
Malika terus saja mempermainkan perasaan ghaisan. Semakin lama ghaisan mulai lelah untuk berjuang. Dia mulai mencoba untuk mengabaikan malika. Proyek yang harusnya dia kerjakan usai pernikahan arsya terpaksa diundur. Ghaisan tidak kecewa. Dia mulai menata kembali hatinya. Dia sudah ikhlas dan sangat siap jika malika setiap saat akan melepaskannya.
Malika tak pernah tau jika selama ini ghaisan memantau setiap gerak-geriknya. Bahkan ghaisan tau jika malika berusaha mengganggu hubungan arash dan icha. Malika intens mendatangi icha ke jogja. Dia juga mencari tau siapa pria yang menyukai icha. Malika memanfaatkan itu semua.
Tanpa malika sadari ghaisan sendiri yang menggagalkan setiap rencana malika. Seperti janji ghaisan kepada malika kala itu. Malika juga tak pernah menyadari jika icha dijaga oleh orang kepercayaan arash. Arash sangat marah setelah tau perbuatan malika. Jika bukan karena ghaisan mungkin saat ini malika sudah tidak memiliki apapun.
"Kak maaf malam ini aku gak bisa ikut dinner keluarga. Aku ada urusan"
"Kamu ada acara apa sayang"
"Itu kafe yang dilombok ada masalah kak"
"Tapi bukannya kamu baru minggu kemarin ke lombok"
"Baru aja asisten aku nelpon kak kalau ada masalah disana"
"Ya sudah aku temani kamu ya sayang"
"Gak usah kak. Lagian nanti malam kakak ada dinner kan sama klien"
"Itu bisa digantikan papa sayang. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa"
"Gak usah kak. Aku gapapa kok beneran. Kakak datang aja ke acara dinner nanti malam"
"Bener gapapa"
"Iya bener"
"Berapa lama dilombok"
"Paling cepat tiga hari"
"Nanti aku susul kalau gak banyak kerjaan"
"Oke. Pulang yuk kak. Aku belum packing"
"Ya sudah yuk"
Ghaisan sebenarnya tau jika malika ke lombok karena saat ini arash sedang dilombok menjenguk icha. Ghaisan terpaksa memasang alat penyadap diponsel malika. Dia tau apa rencana malika saat di lombok nanti.
Arash akan menikah dua minggu lagi. Sebenarnya peenikahan arash masih tahun depan setelah icha wisuda. Namun arash akan pergi ke paris untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan milik papa bagas.
Malika berangkat ke lombok sore hari dengan diantar ghaisan ke bandara. Di bandara ghaisan langsung membeli tiket penerbangan ke lombok dua jam setelah malika pergi.
"Jika memang ini yang teebaik, aku sudah ikhlas mal. Semoga aku tak salah mengambil keputusan"
Ghaisan sudah memikirkan jalan terbaik untuk hubungannya dengan malika kedepannya. Ghaisan sudah lelah berjuang sendiri.
Dilombok malika memesan kamar hotel ditempat yang sama dengan arash. Walaupun dia tidak bisa satu lantai dengan kamar arash. Malika memang sudah memperhitungkan semuanya.
"Arash aku akan kembali berjuang. Aku tak rela kamu menikah dengan wanita lain. Bahkan mungkin wanita tak layak bersanding denganmu"
Malika melihat arash sedang menggandeng tangan icha keluar dari lobby hotel. Malika tau jika mereka akan melakukan preweed di suatu tempat. Malika tidak tau jika kehadirannya diketahui oleh chila dan bagas. Chila merasa curiga karena tiba-tiba malika dilombok dan tidak menyapa mereka dan kesannya sedang mengintai.
"Kenapa kak malika disini. Dimana kak ghaisan"
Chila mencoba mendekati malika, namun malika langsung pergi. Itu membuat chila semakin mencurigai malika. Chila berlalu mengejar arash dan icha.
Malika ingin memanfaatkan salah satu teman icha untuk menghancurkan kepercayaan arash kepada malika. Dia sudah menyusun rencana dengan sempurna.
"Loe malam ini jalanin apa yang gue minta. Ini bayaran loe. Jika berhasil gue tambah"
"Okay itu masalah gampang"
Ghaisan muncul disaat malika menyerahkan uang untuk orang suruhannya. Ghaisan harus segera mengakhiri ini semua.
"Apa yang kamu inginkan malika. Kenapa kamu melangkah begitu jauh. Tak bisakah kamu menghargai perasaanku. Apakah aku tak ada artinya dimatamu"
"Ka..kak"
"Kenapa kamu terkejut aku ada disini"
"Kak"
"Hentikan semua obsesimu itu malika. Jangan pernah kamu melukai siapapun Karena kamu sendiri juga akan terluka"
"Ini bukan obsesi. Ini cinta. Ya aku mencintai arash dan hanya arash"
"Itu bukan cinta malika. Berhentilah malika. Kamu sudah terlampau jauh"
"Aku tidak akan berhenti sebelum arash kembali lagi kepada ku"
"Obsesimu sudah terlalu jauh. Berhenti sebelum arash yang menghentika kamu dengan cara yang lebih menyakitkan"
"Arash mencintaiku. Dia tidak akan bisa menyakitiku. Dia sangat mencintaiku"
"Itu dulu. Dulu saat gue berjuang untuk hubungan kita. Dulu saat gue berharap memang kita berjodoh. Dulu saat hati gue hanya tertuju kepada loe. Tapi sesaat setelah loe tidak lagi percaya dengan gue. Saat itu juga gue tau jika loe bukan takdir gue. Loe bukan yang gue inginkan"
"Arash"
"Ya gue. Gue tau semua niat busuk loe. Bukan karena icha yang memberitahu dan jika bukan atas permintaan ichan loe uda lama gue singkirin. Selama ini gue diam bukan berarti takut. Dan gue juga pura-pura tidak tahu hanya untuk melihat apakah loe bisa sadar atau tidak. Ternyata tidak. Loe makin memuakkan. Sekarang gue terserah loe chan mau loe apakan manusia seperti ini"
Arash langsung pergi dari tempat itu sebelum icha mencarinya. Awalnya arash kembali ke hotel karena ponselnya tertinggal. Namun dia melihat ghaisan dan juga malika yang mencurigakan. Arash mengurungkan dirinya untuk mengambil ponselnya dan mengikuti ghaisan.
"Kamu sekarang sudah mendengar langsung dari arash"
"Arash gak mungkin seperti itu. Nggak. Dia gak kayak gitu"
"Sudah cukup malika. Akupun lelah. Aku menyerah. Sebaiknya untuk sementara waktu kita instropeksi diri dulu. Aku juga gak mau salah ambil langkah. Aku akan bicara kepada kedua orangtuaku. Barulah aku akan memutuskan kita harus bagaimana. Assalamualaikum"
Ghaisan pergi dengan kekecewaan. Lagi dan lagi. Malika tertunduk tak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menangis. Entah apa yang dia tangisi saat ini.
Ghaisan langsung kembali ke jakarta malam itu juga. Dia ingin menenangkan dirinya. Karena hubungan dirinya dan malika sudah melibatkan keluarga, mau tak mau ghaisan harus membicarakan semua ini kepada orangtuanya. Dan jika harus mengembalikan malika kepada keluarganya, ghaisan juga sudah siap untuk menemui keluarga malika.
Dua minggu sudah ghaisan menghilang. Ponsel pun ikut dia matikan. Malika terus berusaha mencari keberadaan ghaisan. Begitu juga kedua orangtua ghaisan yang bingung mencari keberadaan putranya. Apalagi pernikahan arash akan dilangsungkan besok pagi.
"Kakak dimana kamu. Sebencikah kamu padaku. Maafkan aku kak. Mungkin aku terlalu bodoh mengabaikanmu"
"Kakak pulanglah bukan demi aku tapi demi mama yang tengah sakit karena memikirkanmu kak"
"Kak pulanglah. Tolong pulang. Mama sakit kak"
Begitulah isi pesan malika untuk ghaisan. Malika terus mengirimi ghaisan pesan walaupun ghaisan mematikan ponselnya. Ghaisan saat ini sedang berada di Malaysia dirumah milik atuk syakir yang sudah lama tidak ditempati. Bahkan atuknya sendiri tidak tau jika cucunya ada disana.
"Maafkan ichan mah. Ichan akan kembali untuk mama. Mungkin berpisah adalah jalan terbaik untuk ichan. Maafkan ichan mah"
Ghaisan bersiap untuk pulang ke Jakarta. Dia sudah membeli tiket beberapa waktu yang lalu. Dia kembali untuk mamanya dan juga harus menghadiri pernikahan arash. Dia tak mau sepupunya kecewa. Dan pastinya menyelesaikan masalah antara dirinya dan malika.
Malika melihat warna biru dipesan ghaisan, dia langsung mencoba menghubungi ghaisan. Namun tak ada jawaban sama sekali. Keluarga malika, terutama mirza sudah lama curiga dengan hubungan adiknya. Namun malika selalu berkelit dan menutupi keadaan sesungguhnya.
Malam ini mirza dan shanum berkunjung ke rumah opanya yang sedang sakit. Opa sakit karena memikirkan malika. Beliau belum tenang jika malika belum menikah. Raga tuanya sudah tak sanggup untuk menunggu lebih lama.
"Dek boleh kakak bicara sebentar"
"Iya kak ada apa"
"Kita bicara ditaman. Biarkan opa istirahat"
"Iya kak"
Malika mengikuti mirza ke taman belakang. Malam ini juga mirza ingin kejujuran dari malika. Apalagi opanya berpesan kepada mirza untuk menjaga malika dan mendampingi malika menikah jika dia tiada sebelum malika menikah.
"Duduk dek"
"Iya kak"
"Kakak gak akan basa-basi lagi. Sekarang kamu jujur. Ada apa kamu dengan ghaisan. Dan kemana perginya ghaisan"
"Aku baik-baik saja kok kak. Kak ichan sedang ada kerjaan diluar negeri"
"Jangan bohong. Aku ini kembaran kamu dek. Aku saudara kamu satu-satunya. Kakak gak suka kamu bohong"
"Maafin malika kak. Malika salah"
Malika tak bisa lagi membendung air matanya. Dia menceritakan semua kepada mirza tanpa dikurangi ataupun dilebihkan. Mirza sangat marah dan kecewa kepada adiknya.
"Kamu keterlaluan malika. Kakak gak nyangka kamu setega itu dengan ichan. Dia mengorbankan kebahagiaannya demi bertunangan dengan kamu. Dia berusaha membuka hati untuk kamu. Dan seenak hati kamu menyakiti dia. Dimana otak kamu hah dimana. Memalukan. Apa gunanya kamu bersekplah tinggi tapi tak bisa membedakan mana obsesi dan cinta. Apa sih yang kamu pikirkan. Bahkan kamu tega ingin menghancurkan arash. Kamu lupa siapa yang membantu kita untuk bangkit lagi. Siapa. Jangan jadi kacang lupa kulitnya kamu. Kakak keceqa sama kamu"
Mirza yang murka langsung meluapkan semua emosi dalam hatinya. Shanum mendekati sang suami untuk ditenangkan. Shanum pun marah karena tanpa sengaja mendengar perkataan malika. Kedua sahabatnya dibuat hancur oleh adik iparnya.
"Kak maafkan malika. Malika ingin memperbaiki semuanya. Malika sadar setelah kak ichan pergi. Malika mencintai kak ichan kak"
"Terlambat. Mungkin saat ini akan sulit bagi kamu kembali mendapatkan hati ghaisan"
Mirza pergi meninggalkan malika yang terus menangis. Penyesalannya sangatlah terlambat. Perasaannya pun juga terlambat dia sadari. Malika hanya berdoa agar ghaisan masih mau memberikannya kesempatan.
Ghaisan yang sudah berada di jakarta langsung pulang ke rumah orangtuanya. Mama Qilla sudah dibawa pulang dari rumah sakit. Walaupun masih lemas, mama qilla tetap akan menghadiri acara pernikahan arash.
"Assalamualaikum mah"
"Waalaikumsalam. Ghaisan itu kamu nak"
Ghaisan langsung memeluk tubuh mamanya. Mereka sama-sama menangis. Papa ghaisan yang mendengar suara tangisan langsung berlari masuk kekamarnya. Begitu leganya perasaan papa ghaisan melihat sang putra kembali.
"Ichan"
"Papa"
"Kamu baik-baik saja boy"
"Alhamdulillah. Maafkan ichan pah mah. Ichan menghilang tanpa kabar. Ichan membuat mama sakit. Maafkan ichan"
"Nggak sayang. Mama gapapa. Asal kamu baik-baik saja mama sudah senang nak"
"Makasih mah"
"Kamu kemana nak dua minggu ini"
"Dirumah atuk mah"
"Tapi atuk bilang kamu tidak disana"
"Ichan tinggal dirumah ambu didusun"
"Pantaslah tak ketemu. Rumah itu lama tak ditempati"
Setelah melepas rindu, ghaisan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sebagai seorang ayah, papa ghaisan tau ada yang disembunyikan oleh putranya.
"Ceritakan sama papa boy semuanya. Karena papa yakin kamu tak baik-baik saja kan"
"Hehe papa uda kayak cenayang aja"
"Udah gak usah alihin pembicaraan. Sekarang ceritakan semuanya"
Ghaisan memang butuh pendapat papanya. Dia tak ingin mengecewakan orangtuanya dengan membuat keputusan sendiri. Orangtua mana yang tidak sakit hatinya mendengar buah hatinya diperlakukan tidak baik. Kekecewaan papa ghaisan sangat jelas terlihat.
"Sekarang apa yang kamu inginkan boy"
"Ichan ingin mengakhiri ini semua pah"
"Papa setuju. Tapi kamu lihat kondisi mama. Mama pasti akan sangat sedih"
"Apa ghaisan tetap bertahan pah demi mama"
"Tidak. Papa tidak setuju. Yang akan menjalani nantinya itu kamu bukan papa atau mama. Jangan kamu korbankan perasaan kamu demi kami. Kamu juga harus bahagia boy"
"Tapi mama gimana pah"
"Papa yang akan bicara kepada mama. Papa yakin mama juga akan setuju dengan keputusan kamu nak"
"Terimakasih pah"
"Sama-sama. Sebaiknya segeralah kamu menemui keluarga malika dan membicarakan semuanya dengan baik-baik"
"Iya pah. Setelah pernikahan arash, Ichan akan menemui keluarga malika"
"Istirahatlah nak. Tenangkan pikiran kamu. Memintalah petunjuk pada sang pencipta. Kami selalu mendukungmu nak"
"Makasih pah"
Ghaisan sangat lelah. Dia terlelap begitu cepat. Dan esok pagi mau tak mau dia harus berjalan beriringan dengan malika sebagai pengiring pengantin arash.
Pagi sekali malika sudah berangkata kerumah orangtua arash untuk dirias. Dia sudah pasrah jika ghaisan tak akan muncul diacara peenikahan arash. Dia sudah ikhlas untuk disalahkan. Dengan gontai malika melangkahkan kakinya memasuki kediaman malik. Didalam sudah ramai para sanak saudara arash.
Malika terkejut melihat ghaisan sudah berada disana. Antara senang dan sedih itulah yang dirasa malika. Dia sedih karena tatapan ghaisan yang sudah berubah. Dia sedih karena membuat ghaisan kecewa.
"Kak"
"Apa kabar"
"Baik"
"Kakak"
"Seperti yang kamu lihat"
"Kak"
"Tolong beraktinglah didepan semua bahwa kita baik-baik saja"
Malika kaget mendengar perkataan ghaisan. Rasanya sakit sekali ghaisan memintanya untuk berakting. Dari tatapan malika kepadanya, ghaisan langsung menjawab.
"Anggap ini permintaan terakhirku kepadamu. Aku akan segera menemui keluargamu untuk memberi keputusan. Jadi aku mohon untuk satu hari ini saja berpura-puralah"
"Baik jika itu membuat kakak senang"
Ghaisan tau malika terluka. Tapi kini dia sudah tak begitu memperdulikannya. Dia tidak akan luluh lagi dengan tatapan malika.
Akting itulah yang mereka sedang lakukan saat ini. Senyum, canda, tawa semua hanya palsu. Batin malika memberontak tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mengikuti alurnya. Entah apa yang akan terjadi nantinya. Malika ikhlas.
"Iya aku akan ikut kamu ke jerman sayang"
"Benarkah. Aku tak salah dengar kan"
"Tidak"
"Kalau begitu kita akan menikah sebelum kita berangkat sayang. Bagaimana"
"Aku mau"
"Terimakasih sayang"
Ghaisan mengecup punggung tangan malika. Malika ingin menangis namun sekuat hati dia menahannya dengan menebar senyuman palsunya.
"Kak ini begitu menyakitkan. Kenapa harus seperti ini kak. Kenapa kak"
Ghaisan mengatakan itu karena dia sedang berada diantara keluarga malika dan mamanya. Bahkan mirza yang mendengar perkataan ghaisan sangatlah bahagia. Dia mengira ghaisan sudah memaafkan adiknya.
Sehari semalam malika menjadi artis dadakan. Bak cinderella tepat tengah malam acara usai, malika menangis meluapkan semua rasa dihatinya. Dia menahan selama acara pernikahan arash berlangsung.
"Caramu membalasku begitu menyakitkan kak"
Apa yang dikatakan ghaisan kepada papanya benar dia jalankan. Dia datang ke rumah opa malika ingin membicarakan masalah pertunangannya. Namun semua tak sesuai rencana. Opa malika dilarikan ke rumah sakit. Mau tak mau ghaisan harus kembali berakting.
Opa malika meminta ghaisan untuk segera menikahi malika. Karena tak ingin memperburuk suasana, ghaisan harus bisa mengulur waktu. Dengan beralasan jika ghaisan harus segera berangkat ke jerman, dan juga tak mungkin mengurus administrasi pernikahan dalam waktu sehari. Itu cukup meyakinkan opa malika untuk mengundur pernikahan.
Tiba saatnya ghaisan berangkat ke jerman. Malika sengaja diajak sebagai alibi saja agar keluarganya percaya. Selama di jerman mereka tinggal satu gedung apartemen namun berbeda unit.
Ghaisan seperti tak memperdulikan keberadaan malika disana. Apapun yang dilakukan malika dia tak pernah ikut campur. Ghaisan bahkan tak pernah mampir sekedar menyapa malika.
Melihat ghaisan mengacuhkannya, malika berusaha tegar. Di jerman dia mencari tempat untuk kursus agar ada kegiatan. Malika memang hanya akan tinggal tiga bulan di jerman.
Siang itu saat malika sedang berada disebuah kafe, tak sengaja dia melihat ghaisan bersama seorang wanita. Mereka begitu akrab dan bersenda gurau bersama. Malika menyoba menyapa ghaisan. Namun ghaisan mengabaikannya bahkan mengatakan jika ghaisan tak mengenal malika.
Malika berlalu pergi. Dia terus berjalan menenangkan pikirannya. Tanpa sengaja malika bertemu sahabatnya saat sekolah dulu. Dia menceritakan semuanya. Sahabat malika merasa iba. Dia bahkan meminta malika untuk tinggal dirumahnya saja. Agar lebih tenang. Malika pun setuju.
Malika sudah berdiri didepan unit apartemen ghaisan dengan membawa kopernya. Dia hanya ingin berpamitan kepada ghaisan. Dan mengembalikan semua fasilitas yang diberikan ghaisan selama di jerman.
Ting tong
Malika memencet bel apartemen milik ghaisan beberapa kali. Karena tak kunjung juga dibukakan, malika meninggalkan sebuah pesan diatas kertas yang dia sisipkan dibawah pintu apartemen ghaisan. Malika berlalu pergi meninggalkab apartemen itu.
Ghaisan yang baru kembali dari kantor, langsung masuk kedalam apartemennya. Hari ini dia terpaksa lembur karena pekerjaan yang begitu banyak. Tanpa sengaja ghaisan menginjak kertas dari malika. Ghaisan mengambil dan membacanya.
Assalamualaikum kak
Malika pamit ya. Malika gak akan ganggu kakak lagi. Mungkin jodoh kita hanya sampai disini. Malika meminta maaf atas kebodohan malika saat itu. Malika doakan kakak bahagia dan bertemu orang yang tepat. Oya cincin dari kakak malika tinggal dikamar. Tadinya ingin malika kembalikan langsung tapi sepertinya kakak belum pulang. Terimakasih kak dan maaf. Malika pergi. Assalamualaikum.
Ghaisan meletakkan kembali kertas itu dimeja. Dia sedang mengingat kejadian siang tadi. Sedikit rasa bersalah terlintas dibenak ghaisan. Namun itu hanya sesaat. Ghaisan mengikhlaskan kepergian malika. Mungkin ini jalan terbaik. Ghaisan mengira malika kembali ke Indonesia. Sehingga dia tidak begitu mengkhawatirkannya. Ghaisan pergi ke unit apartemen malika untuk mengambil cincin. Entah mengapa ghaisan merasa harus mengambil cincin itu.
Tujuh bulan sudah berlalu. Baik ghaisan maupun malika tak saling bertukar kabar. Ghaisan menerima kabar jika icha akan segera melahirkan. Ghaisan berjanji akan kembali saat anak arash telah lahir.
Hari ini ghaisan akan berkunjung ke lapangan untuk meninjau hasil kerja para karyawannya. Ghaisan asyik melihat hasil bangunan yang sedikit lagi akan selesai. Karena lelah, ghaisan memutuskan pergi ke kafe diseberang tempat bekerjanya. Ghaisan didatangi seorang pelayan. Ghaisa sangat terkejut melihat pelayan itu adalah malika.
Ghaisan bertanya kepada malika tentang keberadaannya selama ini. Malika menjelaskan semuanya. Dan alasan dia bekerja dikafe karena mengisi kekosongan hingga berakhirnya visa kunjungannya ke jerman. Ghaisan meminta malika kembali ke apartemennya. Namun malika menolak. Malika hanya berjanji akan pulang bersama ghaisan dan menyelesaikan semuanya.
Waktu yang ditunggu tiba. Malika kembali dengan ghaisan ke indonesia. Dan mereka telah sepakat akan memutuskan pertungan mereka secepatnya. Hal itu membuat kedua belah pihak keluarga kecewa. Namun mereka tak bisa memaksakan perasaan keduanya.
Saat berkumpul dirumah arash. Ghaisan juga memberitahu kepada para sahabatnya itu jika dia dan malika hanya sekedar teman mulai saat itu. Bahkan ghaisan menambahkan. Jika memang pada akhirnya dia berjodoh lagi dengan malika dia juga tidak akan menolak. Tapi untuk saat ini dia hanya ingin berteman.
Memang kehidupan adalah rahasia sang illahi. Kita hanya menjalaninya. Siapa yang akan menjadi jodoh kita. Kita pun tak tau. Yakinlah orang baik akan mendapat jodog yang baik pula.
________
End ya kisah bang ichan.. Next bang ghaydan mencari jodoh....
Jangan lupa jempol
Happy reading