RashSya Story

RashSya Story
RashSya~Selangkah Lagi



"Gas sumpah pinggang gue encok gara-gara ide loe"


"Bener kata Devin. Gue harus pijat dulu sebelum tidur"


"Lebay banget sih bang Dev sama bang Ezha. Gue biasa aja kok"


"Eh tapi gue baru tau loe punya badan lentur banget ya gas"


"Kalian baru tau kan bakat terpendam seorang Bagas Gautama"


"Iya jim. Bos loe badannya kayak karet"


"Udah ayo lanjut lagi. Ini hari terakhir latihan bareng. Besok gue mau nyari cincin sama nyokab"


"Kuylah. Biar cepat kelar. Gue mau berendam remuk badan gue"


Mereka melanjutkan latihan untuk acara lamaran Chila dan Bagas. Hampir dua jam mereka fokus berlatih. Hingga malam semakin larut mereka baru menyelesaikan latihan mereka.


"Akhirnya usai sudah. Kalau bukan kareba imbalan gue gak mau kayak gini. Gue gak tau gimana reaksi bini gue lihat gue nanti"


"Zha gak usah takut. Gue yakin Shanum pasti ikut happy"


"Cuma sayang Arsya gak ikutan"


"Arsya bakalan tetap ikut kok. Nanti pas acara kita paksa"


"Oya jas kalian diantar malam nanti. Ingat jangan ada yang kabur"


"Iya iya"


Bagas dan lainnya sudah menyelesaikan latihannya dan kembali kerumah masing-masing. Bagas berniat mampir kerumah Chila karena dia melewati jalan didekat perumahan Chila. Bagas menghubungi Chila terlebih dahulu.


"Assalamualaikum beib"


"Waalaikumsalam ada apa hon"


"Beib aq habis dari acara kebetulan lewat dekat rumah kamu. Mau makan sesuatu gak"


"Ah malaikat penolongku"


"Haha kenapa beib"


"Mommy sama Daddy ada acara dadakan. Dirumah gak ada makanan. Males masak. Tapi laperrrr huahh"


"Hahaha. Mau makan apa sayang"


"Lagi pengen seblak level lima"


"Ck. Gak ada makanan yang lain sayang"


"Lagi pengen itu. Nanti kalau anak kamu ngiler gimana"


"Oh anak daddy laper ya. Tunggu daddy belikan sayang"


"Ingat level lima ya. Gak boleh kurang"


"Iya sayangku. Ada lagi"


"Hmm gak itu aja hon"


"Ya sudah aku tutup dulu beib. Tunggu aku"


"Iya hon. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Bagas mencari penjual seblak didekat tempat tinggal Chila. Beruntung masih ada pedagang yang buka. Bagas turun untuk membeli pesanan chila.


Chila masih asyik menyiapkan keperluannya untuk acara Arash lusa. Dan sebagian keluarganya dari luar negeri sudah tiba. Memang kedua orangtuanya sedang menghadiri acara dari kolega mereka. Seharusnya undangan untuk Arash. Namun Jasmine meminta Arash istirahat karena lusa adalah hari pentingnya.


tok tok


"Ya"


"Neng dibawah ada mas ganteng"


"Siapa neng"


"Ituloh ayang bebeb neng chila"


"Ouh Bagas uda datang"


"Heem. Duh neng ganteng pake banget sih. Coba eneng masih jomblo belum triple uda eneng gebet"


"Iya loenya mau Bagasnya kabur"


"Ah neng chila suka gitu deh"


"Uda chila mau nemuin Bagas dulu. Jangan lupa maskeran. Katanya mau tampil paripurna diacara Abang"


"Neng boleh gak sih eneng nyumbang suara besok"


"Boleh aja. Tapi kalau tamunya pada kabur awas loe ya"


"Gak lah eneng ka udah latihan"


"Ya udah asal gak bikin kabur tamu undangan aja"


Mereka ngobrol sambil jalan menemui Bagas. Eneng bergelayut manja dilengan Chila. Mereka memang dekat. Dan bagi Chila eneng adalah teman dan saudaranya bukan pengasuh.


"Beib"


"Bentar hon. Aku kirim spesies langka ini ke habitatnya"


"Hahaha. Kamu beib ngomongnya suka bener"


Eneng berjalan mendekat kearah Bagas. Langsung dia mengusap pipi Bagas.


"Ganteng godain eneng dong"


Chila langsung berdiri didepan Bagas untuk menghalangi tangan Eneng yang suka sekali lupa arah.


"Eits tangan eneng. Nyentuh sekali lagi gue kardusin loe"


"Kok gitu sih neng chila mah. Dikit aja ah. Kan jarang-jarang eneng ketemu yang bening dan masih ranum gini"


"Loe kira mangga neng"


"Iya lagi seger-segernya dibikin rujak. Kan eneng jadi ngeces kan. Ah kenapa ganteng banget sih"


"Oneng markoneng. Balik kandang sana. Sebelum gue panggilin laki loe"


"Kan laki oneng lagi nyupirin Tuan Jay. Lupa ya"


"Ya Allah. Uda pokoknya menjauh sana. Ganggu aja"


"Neng Chila pelit gak mau berbagi"


"Emang bakso dibagiin"


Chila mendorong Eneng untuk kembali ke kamarnya. Sambil cemberut dan memberikan ciuman jauh kepada Bagas. Bagas hanya tertawa melihat tingkah eneng dan Chila.


"Maaf ya ada pengganggu"


"Gapapa beib. Ini pesanan kamu"


"Ah makasih. Aku mau ambil mangkok dulu"


"Eh ini kan rumah aku"


"Nanti juga jadi rumah aku juga kan beib"


Bagas melangkah ke dapur mengambil dua mangkok dan air minum. Bagas sudah sering datang kerumah Chila dia sudah hafal letak beberapa barang dirumah Chila. Bahkan dia pernah membantu Jasmnine memasak.


"Siniin plastikanya beib, biar aku siapin sekalian"


"Aku aja hon. Aku juga bisa"


"Nggak ini panas aku takut tangan kamu kena"


Chila hanya bisa pasrah. Terkadang Chila jengah dengan sikap Bagas yang suka berlebihan.


"Yuk dimakan"


Mereka menikmati makan yang sudah larut itu. Bagas memakan seblak dengan pedas standar karena dia tidak begitu bisa makan pedas. Karena malam sudah larut selesai makan, Bagas langsung pulang.


Pagi hari, Chila sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya untuk pernikahan Arash dan Icha. Pagi sekali Chila sudah berangkat ke hotel milik keluarga. Menyiapkan dekorasi kamar pengantin dan melihat kembali pekerjaan para karyawannya.


"Chil. Catering uda beres tadi gue uda cek ke dapur"


"Uda dipastiin ulang kak. Jangan sampai ada kesalahan"


"Sudah sesuai prosedur keamanan juga"


"Oke"


Chila berjalan menuju pelaminan. Memeriksa ulang dekorasi pelaminan yang akan digunakan abang kesayangannya itu.


"Ini kenapa ada bunganya yang layu"


"Oh maaf kami teledor. Kami ganti sekarang kak"


"Untung panggung pengisi acara dan pemandu acara bagaimana"


"Sudah beres chil. Tinggal nunggu pihak band memasang peralatan musik mereka. Dan mereka akan gladi resik nanti sore"


"Oke pastiin jangan ada kesalahan ya"


"Siap"


Chila melanjutkan ke kamar pengantin. Dia langsung naik ke lantai lima dimana kamar pribadi milik Arash dihotel keluarganya tersedia. Saat masuk Chila melotot melihat kamar masih belum dipersiapkan. Dia mengambil ponsel dan menghubungi manager hotel tersebut.


"Hallo pak. Bisa ke kamar abang saya"


"_"


Chila melihat kamar sang abang yang jarang digunakan. Arash hanya sesekali tidur dikamar ini jika dia sedang ingin ketenangan saja.


"Selamat pagi nona muda"


"Pagi pak. Ini kenapa kamar abang saya belum dibersihkan dan disiapkan"


"Maaf atas keteledoran pegawai saya nona. Kami baru akan membersihkan sore nanti"


"Kenapa harus sore nanti. Apa kalian yakin akan selesai sesuai permintaan saya"


Sang manager hotel mulai berfikir dan mengingat jika dekorasi kamar Arash bukanlah dekorasi kamar pengantin biasa. Chila sudah merancang dekorasi kamar khusus untuk abangnya.


"Akan kami usahan selesai dan kami akan memulai siang ini"


"Oke saya akan kembali datang untuk melihat dekorasi sore nanti. Dan ingay acara abang saya besok. Jika sampai ada kesalahan kalian harus siap dengan konsekuensi dari saya"


"Ba baik nona. Kami akan memberikan yabg terbaik"


"Baby sabar jangan marah"


Chila kaget melihat ada Bagas dikamar itu. Bagas meminta manager hotel itu untuk meninggalkan mereka.


"Kamu kok kesini"


"Kenapa gak boleh aku nyariin pacar aku"


"Pacar siapa pacar kamu"


"Yaelah uda amnesia lagi. Noh tukang sapu pacar aku"


"Oh kirain tukang masak"


"Baby jaga emosi kamu. Aku dengar kamu marah-marah jadi takut sendiri"


"Gimana aku gak marah. Kamar buat pengantin masih polos kayak gini. Dibersihin juga belum"


"Iya nanti juga dikerjakan sama mereka sayang. Aku gak mau kamu marah-marah takut darah tinggi"


"Paan gak jelas ah"


"Beib, besok kamar pengantin kita kayak apa ya"


"Gak tau"


"Kok gitu. Kamu gak bayangin gitu kayak gimana"


"Angan itu biasanya jauh dari kenyataan. Jika terus berangan takutnya kecewa saat kenyataan itu tak pernah ada"


"Au dalam sekali omongannya"


"Ada apa nyariin sampai sini hon"


"Mau ngajakin kamu kesuatu tempat bisa gak"


"Maaf aku gak bisa. Habis ini aku harus jemput keluarga uwak bule"


"Huh. Ya sudah. Malam ini makan malam bisa gak"


"Maaf sepertinya kita bisa bertemu besok waktu acara saja"


"Ya ya ya. Aku paham. Ya sudah aku pergi dulu. Jangan lupa makan. Ingat jangan dekat laki-laki lain"


Bagas meninggalkan Chila yang masih memeriksa beberapa kamar yang akan digunakan menginap keluarga mereka. Terutama untuk keluarga Afnan yang akan sampai sore nanti.


Bagas mengajak sang Mama mencari cincin untuk melamar Chila. Sang mama sangat antusias membantu Bagas. Bahkan Bagas lebih banyak menurut saat sang ratu memilihkan beberapa perhiasan untuk calon mantunya.


Bagas sudah menemukan cincin yang tepat untuk Chila. Dia juga memesan cincin nikah yang dia desain sendiri. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Bagas pergi mencari hadiah pernikahan dan juga kejutan untuk Chila.


"Mama yakin ini gak akan membuat Chila marah"


"Nggaklah. Ini namanya kepastian yang nyata"


"Terus Bagas kan gak tau apa ini semua sesuai dengan Chila atau tidak"


"Gampang itu. Mama sudah mengatir semuanya. Kita tinggal membeli dan membayarnya"


"Ya sudah Bagas manut mama aja"


_________


Nantikan kejutan untuk Chila. Apakah pesta arash akan berkesan....Atau malah terlalu berkesan....


jangan lupa jempol


Happy reading...