RashSya Story

RashSya Story
RashSya~Gadis Ceroboh



Seperti biasa Arash berangkat kerja dengan gaya coolnya walaupun bersikap dia bersikap seperti itu tetap menarik hati wanita untuk mendekatinya... Arash berjalan menuju lift dan ikut mengantri..kini giliran Arash masuk kedalam lift bersama beberapa karyawannya


Pagi ini Annisa dan Aditya mendapat tugas yang lumayan banyak dari Daffa bahkan Annisa sempat mengumpati Daffa yang memiliki sifat yak jauh beda dengan Arash


"Huh yang satu kayak kulkas satunya singa"


"Loe kenapa sih Cha ngomel melulu"


"Gimana gak ngomel kak... pagi-pagi tuh singa udah nunjukin gigi taring kuningnya"


"Pak Daffa maksud loe"


"Lah siapa lagi coba"


"Hahaha loe itu bisa ae Cha denger orangnya baru tau rasa loe Cha"


"Hehe"


Annisa yang masih mengerjakan perintah Daffa membuat rangkuman masalah dari beberapa perusahaan yang mengajukan kerjasama....kini merasa bosan...dia pun mengambil kertas kosong dan mulai menggambar dikertas itu


"Annisa"


Mendengar namanya dipanggilnya Annisa lalu berjalan menuju ruangan Daffa


"Bapak memanggil saya"


"Hmmm...tolong kamu antar hasil rangkuman kamu dari tiga perusahaan ini kepada pak Arash...beliau menunggu"


"Oh baik pak..."


Annisa maju mengambil kertas yang disodorkan oleh Daffa tanpa Daffa menatapnya...setelah itu dia kembali ke mejanya dan menyiapkan rangkuman yang diminta beruntung sudah selesai


"Kenapa Cha"


"Disuruh keruangan mesin pendingin alias kulkas..doain gue ya kak keluar dengan selamat"


"Huft...kamu Cha uda gila kaya mau perang aja"


Aditya berusaha menahan tawanya karena takut akan kena ceramah oleh Daffa


"Emang gue mau perang kak...perang mencairkan gunung es"


"Berdoa dulu Cha"


"Oiya lupa... bismillah ya Allah lindungilah Icha yang cantik imut ini dari amukan gunung es.. aamiin"


"Cha...Sono buruan pergi eh malah pake sujud segala...plis jangan gila disini Cha...Gue gak kuat nahan tawa ini"


"Yaelah kak ketawa aja kali...ditahan malah jadi kentut...kalau cuma angin doang yang keluar gak masalah...nah kalau ampasnya ikut keluar gimana"


"Ichaaaa"


Aditya menahan tawa dan suaranya agar tidak didengar Daffa..dan menatap Annisa dengan tajam


"Ok ok....gue pergi dulu kak...jangan rindu ya...kalau rindu sebut nama gue tiga kali sambil goyang pantat gaya bebek...gue gak bakalan datang tapi pak Daffa yang datang"


"Ichaa"


Annisa langsung keluar dari ruangannya karena Aditya sudah sedikit menekan nada bicaranya...Annisa mengetuk ruangan Arash dengan membawa tiga map dan satu map ringkasan


tok tok


"Masuk"


"Permisi pak saya mau mengantar ringkasan yang bapak inginkan"


"Hmmm...taruh saja dimeja sana"


Arash tidak melihat kearah Annisa dan memukul meja didepan sofa menggunakan wajahnya yang dimajukan


"Baik pak...ada yang masih bisa saya bantu"


"Tidak kembalilah"


"Baik pak... permisi"


"Hmm"


Annisa keluar ruangan Arash sambil mundur bahkan membuka pintu pun juga tak membalikkan tubuhnya...


Bugh


"Aduh"


"Innalillahi wa innaillaihi rojiun"


"Heh siapa yang koit"


"Bapak...eh maaf"


"Loe ngatain gue koit...berani bener loe ya"


"Maaf pak maaf saya gak sengaja dan gak bermaksud seperti itu"


Arash yang mendengar keributan dari depan ruangannya yang masih terbuka pintunya langsung keluar


"Ada apa ini"


"Rash..dia siapa sih"


"Anak magang...Loe kenapa Tha dlosoran didepan ruangan gue lagi belajar jadi gelandangan loe"


Annisa tertawa menangis perkataan Arash kepada Ghaydan karena Ghaydan masih saja duduk dan belum beranjak dari tempatnya


"Sialan mulut loe itu yak...Gue nyungsep gara-gara nih cewek...mundur gak pake lampu sein"


"Eh maaf pak saya kan manusia bukan motor mana punya lampu sein"


"Uda tau manusia kenapa jalan pake mundur segala..."


Belum sempat Annisa menjawab perkataan Ghaydan...Arash sudah menyuruhnya kembali keruangan


"Kamu kembali keruangan"


"Baik pak"


Annisa pergi meninggalkan Ghaydan yang masih jengkel...Arash menarik Ghaydan kedalam ruangannya


"Loe kenapa sih Tha sewot aja"


"Kesel gue ma anak buah loe Rash bisa ya dia jalan mundur terus gak pake nengok ke belakang"


"Hahaha...Gak tau juga gue Tha...tapi sepertinya bukan itu masalah loe"


"Gue mau ke Perancis Rash....nyusul Opa sama Oma"


"Loe uda pikirkan lagi keputusan loe itu...takutnya ntar loe nyesel nanti"


"Papi gak mau dengar omongan gue tentang Gisel"


"Menurut gue loe sebaiknya cari cara buat tunjukkin sifat asli si Gisel ke papi Tian...tanpa loe harus capek-capek ngomong"


"Emang loe bisa mikir"


"Sialan loe rash"


"Hahaha"


Arash yang berbicara sambil melihat hasil kerja Annisa langsung berhenti tertawa dan wajahnya berubah menjadi masam


"Loe kenapa Rash"


Arash mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Daffa meminta Annisa keruangannya...Daffa heran mengapa Arash kembali memanggil Annisa bahkan nada suaranya terdengar kesal


"Annisa"


Annisa masuk keruangan Daffa


"Iya pak"


"Cepat kamu keruangan pak Arash sekarang juga"


"Saya pak"


"Iyalah masak Aditya..kan kamu yang saya panggil"


Daffa mulai sedikit kesal


"Iya pak iya jangan marah-marah...cepat tua nanti"


"Eh berani ya kamu ngatain saya"


"Maaf pak...saya permisi"


Annisa langsung berlari menuju ruangan Arash melewati Aditya yang hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala...karena kelakuan partnernya yang absurd


"Permisi pak...bapak memanggil saya"


Arash masih tampak kesal dan merebut kertas yang masih dipegang oleh Ghaydan dan melemparkan keatas meja


"Ini maksudnya apa"


Annisa melihat kearah kertas itu dan langsung pucat bahkan hanya bisa menunduk.. sedangkan Ghaydan terkikik geli


"Anu pak itu anu"


"Anu apa"


"Anu bapaklah masa anu saya...ups..Ya Allah ni mulut"


Ghaydan pun meledakkan tawanya yang sudah dia tahan dari tadi melihat muka polos Annisa yang melawan Arash


"Kamu bilang apa tadi"


"Nggak pak...saya gak ngomong apa-apa"


"Ya sudah sekarang jelaskan maksud dari gambar itu"


Annisa bergumam pelan namun terdengar oleh Ghaydan membuat Arash semakin kesal


"Apa yang harus dijelaskan lagi Pak..kan gambarnya juga sudah jelas ada penjelasannya pun"


"Buahahaa...sumpah rash gak kuat perut gue kram"


"Kamu ngomong yang kencang jelaskan maksud gambar ini"


Annisa yang spontan karena mendengar teriakan Arash langsung menjawab sekenanya sesuai apa yang dipikirkannya


"Kan digambar sudah jelas kalau saya punya bos gantengnya minta ampun tapi sayang kayak kulkas dua pintu...dan sekarang punya asisten juga ganteng tapi ngalahin singa betina yang lagi bunting...terus ya kalau pak bos lewat auranya dingin kaya di kutub utara bikin beku..belum lagi muka datar banget kayak tembok..beuh...aura gantengnya lenyap deh...begitu pak"


Arash melotot mendengar penjelasan Annisa yang polos bahkan sekarang Annisa hanya bisa menutup mulutnya karena kelepasan dan menyesali itu semua namun terlambat


"Ya Allah ini mulut kenapa gak ada remnya sih"


Ghaydan terus tertawa melihat reaksi Arash dan Annisa yang sangat lucu...Arash langsung berdiri dan mendekati Annisa


"Kamu nyamain saya sama kulkas dan tembok...berani sekali kamu ya mengatai saya"


"Maaf pak sumpah saya gak sengaja"


"Kamu belum lupa kan sama bekas biru dijudat saya ini"


Annisa menoleh kearah Arash dan memang bekas luka itu masih membekas disana..bahkan tanpa aba-aba tangan Annisa hampir menyentuh kulit Arash karena refleks


"Astagfirullah kita bukan muhrim pak..takut ada setan lewat malah saya khilap pak"


Arash langsung mundur mendengar perkataan Annisa yang kembali menunduk tak mau menatap Arash.. Ghaydan masih asyik melihat sambil terus tertawa


"Lagian kita gak berdua jadi setan gak ada disini Annisa"


"Lah kalau cuma berdua yang ketiga setan dong pak"


Reflek Annisa dan Arash menoleh kearah Ghaydan...Ghaydan pun ikut kesal


"Eh kalian kira gue setan gitu"


"Bukan pak...bapak bukan setan cuma kalau jadi yang ketiga itu setan...etdah ni mulut"


Arash sebenarnya menahan tawa mendengar perkataan Annisa namun demi wibawa dia berusaha menahan sekuat tenaga


"Sama aja Annisa..apa mau loe gue tinggalin berdua aja sama Arash"


"Gak pak nggak...ampun...saya pergi dulu...duh gusti kenapa jadi riweh gini sih"


Annisa kabur dan tanpa sengaja menutup pintu ruangan Arash cukup keras...Arash dan Ghaydan langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Annisa yang kelewat polos


"Ya Allah Rash loe dapat anak magang kayak gitu darimana sih"


"Rizky yang nemuin dia Tha...Gue aja baru ngeh kalau dia polos dan ceroboh banget orangnya"


"Jadi jidat loe yang biru itu bukan karena kejedot dasbor mobil"


"Bukan tapi gara-gara Annisa kemarin pagi"


Arash pun menceritakan kejadian kemarin pagi membuat Ghaydan semakin tertawa bahkan demi menghindar dari olokan Daddy-nya Arash mengarang cerita


"Gila tuh cewek polos dan kelewat jujur banget trus selebor gitu...Gak takut loe kerjaan dia bakalan gak bener"


"Kalau kerjaan gue acungi jempol dia sangat kompeten dan profesional bahkan detail banget orangnya"


Mendapat hiburan dari Annisa tadi membuat Ghaydan sejenak melupakan beban pikirannya tadi


________


Wah si Eneng Nisa uda berani ya sama bang Arash


jangan lupa jempolnya kakak


happy Reading