RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Inikah Rasanya



Arash dan Bagas akan berangkat ke Perancis bersama-sama. Bagas akan ikut memantau disana selama dua bulan. Karena sang papa harus menjalani pengobatan rutin.


Dua hari yang lalu Arash mengantar Icha kembali ke Jogja dan mentraktir teman-temannya. Arash juga menemui pria yang meneror Icha. Icha yang rencananya akan menemani Arash selama satu bulan disana harus diundur. Dia mengejar agar segera bebas dari skripsi.


Bagas sedang bingung dengan sikap Chila yang sedikit aneh sejak tau jika Bagas akan menetap di Perancis selama dua bulan atau bisa saja lebih.


"Baby kamu hari ini gak ada meeting"


"Ada. Tapi uda dihandle Damar sama Dea hon"


"Begitu ya. Aku mau meeting mau ikut apa mau tidur aja"


"Ikuttt"


"Ayo. Tapi ini agak lama gapapa kan"


"Hemm"


Selama hampir satu bulan Chila seperti itu. Kemanapun Bagas pergi dia akan ikut. Bagas sangat bahagia karena adanya Chila membuat para kliennya tak keganjenan atau menjodohkan dengan putri mereka.


Bahkan Chila jarang ke kantornya dan memilih mengerjakan semua pekerjaan dari kantor Bagas. Hanya saat sangat penting dia akan hadir. Bagas dan Jimmy masih belum paham apa yang sedang terjadi dengan Chila.


Diruang meeting sudah bukan suatu kejutan lagi jika putri dari seorang pengusaha ternama ada diruangan tersebut. Bahkan Gautama sendiri yang mengumumkan keseluruh perusahaan miliknya baik ditanah air dan di luar negeri jika Chila adalah tunangan Bagas.


Meeting dikantor Bagas sudah selesai. Meeting kali ini sangat lama, karena Bagas tak ingin meninggalkan masalah saat dia pergi nanti.


"Baby yuk cari makan"


"Kamu udah selesai hon"


"Uda. Dan sekarang kita makan. Habis makan jalan-jalan. Biar nanti gak kangen banget aku tinggal lama"


Mendengar perkataan Bagas, membuat hati Chila sedih. Seolah itu hanya mimpi untuknya. Dua bulan berasa satu tahun untuk Chila. Apalagi Chila baru menyadari arti Bagas dalam hidupnya.


"Kok malah berhenti kenapa baby"


"Hmm. Gak kok hon"


"Ya udah. Ayo kita makan dulu"


Mereka berjalan berdampingan. Bagas menggenggam tangan Chila. Jimmy berjalan didepan mereka. Bagas akan berubah menjadi dingin. Hanya didepan orang terdekatnya saja dia manja.


Bagas dan Chila sudah berada direstauran ternama. Jimmy tidak ikut bergabung. Dia sengaja memberi ruang untuk pasangan itu.


"Beib mau makan apa"


"Terserah kamu saja hon"


Bagas memesankan makanan untuk Cjila dan diirnya. Chila sedang membalas pesan dari karyawannya yang memberi laporan kegiatan hari ini.


"Sayang aku lihat kamu murung hari ini"


"Oh gak papa kok"


"Sayang kamu mau ikut aja apa. Aku kok gak bisa ninggalin kamu"


"Gak usah lebay deh hon. Aku juga lagi banyak kerjaan"


"Yakin gak ikut. Lumayan sekalian honeymoon"


"Amit amit amit. Dikira Kak Icha sama Bang Arash apa"


"Kali aja pengen gitu"


"Belum waktunya"


"Sabar ya. Tunggu dulu sampai proyek ini selesai"


"Iya gapapa. Lagian kita juga perlu penyesuaian kan"


"Heem"


Mereka makan siang dengan tenang. Usai makan siang, Bagas membawa Chila untuk jalan-jalan. Sebisa mungkin dia menghabiskan waktu bersama Chila unyuk hari ini. Besok dia sudah berangkat.


Malam tiba, Chila yany baru saja sampai rumah merasa sangat gelisah memikirkan kata-kata Bagas saat berada ditaman hiburan tadi.


"Sebenarnya aku juga gak pengen pergi jauh dari kamu sayang. Tapi papa belum begitu pulih"


"Sayang saat aku jauh nanti jangan terlalu sering pulang malam. Kalau pun terpaksa pulang malam, minta sopir atau abang buat jemput. Jangan dengan karyawan kamu"


"Oya kemungkinan saat aku disana nanti, kamu akan dengar berita yang aneh-aneh. Gak usah dipercaya. Yakin dan percayalah sama aku sayang. Dan saat aku kembali nanti kita langsung menikah"


Semua perkataan Bagas masih terngiang ditelinganya. Malam semakin larut, entah sejak kapan Chila terlelap dalam mimpi indahnya.


Chila sudah berada di kantor. Dia ada meeting untuk acara minggu nanti. Bagas juga sudah berada di kantor Arash. Karena mereka akan berangkat bersama. Bagas membantu mempersiapkan beberapa data yang harus dibawa mereka.


"Gas coba loe cek lagi deh hasil akhir perkiraan perhitungannya"


"Iya bang. Oya bang hasil lay out terakhir ada perubahan gak"


"Kalau gue sih gak papa ya. Tapi coba nanti kita tunggu pendapat Keynan"


"Oke bang"


"Assalamualaikum. Ganggu gak"


"Waalaikumsalam gak kok. Masuk aja"


Chila masuk dan duduk disamping Bagas. Bagas masih memegang berkas. Untuk urusan perusahaan ditanah air. Bagas menyerahkan kepada Jimmy. Arash tetap dengan Daffa dan daddynya.


"Sayang kamu mau ikut ngantar ke bandara"


"Iya. Boleh kan"


"Boleh banget dong"


Bagas membereskan berkas-berkas mereka dengan bantuan Chila. Arash sedang menelpon sang istri. Memberi kabat jika dia akan menuju bandara. Perjalanan menuju bandara hanya ada keheningan. Chila tampak sangat murung. Bagas berusaha menghibur kekasihnya itu.


"Kamu kenapa diam saja"


"Eh gapapa kok"


"Jangan bohong sayang. Kalau kamu kayak gini, aku gak tenang ninggalin kamunya"


"Gak usah khawatir sayang. Aku gapapa kok"


Bagas menggenggam tangan Chila. Rasanya Chila ingin menangis, namun dia menahannya. Setiba di bandara, Arash langsung menghubungi sang istri melalui panggilan video.


"Assalamualaikum sayang"


"Waalaikumsalam mas. Uda dibandara"


"Iya sayang. Kamu uda pulanga dari kampus"


"Sudah mas baru aja"


"Gimana hasilnya sayang"


"Alhamdulillah gak banyak revisi. Sama tinggal bab penutup aja"


"Alhamdulillah. Sayang jaga kesehatan ya. Kalau mau balik ke Jakarta langsung ngomong mommy atau daddy biar dijemput"


"Iya mas. Mas juga jaga kesehatan"


"Kalau kamu sudah selesai bab akhirnya, langsung hubungi mas ya. Mas jemput sekalian kita honeymoon disini"


"Iya mas"


Tak terasa air mata Icha menetes. Dia menangis sesegukan. Arash yang melihat itu terkekeh. Icha juga merasa aneh, jika selama ini Arash pergi dinas keluar kota atau keluar negeri dia tidak menangis seperti ini. Mungkin karena status yang sudah berubah membuatnya seperti ini.


Tak jauh beda dengan Icha. Chila juga sedang menangis dihadapan Bagas. Chila merasa tak ingin ditinggal tak akan kembali.


"Hei kenapa kok malah nangis gini sih"


"Hiks hiks. Kamu gak usah pergi aja ya honey"


"Heh kok gitu. Haha. Kemarin aja gak masalah kok sekarang malah mewek"


"Ternyata inikah rasanya akan ditinggal pergi seseorang yang kita sayang. Hiks hiks"


"Apa mau ikut. Mumpung pesawatnya belum berangkat. Sini masuk koperku"


"Ah dikira aku baju"


"Hehehe. Jangan nangis lagi ya. Biar aku juga gak khawatir"


"Kamu jangan ganjen-ganjen. Gak usah tebar pesona. Terus kalau jalan jangan pake baju kayak gini. Tebar pesona bangey"


"Hei kan biasanya juga aku pake baju gini sayang kalau lagi santai"


"Ck kalau pas sama aku gapapa. Udahlah"


"Iya janji aku gak akan kayak gini. Jangan ngambek ya sayang"


"Iya kamu hati-hati. Kalau uda sampe kabarin. Jangan lama-lama nanti aku susul"


"Aku tunggu sayang"


Bagas dan Arash sudah mendapat panggilan dan segera masuk kedalam pesawat. Bagas berbalik melambaika. tangan. Chila semakin menangis.


"Gimana gue rela, kalau loe keren gitu. Kenapa loe gak kayak dugong aja sih"



Ini Bagas waktu di bandara dengan style santainya yang membuat Chila gak rela ditinggal jauh.


_____


Maaf telat up. Kerjaan banyak. Dan maaf ya memang beberapa novelku pemeran cowoknya bucin. Maafken kalau gak suka...aku suka cowok bucin karena lucu aja


Happy Reading


Jempol ya jempol