
Pagi ini seorang gadis manis sudah siap dengan pakaian interview. Tas dan map berisi data-data yang dibutuhkan sudah dia tenteng keluar kamar. Bunda juga sudah menunggu untuk sarapan bersama.
"Nak kamu jadi interview hari ini"
"Iya Bun. Doain ya Bun. Semoga Tisya diterima"
"Aamiin nak. Bunda selalu mendoakan mu sayang. Sekarang kamu sarapan ya. Mau bawa bekal tidak"
"Bawa saja Bun. Buat jaga-jaga"
"Sebentar bunda siapkan"
"Makasih Bun"
Tisya sarapan sambil bermain ponsel. Melihat lokasi dan juga seperti apa gedung perusahaan tersebut. Semua informasi jelas terdapat di internet kecuali nama pimpinan perusahaan tersebut. Pesan dari sahabatnya menanyakan, apakah Tisya sudah berangkat atau belum.
"Cepat habiskan sarapannya Tisya. Jangan bermain ponsel terus"
"Iya Bun. Tisya udah selesai kok Bun. Tisya berangkat ya Bun"
"Kamu diantar Reza nak"
"Nggak Bun. Udah pesan mobil ojol Bun. Reza ada meeting pagi Bun"
"Ya sudah kamu hati-hati. Jangan lupa berdoa sebelum melakukan apapun nak. Agar dipermudah"
"Iya Bun. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Usai mencium tangan bundanya, Tisya langsung masuk kedalam mobil ojol yang sudah menunggunya. Menurut data dalam aplikasi, mereka akan menempuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di kantor tersebut. Saat melintas disebuah sekolah ternama, ingatan Tisya tertuju kepada seseorang.
"Eh apa kabarnya si jangkung ya. Uda dapat jodoh belum dia ya"
Tisya tersenyum mengingat masa-masa sekolahnya dulu. Namun dia tidak bisa sampai lulus karena harus mengikuti sang ayah yang berpindah tugas di pulau seberang. Almarhum ayah Tisya seorang perwira polisi.
"Maaf kak sudah sampai"
"Oh iya kak. Maaf melamun. Ini uangnya kak"
"Makasih kak"
"Sama-sama"
Tisya perlahan turun dan membawa berkasnya. Dia kembali melihat nama perusahaan yang ada didepan gedung tersebut. Setelah memastikan semua benar, Tisya berjalan perlahan memasuki perusahaan tersebut. Tampak para karyawan juga berdatangan. Tisya langsung menuju resepsionis perusahaan menanyakan ruangan interview.
"Selamat pagi kak"
"Pagi. Bisa saya bantu"
"Saya dapat panggilan interview pagi ini kak. Ruangannya dimana ya"
"Ada bukti surat pemanggilannya tidak"
"Ada. Sebentar"
Tisya mengeluarkan surat yang dicetaknya semalam sebagai bukti pemanggilan interview.
"Ini kak"
"Oh iya benar. Kakak bisa naik lift langsung ke lantai lima. Nanti ada petunjuk mengarah keruang interview kak"
"Begitu ya. Terimakasih kak"
"Sama-sama"
Tisya berjalan menuju lift dan ikut mengantri seperti yang lainnya. Tisya memilih berdiri dan bersandar pada dinding. Dia memainkan ponselnya sambil menunggu giliran untuk naik lift.
"Hari ini pak bos sendiri katanya yang mau interview"
"Iyakah. Tumben"
"HRD kita cuti melahirkan"
"Wah beruntung sekali anak baru bisa menatap wajah tampan pimpinan kita"
"Tampan tapi galak. Hahaha"
"Hush. Kedengaran asistennya kena amuk nanti"
Tisya sudah masuk kedalam lift. Dia memilih berdiri didekat dinding. Badan mungilnya bisa terhalang oleh para pegawai lainnya. Tisya memainkan game diponselnya. Tiba dilantai yang dituju, Tisya ikut berdesakan keluar.
"HRD. Oh itu ruangan interview. Bismillahirrahmanirrahim"
Tisya melangkah penuh keyakinan. Walaupun tubuhnya hanya semampai tak menyurutkan semangatnya. Tisya percaya kemampuan yang dimiliki mampu bersaing dengan para pencari kerja lainnya. Tisya duduk di kursi yang sudah disiapkan sesuai arahan karyawan yang menjaga didepan pintu ruang interview.
"Hai salam kenal. Nama gue Karina"
"Gue Tisya"
"Dapat no urut berapa tis"
"Dapat no sepuluh. Loe berapa"
"Gapapa asal kita berusaha semampu kita. Dan berdoa saja. Kamu lamar bagian apa"
"Sekretaris tis. Kamu"
"Asisten keuangan"
"Eh udah mau mulai"
"Iya"
Salah satu staf bagian kepegawaian mengumunkan aturan penerimaan karyawan hari ini. Selain tes tertulis, akan ada tes keahlian sesuai pekerjaan yang dipilih. Diawali tes tertulis terlebih dahulu. Para peserta diminta untuk menjawab pertanyaan dari bagian kepegawaian.
Tes tertulis sudah usai. Mereka menunggu hasilnya. Bagi para peserta yang lolos akan mengikuti tes berikutnya. Tes keahlian yang akan dipimpin langsung oleh manager masing-masing bagian. Untuk sekretaris akan diuji oleh asisten pribadi pimpinan. Setelah melewati seleksi kedua, mereka baru akan bertemu sang pimpinan.
"Alhamdulillah bunda, Tisya lolos seleksi berikutnya"
Tisya menunggu tes berikutnya. Namun tiba-tiba pembawa acara memberitahukan jika diubah. Mereka langsung bertemu sang pimpinan.
.
.
.
Didalam ruangan Devin sedang membaca data calon pegawai baru yang telah lolos tahap seleksi awal. Satu persatu dia membaca data dari bagian kepegawaian. Dan tiba saat membaca data calon asisten manager keuangan. Mata Devin berbinar.
"Tisya Aulia Ramdan. Pendek. Wajahmu tak pernah berubah ya. Dan pastinya masih pendek. Hehehe. Tanpa perlu susah payah. Kamu datang sendiri kepadaku pendek"
Melihat posisi yang diinginkan oleh Tisya, Devin merubahnya sesuka hati. Demi memuluskan rencananya.
"Ted. Gue mau dia yang jadi sekretaris gue"
"Tapi Dev, kan dia daftar bagian lain"
"Dirolling kan bisa. Toh dia juga mampu megang keuangan"
"Emang siapa sih"
"Ada deh. Pokoknya dirolling"
"Siap bos"
Devin tersenyum menatap foto dalam surat lamaran itu. Sepuluh tahun lebih mereka tak pernah bertemu. Satu persatu calon karyawan masuk keruangan Devin. Mereka yang keluar dari ruangan tersebut lebih banyak yang murung.
"Tis. Kenapa muka mereka masam semua. Apa benar rumor pimpinan disini galak"
"Maybe. Semoga kita lolos ya Kar"
"Aamiin"
Saat ini giliran Karina masuk untuk interview. Tisya diam menanti Karina keluar dari ruangan Devin. Setelah lima belas menit Karina keluar dengan wajah yang sulit dimengerti.
"Bagaimana diterima gak"
"Diterima tapi gue dipindah ke posisi yang loe mau. Katanya gue gak layak jadi sekretaris dia"
Deg
Mendengar perkataan Karina, Tisya merasa khawatir. Karena posisi yang dia mau hanya membutuhkan satu orang saja. Jika Karina menempati posisi tersebut, sudah pasti dia tidak diterima.
"Loe kenapa tis"
"Kar. Seingat gue posisi yang gue mau cuma butuh satu orang. Kalau loe masuk berarti gue ditolak dong"
"Jangan pesimis dulu. Siapa tau ada posisi yang lebih bagus buat loe. Loe lihat gue aja dirolling posisinya tiba-tiba. Apalagi loe nanti. Yakin aja dulu"
"Oya loe benar tis"
Setelah dua orang keluar dari ruangan Devin, kini giliran Tisya. Sambil berdoa Tisya melangkah dengan rasa khawatir. Perlahan asisten Devin membuka pintu untuk Tisya. Dan kali ini Devin meminta Teddy keluar tidak ikut dalam sesi interview seperti sebelum Tisya masuk.
Tisya masih menundukkan kepalanya. Devin tersenyum melihat gadis dihadapannya yang sama sekali tidak berubah. Walaupun dia menggunakan high heels tetap saja bagi Devin pendek.
"Selamat pagi. Silahkan duduk"
"Terimakasih pak"
"Coba perkenalkan diri dulu. Tapi jangan menunduk ya. Saya didepan anda bukan diatas meja"
Devin sudah tersenyum menatap gadis itu. Perlahan Tisya mengangkat wajahnya. Betapa terkejutnya Tisya dengan orang yang berada dihadapannya.
"Jangkung"
"Hai pendek. Merindukan diriku"
________
Lanjut besok gaesss
jangan lupa jempolnya
Happy Reading