma mau memperjelas status jomblo gue, mending pulang sono. Kerjaan gue banyak"
"Sensi amat sih mas. Lagi datang bulan ya"
"Berisik bang. Ada apa nyariin gue bang"
"Tisya yang nyariin"
"Haha. Ngidam sama gue lagi bang"
"Hmmm"
"Heran gue sama anak loe bang. Punya dendam apa sama loe. Masih didalam perut aja udah pinter nyiksa bapaknya. Awas ntar anak loe mirip gue. Secara selama ngidam maunya cuma sama gue"
"Sialan loe dakocan. Buruan ikut gue. Keburu Tisya kelaparan"
"Ck. Loe gak lihat apa bang. Ini kerjaan banyak banget"
"Kasih Dika dulu. Bentaran doang kok. Loe tega apa lihat anak gue ileran besok"
"Tega bang. Tega banget gue"
"Dakocan. Ayolah. Atau gue telepon om Syamil biar loe boleh ikut gue bentar"
"Ck. Senjata loe bang. Iya gue ikut. Tapi gak bisa lama. Gue ada meeting lagi nanti"
"Iya. Udah ayo buruan. Pakai mobil gue aja"
"Emang loe nanti juga langsung balik bang. Gak nemenin kak Tisya dulu"
"Loe ya sama si kembar seneng banget lihat keadaan gue kayak gini"
"Hahaha. Pastilah. Sembilan bulan jadi duda"
"Sialan emang loe can. Ayo buruan"
Devin membawa Ghaisan menuju rumah ibu mertuanya. Sepanjang jalan Ghaisan terus sama mengolok Devin yang terpisah dari sang istri karena ngidam ajaibnya.
Saat baru tiba dirumah Tisya, ibunda Tisya sudah menunggu diteras. Tisya keluar saat mendengar suara Ghaisan. Devin menatap Tisya penuh kerinduan. Ingin rasanya dia memeluk tubuh istrinya itu. Namun dia takut Tisya akan mual-mual.
"Assalamualaikum Bu"
"Waalaikumsalam. Masuk yuk"
"Devin disini saja Bu. Takut Tisya mual lagi"
"Sabar ya nak. Nanti setelah tiga bulan biasanya kembali normal"
"Iya Bun"
Tisya melihat sang suami didepannya juga merasa ingin memeluk. Namun rasa mual lebih dulu menyerang.
"Kakak"
"Sayang. Kakak kangen"
Huekkkk.
"Kamu masuk saja sayang. Aku akan duduk disini menunggu dakocan"
"Maafkan aku kak"
"Tidak apa sayang. Ini bukan kemauan kamu. Jadi jangan meminta maaf. Masuklah"
"Iya kak"
Tisya kembali masuk kedalam rumah. Devin hanya bisa mengawasi dari jarak jauh. Bersama dengan ibu Tisya duduk disampingnya.
"Tisya kalau malam gak rewel kan Bu. Takutnya dia merepotkan ibu"
"Nggak kok. Dia kan hanya mau merepotkan nkamu saja Dev. Haha"
"Iya Bu. syukurlah"
"Besok jadwal periksa kandungan gimana"
"Haduh iya ya Bu. Devin harus ikut. Tapi takut Tisya mual"
"Hm. Benar juga. Nanti coba kita cari caranya Dev"
"Iya Bu"
_______
Ngidamnya pisah ranjang sama Devin si Tisya
jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading