
"Aku serius akan menikahi kamu. Tapi kenapa kamu bermain dengan perasaanku. Apa sebenarnya mau mu"
"Beri aku waktu. Aku masih bimbang"
"Kamu masih berharap kepada Arash"
"Aku..."
"Kamu yang melepas dan menyakitinya. Apa kamu lupa itu"
"Tidak aku tidak lupa. Dan aku ingin memperbaikinya"
"Kamu terlambat. Dan jangan pernah kamu mengganggu sepupuku. Aku sendiri yang akan menjadi penghalangmu"
Ghaisan pergi meninggalkan malika dengan perasaan kesalnya. Ini sudah kesekian kali malika menolak untuk menikah dengannya. Obsesinya untuk kembali mendapatkan arash masih tinggi. Ghaisan terus berusaha menyadarkannya.
"Maafkan aku chan. Bukannya aku tak mau menikah dengan kamu. Tapi saat melihat arash kembali rasa ini sepertinya masih sama"
Malika terdiam didalam ruangan kerjanya. Dia masih memikirkan bagaimana cara untuk menemui arash dan meminta maaf kepadanya. Masih ada sedikit harapan agar arash mau kembali kepadanya.
.
.
"*Hallo"
"Assalamualaikum. Arash"
"Waalaikumsalam. Maaf ini siapa"
"Aku malika. Apa kamu sudah lupa dengan suaraku"
"Maaf gue gak kenal sama suara loe. Ada apa mal"
"Bisa kita ketemu"
"Ada apa loe minta ketemu gue"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Penting"
"Hmm tapi kalau sekarang gue gak bisa"
"Kapan kamu ada waktu. Tolong kamu kabari aku"
"Lihat nanti saja ya mal. Sorry gue harus meeting. Assalammualaikum"
"Waalaikumsalam*"
Arash langsung mematikan panggilannya. Saat malika menghubunginya dia sedang bersama dengan Ghaisan. Bukan arash tak mengenali suara malika, dia hanya tak ingin mengingatnya.
"Loe sama malika ada apa"
"Gapapa. Dia hubungi loe"
"Iya dan loe dengar sendiri kan tadi"
"Dia masih ada hati sama loe rash"
"Gue yakinkan ke loe chan. Kembalinya gue kesini bukan untuk mengulang masa lalu. Bagi gue masalalu itu sudah terkubur"
"Gue tau gimana loe rash dan gue percaya penuh sama loe. Tapi tidak dengan malika. Dia terlalu terobsesi sama loe"
"Gue gak akan pernah nemuin dia chan"
"Gue tau itu rash. Dan gue kesini juga bukan membahas masalah ini. Gue mau loe bantu gue diperusahaan atuk"
"Oke gue bantu loe chan semampu gue"
Ghaisan memang sengaja menemui arash untuk meminta bantuan arash menangani masalah yang sedang dihadapi diperusahaan milik atuk syakir.
Minggu ini malika harusnya datang mengunjungi rumah ghaisan seperti biasanya. Namun malika beralasan sedang ada urusan dengan temannya dia tidak datang ke rumah ghaisan. Sudah dua minggu dia menunggu kabar dari arash, namun tal sekalipun arash memberikan kepastian.
Malika sengaja menunggu arash didepan gerbang rumahnya. Barharap bisa bertemu dan berbicara secara khusus dengan arash. Malika menunggu sudah dua puluh menit lamanya barulah nampak mobil arash meninggalkan rumahnya. Malika mengikuti arash dibelakang.
"Aku pastikan hari ini akan bertemu dengan kamu dan menjelaskan semuanya. Semoga kita masih bisa bersama. Aku yakin kamu masih memiliki perasaan yang sama denganku"
Malika berbicara pada dirinya sendiri. Dia sangat berharap arash akan mau kembali pada dirinya. Dan dia dengan senang hati akan melepas ghaisan yang saat ini sudah menjadi tunangannya.
Mobil arash berhenti disebuah kafe baru. Arash langsung masuk setelah memarkirkan kendaraannya. Malika pun sama. Tak ingin melepas kesempatan yang ada, malika langsung menghampiri arash.
Sebenarnya didalam kafe arash sudah bertemu dengan ghaydan. Ghaydan mendapatkan panggilan alam dan bergegas ke toilet. Malika melihat arash hanya sendiri dan berusaha memanfaatkan keadaan itu.
Arash yang sedang asyik membalas pesan kaget mendengar namanya dipanggil. Arash menoleh kedepan dan melihat malika tersenyum kepadanya.
"Loe"
"Boleh gue duduk"
"Oh silahkan"
"Kamu sendirian rash"
"Nggak. Ada atha kok"
"Oh"
Malika memanggil pelayan dan memesan minuman untuk dirinya. Malika hendak memesan makanan untuk arash, namun arash menolak dengan mengatakan dia tidak akan lama dikafe itu. Malika habya bisa mendesah pasrah.
"Rash kenapa kamu gak mau ketemu sama aku"
"Karena memang seharusnya kita tidak bertemu seperti ini. Kecuali jika loe dengan ghaisan gue mungkin masih mau ketemu loe"
"Kalau aku mengajak ghaisan. Sama saja aku akan melukainya dengan mendengar apa yang ingin aku sampaikan ke kamu"
"Apa dengan cara seperti ini loe gak nyakitin ghaisan"
"Ghaisan tidak pernah tau kalau aku nemuin kamu hari ini. Dan aku minta kamu juga tidak memberitahukannya"
Arash tak menanggapi permintaan malika. Dan tanpa sepengetahuan malika, arash menghubungi ghaisan dan meletakkan ponselnya diatas meja dengan menutupinya menggunakan biku menu. Arash ingin ghaisan mendengar semua apa yang dikatakan malika kepadanya agar tidak timbul salah paham.
"Rash aku ingin bicara sesuatu yang penting dengan kamu"
"Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas mal"
"Ada rash. Perasaan aku ke kamu yang sampai saat ini masih sama rash tak berubah sedikit pun. Dan aku yakin kamu pun merasakan hal yang sama kepadaku rash. Aku juga yakin kamu kembali kesini juga karena aku kan"
"Mal loe salah paham. Gue balik karena orangtua gue dan gue balik harus membasmi para manusia bermuka dua. Bukan karena loe. Dan tentang perasaan yang loe sebut tadi. Semua sudah mati saat loe yang melepaskan gue"
"Aku tau aku salah saat itu rash. Dan aku sudah menyesali itu. Aku hanya ingin kita bisa seperti dulu lagi rash"
"Loe gila ya mal. Loe tunangan ghaisan sekarang. Dia sepupu gue"
"Ghaisan akan mengerti dan ikhlas aku kembali kepadamu rash"
"Gila dasar wanita tak beres. Jangan pernah loe sakitin sepupu gue. Dan gue ingatin lagi ke loe mal. Gue sudah gak ada rasa sama loe. Gue nganggap loe sebagai tunangan sepupu gue gak lebih. Hargai perasaan dan pengorbanan ghaisan mal"
Arash langsung berdiri hendak meninggalkan kafe itu. Dia sudah tidak mood lagi. Niatnya ingin mengahabiskan waktu bersama para sahabatnya. Semua kacau dengan kedatangan malika.
"Arash aku gak peduli kamu mau bilang aku gila atau apalah. Tapi aku bakal buktikan kalau perasaan kamu ke aku itu tidak pernah berubah. Karena aku cinta pertama kamu rash"
"Gue gak percaya dengan filosofi cibta pertama. Dan asal loe tau gue sudah punya kekasih dan sebentar lagi kami akan menikah"
Arash pergi berlalu. Ghaydan yang mendengarkan pembicaraan mereka dari meja lain ikut marah.
"Dasar cewek sinting. Uda ada yang sayang malah dicampak in. Besok giliran ghaisan yang sudah muak baru tau rasa dia"
"Hmmm"
"Loe beneran punya cewek rash"
"Ngibul gue. Biar cepet beres"
"Kirain beneran. Tapi omongan itu doa loh rash. Jadi gue aamiin in aja ya hahaha"
"Serah loe aja"
"Ghaisan loe kasih tau"
Arash memperlihatkan catatan panggilan keluarnya tadi. Ghaydan pun tersenyum puas. Namun dalam hatinya dia sangat kasihan kepada sahabatnya itu.
"Loe emang sepupu dan sahabat terbaik rash"
____________
Mulai menceritakan kisah ghaisan yang gak jadi nikah sama malika ya gaess.. hanya beberapa part saja agar tidak penasaran...
jempolnya ya
Happy reading