
Tanpa terasa, pernikahan Devin dan Tisya sudah berjalan selama tiga bulan lamanya. Jalan yang mereka lalui memang tak mudah. Menyatukan dua isi kepala yang berbeda menjadi satu. Kebiasaan buruk yang tak pernah tampak. Kini mau tak mau semua terbongkar.
Tisya masih bekerja mendampingi Devin. Sebenarnya sudah ada Teddy yang cukup kompeten. Tapi untuk saat ini Devin masih membutuhkan Tisya disampingnya. Devin sedang melakukan pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Dimana ada campur tangan si kembar dan juga Bagas. Tak ketinggalan Ghaisan pun ikut andil. Dan untuk memantau semua kelancaran pembangunan, Teddy lah yang mendapat tugas istimewa tersebut.
"Sayang kamu sakit"
"Sedikit pusing kak"
"Apa mau ke dokter sayang"
"Gak usah kak. Nanti juga sembuh"
"Ya sudah. Kamu istirahat saja sayang gak usah ke kantor. Kakak temani"
"Kakak hari ini ada meeting kan sama si kembar juga"
"Gapapa. Nanti kakak online saja dari rumah. Kakak gak tega ninggalin kamu sendirian sayang"
"Oke kak"
"Kamu istirahat dulu sayang, kakak pesankan makanan dulu"
"Maaf ya kak"
"Hei gak ada yang salah kok minta maaf. Harusnya kakak yang minta maaf karena gak bisa masak. Hahaha"
Devin mengambil ponselnya dan memesan makanan dari aplikasi online. Tak lupa dia juga memberi kabar kepada si kembar jika tidak bisa hadir dan akan mengikuti rapat secara online.
"Sayang aku ambil laptop dulu sebentar"
"Hem"
Devin beranjak dari kamar tidur untuk mengambil laptop dan beberapa berkas untuk meeting yang berada diruang kerjanya. Semua Devin bawa kedalam kamar agar tetap bisa menjaga Tisya.
Pesanan makanan Devin sudah datang. Melihat Tisya terlelap, Devin memilih membawa makanan kedalam kamar. Rasanya di tak tega membangunkan sang istri. Wajahnya begitu pucat.
"Sayang makan dulu yuk"
"Ya kak"
Tisya memang sangat mudah terbangun. Dengan sedikit sentuhan saja, Tisya sudah bisa terjaga.
"Makan dulu. Wajah kamu pucat sekali sayang. Kita kedokter saja setelah makan"
"Ya kak. Tapi kakak masih meeting"
"Pekerjaan bisa nanti. Yang penting sekarang kamu sayang. Sebentar aku telpon Arash dulu sayang"
"Ya kak"
Devin kembali mengabari Arash. Dan menjelaskan kondisi Tisya. Arash pun setuju jika Devin mengutamakan Tisya. Masalah pekerjaan nanti Arash akan mengabari hasil meeting mereka.
"Kok cuma sedikit makannya sayang"
"Pahit kak"
"Ya sudah. Kamu gak usah mandi ya"
"Gak mau kak. Gerah"
"Hmm sebentar kakak siapkan air hangat"
Devin menggulung lengan bajunya hingga kesiku dan menaikkan celana bahannya hingga betis. Devin masuk kedalam kamar mandi dan menyiapkan air panas untuk Tisya.
"Ayo sayang. Airnya sudah siap sayang"
"Ya kak"
Devin mengangkat tubuh Tisya dan membawanya kedalam kamar mandi. Devin mendudukkan Tisya diatas closet. Dia membantu Tisya melepaskan pakaiannya.
"Kak. Aku bisa kok"
"Gak sayang. Kamu sedang sakit. Biar aku bantu mandikan"
"Tapi kak"
"Sudah gak usah malu. Aku suami kamu sayang. Sudah sepantasnya merawat kamu dikala sedang sakit. Yuk masuk bathup sayang"
Tisya tersenyum bahagia melihat perlakuan Devin kepadanya. Dengan penuh kelembutan Devin memandikan Tisya. Bahkan setelah selesai Devin kembali menggendongnya dan memakaikan pakaian.
"Sudah sayang. Sebentar aku ambil sisir dulu"
"Ya kak"
Devin membawa sisir dan hair dryer untuk mengeringkan rambut basah Tisya. Dia menyisir rambut Tisya perlahan agar tidak sakit.
"Dah cantik. Yuk berangkat"
"Makasih ya kak"
"Ini sudah tugasku sayang. Jadi jangan berkata terimakasih"
Devin memapah Tisya perlahan menuju parkiran mobil. Awalnya Devin ingin menggendong Tisya. Namun Tisya merasa tak enak jika dilihat banyak orang.
"Paling dekat tempat Daffina sama Seila kerja sayang"
"Ya sudah gapapa kak"
Mereka menuju rumah sakit keluarga Malik dan Gautama. Lebih tepatnya rumah sakit tersebut milik Bagas suami Chila. Bagi keluarga Alfatir dan Malik, mereka memiliki hak khusus. Devin sudah sampai dirumah sakit. Dia mencoba mendaftar di bagian dokter umum.
"Selamat pagi mbak"
"Pagi bapak. Bisa saya bantu"
"Mau daftar periksa untuk dokter umum"
"Sudah pernah periksa disini sebelumnya bapak"
"Kalau saya sudah. Tapi ini untuk istri saya. Belum pernah kesini"
"Bisa pinjam kartu anggota bapak dan identitas ibu"
"Baik sebentar"
Devin mengeluarkan kartu pendaftaran dirumah sakit tersebut dan identitas Tisya. Perawat tersebut langsung meminta maaf karena tak mengenali jika Devin adalah keluarga dari pemilik rumah sakit. Karena kartu anggota Devin memang khusus anggota keluarga.
"Maaf bapak Devin. Saya tidak mengenali bapak"
"Tidak apa-apa sus"
"Bapak silahkan memilih dokter yang diinginkan"
"Dokter umum yang ada saja dulu sus. Karena istri saya sudah sangat pucat"
"Baik pak. Langsung saja bapak ke ruangan Dokter Nurma"
"Baik sus"
Devin memapah Tisya. Salah satu perawat tadi langsung berinisiatif memberikan kursi roda kepada Tisya. Devin mendorong Tisya menuju ruangan Dokter Nurma. Nampak sudah ada beberapa orang yang menunggu didepan ruangan Dokter Nurma. Devin juga ikut menunggu.
"Kita nunggu sebentar gapapa kan sayang"
"Iya kak gapapa. Gak banyak ini"
Salah satu kepala rumah sakit datang khusus menemui Devin dan Tisya setelah mendapat laporan jika salah satu keluarga pemilik rumah sakit sedang melakukan pemeriksaan.
"Selamat pagi pak Devin. Maaf saya tidak tahu bapak sedang berada di rumah sakit ini"
"Tidak masalah Dokter Raga. Apa kabar dok"
"Baik. Baik sekali. Siapa yang sakit pak"
"Istri saya"
"Oh ibu. Maaf saya tidak menyambut tadi"
"Kami bukan pejabat dok. Jadi tidak perlu disambut"
"Pak Devin bisa saja. Tapi mengapa bapak Tidka langsung masuk saja. Dokter Nurma apa belum datang"
"Saya juga belum tahu dok"
"Sebentar saya coba periksa dulu"
"Silahkan"
Devin kembali duduk. Dokter Raga masuk kedalam ruangan Dokter Nurma dan ternyata memang sang Dokter belum datang. Dokter Raga langsung menghubungi Dokter Nurma agar segera datang. Karena Devin sedang menunggu.
"Maaf pak Devin. Dokter Nurma sedang perjalanan"
"Iya Dok tidak apa-apa"
Tisya tiba-tiba merasa mual. Dan ingin ke kamar mandi.
"Kak. Aku mual"
"Oh ayo ke toilet sayang"
Baru saja berdiri dan akan melangkah ke toilet, Tisya sudah pingsan. Devin langsung panik. Dokter Raga pun sama. Beberapa pasien disana juga ikut kaget. Mungkin jika Tisya tadi mau menggunakan kursi roda pasti tidak akan pingsan.
"Sayang"
"Pak Devin langsung bawa masuk ke ruangan VVIP saja. Nanti biar Dokter yang memeriksa kesana"
"Ya Dok"
Dokter Raga langsung menginstruksikan kepada perawat agar menyiapkan ruangan VVIP khusus keluarga. Devin membopong tubuh Tisya menuju lantai lima dimana disana ruangan khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit.
Tak lama datang tiga orang dokter terbaik untuk memeriksa Tisya secara khusus. Devin sudah sangat panik. Dia takut terjadi sesuatu yang serius dengan Tisya.
________
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy Reading