
"Abang jangan lupa ambil cincin kalian"
"Iya mah. Habis ini Ichan ambil sama Azzam"
"Bang mampir toko kue sekalian ya. Ambil pesanan mama"
"Ya mah. Tapi kue buat apa mah. Semua sudah disediakan di hotel"
"Atuk yang minta bang. Itu kue semua pesanan Atuk"
"Oh. Oke mah"
Kehebohan sudah mulai terjadi dirumah Ghaisan dan Arumi. Besok adalah acara yang paling dinanti mereka. Semua seserahan sudah disiapkan keluarga Ghaisan. Cincin juga sudah siap tinggal diambil. Bahkan Naomi adik perempuan Ghaisan, baru tiba semalam di Indonesia bersama Afnan dan keluarganya. Serta mama Syaqilla juga ikut hadir.
Hotel tempat acara juga sudah selesai didekorasi. Atuk Syakir memberikan yang terbaik untuk Ghaisan seperti saat Arash dan Arsya dulu. Azzam dan Ghaisan keluar rumah akan mengambil cincin pertunangan dan juga kue pesanan Syaqilla. Dalam perjalanan Ghaisan selalu menggoda adiknya.
"Bang. Gue beneran penasaran deh. Kok bisa kak Rumi mau sama loe. Padahal dikantor loe itu kan jutek"
"Pesona seorang Ghaisan itu tidak bisa diragukan"
"Heleh. Pesona apaan. Gantengan juga gue"
"Zam. Cewek yang loe suka kayak apa sih"
"Pokoknya cantik bang. Suaranya haduh bikin hati ini langsung luluh. Lembut banget"
"Bahaya itu zam. Kalau suaranya lembut banget"
"Kenapa emangnya bang"
"Kalau tiba-tiba ada bahaya terjadi. Dia minta tolong ya pake cara lembut. Lama dapat bantuan. To....long. To long"
"Ya gak gitu juga kali bang. Masa harus slow motion juga teriaknya'
'Siapa tau"
"Ngaco aja Abang ini"
Mereka sudah sampai di toko perhiasan tempat Ghaisan memesan cincin pertunangan. Ghaisan memeriksa cincin pesanannya. Sedangkan Azzam juga sibuk melihat cincin. Ghaisan melirik sang adik sambil tersenyum tipis. Ghaisan sudah bisa jika adik bontotnya ini pasti akan merusuh. Dan terbukti, Azzam langsung mengambil sepasang cincin yang terpajang disana dan membayarnya.
Ghaisan pura-pura tidak melihat apa yang Azzam lakukan. Setelah membayar cincinnya, Ghaisan menyusul Azzam yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. Ghaisan tahu jika Azzam sengaja masuk ke dalam mobil terlebih dahulu untuk menyembunyikan cincin yang sudah dia beli tadi.
"Loe yang nyupir zam"
"Hem. Kasian Abang gue. Takut besok kecapean pas acara penting"
"Oh. Baguslah nyadar kalau besok acara penting gue. Dan loe harus menjaga gue biar gak lelah"
"Beres bos"
Azzam melajukan mobilnya menuju toko kue langganan mamanya. Azzam melangkah masuk seorang diri kedalam toko. Ghaisan memilih menunggu didalam mobil. Seorang karyawan toko melayani Azzam tanpa berkedip. Azzam paling tidak suka ada orang yang menatapnya seperti itu. Dia merasa seperti makanan yang hendak dilahap.
"Siang kak. Bisa saya bantu"
"Saya mau ambil pesanan kue atas nama ibu Syaqilla"
Azzam berkata sambil menyerahkan nota bukti pemesanan sebelum pegawai tersebut memintanya.
"Baik tunggu sebentar. Saya ambilkan kakak"
Azzam hanya mengangguk dan menjauh dari etalase. Azzam mengambil ponselnya dan melihat aktivitas Nabila melalui sosial media milik Nabila. Tak lama pesanan yang diminta Azzam datang.
"Pesanan atas nama ibu Syaqilla"
Azzam berjalan menuju kasir. Kasir tersebut lebih berani dibandingkan dengan karyawan toko sebelumnya yang melayani Azzam.
"Kak. Ini pesanannya"
"Berapa semua"
"Totalnya Empat ratus dua puluh lima ribu kak"
Azzam mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang cash. Azzam jarang menggunakan kartu reditnya. Azzam menyerahkan sejumlah uang yang disebutkan kasir tadi. Sambil menerima, kasir tersebut menanyakan tentang siapa Azzam.
"Kakak anak Bu Syaqilla ya"
"Iya"
"Kok gak pernah lihat. Biasanya bukan kakak yang ambil. Tapi mas yang ganteng"
Azzam tak menjawab. Dia hanya diam sambil menunggu pesanannya dimasukkan kedalam tas karena sebelumnya memang diperiksa ulang agar tidak tertukar.
"Kakak namanya siapa"
Azzam sedikit memicingkan matanya. Dalam benaknya dia berfikir jika wanita didepannya adalah wanita kesekian yang berani menanyakan nama Azzam saat pertama bertemu. Dan bagi Azzam tipe wanita mudah dirayu. Azzam tak menjawab pertanyaan kasir tadi. Dan kembali kasir tadi bertanya saat menyerahkan kue-kue milik Azzam.
"Ini sudah siap kak. Bolehkan kita kenalan. Nama aku Safira"
Azzam mengambil kue-kue pesanannya dan berkata pelan kepada penjaga kasir toko kue tersebut.
"Panggil saya tuan pencabut nyawa"
Melihat sang adik sedikit berwajah kusut, Ghaisan sedikit mengerutkan dahinya. Azzam sudah duduk dibelakang kemudi dan bersiap melajukkan mobilnya.
"Kenapa muka loe"
"Lagi kesel aja"
"Dirayu cewek loe"
"Dasar cewek. Gak bisa lihat yang bening dikit'
"Haha. Besok-besok loe pake topeng gambar Goku aja zam"
"Ck. Nyebelin emang loe bang"
"Haha"
Jalanan mulai padat. Azzam menyalakan musik untuk mengusir kepenatannya ditengah jalanan padat. Ghaisan mendapat panggilan memeriksa beberapa laporan yang dikirim melalui email oleh sekretarisnya Mala.
"Zam. Jangan lupa pekan depan gue mau ke Jerman sekalian antar Naomi balik"
"Ck. Gue suruh stay disini bang"
"Iyalah. Kenapa loe gak mau"
"Gak boleh nawar kan. Gue tau itu"
"Anak pintar. Halah cuma seminggu ini"
"Hmmm. Tapi gantian ya bang"
"Emang loe mau kemana kok gantian"
"Jadi kampus gue ngadain acara baksos alumni. Nah acaranya di daerah Jawa. Gue disana juga sekitar seminggu"
"Kapan pergi. Jangan dadakan. Kasian Mala yang ngatur jadwal gue"
"Dua bulan lagi. Tapi memang tanggalnya belum keluar"
"Ya sudah. Yang penting pastiin jauh-jauh hari"
"Iya"
"Kenapa gak asisten loe aja yang handle"
"Mana Atuk boleh. Jadwal dibulan itu lumayan padat. Kan resort yang di Johor sudah tahap akhir. Kan harus turun tangan sendiri. Mana boleh Atuk kasih ke asisten"
"Bagus ya. Giliran sama gue, loe kasih kerja lapangan. Dan loe disini gue kasih kerja dalam ruangan"
"Hahahaha. Heleh cuma sekali ini bang. Biar sesekali kulit loe eksotis gitu"
"Emang gue loe. Baru kena matahari dikit jadi coklat"
"Iya iya. Emang cuma gue yang gak berteman sama matahari. Menyebalkan"
"Hahaha. Terima nasib saja. Dasar keling"
Keling adalah panggilan Azzam saat kecil. Yang berati hitam. Azzam hobi main diluar rumah. Dan kulitnya mudah menghitam jika terkena sinar matahari. Berbeda dengan Ghaisan dan Naomi.
Mereka sudah tiba dirumah dan disambut oleh Arjuna sepupu mereka dari Jerman. Arjuna datang paling akhir karena ada terhambat dalam urusan surat perjalanan kedua putranya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Widih yang akhirnya sold out. Diobral gak nih"
"Ck. Baju kali obralan"
"Lah kan emang gitu. Kalau barang lama gak laku terus diobral. Berapa obralannya"
"Kenapa loe mau bayarin"
"Ih masa terong makan terong"
"Loe kira gue belok bang"
"Ya kali lama gak laku jadi belok gitu"
"Gue slepet juga bang lama-lama"
"Hahahaha"
_______
Jangan lupa datang ya gaesss..bawa kado yang gede....
Jangan lupa jempolnya gaesss
Happy reading