RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Perisai Dedemit



Annisa dan Chila akan menyusul Bagas dan Arash ke Perancis. Mereka sengaja tidak memberi kabar kepada dua orang itu. Hanya meminta Keynan untuk menjemput di bandara.


Tiga hari yang lalu beredar kabar tak menyenangkan mengenai Bagas dan Arash. Mereka diberitakan menjalin hubungan dengan putri seorang pengusaha dan juga model brand ambasador untuk peluncuran produk parfum terbarunya.


"Chil uda ngabarin Kak Key"


"Uda mbk. Aku juga uda bilang jangan sampe mereka berdua tahu kita datang"


"Bagus. Setidaknya kita bisa tau kelakuan para kuntilanak yang mengganggu milik kita"


"Libas habis pokoknya mbk"


"Setujuuu. Kita harus menjadi perisai untuk mereka dari para dedemit lucknut"


Mereka sudah bersiap. Kebetulan kedua orangtua mereka sedang berada di Jerman untuk waktu yang cukup lama. Tiga bulan tidak bertemu sang suami memang tak berpengaruh banyak untuk Icha karena memang pikirannya teralih dengan skripsi. Berbeda dengan Arash yang terus meminta Icha segera menyusul.


Malam sudah bertambah larut, Daffa mengantarkan kedua calon emak singa itu ke bandara. Daffa juga harus jaga rahasia tentang kedatangan dua putri Keluarga Malik.


"Kak daf awas sampe ngasih tau Abang dan Bagas"


"Ck kalian itu kenapa harus pake rahasiaan segala sih"


"Gak usah kepo. Tau gak kebanyakan orang kena serangan jantung karena kepo"


"Hmmm. Ya ya"


Ponsel Chila dan Icha sudah berdering. Pangeran mereka menghubungi seperti biasanya. Mereka menjawab bersamaan. Daffa yang mendengar merek kompak sedang berbohong hanya bisa terkikik. Usai berkirim kabar, Icha dan Chila kompak menonaktikan ponsel mereka.


Mereka sudah berada di bandara dan sedang menunggu pesawat mereka untuk berangkat. Saat sedang asyik menunggu mereka didekati dua pria tampan berwajah oriental. Daffa yang masih menunggu hingga pesawat mereka berangkat, menggunakan momen itu untuk membuat dua orang yang sedang berada dibelahan dunia lainnya gerah.


"Hai mau pergi kemana kalian"


"Hai. Kami mau ke perancis"


"Mau liburan ya"


"Ya begitulah"


"Boleh kita kenalan"


"Hmm boleh"


"Gue Zaldiandra dan ini sepupu gue Zidane"


"Hai gue Kirana dan ini kakak gue Kinanti"


Daffa menahan tawa karena Chila memalsukan nama mereka. Diam-diam Daffa mengambil foto mereka dan mengirimkan kepada Bagas dan Arash dengan tajuk.


"Ngawal nyonya muda ke mall meet up"


Setelah pesan terkirim, Daffa langsung menyimpan ponselnya. Panggilan dari pesawat yang ditumpangi Chila dan Icha akan segera berangkat. Mereka pun berpisah dengan kenalan baru mereka.


Daffa sudah melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Saat akan menutup pintu mobil, ponselnya berdering.


Panggilan masuk dari Arasb. Daffa hanya tersenyum menyeringai.


"Apa bro"


"Dimana Icha daf"


"Ke toilet. Kenapa"


"Loe bisa gak sih jagain Icha. Kok sampe bisa dia ketemu sama pria"


"Ck. Ketemu juga gak sengaja. Disana ada gue dan Chila juga kan"


Dari ponsel Arash terdengar pamggilan Bagas menanyakan Chila.


"Bang Daf. Chila disitu gak"


"Masih ditoilet"


"Tolong bilangin ponselnya suruh aktifin"


"Kayaknya tadi tuh duo nyonya lagi kehabisan baterai"


"Pokoknya sekarang juga bawa pulang mereka berdua daf"


"Syiap bosque"


Arash langsung menutup panggilannya. Daffa tertawa terbahak-bahak didalam mobil. Dia sudah membayangkan bagaimana wajah ditekuknya.


"Anggap aja ini hadiah dari gue buat kalian yang ngajakin gue bohong"


Pesawat sudah mengudara. Mereka menempuh waktu penerbangan selama kurang lebih enam belas jam. Mereka berangkat pukul sembilan malam dan akan tiba di Paris sekitar pukul setengah enam sore.


Sedangkan dua pangeran mereka sangat gelisah karena kedua permasuri hati mereka tidak bisa dihubungi.


"Bang gimana kak Icha uda bisa dihubungi belum"


"Belum gas"


"Chila juga bang. Kemana mereka sebenarnya"


"Gak tau juga gas. Coba gue telpon rumah tanya ke eneng"


"Ya bang"


Saking khawatirnya Arash lupa jika saat ini di Indonesia sudah menjelang pagi. Beruntung Eneng terbangun karena ingin minum. Setelah mendapat kabar dari Eneng, Arash sedikit lega. Karena Eneng mengatakan jika dua permaisuri mereka sudah tidur. Padahal Eneng tidak tahu jika kedua orang itu tidak ada dirumah.


"Gimana bang"


"Kata eneng udah tidur"


"Ah syukurlah bang"


"Ya udah lanjut ke proyek. Biar cepet kelar. Gue pengen balik bentar ke Jakarta gas"


"Haha beda ya yang udah nikah sama lajang bang. Gak kuat nahan. Hahaha"


"Sialan loe gas. Loe bakal ngrasain besok kalau uda merried"


Mereka kembali fokus pada pekerjaan. Sudah tiga bulan mereka hanya bersua lewat udara dan suara. Terkadang akan ada pertengkaran kecil. Karena terpisah jauh itu tak semudah yang dibayangkan. Banyaknya cobaan membuat mereka harus bertahan dan merasakan luka dalam rindu.


Akhirnya Icha dan Chila sudah tiba du bandara Charles de Gaulle. Keynan yang sudah tahu jam kedatangan dua putri itu sudah menunggu dari lima belas menit yang lalu. Dia ijin untuk menjemput temannya yang akan berlibur. Tanpa rasa curiga.


Arash dan Bagas masih ada perjamuan dengan patner mereka. Dan lagi-lagi mereka harus menghadapi para kuntilanak yang disodorkan untuk mereka. Para klien mereka membawa putri mereka untuk dikenalkan.


"Huh. Andai bini gue disini gas, pasti dilibas habis kuntilanak ini. Risih gue"


"Iya bang gue juga. Walaupin salah satu dari mereka teman gue, tapi gak sebanding dengan Chila"


Mereka sedang berusaha lepas dari jeratan para dedemit. Bahkan Arash dan Bagas terang-terangan mengatakan jika mereka sudah menikah dan bertunangan. Itu juga tak menyurutkan niat para dedemit mengejar miliader muda itu.


"Cha kita langsung ke jamuan aja ya. Takutnya mereka berdua gak bisa mengatasi keadaan. Oya kalian bisa ganti baju di hotel nanti"


Keynan sudah mengatur semuanya untuk Chila dan Icha. Mereka sudah tampil anggun dan siap menemui kedua orang yang dirindukan itu.


"Mereka dimana kak"


"Kalian jalan dibelakang gue"


Mereka berjalan mengikuti keynan. Keynan memberi tanda dimana Arash dan Bagas berada. Entah secara kebetulan atau nasib berpihak kepada Chila, dia bertemu teman lamanya yang sangat tomboy. Bahkan saking tomboynya perempuan itu memiliki sedikit saja tonjolan didadanya. Dan malam ini perempuan itu juga berdadan menggunakan tuksedo.


"Arsyila"


"Sonya. Apa kabar"


"Baik sayang. Kamu sama siapa disini"


"Sama kakak ipar. Kamu sendiri"


"Sama cowok gue"


Chila langsung memiliki ide untuk mengerjai Bagas. Dia akan mengapit lengan Sonya dan mendekat kearah Bagas.


"Loe mau kan bantu gue son"


"Pasti. Itu hal mudah. Tapi gue bilang ke cowok gue dulu. Karena dia sekarang lagi ngobrol sama tunangan loe"


"Oke"


Sonya menghubungi kekasihnya melalui gawainya dan menjelaskan rencananya. Kekasihnya pun setuju. Keberuntungan untuk chila hari ini sangat memihaknya. Sonya akan membawa nama perusahaan kakeknya agar mudah mendekat.


"Yuk sayang kita buat kebakaran hutan rimba. Hahaha"


"Dasar omes loe nya"


"Ingat nama gue Surya"


"Siap"


Chila melaksanakan aksinya. Sedangkan Icha masih memantau keadaan sang suami dengan ditemani asisten keynan. Dan keynan sengaja bersidiri menutupi keberadaan Icha dari Arash.


"Awas aja kamu mas tuh terong jumbo bakalan gue suruh diet"


Sedangkan Chila sudah mendekat kearah Bagas. Dan Sonya menyapa mereka semua. Awalnya Bagas tak begitu memperhatikan. Namun saat dia mengangkat wajahnya. Sontak matanya melotot antara bahagia dan juga marah.


"Selamat malan semua. Saya dari perusahaan Suryadirjan"


"Oh pak Surya"


"Benar sekali"


"Ini istri atau kekasih anda"


"Dia orang terdekat dan spesial saya. Perkenalkan Arsyila Malik"


Chila menjabat tangan satu persatu orang dhadapannya. Dan saat berhadapan dengan Bagas, dengan santainya Chila menyapanya.


"Sayang kamu.."


"Hai tunangan apa kabar"


Bagas rasanya ingin segera menyeret Chila dan menjauh dari sana. Apalagi Sonya alias Surya terus memeluk pinggang Chila.


Arash merasa sangat gelisah. Sedari tadi jantungnya berdetak kencang. Keynan yang menyadari ada yang salah dengan sepupunya itu langsung bertanya.


"Loe kenapa"


"Ada yang naruh obat diminuman gue bang. Gue gak waspada"


"Loe masih bisa tahan kan Rash"


"Gak tau bang. Tapi bantu gue keluar dari sini bang"


"Oke. Loe tunggu sebentar gue nyati cara dulu"


"Ya tapi jangan lama-lama"


Keynan meminta asistennya untuk membawa Icha ke kamar hotel milik Arash. Dia memberikan kartu akses kamar Arash.


"Yuk rash kita keluar. Tapi kita lewat pintu samping"


"Oke bang"


Bagas yang melihat Arash keluar langsung mengikuti dan menarik tangan Chila. Perempuan yang sengaja menaruh obat haram diminuman Arash tidak mengetahui jika Arash sudah dibawa pergi oleh Keynan.


"Rash loe gue tinggal dikamar sendiri. Gue uda siapin obat didalam"


"Ya bang. Makasih"


Arash masuk kekamarnya. Badannya sudah kepanasan. Icha sudah diberitahu kondisi sang suami. Melihat suaminya sedang tersiksa, Icha mendekati Arash. Antara sadar dan tidak Arash langsung menerkam Icha.


"Mas. Gapapa kan"


"Sayang ini kamu. Bener kamu kan"


"Iya ini aku mas"


"Sayang mas uda gak kuat. Maaf mas gak teliti ada yang mau jebak mas sayang"


"Iya Icha tahu. Sini Icha bantu sayang"


"Maafkan mas jika nanti mas sedikit kasar"


"Iya Icha paham mas"


Tanpa menunggu lama Arash memulai buka puasanya. Tiga bulan tak bertemu begitu menyiksanya. Arash memang sedikit kasar kali ini. Mungkin efek dari obat haram itu. Icha perlahan membuka celana sang suami atas peemintaan suaminya.


"Apa kamu merindukan max sayang"


"Hmmm sedikit"


"Sapalah dulu. Dia sangat merindukan pussy"


Disela-sela hasrat yang meninggi, Arash masih bisa tertawa karena perkataan sang istri yang selalu membuatnya rindu.


"Wow terong jumboku membengkak"


_____


Icha menang jackpot gaesss.....


Jangan lupa jempol


Happy reading