RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Assalamualaikum mah"


"Waalaikumsalam. Ada apa bang"


"Mah. Hmmm. Itu"


"Apa sih bang"


"Ichan jadi kawinnnnn mahhhh"


"Hahhhh. Sama siapa"


"Sama perempuan lah mah"


"Iya siapa bang"


"Yang kemarin itu"


"Ck. Abang dimana sekarang"


"Masih dijalan mah"


"Matikan teleponnya dan pulang cerita yang benar"


"Nanti mah. Mau kumpulan dulu sama anak-anak"


"Ya sudah. Jangan malam-malam bang. Papa pulang malam nanti"


"Syiap mama sayang. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ghaisan menutup panggilannya kepada sang mama. Sahabat sekaligus saudaranya sudah menunggu untuk berkumpul di kafe pelangi. Rutinitas weekend jika mereka senggang. Hati Ghaisan sedang bahagia. Namun dia ingin merahasiakan ini semua hingga hari lamaran tiba. Cukup kedua orangtuanya saja yang tahu.


Ghaisan sudah sampai diparkiran kafe pelangi. Setelah memakirkan mobilnya, Ghaisan masuk ke dalam kafe dan menuju ruang VVIP. Didalam ruangan VVIP saya dah menunggu beberapa sahabatnya. Sedangkan yang lain masih dalam perjalanan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Dari mana loe dakocan. Gue tadi mampir rumah loe, kata mama loe pergi"


"Iya. Gue emang pergi"


"Tumben. Loe kan gak pernah keluar rumah kecuali ngumpul sama kita kalau weekend"


"Kepo amat sih kalian"


Mereka asyik bercanda hingga sore menjelang. Walaupun sebagian dari mereka sudah memiliki anak, namun jiwa muda mereka tak pernah lekang oleh waktu.


Ghaisan sampai dirumahnya selepas Maghrib. Dia sempat mampir di masjid saat perjalanan. Tiba dirumah, Ghaisan langsung membersihkan tubuhnya. Ghaisan memilih merebahkan tubuhnya sambil menunggu waktu makan malam tiba. Saat tiba dirumah, sang asisten rumah tangga memberitahukan jika kedua orangtuanya sedang keluar menjemput seseorang.


Tak sadar Ghaisan terlelap karena lelah. Syaqilla terpaksa masuk kedalam kamar Ghaisan untuk membangunkan sang putera. Setelah usahanya mengetuk pintu tak juga mendapat jawaban.


"Abang. Ayo makan dulu Abang"


"Hmmm. Maah"


"Iya. Ayo Abang bangun makan malam dulu. Sudah ditunggu sama papa dan Atuk"


Mendengar mamanya menyebut nama sang Atuk, mata Ghaisan langsung terbuka. Bahkan kesadarannya pun langsung pulih.


"Atuk mah"


"Iya. Atuk baru datang tadi sore Abang. Yuk turun"


"Ya mah. Ichan cuci muka dulu"


"Oke. Jangan lama-lama"


"Iya mah"


Syaqilla meninggalkan kamar Ghaisan bersamaan dengan Ghaisan yang berjalan menuju toilet untuk membasuh wajahnya agar lebih segar. Ghaisan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan setelah bangun tidur.


Ghaisan berjalan turun ke arah ruang makan. Dari atas terdengar suara sedikit riuh. Ghaisan memang belum mengetahui jika Atuk Syakir datang dengan tujuan tertentu.


"Tumben berisik banget"


Ghaisan bergumam sambil berjalan menuju ruang makan. Betapa terkejutnya Ghaisan. Disana tidak hanya kedua orangtuanya dan sang Atuk. Namun juga ada dua orang paruh baya lainnya.


"Assalamualaikum tuk"


Ghaisan mengucapkan salam pada sang Atuk dan mendekat untuk mencium tangannya. Mereka juga saling berpelukan.


"Atuk apa kabar"


"Sehat. Alhamdulillah"


Ghaisan menjawab perkataan sang Atuk sambil tersenyum tipis yang bisa dilihat dengan jelas oleh Atuk Syakir.


"Heh anak nakal. Kamu ngolok Atuk ya"


"Nggak. Atuk mana berani Ichan gitu"


"Heleh. Sok baik"


"Ichan emang baik"


"Oya. Atuk lupa mengenalkan kedua teman Atuk"


Ghaisan tersenyum sambil mengangguk pelan sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.


"Mereka berdua teman Atuk di Malaysia. Datuk Hamid dan Nyonya Halimah. Mereka sengaja Atuk bawa berkunjung untuk mengenalkan cucu tampan Atuk ini"


Kedua orangtua Ghaisan dan juga Ghaisan langsung melipat dahinya. Mereka belum mengerti maksudnya perkataan Atuk Syakir.


"Maksud Atuk gimana"


"Ghaisan. Ingatkan perkataan Atuk. Dalam waktu satu bulan lagi kamu harus menemukan calon pendamping. Dan ini hanya tinggal beberapa hari lagi waktu kamu"


"Kok Atuk gak adil gitu. Bukannya perjanjian kita bulan depan Atuk"


"Ya kan semakin cepat. Semakin baik. Apalagi ini niat baik Ghaisan"


"Ck. Gak konsisten"


"Bagaimana. Sudah bisa menunjukkan kepada Atuk. Jika belum maka kamu akan menerima perjodohan dari atuk"


"Maaf Atuk jika Ghaisan berkata kurang sopan"


"Apa yang ingin kamu katakan"


"Atuk. Apa tidak akan menyakiti perasaan kedua tuan dan nyonya ini jika kedatangan mereka tak menghasilkan apapun nantinya"


"Maksud kamu. Kamu sudah memiliki calon pendamping hidup"


"Benar Atuk. Ghaisan sudah melamar gadis itu secara pribadi dan Ghaisan sudah mengatakan akan membawa keluarga Ghaisan melamar secara resmi"


"Wah itu berita baik. Tapi Atuk tetap harus tau siapa gadis itu. Dan untuk masalah Datuk Hamid dan Nyonya Halimah, mereka berniat untuk mengenal mu saja. Jika memang tidak berjodoh dengan putrinya, mereka tidak jadi masalah. Bukan begitu Datuk"


Datuk Hamid dan Nyonya Halimah sama-sama tersenyum manis untuk menjawab pertanyaan Atuk Syakir.


"Benar sekali Datuk Syakir. Kedatangan kami kemari berniat hanya silaturahmi saja. Dan memang kami ingin mengetahui seperti apa calon imam yang diajukan oleh teman terbaik saya ini. Bukan kami tidak percaya akan kemampuan dan juga rupa dari keluarga Mahendra, hanya saja kami ingin memastikan sendiri. Untuk masalah perjodohan yang diajukan Datuk Syakir, kami memang sangat sah sepakat akan menerima apapun hasilnya nanti. Kami tidak akan memaksa. Karena jodoh memang sudah diatur oleh Allah"


Kedua orangtua Ghaisan dan Ghaisan mulai bisa bernafas lega mendengar jawaban dari kedua tamu istimewa itu. Awalnya mereka ragu, jika mengetahui Ghaisan sudah memiliki pilihan sendiri dan mereka merasa dipermainkan. Syamil mewakili Ghaisan, mengucapkan terimakasih atas keikhlasan kedua tamu istimewa tersebut.


"Saya sebagai papa Ghaisan, hanya bisa berucap terimakasih atas keikhlasan Datuk menerima keputusan putra kami. Semoga kita bisa tetap bersaudara walaupun kedua anak kita tidak terikat hubungan halal"


"Sungguh bukan masalah besar nak Syamil. Kita tetaplah saudara"


"Hahaha. Iya itu memang benar"


Mereka melanjutkan makan malam dengan tenang. Usai makan malam, kedua tamu Atuk Syakir berpamitan untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan, mereka bersyukur meminta sang putri untuk tetap menunggu dihotel. Sehingga sang putri tidak mengetahui wajah Ghaisan.


Atuk dan kedua orangtua Ghaisan kini duduk menghadap Ghaisan. Ghaisan saat ini seperti terdakwa yang sedang diadili.


"Bagaimana ceritanya kamu melamar sendiri bang. Dan kami tidak kamu beritahu"


"Maaf pah. Awalnya Ichan hanya datang untuk memberi dan mendengarkan jawaban dari sholat istikharah yang kami lakukan selama satu Minggu ini. Namun Ichan gak mau kalau cuma pacaran ataupun gantung distatus hanya sebagai tunangan"


"Siapa gadis itu Ghaisan"


"Namanya Arumi Nasha Razeta. Putri pertama Wijaya Anggara"


Mendengar nama Wijaya Anggara tidak hanya papa Ghaisan, bahkan bang Atuk merasa tak percaya. Apalagi selama mereka mengenal dan menjalin kerjasama dengan tuan Wijaya. Tak sekalipun mereka mengetahui jika putri keluarga Wijaya berada di Indonesia.


"Sebentar. Kamu tidak bercanda kan Ghaisan. Atuk tidak mau kamu berbohong"


"Atuk. Sejak kapan Ghaisan berbohong. Apa yang Ghaisan katakan itu semua benar"


"Baiklah jika memang kamu tidak berbohong, besok bawa Atuk menemui keluarga Arumi. Atuk akan memastikan sendiri'


"Oke"


______


Maaf ya...baru update.. Insyaallah mulai bulan ini ada perubahan. Selama satu Minggu saya akan update bergantian antara Ghaisan dan Eneng. jika hari ini Ghaisan, maka Eneng akan update besok... terimakasih


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading