RashSya Story

RashSya Story
CPS~Rizky Story



"Assalamualaikum Kyai". Sapa Rizky sambil mencium tangan Kyai yang sudah mendidiknya saat berada di pondok pesantren.


"Waalaikumsalam anakku". Jawab Kyai dengan diiringi usapan lembut dipucuk kepala Rizky.


"Kyai dan Nyai sehat". Tanya Rizky.


"Barrakallahu anakku. Bagaimana kabar ibu antum". Tanya Kyai.


"Alhamdulillah". Jawab sang Kyai.


Rizky sedang menghadiri undangan pengajian dari perkumpulan pemuda masjid dari berbagai daerah. Rizky juga tak menyangka jika akan bertemu kedua orang sambungnya saat dipesantren. Rizky juga bertemu dengan ustadz yang dulu juga ikut membimbingnya. Ustadz tersebut juga mengetahui perihal rencana Rizky ingin melakukan ta'aruf kepada salah satu temannya.


"Assalamualaikum ustadz Ali". Sapa Rizky.


"Waalaikumsalam. Oh Rizky. Tak menyangka bisa bertemu disini". Ucap ustadz Ali.


"Iya ustadz. Ustadz sehat-sehat saja". Tanya Rizky.


"Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat". Jawab Ustadz Ali.


"Alhamdulillah. Sudah lama tidak bertemu kita. Bagaimana dengan kabar ta'aruf ustadz". Tanya Rizky.


"Belum menjadi rezeki ana. Hahaha". Jawab ustadz Ali diiringi gelak tawanya. Rizky hanya tersenyum saja.


"Oya baru ingat. Bagiamana niat kamu mengkhitbah Salma. Apa sudah antum lakukan". Tanya ustadz Ali.


"Afwan ustadz. Ana sudah memiliki pilihan lain. Dan akan segera mengkhitbahnya". Jawab Rizky.


"Ada apa. Tapi antum sudah mengajukan proposal ta'aruf kepada Salma atau belum". Tanya ustadz Ali.


"Alhamdulillah belum ustadz". Jawab Rizky.


"Syukurlah. Lalu siapa akhwat tersebut". Tanya ustadz Ali.


"Anak dari teman ibu saya. Kami sudah saling mengenal sejak kecil ustadz". Jawab Rizky.


"Begitu. Ana doakan semoga lancar. Jangan lupa selalu berserah kepada Allah". Ucap ustadz Ali.


Pengajian berlangsung dengan khidmat. Acara juga diselingi dengan game-game seru. Hampir tiga jam pengajian berlangsung. Saat akan meninggalkan masjid, Rizky mendapat panggilan telepon dari Arash. Panggilan dari Arash tidaklah lama. Usai menyimpan ponselnya, Rizky bergegas menuju parkiran. Hari ini Rizky menggunakan mobilnya karena lokasi pengajian lumayan jauh.


Hujan turun dengan derasnya. Rizky memperlambat laju kendaraannya. Hujan semakin lebat dan bercampur angin. Rizky memilih mencari tempat untuk berhenti. Karena sangat bahaya jika dia mengendarai mobil dalam keadaan hujan bercampur angin kencang.


Rizky sudah mengirim pesan kepada sang ibunda jika dia akan pulang terlambat. Rizky berhenti didepan sebuah ruko yang pintunya tertutup rapat. Rizky beristirahat didalam mobil sambil mendengarkan murotal. Rizky tersentak ketika tiba-tiba kaca mobilnya diketuk oleh orang.


"Tolong. Tolong bang". Suara teriakan dari luar mobil.


Rizky membuka kaca mobilnya dan melihat siapa yang mengetuk pintu mobilnya. Dua orang anak kecil terus mengetuk kaca pintu mobil Rizky.


"Ada apa dek". Tanya Rizky saat sudah membuka kaca mobilnya.


"Bang tolong. Kakak kami pingsan bang. Badannya panas banget". Ujar salah seorang anak kecil itu.


"Dimana rumah kalian". Tanya Rizky dengan nada khawatir.


"Dibelakang ruko ini bang. Tolong bantu kakak kami bang". Ucap anak kecil itu lagi.


Dengan cepat Rizky merespon. Rizky mengikuti lari kecil kedua bocah tadi dibawah guyuran air hujan. Rizky melihat sebuah rumah sederhana dibalik bangunan ruko-ruko tersebut. Hal ya h membuat Rizky semakin kaget adalah didalam rumah itu terdapat banyak anak kecil.


"Kalian tinggal disini". Tanya Rizky.


"Iya kak. Kami semua tinggal disini". Ucap anak kecil tadi.


"Lalu dimana kakak kalian". Tanya Rizky.


"Ayo kak kita masuk". Anak tersebut menarik lengan Rizky.


Beberapa anak yang duduk dan menangis menatap kearah Rizky dengan penuh harapan. Rizky benar-benar tersentuh melihat sepasang mata anak-anak yang menatapnya.


"Innalilahi Medina". Ucap Rizky spontan setelah melihat siapa kakak mereka.


"Kakak kenal kak Dina".Tanya anak kecil tadi.


"Iya. Dia teman kakak. Bisa kalian tolong kakak. Temani kakak mengantar kak Dina ke rumah sakit". Pinta Rizky.


"Iya kak. Ayo buruan kak". Anak kecil tadi bersemangat.


Rizky mengangkat tubuh Medina yang sebelumnya sudah dibalut dengan jaket yang dipakainya. Dengan ditemani beberapa anak yang tadi memanggil Rizky saat didalam mobil. Rizky merebahkan tubuh Medina di kursi penumpang dengan ditemani seorang anak perempuan dan satu anak lagi berada di kursi depan.


Beruntung ada klinik didekat ruko tersebut dan hujan sudah tak begitu lebat. Rizky memilih membawa Medina ke klinik terdekat untuk pertolongan pertama. Rizky kembali menghubungi sang ibunda dan menceritakan kondisinya saat ini.


"Bagaimana kondisi teman saya dok". Tanya Rizky ketika dokter yang memeriksa Medina keluar dari ruangan.


"Nona itu hanya terlalu stress dan kekurangan cairan saja". Jawab dokter tersebut.


"Alhamdulillah jika tidak ada yang berbahaya". Ucap Rizky penuh rasa syukur.


"Tapi saya sarankan untuk malam ini tetap menginap diklinik dan menunggu hingga infus habis". Ucap dokter tadi.


"Oh baiklah dok jika itu memang terbaik". Rizky menyetujui saran dokter tersebut.


Setelah dokter itu pergi meninggalkan Rizky dan dua bocah yang sedari tadi terdiam menunggu kabar tentang Medina, Rizky kembali menghubungi ibundanya dan meminta kepada ibunya untuk memberikan kabar kepada orangtua Medina.


"Kak. Apa kak Dina parah sakitnya sampai harus nginap". Tanya salah satu bocah itu


"Tidak. Kak Dina hanya istirahat saja semalam. Besok sudah bisa pulang kok". Ucap Rizky.


"Begitu ya. Semoga kak Dina baik-baik saja". Ucap bocah tadi.


"Oya siapa nama kalian. Kita belum berkenalan loh". Ucap Rizky.


"Saya Lani kak dan ini Agung. Kakak siapa". Ucap Lani.


"Saya Rizky. Kalian bisa kenal dengan kak Dina dimana". Tanya Rizky.


"Kak Dina yang menampung kami kak. Dulu kami tinggal di panti asuhan. Terus ibu panti meninggal karena sakit. Kami tidak ada yang merawat. Kami bahkan mencari makan dengan mengamen dan memulung. Waktu itu kami sedang memulung, kami dikira mencuri oleh ibu-ibu di komplek perumahan mewah. Kami sempat mau dibawa ke kantor polisi. Beruntung kak Dina lewat dengan temannya kak Nurul menolong kami hingga saat ini mereka yang selalu merawat kami kak". Ucap Agung.


"Subhanallah. Lalu dimana kak Nurul. Kenapa tidak bersama kak Dina". Tanya Rizky.


"Kami juga tidak tahu kak. Kak Dina sudah menginap dirumah singgah selama satu Minggu ini kak". Jelas Agung.


"Hmm begitu. Oya kalian sudah makan belum". Tanya Rizky.


"Belum kak. Karena kak Dina sakit, tidak ada yang memasak untuk kami". Jawab Agung.


"Ya Allah. Dan semua dirumah singgah juga belum ada yang makan Gung". Tanya Rizky.


"Iya kak". Jawab Agung lirih.


"Ya sudah. Ayo kita beli makanan untuk kalian dan semua anak dirumah singgah. Sekalian kakak antar kalian pulang. Nanti biar kakak yang menjaga kak Dina disini". Pinta Rizky.


"Terimakasih kak". Jawab Agung.


Rizky menemui perawat di klinik dan mengatakan hendak mengantar kedua anak itu pulang kerumah. Rizky juga berkata akab seger kembali setelah mengantarkan kedua anak tadi.


Rizky membawa mereka ke restoran cepat saji


Karena hanya restoran itu yang masih buka hingga malam hari. Rizky meminta Agung mengingat jumlah anak yang berada dirumah singgah. Usai membayar makanan, Rizky mengantarkan Agung dan Lani kembali kerumah singgah. Hati Rizky begitu perih mendengar tangis beberapa anak yang masih berusia dibawah lima tahun karena mereka lapar.


Melihat anak-anak begitu lahap menghabiskan makanan yang dibawa oleh Rizky. Rizky memastikan semua tertidur lelap. Rizky kembali ke klinik setelah memastikan semua terlelap.


______


Hai aku kembali...maaf lama... terimakasih sudah menunggu