RashSya Story

RashSya Story
Devin~CLBK 13



Proses akuisisi perusahaan Adiwiyata menjadi berita yang sangat menggemparkan. Beberapa pengusaha yang sudah sejak lama mengincar perusahaan tersebut merasa kecewa karena ZM group yang berhasil memperoleh hak perusahaan tersebut. Sakti yang mendengar perusahaan milik keluarganya sudah diakuisisi pihak lain, langsung meluapkan memarahannya kepada Rosa.


"Sayang. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu"


"Apa kak"


"Tapi aku minta kamu jangan takut. Ini semua demi kebaikan bersama"


"Iya kak"


Devin menjelaskan rencana yang disusunnya bersama Arash dan Papa Sakti. Pak Adiwiyata juga ikut membantu dalam masalah ini. Dia ingin anaknya bisa disembuhkan. Atau setidaknya tidak lagi terobsesi kepada Tisya dan bisa menerima Rosa.


"Kak. Yakin semua akan berhasil"


"Insyaallah sayang. Sekarang kakak minta kesiapan mental kamu saja"


"Insyaallah Tisya siap kak. Tisya juga tidak mau terus dikejar oleh masa lalu yang kelam"


Karena Tisya sudah setuju, Devin pun langsung mempersiapkan semua. Jay juga ikut andil membantu keponakannya itu.


"Dad kapan kita akan mulai rencananya"


"Sebaiknya besok pagi kita mulai jalankan Dev. Kamu jangan lagi menjemput Tisya. Tapi pengawalan tetap ada"


"Benar kata Daddy bang. Jangan sampai Sakti curiga dengan rencana kita bang"


"Gue tau rash. Gue cuma sedikit khawatir saja dengan tisya"


"Tisya pasti akan baik-baik saja bang"


Selepas mengantar Tisya, Devin langsung menuju rumah Jay. Rasa khawatir yang begitu dalam membuat Devin menjadi gusar. Kedua orangtua Devin sudah diberitahu tentang rencana ini. Mereka pun ikut mendukung. Melawan orang dengan penyakit jiwa tidak bisa dengan kekerasan. Namun akal sehat kitalah yang berjalan.


Pagi pertama rencana mulai dijalankan. Sebelum keluar rumah, Tisya berusaha menenangkan diri agar semua terlihat normal. Beruntung bunda tidak diberitahu. Bunda mudah panik sehingga mereka takut rencana akan gagal. Tisya berangkat menggunakan motornya. Dan benar saja, mobil yang terus memantau Tisya langsung bergerak mengikuti Tisya.


Dalam hati Tisya sangat takut. Namun sebisa mungkin Devin menenangkan Tisya. Mereka tersambung dalam panggilan telepon menggunakan headset. Anak buah Devin juga menjaga Tisya dengan jarak aman. Bukan hanya satu dua orang. Devin mengutus lima orang menjaga rumah Tisya saat Tisya bekerja. Dan lima lagi menjaga kemanapun Tisya pergi.


Setibanya dikantor, Tisya merasa lega. Dia bergegas masuk kedalam toilet untuk menenangkan diri. Devin langsung menarik Tisya keruangannya saat mereka bertemu dilorong.


"Tenang sayang. Aku selalu menjagamu"


"Kak. Jujur aku takut sekali. Sakti orangnya sangat nekad"


"Kita lihat beberapa hari kedepan sayang. Karena aku yakin untuk saat ini dia masih belum berniat untuk menyerang. Tapi kita tetap waspada"


"Iya kak"


Dalam pelukan Devin, Tisya merasa tenang. Bebannya sedikit berkurang. Rasa takut pun berangsur menghilang. Dalam hati Tisya bersyukur mendapatkan orang seperti Devin.


Selama tiga hari, kondisi masih aman. Namun mereka tetap waspada. Tak boleh lengah sedetik saja. Devin mendapat kabar dari orang yang dimintanya mengawasi sakti. Sakti malam ini akan melaksanakan aksinya.


Devin langsung menyusun rencana. Tepat dugaan Devin dan Arash, Sakti sedang mengamati kebiasaan Tisya. Setiap dua hari sekali Tisya memang akan pergi ke supermarket yang jaraknya memang sedikit jauh dari rumahnya untuk membeli bahan-bahan makanan. Dan itu Tisya lakukan dimalam hari.


"Dev. Sudah siap"


"Sudah dad. Jebakan kita sudah standby"


"Bagus. Pastikan tidak ada kesalahan. Taruh beberapa orangmu didalam supermarket. Daddy yakin anak buah Sakti akan ikut masuk mengawasi. Jangan sampai dia tahu jika kita sedang menjebaknya"


"Iya dad"


"Posisi kamu dimana sekarang Dev"


"Devin didekat rumah Pak Adiwiyata. Arash dan Arsya yang akan menjaga Tisya"


"Kamu sendiri"


"Tidak dad. Ada anak buah dan sahabat Tisya"


"Bagus. Daddy dan Pak Adiwiyata akan segera menyusul. Bismillah semoga kita berhasil"


"Aamiin dad"


Devin bersama Reza memilih mengawasi kediaman Adiwiyata. Hampir satu jam Devin dan Reza mengawasi, namun mobil Sakti belum juga bergerak. Tak lama Devin mendapat pesan dari Arash.


"Rencana berhasil bang. Umpan kita sudah diambil. Kita bertemu ditempat sesuai rencana saja"


"Aman sesuai rencana"


Kini Devin tinggal menunggu Sakti keluar dan menemui Tisya. Benar saja hanya berselang sepuluh menit dari pesan Arash, mobil Sakti bergerak keluar. Devin berusaha mengikuti tanpa sakti merasa curiga.


"Dev. Loe yakin bisa"


"Bismillahirrah Za. Hanya ini yang bisa kita lakukan. Semoga saja kita tepat waktu"


"Tis. Semoga loe baik-baik saja"


Disaat Devin mengikuti mobil sakti, bunda gelisah karena Tisya tak kunjung pulang. Bahkan bunda mencoba mencari Tisya dengan bantuan dari tetangganya. Saat melintasi jalan yang cukup sepi, mereka menemukan motor Tisya tergeletak disana.


"Tisya. Kamu dimana nak. Ya Allah"


"Sabar Tan. Kita coba tanya dulu sama orang ronda disana. Mungkin tahu"


"Iya Ri"


Bunda dan Ria anak tetangga Tisya mencoba bertanya kepada beberapa orang yang sedang meronda. Namun mereka menjawab tak mengetahui apa-apa. Bunda semakin panik. Dan menangis histeris. Apalagi kondisi motor Tisya yang tergeletak ditepi jalan dengan tas belanja yang sudah berhamburan isinya.


"Tante coba telepon tunangan Tisya. Mungkin bisa membantu"


"Iya nak"


Dengan bantuan beberapa orang, motor Tisya bisa dibawa pulang. Bunda terus saja menangis. Sesampainya dirumah, Bunda mencoba menghubungi Devin dan memberitahukan tentang kondisi Tisya. Devin berpura-pura panik dan akan mencari Tisya.


.


.


Disebuah rumah kecil jauh dari kota, seorang perempuan cantik sedang terbujur didalam kamar dengan kaki dan tangan terikat. Mata dan mulut juga ditutup. Atas permintaan sang bos, kamar tersebut sengaja dibuat gelap. Perempuan tersebut ketakutan. Dia berusaha meronta hingga lelah. Sakti masuk kedalam kamar tersebut.


"Sayang akhirnya aku bisa mengambil kamu dari tangan tunangan bodohmu itu. Hahaha"


"Emphhhh"


"Apa. Kamu bilang apa. Hahaha. Minta dilepaskan. Tidak semudah itu sayang. Dan malam ini kamu akan menjadi milikku sebelum kamu menikah dengan tunanganmu itu. Itupun jika dia masih menerimamu yang sudah tak utuh lagi. Hahaha"


"Emphhhh emphhhh"


"Kamu sudah tidak sabar. Baiklah kita mulai saja malam panas ini sayang. Aku sudah lama menahan ini semua. Dan malam ini terima hukumanmu itu sayang. Tak akan ada yang bisa menolongmu. Bahkan tunanganmu sekalipun. Hahaha. Kita mulai saja"


"Empphh. Emphhhh"


Perempuan tersebut masih berusaha meronta dan ingin melepaskan diri. Namun sayang usahanya sia-sia. Sakti mulai melancarkan aksinya. Dia mencumbu tiap sudut wajah dan tubuh gadisnya tanpa membuka penutup mata tawanannya. Setelah merasa cukup puas, sakti langsung melesatkan senjatanya kepada gadis tersebut.


"Nikmatilah sayang. Malam ini kamu harus memuaskanku. Ohhhhhh"


"Emppph"


Tetesan air mata yang tak bisa dilihat sakti mengalir di pipi gadis tersebut. Antara sakit dan nikmat bercampur menjadi satu. Hatinya pun juga tersakiti.


"Ohhhhhh. Ternyata kamu masih virgin sayang. Nikmat sekali. Uhhhhh"


Sakti terus memacu dengan kasar. Dia tak peduli apakah lawannya merasa sakit atau tidak. Baginya hanya kepuasan yang ingin dia raih.


"Ohhhhhh. Nikmat. Sayanggggh"


Semua hasrat sakti sudah terpenuhi. Sakti mengambil celananya dan memakainya. Dia berjalan untuk menghidupkan lampu kamar. Dan akan mengirim gambar kondisi Tisya saat ini kepada tunangannya.


"Karena kamu benar-benar nikmat dan membuatku ketagihan. Rasanya tak rela membagi mu dengan yang lain. Sorry aku ingkari janjiku"


Sakti menyalakan lampu kamar. Dan berbalik menatap kearah ranjang yang berantakan dan menatap lekat tubuh wanita yang baru saja dia rebut kesuciannya. Tubuh wanita itu tak ditutup sehelai benang ataupun selimut.


"Oh shitt"


_________


Jangan ngamuk dulu ya...ini belum berakhir 😂😂😂


Jangan lupa jempolnya


Happy Reading