RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Berkumpul



Waktu cepat berlalu. Usia si kembar Al saat ini sudah menginjak tahun ke empat. Dan mereka juga sudah memiliki sepasang adik lelaki bernama Dean Ammar dan Dean Ashraf. Shaki juga sudah berusia satu tahun. Mereka sekarang sedang berkumpul di villa milik keluarga Malik.


Bagas kembali bersama Chila dan putranya. Setelah menunggu sekian lama, Chila kembali dipercaya mendapatkan momongan. Usia kandungannya baru lima bulan, namun nampak seperti tujuh bulan. Karena calon anak Bagas dinyatakan kembar. Beberapa bulan terakhir, kesehatan Melany menurun. Usia semakin menua membuatnya mudah sakit. Arka memilih untuk tinggal divila pribadi keluarganya hanya berdua dengan Melany dan seorang pembantu.


Gelar jomblo masih tersemat untuk Devin, Ghaisan dan Rizky. Sedangkan Keynan, dengan usaha kerasnya berhasil meluluhkan hati Daffina adik Daffa. Mereka akan menikah tahun depan. Seila juga sudah berhasil menyabet gelar spesialis bedah, walaupun sempat harus menunda beberapa waktu program koasnya. Sesuai janji Atha, dua bulan lalu saat seila ulangtahun, Atha menghadiahkan sebuah rumah sakit untuk sang istri.


Mereka semua hari ini berkumpul divila Malik yang ditempati Arka dan Melany. Bahkan Afnan dan keluarga juga sudah berada di Indonesia. Mereka memanfaatkan waktu untuk bersama keluarga.


"Udara disini benar-benar sejuk dan segar. Sudah lama grandpa ingin kesini"


"Simbah kenapa gak pernah jengukin Al"


"Ck ah ni anak. Al panggil grandpa atau opa janganlah Simbah"


"Oh tidak bisa. Al sudah terbiasa memanggil Simbah"


"Emang kamu kira Simbah dukun"


"Yup"


"Dasar keturunan tengil"


Afnan sedang bersama dengan Almeer ditaman belakang vila dengan pemandangan hamparan sawah nan hijau dan sejuk. Sambil menikmati secangkir teh hangat dan pisang goreng mereka duduk berdua. Tak lama Serkan datang menghampiri.


"Simbah lagi apa sama si Al"


"Eh serkan. Lagi minum teh saja. Sini duduk samping opa"


"Simbah kung bukan opa"


"Ayolah sekali saja kalian panggil opa. Biar keren gitu"


"Gak"


"Nanti kalian minta apapun opa belikan. Asalkan kalian mau memanggil dengan sebutan opa bukan Mbah kung"


"Ternyata Mbah kung kita memang sudah pikun Abang serkan"


"Iya kamu benar sekali Al"


"Apa maksud kalian. Opa belum pikun"


"Untuk apa menawarkan apa yang bisa kami dapatkan sendiri. Lupa kami siapa"


"Ternyata sifat tengil masih menurun dari opa kamu"


Dari arah depan datang seorang anak perempuan cukup manis seusia Al dan Serkan. Dia datang membawakan pesanan sayuran untuk dimasak didalam vila. Seperti biasa pengantar sayur itu akan datang tiga hari sekali membawakan beraneka macam sayuran segar dan lauk pauk.


"Assalamualaikum pak"


"Waalaikumsalam. Maaf mencari siapa"


"Saya pengantar sayuran untuk pemilik villa ini pak"


"Oh. Silahkan masuk ke dapur saja"


"Baik pak. Permisi"


Tak disangka jika anak perempuan tadi cukup jail. Tangannya sengaja menepuk pundak Almeer. Itu membuat Serkan waspada.


Plak


"Hai. Namaku Aira. Boleh kenalan tidak"


Tidak ada jawaban dari Almeer. Bahkan Serkan sudah menampakkan wajah tak bersahabat kepada gadis itu. Afnan yang melihat kedua cucunya hanya diam saja berusaha menegur mereka.


"Al tidak baik mengabaikan orang lain yang ingin mengenalmu nak"


Serkan langsung mencegah Afnan saat tangan Almeer ditarik untuk disatukan dengan tangan Aira.


"Jangan Mbah kung. Bahaya level atas"


"Bahaya apa sih Ser. Cuma kenalan saja"


"Serkan Mbah kung jangan diputus"


Aira mulai bingung melihat Almeer yang mendadak berkeringat. Wajahnya sedikit memerah. Aira dengan sengaja mengusap pundak Almeer. Serkan langsung menepis tangan Aira dipundak Almeer.


"Kamu gapapa. Apa kamu sakit"


"Jangan sentuh dia. Kalau kamu mau kenalan, nama dia Almeer dan aku serkan. Sudah cukup. Sekarang pergilah"


Aira langsung meneteskan air matanya. Dan berlari meninggalkan vila milik keluarga Malik. Afnan berusaha menegur tindakan serkan.


"Serkan itu tidak sopan nak. Dia hanya ingin berkenalan dengan kalian. Tidak baik berbuat seperti itu"


"Mbah kung gak tau bahaya apa yang terjadi jika Almeer dipegang perempuan kecuali keluarga kami sendiri"


"Bahaya apa. Jangan mencari alasan serkan. Opa akan adukan kelakuan kalian kepada Papi dan ayah kalian"


"Ck. Mbah kung denger serkan dulu"


"Apa"


Bruttttt breeeet broootttt. Push


"Ah leganya. Nahan dari tadi"


"Bau apa ini. Kenapa bau sekali"


"Hehehehe. Joss kan Mbah kung"


"Huekkkk. Almeer"


Almeer sudah berlari masuk kedalam rumah dan langsung menuju kamar diatas. Melihat adiknya berlari aneh, Meera langsung melongok kearah teras belakang. Dia melihat Afnan mual-mual dan berjalan sambil berpegangan pada kusen pintu berusaha masuk kerumah.


"Sepertinya Almeer menyerang Mbah kung. Kasian kasian"


Ghibran yang melihat sang opa tertatih, berusaha menolong. Namun tak lama dirinya sendiri ikut mual. Karena efek gas beracun Almeer itu sangatlah kuat.


"Opa tidak apa-apa"


"Tolong opa ghibran. Selamatkan nyawa opa"


"Opa kenapa"


"Tutup hidungmu ghibran. Sebelum kamu merasakan apa yang opa rasakan"


Namun sayangnya arahan Afnan terlambat dilakukan. Ghibran sudah terlebih dahulu mengendus bau semerbak nan langka itu.


"Huekkkk. Opa pup ya"


"Nggak ya. Ini ulah Almeer. Kentut sembarangan"


"Apa Almeer bertemu perempuan selain keluarga kita opa"


"Iya anak tukang pengantar sayur. Kenapa memangnya"


"Pantaslah dia mengeluarkan bom asap"


"Kenapa memang Ghibran"


"Sebaiknya kita masuk opa, sebelum bom asap ini semakin meracuni kita"


Afnan dan Ghibran berjalan masuk kedalam rumah. Sudah ada Meera dan Serkan menyambut mereka. Seperti tanpa dosa, serkan asyik memakan kue buatan Omanya.


"Serkan kenapa kamu meninggalkan opa"


"Salah sendiri opa ngeyel"


"Opa kan tidak tahu serkan, jika Almeer tidak bisa bersentuhan dengan wanita"


"Ya sudah sekarang Mbah kung nikmati saja"


Jay dan Bagas baru kembali sehabis memancing. Dibelakang mereka si kembar Rashsya mengikuti.


"Ada apa ini. Kenapa kalian seperti habis berperang"


"Biasa opa. Almeer kelepasan"


"Kok bisa. Siapa yang mendekati pangeran opa"


"Anak tukang sayur opa. Dia menyentuh Almeer opa"


"Dan langsung keluar gas beracun Almeer mengenai Simbah kung. Gitu maksud kamu serkan"


"Ya begitulah opa"


"Hahaha. Rejeki nomplok itu namanya"


"Rejeki nomplok apanya. Anak kamu rash makan apa sih sekalinya kentut lalat sama nyamuk langsung mati"


"Mana Arash tahu uwak"


"Tapi benar, Almeer tidak bisa bersentuhan dengan wanita selain keluarga sendiri"


"Iya. Sedari kecil Almeer tidak bisa disentuh wanita lain"


"Apa sudah kamu periksakan rash"


"Sudah. Haphepobia. Takut akan sentuhan orang lain"


"Bagaimana Almeer bisa terkena penyakit seperti itu rash"


"Mungkin ini kesalahan kami uwak. Saat Almeer berusia dua tahun, dia sempat hampir dilecehkan orang lain. Sejak saat itu penyakit itu ada ditubuh Almeer. Beruntung hanya pada orang lain phobia itu berlaku tidak untuk keluarga sendiri"


"Apa berbahaya"


"Selagi Almeer bisa mengendalikan dirinya tidak akan berbahaya. Hanya saja dia akan langsung mengeluarkan senjata mematikannya"


"Kasian cucu ku. Semoga suatu saat dia bisa tetap mendapatkan jodoh yang bisa menyembuhkan dia"


"Aamiin"


_______


Kuy aq datang....kayaknya gak bisa up dulu. Badan lagi ambruk ini. Eneng juga lagi jalan-jalan sama yang yang.


Jangan lupa jempolnya


happy reading