
"Bang kenapa gak nyari cewek aja lagi sih. Biar ada yang nemenin. Lea kan jadi susah dapat cowok"
"Sekolah dulu yang bener. Baru mikir nikah. Ingat Abang gak akan ngijinin kamu buat pacaran. Kalau serius langsung nikah"
"Haish. Dirinya aja pacaran. Giliran Lea gak boleh"
"Karena kamu cewek pasti banyak dirugiinnya"
"Ya lah ya lah"
Devin mengajak Lea menghadiri acara pernikahan anak koleganya. Dan disana juga bertemu dengan si kembar dan keluarganya. Banyak mata terfokus hanya kepada Lea dan Devin. Mereka memang memiliki wajah yang mirip walaupun terpaut jauh usianya.
"Wah ternyata pak Devin masih langgeng sama pasangannya"
"Mereka benar-benar sangat serasi"
Si kembar yang mendengar komentar tentang Devin dan Lea hanya mencibir saja. Apalagi hanya si kembar yang tau tentang sumpah serapah seseorang kepada Devin.
"Kasian nasib Bejo bang"
"Iya. Mungkin si Bejo baru bisa menikah setelah bertemu perempuan itu"
"Bisa jadi. Tapi kapankah itu"
"Entah"
"Ehem. Yang kalian gosipin disini kali"
"Anda berasa"
"Tentu"
"Saya mah cuek aja"
"Sikembar kampreto"
"Makanya bang jangan ajakin Lea melulu kenapa. Diolokin bang Rashsya kan"
"Heleh cuma mereka berdua mah udah biasa"
Mereka kembali memusatkan perhatian di panggung pasangan ratu dan raja sehari. Saat mata Devin melihat-lihat para tamu yang berdatangan, dia dikagetkan oleh sosok yang selama ini menghilang.
Uhuk uhuk
"Abang pelan-pelan minumnya"
"Loe kenapa melotot bang. Lihat setan"
"Lebih dari setan Arsh"
Saat Devin kembali mencari keberadaan orang tersebut, ternyata sudah menghilang dalam keramaian. Devin beranjak hendak mencari orang tersebut karena rasa penasaran.
"Itu dia kan. Iya gue yakin dia. Sudah berani dia muncul ya. Awas loe ya"
Devin bermonolog dalam hatinya sambil terus mencari dimana orang tersebut pergi.
"Eh bang mau kemana. Kita belum pamitan ke pengantinnya loh"
"Iya bentaran doang Lea. Kamu disini saja sama si kembar"
Devin berjalan memasuki kerumunan para tamu undangan. Satu persatu dia amati secara teliti. Devin masih sangat hafal seperti apa sosok itu dari tinggi hingga panjang rambutnya.
"Dasar kerdil. Pendek mudah banget sih ngilangnya"
Devin sambil bergumam terus saja berjalan mengelilingi gedung mencari sosok itu. Devin keluar gedung dan mencari didekat lobby. Didepan pintu masuk orang tersebut sedang bersiap naik kedalam mobil. Karena jarak Devin cukup jauh membuatnya terlambat mencapai mobil tersebut.
"Pendekkkkk. Tunggu"
Devin hanya bisa diam menatap kepergian mobil tersebut. Dia kembali kedalam ballroom untuk menjemput Lea. Dan pastinya dia akan menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaan orang yang dipanggil dengan sebutan pendek itu.
"Hallo. Ted gue butuh bantuan loe. Nyari seseorang"
Belum sempat Devin masuk kedalam ballroom, si kembar dan Lea sudah keluar. Karena Icha tidak bisa meninggalkan si kembar Dean yang masih kecil terlalu lama.
"Abang emang toilet pindah ke lobby ya"
"Toilet dalam penuh Le"
"Ouhhh. Emangnya hotel se gede ini toilet ballroomnya cuma dikit ya"
"Dah lah. Yuk pulang Abang masih ada urusan lainnya"
"Ya udah yuk. Lea udah bosan juga disini lama-lama"
Arsya berjalan mendekati Devin. Devin paling tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari si kembar.
"CCTV ada bro. Kenapa susah-susah berlari keluar ruangan"
Devin menatap Arsya dengan sedikit melotot. Arsya hanya tersenyum tipis disudut bibirnya. Entah dari mana asal suara Icha yang tiba-tiba membuat Devin sedikit tersindir.
Biar 'ku pendek tapi nyaman dipeluk
Langkahku kecil mau digandeng terus
Biar 'ku pendek tapi paling sayang kamu
Walau mirip miniatur tapi cintaku tak terukur
"Loe nyindir gue Cha"
"Nggak. Orang gue cuma nyanyi. Dan lagian kenapa anda merasa tersindir. Kan lagu ini buat gue sama suami gue tercinta"
"Ngeles aja"
Devin yang sedikit sewot mendengar jawaban Icha. Itu membuat Arash yang curiga semakin yakin jika Devin menemukan gadis itu.
"Jadi dia sudah muncul bang. Makanya loe panik"
"Sayang gak usah kepo lama-lama akan tau juga. Dah yuk balik. Apa mau Chek in aja digital ini. Gimana"
"Ish gak ya. Ayo pulang Ammar dan Ashraf nunggu dirumah"
"Dasar pasangan menyebalkan"
Devin kesal dengan pasangan yang membuatnya kesal itu. Devin pulang dengan perasaan yang tak karuan. Setelah lebih dari sepuluh tahun menghilang gadis itu kembali datang. Itu yang membuat Devin semakin ingin segera menemukannya.
.
.
"Nak kamu sudah pulang"
"Sudah Bun. Bunda sudah makan"
"Sudah kok"
"Obatnya sudah diminum belum"
"Sudah. Oya dimana nak Reza kok gak mampir"
"Reza sudah pulang Bun. Inikan udah malam juga"
"Oh ya sudah. Kamu istirahat dulu sana"
"Ya Bun. Bunda juga tidur sudah malam"
Gadis cantik itu berjalan menuju kamarnya. Rumah sederhana yang hanya terdapat dua kamar tidur saja telah menjadi tempat tinggal mereka selama hampir empat bulan ini. Keputusan sang bunda kembali ke kota ini karena tak ingin terlarut dalam kesedihan setelah ayah beserta kakek dan neneknya meninggal dalam sebuah bencana alam. Bahkan keluarga sang ayah juga banyak yang meninggal hanya beberapa saja yang selamat.
Bunda adalah anak yatim piatu yang dirawat dengan baik didalam panti asuhan. Pertemuan dengan sang suami tanpa sengaja. Karena menolong sang suami saat akan dirampok.
"Huh. Kembali lagi ke kota ini. Kota yang paling tak kusukai"
"Hmm. Demi bunda gue harus bisa. Gue juga harus cari kerja besok. Semoga ada perusahaan yang mau menerima gue"
"Gue juga gak bodoh-bodoh banget kok"
Ponsel gadis itu berdering. Sahabatnya yang selalu ada sedari kecil menghubunginya. Walaupun berbeda jenis kelamin, namun persahabatan mereka benar-benar murni tanpa ada rasa cinta didalamnya.
"Hallo Za"
"Tis. Ada info lowongan nih. Perusahaan bonafit. Buruan loe masukin lamaran loe. Lewat email. Cuma sampai tengah malam surat lamaran diterima"
"Posisinya apa Za"
"Asisten Manager keuangan Tis. Sesuai jurusan loe"
"Ya udah loe kirim alamat email sama info lowongan kerjanya ke nomorku"
"Oke-oke"
Reza sudah menutup panggilan teleponnya. Tak lama pesan dari Reza sudah masuk kedalam nomor gawainya.
"Widih ini mah perusahaan ternama. Harus bisa nembus gue"
Gadis itu langsung membuat surat lamaran dan menyiapkan semua yang dibutuhkan dalam melamar kerja. Dia menulis dengan sangat teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam pengisian datanya.
"Waduh harus foto nih. Foto gue kan lama semua"
Dengan gesit gadis tersebut langsung berubah menjadi fotografer dadakan. Memulas ulang make up-nya dengan yang lebih natural.
"Yes perfect. Boleh lah buat dimasukin di lamaran"
Semua persyaratan kembali dia periksa ulang dan setelah benar-benar lengkap gadis itu menekan tombol untuk mengirim email tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Surel tersebut langsung terkirim. Dan secara otomatis mendapat jawaban dari sistem perusahaan bagi yang memenuhi syarat-syaratnya.
"Wih langsung dapat jawaban"
Gadis itu membuka surat balasannya. Perlahan dia membacanya agar tak salah mendapat informasi didalamnya. Dia memang gadis yang sangat teliti dalam setiap bertindak. Memperhitungkan segala konsekuensi yang dia peroleh dalam setiap apa yang dilakukannya.
"Alhamdulillah. Ya Allah. Ternyata seperti ini seleksi perusahan ternama. Gue langsung dapat nomor urut buat interview besok pagi"
Dia sudah mencetak surat balasan tersebiy sebagai bukti saat dia akan menghadiri interview esok pagi. Sebelum berangkat tidur, gadis tersebut menyiapkan kembali keperluan melamar pekerjaannya siapa tau akan dibutuhkan nanti disana.
"Done. Besok tinggal berangkat. Gue telpon Reza dulu lah ngabarin kalau besok gue interview"
Niatnya melakukan panggilan dia urungkan dan mengganti dengan menulis pesan singkat dari gawainya.
"Za gue besok langsung interview"
Dua menit kemudian
"*Alhamdulillah. Tapi gue besok ada meeting pagi Tis. Gak bisa ngantar loe"
"Gapapa Za. Gue naik ojol aja. Lagian gue masih hafal kok jalan-jalan disini"
"Oke. Kalau udah selesai loe kabarin gue. Biar gue jemput loe"
"Asyiap Bosque*"
Gadis itu akhirnya bersiap-siap untuk tidur agar pagi besok bangun dengan fresh.
_________
Haiiiiiii...bang Dave balik
Jangan lupa jempolnya
Happy reading