RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 12



Selama dua puluh empat jam Devin selalu mendapat laporan dari anak buahnya yang diminta menjaga Tisya. Devin akan mengikuti saran Jay untuk mengikuti permainan Sakti. Devin tetap waspada jikalau sakti bertindak diluar batas.


Setiap pagi, Devin menjemput Tisya untuk bertanya bekerja bersama. Sebenarnya Tisya tak mau, dia masih takut jika teman-teman sekantornya curiga terhadapnya. Namun demi keselamatan Tisya, Devin tidak memperdulikan keluhan Tisya.


Siang ini Papa sakti memiliki janji dengan Arash. Jay akan ikut dalam pertemuan itu. Sebenarnya Arash sudah tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Adiwiyata karena memang ada beberapa kasus menyangkut snag putra. Arash belum pernah tau dan bertemu putra dari Adiwiyata. Dan saat pertama kali mengetahui siapa sakti dan bagaimana sakti membuat kehidupan Tisya menderita. Sudah dipastikan Arash akan menjauhi orang seperti itu.


Berbeda dengan Arash. Jay sangat penasaran dengan rumor yang beredar tentang putera tunggal Adiwiyata. Apalagi sikap Tuan Adiwiyata sendiri seperti tak terbebani. Itulah yang membuat Jay pemasaran. Jay juga meminta Arash untuk bersikap biasa saja saat pertemuan nanti. Devin juga akan hadir dalam pertemuan tersebut atas undangan Jay.


"Sayang siang nanti kamu makan di kantin kantor saja ya. Atau mau aku pesankan"


"Kakak mau kemana"


"Ada meeting dengan Daddy Jay dan Arash dikantor Arash"


"Ouh. Dadakan ya. Kan gak ada dijadwal"


"Iya. Tadi ngabarinnya pas dijalan jemput kamu sayang"


"Oh gitu. Ya udah nanti makan di kantin aja"


Devin tersenyum melihat kearah Tisya. Sedari perjalanan dari rumah Tisya, Devin sadar jika ada mobil yang mengikutinya. Namun Devin pura-pura tidak tahu. Dan tetap tenang. Selama mereka tidak mencelakainya dan Tisya, Devin tetap biasa saja.


Seperti biasa, setiap Tisya datang akan menjadi pusat perhatian. Karena Tisya selalu datang bersama Devin dan turun dari mobil Devin. Setiap ada yang bertanya, Tisya hanya menjawab jika mereka bertetangga.


Sesuai perkataan Devin, sebelum jam makan siang Devin sudah berangkat ke kantor Arash. Saat akan keluar, mobil yang sedari pagi mengikutinya berada didekat perusahaan miliknya. Namun mobil tersebut tidak bergerak mengikuti mobil Devin. Mungkin mereka tahu jika Tisya tidak ikut bersamanya. Devin langsung meminta anak buahnya berjaga disekitar perusahaan.


Setiba dikantor Arash, Devin langsung menuju keruangan Arash. Terlihat Daffa sedang sibuk menyiapkan beberapa berkas didalam ruangannya.


"Assalamualaikum kang jomblo"


"Enak aja jomblo. Gue gak jomblo kali"


"Hahaha iya iya. Bercanda"


"Udah datang aja loe. Gak makan dulu"


"Lagi gak ***** gue"


"Liat nasi gak *****. Lihat cewek ***** gak"


"Astaghfirullah gue laporin Rizky lie biar dirukyah"


"Hahaha. Canda kali Dev"


"Daddy udah datang belum"


"Baru aja sampai. Masuk aja sana"


"Ya udah gue keruangan Arash dulu"


"Hem"


Devin berjalan memasuki ruangan yang ada didepan ruangan Daffa. Tanpa mengetuk, Devin langsung saja masuk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Udah datang aja bang. Kirain mau lunch dulu sama Tisya"


"Gak tenang pikiran gue rash"


Devin menyalami dan mencium tangan Jay yang sudah berada diruangan Arash sambil memegang beberapa lembar kertas.


"Kamu kepikiran masalah Tisya bang"


"Iya dad. Bahkan pagi tadi pas jalan ke kantor kita diikuti mobil yang sejak semalam memantau rumah Tisya"


"Sabar bang. Hari ini kita akan tahu seperti apa sakti. Semoga setelah kita tahu dari keluarganya, kita bisa menyusun rencana"


"Iya dad. Devin hanya tau jika sakti orang yang nekad. Apa yang diinginkan olehnya harus dia dapat dengan cara apapun itu"


"Dan menurut anak buah gue bang, dia memiliki gangguan jiwa. Dan penyimpangan ****. Obsesinya kepada Tisya bisa saja karena masalah orientasi seksualnya"


"Itulah yang gue takutkan rash"


"Tapi kita tidak boleh langsung menghakimi papanya. Apalagi tuan Adiwiyata selama ini termasuk orang yang humble. Dan pekerja keras. Diusia dia setara dengan opa Arka, masih saja bekerja demi ratusan karyawannya"


"Iya dad"


Terdengar suara adzan dari masjid didekat kantor Arash. Mereka bergegas menuju mushola kantor, sebelumnya Arash meminta office boy untuk membelikan makan siang. Usai beribadah dan makan siang, mereka menunggu kedatangan Tuan Adiwiyata.


Tok tok tok


"Masuk"


"Tuan Adiwiyata sudah datang pak"


"Persilahkan masuk daf"


Daffa membawa Tuan Adiwiyata masuk kedalam ruangan Arash. Devin sedikit terkejut melihat papa sakti. Apa yang dikatakan Jay memang benar. Tuan Adiwiyata memang sudah layak untuk pensiun. Namun tidak ada penerus yang bisa dia percayakan.


"Selamat siang Pak Arash"


"Panggil Arash saja pak"


"Oh baiklah"


"Selamat siang Tuan Adiwiyata"


"Nak Jay. Apa kabar. Sudah lama sekali kita tidak bertemu"


"Alhamdulillah baik pak. Bagaimana kabar bapak"


"Ibu masih sehat"


"Istri saya sudah meninggal dua tahun yang lalu"


"Innalillahi. Kenapa saya tidak mendapat berita"


"Saya memang sengaja menyembunyikan kematian istri saya nak Jay"


"Maaf pak. Yang sabar ya pak"


"Terimakasih nak. Oya ini siapa"


"Perkenalkan nama saya Devin Pradipta Alfatir pak"


"Ini masih cucu tuan Arka ya"


"Benar pak. Devin ini cucu kandung adik papa"


"Oh Aidil ya"


"Benar sekali"


"Wah-wah memang calon pengusaha muda dari keluarga kalian tak bisa diragukan lagi. Andai saja putra saya bisa seperti kalian. Mungkin saat ini saya sudah santai menikmati masa tua"


Arash mengalihkan pembicaraan agar pak Adiwiyata tidak terlarut dalam kesedihan yang mendalam. Apalagi terlihat genangan air dipelupuk matanya.


"Oya ada keperluan apa bapak mencari saya"


"Nak Arash. Nak Jay. Kalian sudah tahu kan jika saya tidak memiliki penerus untuk meneruskan perusahaan saya. Jika saya berhenti bekerja, nasib ratusan pegawai saya akan terlantar. Mereka juga memiliki kehidupan. Jadi saya sengaja menemui nak Arash untuk meminta tolong"


"Apa yang bisa saya bantu pak"


"Tolong kamu ambil alih perusahaan saya nak. Karena cuma kamu orang yang tepat dan bisa saya percaya. Saya sudah lelah. Saya ingin beristirahat dan menanti waktu untuk dijemput istri saya"


Tak hanya Arash, Jay dan Devin juga kaget. Perkiraan mereka salah. Mereka tadinya pak Adiwiyata datang untuk meminta kerjasama atau sekedar investasi. Tapi ternyata bukan seperti itu.


"Pak. Apa tidak ada keluarga lain yang bisa bapak percaya"


"Sebenarnya saya ingin memberikan perusahaan kepada menantu saya. Istri dari sakti. Namun itu akan membahayakan nyawanya untuk saat ini"


Devin semakin terkejut mendengar fakta jika ternyata sakti sudah menikah.


"Putra bapak sudah menikah"


"Sudah. Sudah satu setengah tahun lamanya. Namun sakti tidak pernah mau menjamahnya. Dipikirannya hanya ada perempuan yang menjadi obsesinya sedari sekolah dulu"


Devin paham siapa gadis yang dimaksudkan. Namun dia sengaja tidak memperjelas.


"Dan sakti tidak pernah rela Rosa mewarisi semua harta saya. Karena Rosa hanya anak panti yang saya angkat menjadi anak dulu dan sekarang menjadi menantu saya"


"Lalu apa yang harus saya lakukan pak. Apakah saya harus mengakuisisi atau bapak menjual seluruh saham"


"Sebaiknya sistem akuisisi saja nak. Agar rumor yang beredar semakin nyata dan sakti tidak menganggap bahwa ini hanya rekayasa saja"


"Pak. Maaf sebelumnya saya tidak bermaksud menyakiti hati bapak. Saya akan membantu bapak tapi hanya untuk sementara waktu. Dan bila tiba waktunya nanti, perusahaan tersebut akan saya kembalikan kepada keluarga anda.


Mereka lebih berhak"


"Baiklah jika itu bisa membuat kamu bisa membantu saya"


Devin ingin semakin ingin tahu tentang Sakti dan Tisya dulu. Karena menurut Tisya, hubungannya juga tidak disetujui keluarga Sakti.


"Maaf pak saya ingin bertanya sesuatu yang lebih pribadi apa boleh"


"Silahkan nak"


"Apa bapak mengenal Tisya Aulia Rahman"


"Tisya. Apa kamu mengenalnya nak"


"Tisya adalah tunangan saya pak. Dia dulu adalah teman sekolah saya"


"Memang dunia itu sempit. Saya sangat mengenalnya. Dan gadis itu adalah obsesi Sakti. Gadis baik dan lembut. Namun tidak baik jika bersama Sakti"


"Apa bapak membenci Tisya"


"Gadis baik itu tidak patut dibenci. Saya terpaksa membencinya dan berkata buruk agar dia bisa lepas dari Sakti"


"Maksudnya gimana ya pak"


"Sakti itu sesungguhnya memiliki penyimpangan sejak kecil. Saya sendiri tidak tahu pastinya mulai kapan. Karena itu kesalahan kami sebagai orantua yang tidak memperhatikan sakti. Sakti mulai tertantang kepada Tisya, karena hanya Tisya yang tidak tertarik oleh Sakti. Bahkan Tisya pernah menampar sakti dihadapan saya. Dari surah sakti terobsesi memiliki Tisya bukan dengan artian memiliki untuk dicintai. Namun memiliki tubuhnya. Saya sengaja berpura-pura membenci Tisya begitu juga mamanya Sakti, agar Tisya bisa pergi jauh dari Sakti. Sampai akhirnya saya tahu jika anak saya sudah diluar batas. Bahkan saya tidak mengunjunginya saat dipenjara"


Mata tuan Adiwiyata sedikit berembun mengingat tentang Tisya. Rasa bersalahnya begitu dalam. Karena pernah menghina Tisya dihadapan banyak orang.


"Nak Devin tolong sampaikan maaf saya untuk Tisya"


"Baik pak"


Tian Adiwiyata juga menceritakan tentang Rosa. Dari cerita itu, Arash dan Jay mendapatkan ide. Namun kali ini mereka harus benar-benar lebih teliti menjalankan rencana ini. Karena memang sedikit berbahaya bagi Tisya.


________


Penasaran gak penasaran gak....😂😂😂


Jangan lupa jempolnya


Happy Reading