RashSya Story

RashSya Story
Mr. Jutek (Ghaisan Story)



"Maaf pak Ghaisan. Saya mau ijin setengah hari"


"Kenapa"


"Mau bawa anak saya kedokter periksa"


"Hmm. Silahkan"


"Terimakasih pak"


"Besok kalau anak kamu belum sembuh, jangan masuk dulu. Kamu rawat saja dulu"


"Terimakasih pak. Ini berkas untuk meeting nanti pak"


"Hari ini ada meeting dimana"


"Restoran Alamanda pak"


"Saya sendirian. Carikan saya pengganti kamu dulu Mala"


"Baik pak"


Kumala kembali keruangannya dan mencoba mencari pengganti dirinya untuk mendampingi rapat Ghaisan. Karena beberapa divisi sedang sangat sibuk, Mala hanya asal memanggil salah satu karyawan yang bisa diandalkan. Dan sial bagi Arumi, karena dia yang mendapat kesempatan sial itu.


"Bagaimana Mala. Siapa yang akan mendampingi saya"


"Arumi pak"


"Tidak ada yang lain"


"Hanya Arumi yang bisa saya andalkan pak. Karena memang proyek ini ditangani oleh Arumi"


"Ya sudah. Bilang sama dia, suruh tunggu saya di lobby"


"Baik pak"


Ghaisan turun ke lobby. Dan Mala sudah memberitahu Arumi agar segera turun ke lobby jangan sampai Ghaisan menunggu lama. Lima menit sudah Ghaisan berada di lobby dan Arumi belum terlihat batang hidungnya.


Ghaisan yang kesal langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Kumala.


"Mala. Sejak kapan saya disuruh menunggu"


"Maaf pak. Saya sudah memberitahu Arumi"


"Dua menit lagi tidak datang, suruh dia menyusul menggunakan taksi"


"Baik pak"


Ghaisan sudah menutup panggilannya. Sedangkan Mala sedang kesal karena jam pulangnya kembali molor. Dia harus mencari tahu keberadaan Arumi. Mala memutuskan turun ke lantai tiga mencari Arumi langsung. Dan Mala langsung akan pulang ke rumah.


"Maaf Arumi dimana"


"Bu Mala. Arumi sudah turun ke lobby Bu dari lima belas menit yang lalu"


"Oh gitu. Terimakasih"


Mala berjalan menuju lift. Sambil berfikir kemana Arumi pergi, sedangkan sudah lima belas menit dia meninggalkan ruangannya.


"Kemana tuh anak. Seneng banget diomelin bos"


Saat menunggu lift, tiba-tiba Arumi muncul dari arah toilet. Mala langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


"Ya Allah Rumi. Kamu kemana saja. Si bos udah ngamuk di lobby"


"Maaf mbak. Rumi panggilan alam tadi. Gak tahan"


"Ya sudah ayo buruan. Tuh singa bisa lebih ngamuk lagi"


"Iya mbak"


Mala berjalan bersama Arumi. Saat tiba di lobby, tatapan Ghaisan membuat keduanya menunduk. Ghaisan berdiri dan membenarkan kancing jasnya.


"Hebat kamu. Bisa membuat saya menunggu lama"


"Maaf pak. Saya sakit perut tadi"


Ghaisan tak menanggapi perkataan Arumi. Ghaisan berbalik dan berjalan menuju mobil miliknya yang sudah terparkir didepan pintu masuk perusahaan. Arumi berjalan menunduk dibelakang Ghaisan.


Dugh


"Aduh"


Ghaisan menoleh saat Arumi memekik kesakitan. Ghaisan hanya bisa geleng-geleng kepala karena bisa-bisanya Arumi menabrak pintu kaca yang begitu besar.


"Dasar ceroboh"


Ghaisan kembali kesal saat Arumi memilih duduk di kursi penumpang dan tidak disampingnya.


"Maaf nyonya anda mau kemana"


"Hah"


Arumi hanya melongo mendengar perkataan Ghaisan. Dia tidak bergeming sama sekali. Ghaisan kembali menyindirnya. Dan barulah Arumi sadar.


"Supir anda siap mengantarkan anda kemana saja nyonya"


"Oh. Maaf pak. Maaf"


"Pindah depan"


Arumi buru-buru pindah ke kursi depan. Kembali Arumi terjatuh saat keluar dari mobil Ghaisan.


Brugh


"Aduh. Akh"


"Ck. Ceroboh banget"


Beruntung tidak ada luka di kaki atau tangan Arumi saat terjatuh tadi. Dengan rasa takut, Arumi mendudukkan dirinya dikursi samping Ghaisan. Saking groginya Arumi lupa mengenakan sabuk pengaman.


"Ngarep ya saya pasangkan sabuk pengaman"


"Oh. Maaf pak. Saya tidak berani"


"Ck"


Ghaisan hanya berdecak dan perlahan melajukan mobilnya menembus ramainya jalan perkotaan. Tak ada suara didalam mobil itu. Arumi bahkan duduk dengan tegang sedikit pun tak berani menoleh kearah Ghaisan.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di restoran Alamanda. Sebelum turun, Ghaisan mengingatkan Arumi agar tidak berbuat ceroboh selama meeting berlangsung. Arumi hanya bisa mengangguk saja. Dalam hatinya, Arumi berdoa semoga hari ini dia bisa aman dari amukan singa jomblo.


Ghaisan berjalan memasuki restoran dan Arumi berada dibelakangnya. Klien Ghaisan sudah menunggu diruang VVIP yang kedap suara namun berdinding kaca. Jadi nampak dari luar.


"Selamat siang Pak Ridwan dan ibu. Maaf saya terlambat"


"Terimakasih"


"Wah sekretaris anda ganti lagi pak Ghaisan"


"Oh tidak pak. Ini hanya pengganti sementara. Kebetulan sekretaris saya sedang ada acara"


"Oh begitu"


"Bagaimana kalau kita mulai saja pak Ridwan"


"Haha seperti biasa selalu to the point"


Ghaisan hanya tersenyum menanggapi. Ghaisan tak menyadari ada seseorang yang sedang tersepona dengan senyumannya itu. Baru pertama kali Arumi melihat Ghaisan tersenyum.


"Gila manis juga kalau singa jomblo senyum. Sayang lebih banyak juteknya daripada senyumnya"


Hanya bergumam dalam hati yang Arumi bisa lakukan. Tak sepatah kata pun bisa keluar dari mulut Arumi. Rapat berjalan dengan sangat lancar. Dan Arumi tidak melakukan kesalahan selama rapat.


"Ichan"


Seseorang menyebut nama Ghaisan dari ruangan yang berbeda. Dia baru saja selesai bertemu dengan teman lamanya. Tanpa sengaja dia melihat Ghaisan sedang berada di ruang VVIP.


"Sebaiknya gue tunggu klien Ichan pergi dulu"


Orang tersebut memilih kembali duduk dan menunggu klien Ghaisan keluar dari ruangan tersebut. Ghaisan masih tak menyadari jika sedang diperhatikan seseorang.


"Kalau begitu saya pamit dulu pak Ghaisan. Terimakasih atas kerjasamanya"


"Sama-sama pak Ridwan. Semoga kerjasama ini lancar terus"


"Aamiin. Mari Bu Arumi"


"Silahkan pak Ridwan dan Bu Ridwan"


Klien Ghaisan sudah meninggalkan restoran. Ghaisan akan kembali masuk untuk membereskan berkas yang tadi mereka tanda tangani. Tiba-tiba pintu ruangan VVIP tersebut terbuka. Ghaisan terkejut melihat siapa yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Ichan"


"Malika"


Arumi yang tak mengenali siapa Malika, hanya bersikap cuek dan melanjutkan membereskan berkas mereka.


"Bisa kita bicara sebentar Chan"


"Hmm. Kebetulan ada yang ingin gue sampaikan juga. Duduklah"


Arumi merasa menjadi pengganggu, dia memilih untuk keluar ruangan saja. Apalagi Malika menatapnya seperti tak senang. Namun Ghaisan melarang Arumi keluar ruangan itu.


"Saya tunggu diluar saja ya pak Ghaisan"


"Tidak. Kamu tetap disini. Saya tidak mau menimbulkan fitnah ataupun salah paham"


"Tapi pak"


"Duduk"


"Baik"


Malika hanya tersenyum sinis melihat Arumi. Sedangkan Arumi memilih menundukkan kepala.


"Arumi. Kamu bawa headset"


"Bawa pak"


"Pakai. Saya tidak mau kamu mendengar pembicaraan saya. Dan menjadi bahan ghibahan"


"Ba. Ba. Baik pak"


Arumi memasang headset dikedua telinganya. Dan memutar musik dengan volume penuh. Bahkan Ghaisan pun bisa mendengar musik apa yang sedang Arumi dengarkan.


"Apa kabar Chan. Sudah tiga tahun kita tidak bertemu"


"Alhamdulillah baik"


"Gue dengar loe belum merried Chan"


"Sekalipun gue belum merried, bukan berarti gue masih berharap sama loe"


"Huh. Iya gue juga tau itu. Dan sebenarnya sudah sejak lama gue mau ketemu loe, tapi gue belum ada keberanian"


"Mal. Mungkin ini saatnya gue harus bicara. Gue sudah maafin perbuatan loe. Dan kali ini gue minta loe juga bisa menerima keadaan loe yang sebenarnya. Jangan lagi loe menyimpan rasa bersalah. Masa lalu kita sudah berakhir. Jangan pernah diungkit lagi"


"Chan. Maafin gue. Gue tau sudah sangat jahat ke loe dan Arash. Kata-kata tulus loe yang bisa membuat lega hati gue. Terimakasih Chan. Terimakasih atas keikhlasan loe. Maaf sudah membohongi kalian selama ini. Gue memang jahat"


"Sudahlah mal. Lupakan semua"


Keheningan tercipta diantara keduanya. Malika hanya bisa meneteskan air mata. Sedangkan Ghaisan memainkan air minum didepannya.


"Bagaimana kabar dia"


"Baik Chan. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas"


"Tidakkah loe berfikir mempertemukan dia dengan ayah kandungnya"


"Tidak akan pernah Chan"


"Jangan egois. Dia butuh sosok ayah"


"Dulu berharap dia bisa mendapatkan sosok ayah seoerti loe. Maaf sudah melibatkan loe Chan"


"Sudahlah. Tak perlu diingat"


"Ya sudah gue pamit. Kapan-kapan kalau loe ada waktu. Mainlah ke rumah. Dia merindukan unclenya"


"Hmm"


Malika meninggalkan ruangan itu. Namun Arumi yang asyik mendengarkan musik tak menyadari itu. Entah dorongan darimana, tangan Ghaisan mengambil salah satu headset Arumi dan mengenakannya ditelinganya.


Arumi hanya melongo karena kaget. Dan Ghaisan menyenderkan bahunya pada sandaran kursi dan memejamkan matanya sambil menikmati musik dalam ponsel Arumi.


"Bos aneh"


_____


Sedikit terungkap tentang Malika..'Dia' itu siapa akan terungkap nantinya...


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading