
...Awas Kawasan penuh ranjau berbahaya...
......Author gak tanggung jawab ya....😁😁😁😁😁......
...18++...
______
Resepsi pernikahan Atha dan seila berjalan dengan mewah dan meriah. Atha sangat bahagia karena semua sahabatnya bisa hadir semua. Kedua belah pihak keluarga juga sama bahagianya. Banyak klien Atha yang terkejut mendapat undangan pernikahan dari Atha. Selama ini tak pernah terdengar kabar seorang Ghaydan Athalla Septian dekat dengan seorang wanita.
Para tamu undangan benar-benar menikmati pesta yang mewah itu. Apalagi di sana ada keluarga Alfatir dan Malik. Kesempatan bagi mereka untuk sekedar saling berkenalan.
Sejak kejadian Eneng merusuh pagi tadi, seila masih penasaran dengan sosok Eneng. Apalagi dari atas pelaminan Eneng sangat akrab dengan si kembar bahkan keluarga Malik juga sangat akrab dengannya.
"Sayang kamu lihat apa sih kok dari tadi kakak perhatikan kamu lihat kearah sana terus"
"Hmmm. Anu kak"
"Apa sayang"
"Tapi kakak jangan marah ya"
"Kenapa harus marah sayang"
"Seila mau tanya"
"Apa sayang"
"Siapa si perempuan yang bersama si kembar kak"
"Oh markoneng. Kenapa emangnya sayang"
"Dia siapa sih kak. Sepertinya sangat dekat dengan kakak ya"
"Dekat banget malahan sayang"
"Apa kalian bersaudara"
"Ya kami bersaudara sayang. Lebih tepatnya saudara dadakan"
"Seila gak mudeng kak"
"Ntar kakak cerita siapa markoneng sayang. Kamu penasaran banget ya. Kok bisa dia sedekat itu sama Chika dan si kembar"
"Iya kak"
"Simpan rasa penasaran mu itu sayang. Sekarang kita sambut dulu para tamu yang akan mendoakan kebahagiaan kita"
"Ya kak"
Tamu terus saja berdatangan. Bahkan satu jam sebelum batas waktu yang tertera dalam undangan, masih banyak yang datang. Keluarga Gio juga hadir. Mama gio yang awalnya sangat memandang rendah seila, kini hanya bisa diam. Gio berusaha untuk terus bisa mengikhlaskan seila.
"Selamat ya sel. Akhirnya loe bertemu dengan belahan jiwa loe dengan cara yang sangat loe impi-impikan sedari dulu. Sekarang gue yakin loe akan bahagia. Gue juga mau pamit sel. Gue udah keterima kuliah diluar negeri. Semoga saat kita bertemu lagi, persahabatan kita masih sama sel"
"Makasih Gi loe udah menyempatkan waktu untuk datang. Gue hanya bisa berdoa semoga loe sukses nantinya. Dan gue akan selalu menjadi sahabat loe gi"
Setelah mengatakan kata perpisahan, gio langsung meninggalkan ballroom hotel tersebut tanpa menunggu kedua orangtuanya yang sedang berusaha mendekati Jay.
Hari semakin beranjak sore. Acara resepsi selesai melebihi batas waktu yang sudah ditentukan. Kedatangan teman-teman sikembar dan Atha sewaktu putih biru dan putih abu, menahan lebih lama Atha berada di ballroom. Seila sudah lebih dahulu masuk ke kamar hotel yang sudah disiapkan untuk pasangan pengantin baru tersebut.
Dan saat ini Atha sudah berjalan menuju kamar pengantinnya. Lelah sudah mendera tubuhnya. Dia sangat ingin merasakan empuknya ranjang.
tok tok
Seila mendengar suara pintu diketuk, dia yang baru saja selesai menunaikan ibadah sebagai hamba dan masih menggunakan mukena langsung membukakan pintu.
"Assalamualaikum sayang"
"Waalaikumsalam kak"
Seila meraih tangan sang suami dan menciumnya. Atha yang masih merasa hal baru ini hanya bisa tersenyum.
"Kamu habis sholat sayang"
"Iya kak. Kakak udah sholat belum"
"Belum. Ya udah aku mandi dulu sayang"
"Ya kak"
Atha langsung masuk kedalam toilet. Sedangkan seila masih menggunakan mukenanya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya membalas pesan teman-temannya. Atha keluar dari toilet hanya menggunakan bathrobe dan handuk kecil diatas kepala untuk mengeringkan rambutnya.
"Sayang, Sajadahnya dimana"
Seila yang tadinya fokus dengan layar ponselnya, langsung terkejut melihat Atha sudah berdiri didepannya dan nampak dada bidangnya sedikit terekspos dibalik bathrobe.
"Eh iya kak, sebentar kak aku ambilkan"
Seila berjalan mengambil sajadah untuk suaminya. Atha mencari koper miliknya untuk mengambil baju ganti.
"Kak ini sajadahnya"
"Makasih sayang. Oya koper aku dimana ya sayang"
"Bentar seila tadi lihat ada diruang tamu kak"
Seila berjalan diikuti oleh Atha dibelakangnya. Dan ternyata memang koper Atha berada diruang tamu. Atha langsung mengangkatnya sebelum seila yang mengangkat. Saat Atha akan berjongkok mengambil pakaiannya, seila lebih dulu mengambil alih.
"Kak biar seila saja yang ambilkan pakaian kakak"
"Hmmm. Mau jadi istri sholehah ya"
"Iyalah. Kan sekarang udah menjadi nyonya Atha. Hahaha"
"Cie cie uhuy"
"Kakak udah dong jangan godain seila terus ih"
Seila sudah memilihkan pakaian untuk sang suami dan mengulurkannya. Atha menerima dengan senang hati. Dan masuk ke toilet untuk memakai pakaiannya.
"Ya kak"
"Kamu lupa sesuatu gak"
"Apa ya kak"
"Masa kamu gak ngasih kakak underwear. Kakak kamu suruh gak pake gitu"
"Astaghfirullah, lupa kak. Bentar seila ambilkan"
Seila kembali membuka koper Atha DNA mencari letak benda rahasia itu berada. Setelah menemukan, seila langsung mengambilkan satu untuk suaminya.
"Kakak ini udah seila ambilkan"
Atha membuka pintu kamar mandi sedikit. Dan mengulurkan tangannya kepada sang istri. Atha sedikit jahil dengan menarik tangan seila.
"Kakakkkk"
"Hahaha"
"Ih jahil banget sih"
Atha keluar setelah berpakaian lengkap. Dan masih sambil tertawa karena berhasil menjahili sang istri. Atha langsung menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, sedangkan seila masih duduk dibelakang Atha. Selesai dengan kewajibannya, Atha berjalan mendekati sang istri yang sedang tertawa membaca pesan dari para sahabatnya.
"Baca apa sih kok sampai ketawa gitu"
"Ini kak lagi chattingan sama anak-anak gak waras"
"Anak-anak gak waras sayang"
"Iya. Karina, Putri sama Hana kak"
"Oh. Ngomong apa emangnya"
"Ngomong malam pertama sama lingerie kak"
"Wow dong"
Seila yang tersadar dengan perkataanya tadi langsung salah tingkah. Dan memalingkan wajahnya agar Atha tak melihat semburat merah di pipinya.
"Kita istirahat yuk sayang. Capek banget nih badan"
"Tapi ini udah sore loh kak. Nanggung bentar lagi Maghrib"
"Ya rebahan aja. Yuk"
"Kemana kak"
"Keranjang lah sayang. Masa mau disofa"
"Eh eh. Iya kak"
Seila yang digandeng oleh Atha menuju ranjang hanya bisa menunduk. Jantungnya tiba-tiba menjadi berdetak sangat cepat. Atha melepas tautan tangannya dan melemparkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ah nyamannya"
Seila duduk ditepi ranjang sambil memainkan jari-jemarinya. Gugup itu yang dirasakannya. Atha yang melihat sang istri duduk terdiam, dia langsung bangun dari tidurnya dan memeluk seila dari samping.
"Kenapa kamu diam saja sayang. Gak nyaman sama kakak"
"Bukan kak. Belum biasa saja"
"Gak usah gugup sayang. Kita jalani sesuai alurnya aja"
"Iya kak"
"Mukenanya dilepas ya sayang"
Seila sedikit terkejut dengan permintaan sang suami. Namun dia juga sadar kalau mereka sudah menjadi muhrim. Seila hanya bisa mengangguk saja. Perlahan Atha melepas tali yang berada di kepala seila dan membuka mukena milik sang istri. Mukena itu akhirnya berhasil terbuka dengan sempurna. Atha lalu melepas jepit rambut yang tersemat di atas kepala seila agar rambut seila tergerai.
"Kamu cantik sekali sayang"
Seila hanya bisa menunduk karena masih malu. Atha membelai rambut seila dan sesekali mengecupnya. Melihat sang istri hanya menunduk, Atha meraih dagu seila dan mengarahkan wajahnya menghadapnya.
"Kenapa menunduk hm"
"Malu kak"
"Kenapa harus malu. Sekarang kita sudah halal sayang. Apa yang ada dirimu adalah milikku dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan aku berharap kamu merasakan hal yang sama padaku sayang"
"Iya kak"
Atha yang terhipnotis dengan bibir mungil merah merekah milik istrinya, perlahan dia mendekat kearah bibir yang menggoda itu. Perlahan bibir mereka kini saling menyatu. Namun belum ada pergerakan dari masing-masing mereka. Merasa mendapat ijin, Atha menutup matanya dan mulai ******* bibir mungil itu. Seila yang terbawa suasana hanya bisa membalas sebisanya.
Atha sudah berhasil menerobos masuk lebih dalam lagi ciuman mereka dan mereka saat ini telah bertukar saliva. Karena merasa kekurangan oksigen, Atha melepaskan ciuman itu. Dia menyatukan keningnya dan kening seila. Atha mencium kening, kedua kelopak mata sang istri. Dan kembali mengarah pada bibir mungil itu.
Tangan Atha kini juga ikut bergerak. Perlahan membelai punggung seila. Seila hanya bisa menikmati saja apa yang suaminya lakukan. Tangan Atha sudah berpindah ke perut ramping istirnya. Dari balik gamis yang dipakai oleh seila, Atha memberanikan diri untuk meraba lebih lagi. Perlahan tangannya sudah mencapai tepian gunung Fuji. Sambil menunggu reaksi istrinya, Atha memijit perlahan tepian gunung Fuji itu.
Seila yang merasakan sensasi ini untuk pertama kalinya hanya bisa melenguh perlahan saja. Atha senang melihat respon sang istri. Perlahan tangannya semakin keatas hingga tangannya bisa dipenuhi satu gunung Fuji itu. Pijatan yang diberikan oleh Atha semakin menghanyutkan seila.
Bibir Atha mulai berpindah menuju leher jenjang mulus milik sang istri. Dia bahkan meninggalkan jejak di sana. Beruntung gamis yang digunakan oleh seila memiliki resleting didepan. Perlahan Atha menurunkannya sambil terus memijit gunung Fuji. Dan bibir yang menyusuri jalan tol mulus itu.
Perlahan gamis itu sudah terbuka di bagian depan. Seila yang terhanyut masih memejamkan matanya. Apalagi bibir Atha sudah berpindah semakin ke bawah. Atha menurunkan lengan gamis seila perlahan tanpa menghentikan kegiatannya itu. Kini tiba dia diatasi gunung Fuji itu. Atha memberikan jejak di sana. Saat akan menemui puncak gunung Fuji terdengar suara adzan dari masjid diarea dalam hotel milik Arsya.
"Sayang mau lanjut atau sholat dulu"
"Hmmmmm"
_________
Huahhhhhh awas panasssss
Jangan lupa jempolnya
Happy reading