RashSya Story

RashSya Story
CPS~Rizky Story



Satu Minggu lamanya Medina dirawat dirumah sakit. Jika Rizky sedang sibuk, ibu akan menjaga Medina dirumah sakit. Rizky masih berusaha membantu mengembalikan hak Medina yang dikuasai pamannya. Dan saat ini proses sudah berjalan dengan lancar.


Pagi tadi ibu pulang kerumah bersama supir Rizky. Dan Medina sedang menunggu asisten rumah tangganya untuk menemani sampai Rizky datang kerumah sakit. Ruang rawat Medina berdekatan dengan taman. Dan jendela lebar yang mengarah langsung ke taman. Itu membuat Medina nyaman selama dirawat dirumah sakit.


Medina mencoba bangun dari ranjang dan mencoba berjalan menuju sofa didekat jendela. Walaupun masih sedikit lemah, Medina tetap mencoba melangkah. Dia lelah jika harus rebahan terus diatas ranjang. Dan ini kali kedua dia mencoba berjalan dan duduk disofa.


Medina tersenyum melihat beberapa anak kecil bermain ditaman rumah sakit. Sebagian besar dari mereka adalah pasien yang sedang dirawat disana. Karena hari masih pagi, perawat mengajak mereka untuk berjemur.


Medina terpaku pada satu obyek yang cukup menarik perhatiannya. Medina diam menatap dari jendela kamar rawatnya. Dia terus menatap kearah objek tersebut. Bahkan sesekali wajahnya mengeras menahan amarah. Namun itu tak berlangsung lama. Hingga sebuah pemandangan yang benar-benar membuat Medina tidak lagi mengepalkan tangannya dan mengeraskan wajahnya. Bahkan mata yang menatap tajam berubah lembut.


"Loh mbak Medina kok duduk disitu". Suara asisten rumah tangganya membuat Medina berpaling dari obyek itu.


"Gapapa bi. Medina lelah rebahan terus". Jawab Medina. dan tiba-tiba tubuh Medina merasa lemas. Bahkan dia langsung menyenderkan kepalanya disandaran sofa karena sudah tidak tahan.


"Mbak. Mbak kenapa. Bibi panggilkan perawat ya". asisten rumah tangga Medina panik yang melihat Medina tiba-tiba lemas.


"Gapapa Bi. Nanti baikan lagi kok. Medina mau tidur dulu Bi. Tolong bantu Medina ke ranjang". Asisten rumah tangga Medina segera membantu Medina kembali ke atas ranjang.


Medina segera memejamkan matanya setelah tubuhnya berbaring diatas ranjang. Kondisi Medina memang belum stabil. Tubuhnya masih lemah. Tak berselang lama, Rizky pun datang.


"Assalamualaikum bi. Medina masih tidur". Sapa Rizky kepada asisten rumah tangganya.


"Waalaikumsalam mas. Baru saja mbak Medina tidur. Dari tadi bibi datang mbak Medina duduk disofa terus capek". Rizky sedikit mengerutkan dahinya karena terkejut.


"Oh begitu. Bibi istirahat dirumah saja ya. Diluar masih ada pak Kasman. Bibi bisa pulang dengan pak Kasman". Rizky meminta asisten rumahnya untuk pulang dan dia yang akan menjaga Medina.


"Baik mas. Saya bawa baju kotornya sekalian ya mas". Rizky mengangguk dan asisten rumahnya segera meninggalkan kamar rawat Medina menuju tempat parkir.


Rizky masuk kedalam toilet untuk membersihkan diri sebelum menyapa sang istri. Setelah siap, Rizky berjalan menuju kursi ditepi ranjang Medina. Dan seperti biasa Rizky selalu mengecup kening sang istri dan membisikkan kalimat salam ditelinganya.


Rizky membuka laptop miliknya untuk melanjutkan pekerjaan. Sambil memangku laptop dan bekerja, sesekali Rizky menoleh kearah Medina memastikan dia nyaman dalam tidurnya.


"Selamat pagi pak". Sapa seorang perawat yang datang dipagi hari untuk mengantarkan makanan.


"Selamat pagi sus". Jawab Rizky ramah.


"Ini sarapan ibu ya pak. Apa bapak perlu bantuan untuk memandikan ibu nanti". Setiap hari suster akan menanyakan hal yang sama. Walaupun mereka tau jika Rizky tidak memerlukan itu. Dia sendiri yang akan membantu Medina membersihkan badannya.


"Tidak sus. Terimakasih". Jawab Rizky sopan dan ramah.


"Baik kalau begitu, saya permisi pak". Rizky mengangguk sambil tersenyum. Karena Medina belum makan dan mandi, Rizky akan membangunkan istri tercintanya itu.


Rizky meletakkan laptopnya diatas sofa. Dan segera membangunkan sang istri agar bisa segera makan dan membersihkan dirinya. Perlahan dan lembut Rizky membangunkan Medina.


"Sayang. Bangun dulu yuk". Rizky berbisik ditelinga Medina. Dan mengusap lembut pipinya.


"Sayang. Ayo bangun dulu. Nanti boleh tidur lagi setelah makan". Bisik Rizky lagi. Medina mulai terusik dan perlahan membuka matanya. Senyum manis suami tercintanya membuatnya bahagia.


"Sekarang bangun dulu ya. Mau mandi dulu apa makan dulu". Medina melihat keatas nakas disamping ranjangnya. Sudah tersedia makanan yang disiapkan rumah sakit.


"Dina mau mandi dulu saja kak. Biar segar. Dimana perawatanya kak". Medina sepertinya lupa jika selama dia sakit, Rizky yang memandikannya.


"Ini didepan kamu sayang. Yuk kakak gendong ke kamar mandi". Medina menunduk tersenyum tipis. Sebenarnya dia masih sangat malu jika harus Rizky yang memandikan. Walaupun itu sudah sering dilakukan oleh Rizky.


Rizky menggendong Medina kedalam kamar mandi. Medina membawa botol infusnya dengan tangannya. Rizky sudah menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh Medina. Selesai mandi, Rizky memakaikan baju dan menyisir rambut Medina.


"Sekarang Nyonya Rizky sudah cantik. Yuk kita sarapan". Medina tersipu mendapat perlakuan manis dari Rizky.


Rizky menyiapkan makanan untuk Medina. Dan tak lama pintu rawat Medina dibuka seorang perawat datang mengecek infus dan membawa obat.


"Selamat pagi ibu. Wah sudah cantik ya. Saya permisi cek infusnya dulu". Perawat berjalan menuju tiang penyangga infus.


"Pagi sus. Ya silahkan". Jawab Medina dengan senyumannya.


"Ini obatnya ya Bu. Saya permisi dulu". Suster segera pamit setelah memberikan obat milik Medina.


Rizky kembali duduk dan menyuapi Medina dengan telaten. Sesudah makan, Medina segera meminum obatnya. Walaupun lidahnya masih berasa pahit, Medina tetap melawannya agar dia segera pulih. Karena belum mengantuk, Medina berbincang dengan Rizky.


"Kakak gak ke kantor". Melihat suaminya hanya memakai pakaian kasual membuat Medina penasaran.


"Kakak baru pulang pagi tadi sayang. Semalam habis meeting, terus lembur sama Abang kembar juga kok". Rizky menjelaskan kepada Medina dimana dia semalam dan kenapa hari ini dia tidak ke kantor.


"Apa pekerjaan kakak sangat banyak akhir-akhir ini. Dina lihat kakak sering pulang larut malam. Terus pagi-pagi sudah tidak ada disini". Keluh Medina dan mendapatkan senyuman dari Rizky.


"Maafkan kakak ya sayang. Akhir-akhir ini pekerjaan kakak memang sedikit banyak. Tapi kakak janji sebentar lagi akan selesai". Rizky mengusap pipi Medina lembut.


"Jangan terlalu terforsir kak. Jaga kesehatan kakak juga. Nanti Medina sembuh malah kakak yang sakit". Rizky memukul mulut Medina pelan dengan telapak tangannya.


"Hust gak boleh ngomong gitu. Ingat omongan itu doa sayang. Berkatalah yang baik-baik saja sayang ". Medina terkikik geli melihat reaksi Rizky.


"Maaf bos". Kedua tertawa bersama. Medina teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada Rizky.


"Kak. Boleh Dina tanya sesuatu". Rizky yang setia menatap wajah istrinya, segera mengangguk menyetujui permintaan Medina.


"Boleh sayang. Kenapa harus tanya". Jawab Rizky yang terus menatap Medina penuh cinta.


"Apa wanita itu juga dirawat dirumah sakit ini kak". Rizky sempat terkejut sebentar tapi tak disadari Medina.


"Iya. Hanya rumah sakit ini yang menurut kakak baik untuk merawat Bu Safitri. Kamu tau darimana". Risky memang tidak pernah menceritakan kepada Medina dimana Bu Safitri. Karena Rizky masih menunggu hati Medina melunak.


"Taman itu. Tadi Dina lihat dia disana bersama perawat". Rizky menoleh kearah je dela yang tirainya terbuka lebar.


"Kak. Antar aku bertemu dengannya". Permintaan Medina saat ini benar-benar membuat Rizky terkejut.