RashSya Story

RashSya Story
RashSya~ Simbah dukun



Pernikahan Chila akan berlangsung seminggu lagi. Hampir seluruh keluarga besar sudah datang. Hanya Afnan dan Juna yang terlambat datang. Namun Jay berdoa agar Afnan tak datang. Dia juga berdoa semoga calon cucu kembarnya tidak berulah.


"Afnan belum bisa datang Jo"


"Belum opa. Daddynya Juna harus menghandle meeting perusahaan daddy Rei"


"Oh gitu. Ya semoga gak datang"


"Jahat banget sih loe jay. Seneng lihat gue menjada disini"


"Lebay loe jo"


"Ah gue tau loe takutkan laki gue tau kalau calon cucu kembar loe hobby makan sambel terasi kayak laki gue"


"Gak biasa aja"


"Gak usah boong deh. Kan dari dulu kalian hobby banget bully laki gue. Dan kini saatnya laki gue ngebales. Hahaha"


"Itu tidak akan terjadi"


"Kita lihat saja jay"


Jay sebenarnya juga masih khawatir. Apalagi Icha sampai saat ini masih ingin menggunakan panggilan emak dan abah. Bahkan selera Icha tak berubah sama sekali.


Chila sedang mengambil pesanan cincin pernikahan bersama Bagas. Ujian menjelang pernikahan itu memang nyata adanya. Berkali-kali mereka berbeda pendapat. Namun untungnya masih bisa terselesaikan. Belum lagi banyaknya ulet keket yang masih berusaha mendekati Bagas.


"Baby kita mampir makan siang dulu ya"


"Iya hon"


"Oya baby nanti habis ini temani aku dikantor dulu gapapa. Ada pekerjaan yang belum selesai"


"Ya uda gapapa. Lagian dirumah lagi suntuk aku"


"Kenapa. Bukannya saudara semua datang"


"Bosan aja pengen cari udara segar dulu"


"Ya sudah kalau gitu. Oya tadi kamu uda telpon mama belum kalau kita uda ambil cincin"


"Uda kok tadi aku kirim pesan sama gambar cincinnya"


Bagas membawa Chila ke restauran yang cukup ternama dan terkenal mewah. Bagas biasa menjamu kliennya disini.


"Kita makan disini hon"


"Iya baby. Aku lagi pengen tomyang seafood dan disini rasanya sesuai lidahku"


"Oh begitu. Ya sudah yuk"


Mereka masuk kedalam restauran. Hanya tersisa tempat didekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Sambil menunggu makanan datang, mereka saling bertukar cerita.


"Baby saat nanti kita sudah menikah, jangan kaget dengan kebiasaanku hehehe"


"Kamu pun juga harus melakukan hal yang sama padaku honey"


"Pasti sayang. Kita saling mengenal lagi"


Makanan mereka datang. Saat asyik menikmati makan siang mereka. Seseorang mendekat kearah meja mereka.


"Bagas"


Bagas dan Chila menengok kearah suara seorang wanita memanggil nama calon suaminya itu.


"Ya. Anda siapa"


"Kamu sudah lupa sama aku"


"Maaf saya bukan lupa tapi memang tak mengenal anda nona"


"Aku Cintya. Kitakan peenah dijodohkan"


Chila mulai melirik kearah Bagas. Namun Bagas masih santai menyantap makanannya. Itu sudah cukup membuat Chila tenang. Karena bisa dipastikan perempuan itu tak pernah dipedulikannya.


"Boleh gak aku ikut gabung disini"


Mereka sama sekali tak merespon omongan perempuan itu. Namun perempuan itu semakin berani. Dia merangkul pundak Bagas dari samping. Tanpa pikir panjang, Bagas langsung menghempaskan tangan perempuan itu.


"Pergi dari hadapan saya"


"Kok kamu gitu sih. Atau kamu malu sama perempuan ini. Perempuan biasa dia kalah jauh sama aku"


Chila sebenarnya sufah cukup sabar. Dia gak ingin cari ribut tapi perempuan itu terus saja mengganggu dan tangannya selalu berusaha memeluk Bagas.


"Wah anda pandai sekali ya menilai seseorang"


"Dari penampilan kamu saja gue udah tau kalau loe gak selevel dengan Bagas"


"Ouh gitu. Boleh saya bertanya nona"


"Apa"


"Punya televisi gak dirumah"


"Punyalah. Banyak malahan"


"Ponsel"


"Pernah lihat berita pertunangan Bagas belum nona"


"Gak usah nyebar hoak. Bagas belum tunangan"


"Berarti anda tidak update ya"


"Maksud loe apa"


"Sekarang coba anda bula platfon berita online tentang pernikahan anak pengusaha minggu depan"


Perempuan itu langsung mengambil ponselnya dan memeriksa berita yang dimaksud Chila. Chila berjalan melewati wanita itu dan menyambut tangan Bagas yang menggandengya. Dia berkata kepada wanita tadi yang masih fokus membaca berita.


"Punya kaca gak dirumah. Kalau gak punya gue kirimin satu kontainer. Biar bisa lihat muka loe yang gak tau malu"


Bagas tersenyum melihat cara Chila memusnahkan para hama. Mereka langsung menuju kantor Bagas sesuai permintaan Bagas tadi.


Sedangkan dibandara sudah bersidiri dua lelaki beda usia yang baru saja tiba dari Jerman. Kedatangannya sengaja disembunyikan. Dia hanya ingin membuktikan berita yang dia dengar mengenai calon cucu keluarga Malik yang memiliki keinginan luar biasa.


"Daddy yakin kita gak akan memberitahu mommy kalau kita sudah sampai"


"Jangan. Daddy ingin menikmati saat-saat seorang Jay Malik dan si kembar kehilangan tengilnya dari Icha hahaha"


"Juna ingatkan sekali lagi ya dad. Ingat ketiga orang itu manusia licik. Jangan sampai jadi boomerang buat daddy"


"Tidak usah khawatir juna. Yang akan membantai mereka adalah Icha bukan daddy. Dan mereka tidak akan bisa berbuat licik pada Icha"


"Pokoknya juna uda ingatin loh"


"Iya kamu tenang saja boy"


Walaupun Afnan sudah beruban namun pesonanya semakin memikat. Membuat mata para emak disekitar bandara tak mau berpaling. Afnan benar-benar sudah merencanakan dengan apik bahkan tiba didepan rumah Arka, dia meminta para penjaga untuk diam tak bersuara. Afnan juga menitipkan koper miliknya dan Juna di pos penjaga. Perlahan dia mendekati pintu masuk. Terdengar suara riuh karena sedang makan siang.


"Abah abah"


"Iys ada apa emak sayang"


"Bantuin gak bisa berdiri ini"


"Ayo abah bantuin"


Mendengar perkataan itu membuat Afnan langsung tak bisa menahan tawanya. Arash kaget karena uwak yang menyebalkan sudah datang tanpa kabar.


"Buahahaha abah emak. Hahahaha sumpah anak bule manggil abah"


Juna juga ikut tertawa. Padahal mereka tak tau jika yang mereka hadapi adalah ibu hamil yang cerdik. Arash ingin menyambut Afnan dan Juna namun didahului Icha. Keluarga lain yang mendengar suara Afnan langsung keluar.


"Eh uwak bule uda datang. Mari amsuk jangan didepan pintu kata orang pamali"


"Icha apa kabar nak"


"Baik-baik sekali"


"Kandungan kamu bagaimana"


"Mereka baik dan sehat sekali"


"Mereka. Jadi didalam sini ada dua"


"Yes uwak. Eh harusnya gak panggil uwak lagi dong"


"Benar itu. Harusnya kamu memanggil saya uncle"


"Simbah kakung"


"Hah. Wait apa kamu bilang tadi"


"Simbah kakung. Kenapa ada yang salah ya"


"Kok sim bah. Kenapa bukan opa atau grandpa"


"Karena icha ingin anak icha mengenal budaya emaknya ini. Kalau grandpa sama opa kan sudah banyak panggilan itu"


"Kenapa harus simbah juga"


"Ya gapapa. Mas arash aja icha panggil abah. Daddy eyang kung"


"Nah tu kayak si Jay aja eyang kung lebih gaul dikit"


"Gak bisa. Takut mereka gak bisa membedakan. Pokok ya simbah kakung"


Arash dan Jay ngakak karena gak kuat lagi melihat Afnan tak bisa berkutik. Arka dan Arsya bahkan sampai jongkok karena perutnya kram menertawakan wajah shock Afnan.


"Juna kan uda bilang. Mereka itu hidup dengan manusia super licik. Pastilah terkontaminasi"


Sikembar langsung menyambut Afnan dengan panggilan barunya namun diplesetkan.


"Selamat datang mbah dukun"


______


Jadi kenapa othor sengaja menggunakan panggilan yang merakyat ini. Hanya sekedar pengingat panggilan kepada orangtua zaman dulu saja. Kalau panggilan orangtua jaman sekarang sudah banyak yang menggunakan. Maaf ya kalau tidak sesuai dengan keinginan readers. Memberi suasana berbeda. Dan menurutku panggilan itu juga tidak buruk kok🤗🤗🤗😊😊😊😊😊


Jangan lupa jempol


Happy Reading