RashSya Story

RashSya Story
Mr Jutek (Ghaisan Story)



"Chan. Gue tau loe sedih banget. Tapi loe juga harus bangkit. Arumi pasti sembuh"


"Tapi kapan rash. Bahkan membuka mata saja dia enggan. Sampai sekarang gue bingung, apa ada yang salah dengan gue. Sampai berkali-kali gue ngalamin hal yang seperti ini"


"Karena loe istimewa. Dan loe kuat. Jadi sekarang loe harus semangat. Dan buat Arumi semangat untuk membuka mata. Jangan sampai loe menyerah Chan. Ingat kedua orangtua Arumi juga sedang berjuang untuk Aruna"


Ghaisan menoleh kearah Arash. Mendengar perkataan Arash, Ghaisan baru teringat jika Aruna juga mengalami hal yang sama. Bahkan Ghaisan belum mendengar kabar Aruna hingga saat ini. Karena dia terfokus pada Arumi saja.


"Bagiamana keadaan Aruna rash"


"Aruna sempat tersadar dua hari yang lalu. Namun sekarang kembali koma. Jantungnya mulai melemah kembali pagi ini. Kecelakaan kemarin memang mengenai jantung Aruna"


Ghaisan mengusap wajahnya secara kasar. Bahkan dia baru mendengar kabar dari calon adik iparnya saat sudah kembali koma. Arash mencoba mengingatkan Ghaisan mengenai pernikahannya dengan Arumi yang tinggal sebentar lagi. Sesuai arahan papanya. Arash berkata secara perlahan.


"Chan. Pernikahan kalian kurang dari seminggu lagi. Dan Arumi masih belum sadar. Apa mungkin harus dibatalkan. Dan undangan sudah tersebar sebelum Arumi kecelakaan"


Setelah satu Minggu ini Ghaisan sama sekali seperti patung namun bernyawa. Dia terus menerus menunggui Arumi bahkan urusan perusahaan dipegang oleh Azzam. Dan baru kali ini Arash kembali mendengar suara Ghaisan.


Dan baru kali ini juga Arash berhasil menarik Ghaisan keluar dari ruangan ICU. Sebelumnya kedua orangtua Arumi dan Ghaisan sepakat akan menunda pernikahan keduanya. Dan menunggu Arumi tersadar. Berkat usulan Jay, mereka akhirnya mencoba berbicara kepada Ghaisan. Jay meminta agar mereka mendengar apa pendapat Ghaisan. Karena jika kedua orangtua langsung memutuskan, bisa jadi itu bukan keputusan yang bijak.


"Chan. Kami bukannya tidak sadar akan kondisi loe. Bagi kami tak masalah untuk menunda waktu pernikahan kalian. Tapi kami juga gak mau ambil keputusan sebelum Bertanya sama loe"


Ghaisan menatap cincin pertunangan yang masih melingkar manis dijarinya. Ghaisan menatap lurus namun kosong. Dia lalu menghela nafas panjang dan dalam.


"Gue tetap akan menikahi Arumi sesuai tanggal didalam undangan itu"


"Loe yakin Chan"


"Iya rash. Mungkin setelah sah menjadi istri gue, dia akan terbangun. Kalaupun dia belum mau bangun juga, gue akan tetap menunggu hingga dia bangun. Dan gue akan bilang kalau dia sekarang istri gue"


Pedih, itu yang dirasakan dalam hati Arash. Begitu menyakitkan kisah keduanya. Namun Arash berusaha terus menyemangati Ghaisan.


"Ya loe benar. Pernikahan tetap akan sah walaupun tanpa kehadiran Arumi. Karena kalian sudah memenuhi syarat sah dalam pernikahan"


"Hem"


"Loe mau pindahin lokasi akad kesini"


"Gak. Tetap sesuai undangan. Tolong jangan ada yang dirubah satupun. Termasuk pestanya"


"Hmm. Gue paham"


"Gue mau balik ke tempat Arumi. Gue takut kalau dia sadar gak ada gue"


"Oh. Oke. Ayo"


Mereka meninggalkan taman rumah sakit. Dan berjalan keruangan ICU. Melihat Arash dan Ghaisan datang, Syaqilla langsung memeluk tubuh putra pertamanya itu. Ghaisan nampak kurus.


"Abang. Abang harus kuat ya. Mama ada disini menemani kamu"


"Iya mah. Ichan mau masuk dulu"


"Abang makan dulu ya"


"Sudah tadi"


"Bang.."


"Maaf mah, Ichan mau masuk"


Ghaisan melepaskan perlahan pelukan Syaqilla dan berjalan masuk kembali kedalam kamar Arumi. Azzam dan Naomi yang melihat kondisi Abang mereka turut sedih. Ghaisan berjalan dengan sedikit gontai kedalam kamar Arumi.


Jay mendekati Arash. Arash yang sudah paham langsung menjelaskan apa saja yang tadi mereka bicarakan. Bahkan Syamil dan Syaqilla pun ikut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arash. Seketika Syaqilla menangis tersedu didalam pelukan Syamil.


"Mah. Abang sendiri yang memutuskan seperti itu mah. Sudah pasti Abang tau apa yang terbaik. Kita hanya perlu mendukungnya mah"


"Pah.."


"Sudah ya mah. Kita berdoa saja semoga semua akan segera baik-baik saja"


Syaqilla semakin tersendu. Syamil meminta Naomi menjaga mamanya. Syamil harus segera memberitahukan keputusan yang sudah diambil oleh Ghaisan. Syamil ditemani oleh Jay menemui Pak Wijaya diruangan lain.


Pak Wijaya keluar menemui papa Ghaisan dan Jay. Mereka memilih berbincang di kafetaria rumah sakit.


"Bagaimana kondisi Runa pak"


"Belum stabil"


"Maaf kami belum menjenguk Runa"


"Saya yang harusnya meminta maaf. Karena kalian sudah dengan ikhlas menjaga Arumi. Kami belum bisa meninggalkan Aruna"


"Arumi sudah menjadi putri dikeluarga kami pak Wijaya. Jadi tak perlu sungkan"


Mereka berbincang sambil menikmati secangkir kopi. Perusahaan pak Wijaya sementara ini ditangani oleh keluarga Malik. Karena dikeluarga Arumi, tidak ada yang bisa menangani perusahaan pak Wijaya. Arsya menawarkan diri untuk membantu menangawasi perusahaan milik keluarga Arumi.


"Kami mau membicarakan masalah pernikahan Ghaisan dan Arumi"


"Oh iya. Saya hampir lupa. Bagaimana. Apa Ghaisan setuju menundanya"


"Sebaliknya. Ghaisan sudah memutuskan akan tetap menikahi Arumi sesuai kesepakatan sebelumnya dan sesuai dengan undangan yang telah tersebar"


"Apa Ghaisan sudah yakin"


"Sangat yakin. Dan kami sudah menyetujui dan mendukung keputusan Ghaisan"


"Ah. Baiklah jika memang Ghaisan sudah berkata demikian dan keluarga juga setuju. Kami juga akan merestui keputusan Ghaisan"


"Alhamdulillah. Jadi semua tetap berjalan sesuai rencana ya pak. Saya akan meminta wedding organizer untuk melanjutkan persiapan yang belum selesai"


"Ya benar. Semua sesuai yang sudah direncanakan"


Usai menikmati kopi, mereka kembali keruangan Arumi dan Aruna. Pak Wijaya menyempatkan diri mengunjungi Arumi. Mereka bukan tidak menyayangi Arumi, namun atas permintaan keluarga Ghaisanlah mereka menjaga Aruna. Pak Wijaya langsung masuk setelah Ghaisan keluar.


"Sayang. Apa kabar nak. Maafkan papa dan mama yang tidak selalu berada disamping kamu nak. Kami yakin kamu pasti paham. Kamu anak yang kuat. Ayo sembuh nak. Oya papa ada kabar baik. Mungkin Ghaisan sudah mengatakan lebih dulu. Tapi papa juga ingin mengatakannya"


"Sayang. Kamu tetap akan menikah ditanggal yang kamu inginkan. Papa bahagia nak. Ghaisan begitu menyayangi kamu. Jadi cepat bangun sayang. Datanglah kelestarian pernikahan kamu"


Pak Wijaya meneteskan air matanya. Arumi pun sama. Dia merespon dengan meneteskan air mata. Pak Wijaya sengaja tidak memberitahukan kondisi Runa yang sebenarnya kepada Arumi, agar kondisi Arumi tidak kembali menurun.


"Oya. Aruna sudah semakin membaik. Jadi kamu juga harus membaik juga ya sayang. Maaf papa gak bisa lama menemani kamu nak. Mama masih belum bisa tinggal sendiri bersama Runa. Kamu beruntung nak mendapatkan keluarga baru yang sangat baik dan sayang kepadamu. Bahkan disaat kamu belum resmi menjadi keluarga mereka"


"Kuat ya sayang...Ayo bangun sayang"


Pak Wijaya memberikan kecupan didahi sang putri sebelum meninggalkan kamar Arumi. Air mata yang masih mengalir berusaha beliau hapus. Dan berjalan keluar menemui sang calon menantu. Ghaisan mendapat pelukan dari pak Wijaya.


"Tolong jaga Arumi nak. Papa percaya sama kamu"


______


Hmmm..siapa yang bilang dakocan gak jadi nikah.....


Jangan lupa jempolnya gaesss


Happy reading