RashSya Story

RashSya Story
CPS~Rizky Story



"Eh. Aduh". Suara rintihan membangunkan Iky yang tertidur di sofa ruangan itu. Rizky berdiri mendekati ranjang. Nampak Medina sedikit menggeliat.


"Kamu sudah bangun". Medina melihat kearah Rizky. Senyum itu tak pernah berubah sejak dulu. Medina ingin beranjak dari tempat tidurnya, namun ditahan oleh Rizky.


"Jangan bangun dulu. Tunggu saya panggilkan dokter". Medina hanya diam menatap Rizky yang berjalan cepat keluar ruangan memanggil dokter. Tak lama dokter datang bersama Rizky untuk memeriksa keadaan Medina.


"Mbak Medina hanya tinggal pemulihan saja. Demam sudah berangsur turun. Tapi saya sarankan tetao disini hingga infus habis". Dokter menjelaskan kondisi Medina saat ini.


"Baik dok terimakasih". Dokte segera kembali keruangan setelah memeriksa Medina. Rizky mengambil kursi dan duduk didekat ranjang Medina.


"Kenapa loe nolongin gue. Harusnya loe biarin aja gue disana". Medina berbicara tanpa menatap Rizky. Pandangan Medina lurus ke depan.


"Karena saya gak mau jadi duda sebelum menikah". Jawaban Rizky membuat Medina menoleh.


"Apa maksud loe". Medina tidak paham maksud perkataan Rizky.


"Ya kalau kamu sakit dan kenapa-kenapa, saya gak rela. Karena saya belum mengucapkan ijab qobul untuk kamu". Rizky mengatakan hal itu santai tanpa beban.


"Gila loe. Omongan wanita tua itu loe anggap benar". Rizky tersenyum mendengar perkataan Medina.


"Dina, boleh saya bertanya". Medina hanya berdehem menjawab Rizky. Bahkan tanpa menoleh sama sekali.


"Apa sampai saat ini kamu belum bisa memaafkan ibu kamu". Pertanyaan Rizky membuat Medina mulai tak nyaman.


"Ingat dia bukan ibu gue. Karena dia ibu gue meninggal. Dan karena dia, ayah gue benci sama gue tanpa tau faktanya". Baru kali ini Rizky kembali melihat sahabat kecilnya menangis. Setelah sekian lama air mata itu mengering.


"Bahkan saat terakhir ayah menghembuskan nafasnya, gue gak bisa ada disampingnya. Gue hanya bisa menatap dari jauh saat ayah dimasukkan keliang lahat. Seperti apa sakitnya gue Ky". Rizky hanya diam mendengarkan semua luapan emosi Medina.


"Selama ini gue masih bertahan dirumah itu karena itu hak gue. Dia pandai bermain drama seolah gue adalah pemeran antagonis. Yang sesungguhnya dia lebih busuk dari sampah. Jika bukan karena amanah mama, gue udah iklhasin rumah itu". Medina menangis sesenggukan. Rizky tak bisa memeluknya karena memang ada batasan diantara keduanya.


Pov Medina....


Medina terlahir dari keluarga cukup berada. Dia anak tunggal karena ada kelainan dalam rahim sang bunda usai Medina dilahirkan. Hingga rahim sang bunga harus diangkat.


Kehidupan mereka harmonis. Keluarga mereka terkenal dermawan. Sedari kecil, Medina sudah diasuh oleh ibunda Rizky saat kedua orangtuanya bekerja. Bunda Medina adalah asisten sekaligus sekretaris pribadi ayahnya. Kedekatan Medina dan Rizky sudah terjalin sejak kecil.


Namun kedua sahabat itu berpisah karena Rizky memilih masuk ke pondok dan sang ibu ikut mendampingi Rizky kembali ke kampung halaman. Mereka jarang sekali bertukar kabar. Beberapa kali keluarga Medina mengunjungi Rizky ke pondok tempat Rizky menimba ilmu.


Kesuksesan ayah Medina membuat banyak lawan bisnisnya iri. Beliau juga sangat jujur dalam bekerja. Bahkan beberapa kali godaan menghampiri beliau, beliau tetap tidak goyah. Walaupun hidup berkecukupan, Medina tidak pernah sombong. Dia tumbuh menjadi gadis periang, dan baik hati.


Pagi ini menjadi pagi yang penuh dengan air mata. Bunda Medina tiba-tiba terjatuh pingsan saat dikantor. Beliau segera dilarikan ke rumah sakit. Ayah Medina menunggu dengan penuh kecemasan. Hampir tiga puluh menit dokter memeriksa kondisi ibu Medina.


"Dok bagaimana kondisi istri saya". Tanya ayah Medina penuh kekhawatiran saat dokter keluar dari ruang tindakan.


"Mari kita bicara didalam saja pak". Dokter meminta ayah Medina untuk masuk kedalam ruangan.


"Sebelumnya, apakah nyonya mengalami benturan atau terjatuh pak". Ayah Medina terkejut dengan pertanyaan dokter tersebut.


"Tidak dok. Saat bersama saya, istri saya tidak pernah mengalami hal tersebut". Jawab ayah Medina yakin.


"Hmm. Menurut hasil pemeriksaan, adanya luka dalam akibat benturan pak. Dan itu mengenai bekas luka operasi nyonya". Mata ayah Medina melotot karena terkejut.


"Benarkah dok. Tapi kenapa istri saya tidak mengeluh sakit dok". Ayah Medina masih tidak percaya. Apalagi istrinya terlihat baik-baik saja.


"Maksud dokter bagaimana. Istri saya tidak pernah bekerja keras selama ini. Apa ada hal lain dok". Dokter tersebut menghela nafasnya. sebelum menjelaskan apa yang terjadi.


"Nyonya adalah pasien rumah sakit ini sejak lama tuan. Lebih tepatnya sejak dua tahun yang lalu". Ayah Medina semakin terkejut mendengar fakta tersebut. Bahkan dirinya yang merasa ada untuk istrinya setiap saat, tidak pernah tahu tentang hal itu.


"Apa yang dialami oleh istri saya dok". Ayah Medina meminta penjelasan lebih lanjut dari dokter.


"Nyonya mengidap gangguan kecemasan. Selain itu ada kanker yang tumbuh di leher nyonya". Bak disambar petir. Ayah Medina lemas mendengar penjelasan itu. Sakit separah itu tak pernah dia ketahui. Ayah Medina menatap sendu sang istri yang terbaring lemah diatas brankar.


"Mengapa istri saya bisa mengalami gangguan kecemasan dok. Selama ini saya melihat istri saya baik-baik saja". Ayah Medina ingin lebih jelas lagi mengenai penyakit sang istri.


"Saat datang dulu, nyonya pernah bercerita jika beliau risau karena tidak bisa memberikan keturunan lagi. Bahkan beberapa kali nyonya melihat tuan begitu bahagia saat bermain dengan anak didekat rumah anda tuan". Ayah Medina mulai menyadari apa yang telah dilakukannya. Dia tak menyangka jika apa yang dilakukannya itu membuat sang istri tertekan.


"Dan mengenai penyakit kanker nyonya, beliau sudah melakukan beberapa kali sinar. Kemungkinan pikiran nyonya sedang terganggu hingga membuat reaksi pada penyakitnya itu". Fakta yang tak pernah dipikirkan oleh ayah Medina. Istri tercintanya berjuang sendiri tanpa sepengetahuannya.


"Apakah boleh istri saya dirawat disini saja dok. Sampai kondisinya benar-benar stabil". Ayah Medina ingin istrinya kembali pulih dengan perawatan dokter.


"Itu memang yang saya harapkan tuan. Nanti jika kesehatan nyonya stabil, tuan bisa merawatnya dirumah". Ayah Medina mengangguk setuju. Bunda Medina segera dipindah keruang rawat.


Didalam ruang rawat, ayah Medina tak hentinya menggenggam tangan sang istri sambil berbicara. Walaupun sang istri masih belum membuka matanya.


"Bun. Kenapa gak pernah cerita sama ayah. Apa ayah sudah gak penting lagi Bun untuk tahu tentang bunda". Ayah Medina berbicara sendiri sambil mengusap telapak tangan bunda Medina. Setelah lima belas menit bunda Medina tersadar.


"Bun. Bunda sudah bangun". Sang istri hanya tersenyum lemah menatap suami tercintanya.


"Ayah kenapa menangis". Bunda Medina menghapus bulir air mata suaminya yang menetes dipipi.


"Kenapa bunda diam saja. Kenapa tidak pernah cerita kepada ayah". Seutas senyuman manis menghias wajah sang istri. Walaupun nampak pucat, tetap tidak memudarkan kecantikannya.


"Bunda baik-baik saja. Ayah gak usah khawatir". Bunda Medina mengusap pipi sang suami dengan kasih sayang.


"Ayah. Bolehkah bunda bertanya sesuatu". Ayah Medina mengangkat wajahnya menatap sang istri dan mengangguk menyetujui pertanyaan sang istri.


"Apakah ayah bahagia bersama dengannya". Pertanyaan yang tak diduga. Ayah Medina menegang wajahnya pun pucat.


"Bunda ikhlas yah jika itu membuat ayah bahagia. Bunda tau dia bisa memberikan apa yang ayah inginkan. Bunda ikhlas kok yah. Bunda hanya kecewa, kenapa ayah tidak jujur". Ayah Medina semakin menangis sesenggukan. Rasa bersalahnya semakin besar. Apalagi saat ini rahasia terbesarnya sudah diketahui sang istri.


"Maafkan ayah Bun. Maaf. Ayah tidak mau melanjutkan ini semua. Ayah khilaf Bun". Ayah Medina menangis sejadi-jadinya. Rasa bersalahnya begitu dalam.


"Mungkin ayah bingung darimana bunda bisa. tahu". Bunda Medina menjeda sebentar perkataannya. Sedangkan sang suami hanya tertunduk saja tak berani menatap mata sang istri.


"Dua bulan yang lalu dia datang menemui bunda. Dia meminta agar bisa menjadi istri kedua ayah. Apa benar dia hamil ayah". Tak ada suara tinggi dan emosi dalam perkataan bunda Medina. Ayah Medina semakin sesenggukan.


"Maafkan ayah Bun. Walaupun jujur ayah tidak yakin itu anak ayah, tapi ayah tetap bersalah karena menduakan bunda. Maafkan kesalahan ayah Bun. Ampun". Bunda Medina mengusap lembut kepala sang suami yang terus menangis.


"Jangan seperti itu yah. Nikahi dia. Jangan menambah dosa lagi yah. Bunda akan berbicara kepada Medina. Dia anak yang baik. Pasti paham". Ayah Medina semakin menjadi. Betapa luas pintu maaf sang istri. Tak ada emosi sedikitpun diwajahnya.


"Dina tidak mau memiliki ibu selain bunda". Betapa terkejutnya mereka melihat sang putri sudah berada didepan pintu. Medina tahu bundanya masuk rumah sakit dari sang sopir yang menjemputnya.


____


Hai I'm back. Ini akan aku selesaikan segera ya gess. readers tercintaku... terimakasih sudah menunggu...