RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Duo Sableng



Semakin hari kehamilan seila semakin sehat. Bahkan badan langsingnya semakin melebar. Seila tetap melakukan aktivitasnya sebagai koas. Atha sudah meminta agar dia lebih berhati-hati saja.


Setiap weekend, Icha akan membawa si kembar mengunjungi Atha. Bahkan terkadang seila yang akan datang kerumah Arash. Sudah tidak ada lagi rasa canggung, seila mudah sekali dekat dengan Malik's Family. Hari ini Icha datang berkunjung membawa si kembar. Arash dan Icha hanya berjalan kaki untuk menuju rumah Atha.


"Assalamualaikum. Yuhu orang kaya datang nih"


Arash hanya tertawa melihat kelakuan Icha yang sama sekali tak berubah. Icha langsung masuk kedalam rumah Atha yang pintunya memang terbuka. Dia melihat Eneng sedang menyapu diruang tamu.


"Woy salamnya orang kaya gak dijawab. Tak berkah"


"Waalaikumsalam ya ahli kubur"


"Nyebelin amat sih loe kak"


"Emang yang kaya loe doang Cha"


"Emang loe kaya kak"


"Seperti yang loe lihat"


"Yang gue lihat loe gak sekaya suami gue kak"


Arash tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan istrinya itu.


"Sialan emang loe Cha"


Icha langsung duduk disofa setelah meletakkan baby Al dikarpet bulu. Sedangkan Meera sudah berada dipangkuan Atha.


"Arsya gak ikut rash"


"Nggak. Dia hari ini mau ngajakin Serkan shopping"


"Loe gak shopping rash"


"Nyonya lagi gak mood"


"Nyonya Arash memang berbeda. Lebih suka ke pasar becek-becekan daripada ngemall"


"Itulah Icha. Gimana progress rumah sakit loe tha"


"Bentar lagi kelar. Sesuai prediksi gue tepat dihari ulang tahun bini gue rash"


"Syukurlah"


Arash dan Atha berbincang masalah pekerjaan sambil momong si kembar. Sedangkan para wanita sedang asyik bergosip diruang makan.


"Sel. Uda USG belum"


"Udah Cha. Tapi masih disembunyikan sama babynya"


"Wah pengen bikin kejutan ya dek sama mamahnya"


Eneng langsung ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka. Dan selalu dibumbui dengan keolengan.


"Kalau didesa Eneng bisa dilihat dari bentuk perutnya non"


"Maksudnya gimana neng"


"Kalau cowok perutnya monyong kedepannya. Kalau cewek bulet gede"


Ketiganya sama-sama melihat kearah perut seila. Icha dan Eneng memiliki gaya yang sama jika sedang berfikir. Memegang dagunya.


"Neng coba loe lihat deh. Kalau menurut gue dia bentuknya mencong"


"Bener non Icha. Mencong nganan"


"Terus anak gue apaan dong kalau mencong gini"


"Gak cowok gak cewek non"


"Neng apa loe mikirin apa yang gue pikirin"


"Seperti begitu non Icha"


"Apa yang kalian pikirkan. Jangan bilang kau yang kalian pikirkan itu, anak gue.."


"Bencong"


"Huaaahhhh kalian jahat. Kakakak"


Atha yang mendengar suara teriakan sang istri langsung berlari sambil menggendong Meera. Diikuti oleh Arash yang juga menggendong Al.


"Ada apa sayang"


"Mereka jahat"


Arash dan Atha memandang Icha dan Eneng yang asyik sendiri dengan rujaknya.


"Kamu diapain sama duo sableng sayang"


"Masa mereka bilang anak kita bencong"


"Apa. Kalian ya"


"Kita ngapain emangnya"


"Bisa-bisanya bilang calon anak gue bencong"


"Lah emang bencong"


"Wah ngajak gelud loe Cha"


"Mas Atha kalau gelud ma Eneng aja. Yuk ke kamar"


"Kamar mayat sono neng. Apa maksud kalian ngatain anak gue bencong"


"Gak usah baper deh. Bencong. Bentuknya mencong"


"Maksud loe"


"Coba kak Atha lihat perut seila. Mencong kan"


Atha memperhatikan peit istrinya. Dan dia baru menyadari jika perut sang istri mencong ke kanan.


"Iya ya kok gue baru sadar kalau perut bini gue mencong kanan"


"Tuh kan"


Seila semakin kesal karena sang suami ikut-ikutan mengatainya.


"Kakakkkk. Awasnya kalau nanti malam tidur diluar"


"Ampun sayang. Ini gara-gara mereka sayang"


Arash hanya tersenyum tipis. Dan mendekati kearah sang istri dan mencium pipinya. Membuat Eneng histeris.


"Eneng pengen"


"Noh sama ulegkan"


"Ish jahat mas Arash"


"Non sel. Eneng penasaran deh"


"Kenapa"


"Pas bikin pake gaya apa"


"Maksudnya neng"


"Itu pas hek a hek a pake gaya apaan. Kan kalau Eneng ma japri seringnya pake gaya kuda lumping. Kalau non apaan"


"Kepo banget sih neng"


"Bukan kepo. Menurut Mbah Gul gul. Gaya saat kita hek a hek a juga mempengaruhi jenis kelamin"


"Benarkah. Baru tau gue neng"


"Iya. Kalau gak percaya silahkan buka artikelnya"


Seila dan Icha kompak membuka artikel yang dimaksud si Eneng. Dan kebetulan artikel itu ditulis oleh dokter ternama.


"Bener kata Eneng"


"Iya. Berati gue gak salah dong sering pake gaya jaran goyang"


"Kenapa Cha"


"Tuh jadinya sepasang langsung"


"Kalau Eneng sudah terbukti jadinya si Dzaky"


"Kalau kita seringnya pake gaya apa kak"


Atha dan Arash yang sedari tadi juga ikut mendengarkan pembicaraan super menjurus itu hanya bisa mendengarkan.


"Kakak. Ditanya kok malah diam"


"Kakak juga bingung sayang. Kan banyak banget"


"Yang paling sering apa sel"


"Hmmm paling sering itu gue gaya..."


"Apaan sel bikin penasaran"


"Gak ada gaya Cha. Jadi bingung gue"


"Ih kak Atha mah gak geol"


"Apaan sih kalian bahas kok urusan ranjang orang. Pamali"


"Kan kita sama Bu Mali bukan pa Mali"


"Serah loe Cha"


Eneng langsung memberikan ide gila kepada seila.


"Non mulai nanti malam coba pake gaya. Siapa tahu ntar anaknya sesuai yang diinginkan"


"Emang gue harus pake gaya apa neng"


"Goyang gergaji. Itu seru non"


"Hah. Masa gue harus bawa gergaji segala neng"


"Ya nggaklah non. Nama goyangnya aja"


"Terus itu goyangnya gimana neng"


Eneng beridiri hendak memberikan tutorial kepada seila. Atha langsung berteriak menghentikannya.


"Stop jangan rusak pikiran istri gue neng"


"Siapa yang ngrusak sih mas Atha. Ini tuh edukasi"


"Tapi ya jangan diedukasi hal begituan juga dong neng"


"Halah, mas Atha takut kalah kan sama mbak seila. Kalau Eneng ngajarin berbagai gaya hot"


"Enak aja"


"Dah lah neng. Kita mending praktek dikamar aja. Gak seru sama mereka"


Seila menarik tangan Eneng dan membawanya kedalam kamar didekat ruang makan. Sedangkan Icha masih asyik makan rujak. Arash berdiri dan duduk disamping istrinya.


"Buna kok makan rujak terus"


"Lagi pengen aja yah. Lagian mumpung gratis"


"Rash jangan-jangan istri loe bunting lagi rash"


"Benarkah sayang"


"Gaklah. Orang sekarang aja lagi palang merah"


"Kirain beneran sayang"


"Nantilah mas tunggu mereka gede dikit"


Tak lama Eneng keluar kamar dengan seila. Mereka kembali ke meja makan.


"Udah belajarnya sayang"


"Udah dong kak. Mau praktek langsung"


"Duh Gusti. Isti gue beneran sudah dikontaminasi"


"Lebay mas Atha mah"


Saat asyik-asyiknya memakan rujak tiba-tiba mereka terusik oleh sesuatu.


"Bau apaan ini"


"Iya. Bikin mual"


"Jangan-jangan anak-anak ada yang pup"


Icha langsung meneliti satu per satu anaknya. Namun tidak ditemukan barang bukti. Kembali bau itu tercium. Namun kali ini meninggalkan jejak.


Brutt


"Almeer"


________


Hai gaeessss ghaydan balik lagi


Jangan lupa jempolnya.


Happy reading