RashSya Story

RashSya Story
Ghaydan~Ahhhhh



...Masih area berbahaya ya gaesss.. Jangan marahhhh. 18+++++++...


_______


"Hmmmmm"


"Kalau kita lanjutkan kakak takutnya kita gak terkejar waktu Maghrib"


"Ya sudah kita sholat dulu kak$


"Uda on sayang"


"Apanya yang on kak"


Atha menjahili seila dengan menarik tangannya mengarahkannya tepat dimana senjatanya berada. Seila langsung tersentak karena terkejut.


"Hahaha kenapa pipimu merona sayang"


"Kakak ih jahil banget"


"Kan kamu juga harus kenalan sama dia sayang"


"Kakak"


"Hahaha. Sebaiknya kakak mandi saja sayang. Kita sholat lebih dulu. Nanti bisa dilanjutkan"


"Heem"


Seila masih tampak malu dihadapan Atha. Atha berdiri merapikan kembali pakaian yang dipakainya. Dan berjalan masuk kedalam toilet untuk mengulangi mandi sorenya. Seila masih merapikan pakaiannya yang sudah terbuka hingga pinggangnya. Seila berjalan kearah cermin dikamarnya. Begitu terkejutnya seila melihat banyaknya bercak merah dileher hingga diarea perbukitan miliknya.


Atha keluar dari toilet sudah dengan pakaian yang sudah rapi. Karena masih malu, seila melewati Atha dengan menunduk saat akan masuk kedalam toilet. Setelah semuanya siap, mereka berjamaah untuk pertama kalinya.


Urusan dengan sang pencipta sudah mereka tunaikan dengan khusyu'. Kini keheningan kembali terjadi. Seila teringat jika Atha akan menceritakan tentang Eneng.


"Kak"


"Apa sayang"


"Hmmm. Kakak tadi janji mau cerita tentang Eneng kan"


"Emang kamu masih penasaran sama Eneng sayang"


"Iya kak"


"Ya sudah sini duduknya geser, kakak ceritakan"


Seila yang masih malu berusaha mendekat kearah Atha. Mereka sedang duduk bersebelahan disofa kamar. Atha langsung merangkul pundak seila dan membawanya masuk kedalam pelukannya. Seila yang mendapat perlakuan seperti itu awalnya gugup. Namun karena Atha mengusap perlahan rambutnya dengan penuh sayang, rasa gugup itu akhirnya sirna.


"Eneng itu asisten sekaligus perawat si kembar dari sejak mereka kecil. Kalau kakak kenal dia waktu jaman sekolah dasar. Awal mula kakak hidup bersama keluarga daddy Jay"


Atha melanjutkan ceritanya dan seila diam mendengarkan apa yang dikatakan sebagai suami. Dari cerita sang suami, seila bisa mengambil kesimpulan jika keluarga sekaya Zaydan Malik tak pernah menilai seseorang dari kastanya.


"Sekarang kamu sudah paham kan sayang kenapa Eneng begitu dekat dan disayangi mereka"


"Iya kak. Seila juga sangat kagum dengan ketulusan keluarga Malik dalam menerima kehadiran Eneng bahkan mereka jadikan keluarga"


"Kamu baru melihat setitik kebaikan mereka sayang. Mereka bagi ku adalah malaikat. Mungkin itu berlebihan tapi memang itu yang kurasakan"


"Aku sebenarnya minder kak mengenal mereka"


"Jangan merasa seperti itu. Apa kamu kira semua menantu mereka berasal dari strata yang sama sayang"


"Apa tidak seperti itu kak"


"Tidak sayang. Hanya Bagas saja yang memiliki kasta sama. Sedangkan Retha anak angkat opa Arka yang dirawat dan angkat menjadi anak oleh Papi Louis"


"Kalau kak Icha kak"


"Icha awalnya anak magang di kantor Arashi. Entah bagaimana awal ceritanya mereka akhirnya cinlok dan Icha dari keluarga biasa sayang"


"Begitu mulia hati mereka. Karena seila melihat tante jasmine begitu menyayangi kak Icha"


"Mereka juga menyayangi kamu sayang. Nanti Kapan-kapan kakak ajak kamu menginap dirumah mereka sayang. Dan lihatlah seperti apa mereka"


"Iya kak"


"Sayang.."


"Iya kak"


"Kapan kamu wisuda"


"Kalau sidang lancar empat bulan lagi kak"


"Setelah wisuda kamu koas kan"


"Iya kak. Kenapa"


"Bisa gak kamu koas tetap dikota ini sayang"


"Belum tau kak. Karena kampus seila yang biasa menentukan"


"Oh begitu ya"


Atha tersenyum penuh arti. Seila masih diam menikmati sentuhan dari sang suami. Tangan Atha berhenti membelai rambut sang istri. Dia meraih kedua tangan istrinya mengecupnya perlahan. Mereka kini saling berhadapan.


"Iya kak"


"Kita mulai semua dari awal sayang. Anggap saja kita pacaran setelah menikah. Kamu mau kan"


"Iya kak seila mau"


"Kamu mau langsung hamil atau harus nunda dulu bee"


"Seila pasrah saja kak. Mau dikasih cepat Alhamdulillah. Belum dikasih juga gapapa"


"Baiklah kalau begitu. Tapi kita tetap berusaha untuk membuatnya sayang"


"Kakak"


"Apa sayang. Nanti kita isya dulu. Biar panjang waktunya"


"Kakak ihh"


"Hahaha gak usah merah gitu juga kali bee"


"Kakak"


"Sholat yuk sayang. Nanti baru bertempur kita"


Seila hanya tersipu malu menanggapi perkataan Atha. Mereka kembali berjamaah. Usai melaksanakan yang wajib, Atha melanjutkan yang sunah dan tak lupa membaca doa.


Allahumma jannibnaasy syaythoona, wajannibisy syaythoona maa rozaqtanaa.


Artinya: Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


"Kak doa itu..."


"Iya sayang. Aku gak ingin setan ikut nimbrung saat kita sedang menabur benih"


Seila hanya tersenyum malu mendengar penuturan Atha yang begitu vulgar. Atha mendekati sang istri dan melepaskan tali mukena secara perlahan. Setelah berhasil melepaskan bagian atas mukena itu, Atha mulai menciumi kening sang istri. Berlanjut ke kedua kelopak matanya. Kemudian beralih ke kedua pipinya. Terakhir dia me***t habis bibir mungil istrinya yang merah merekah itu.


Atha menuntun istrinya untuk berdiri. Perlahan dia melepaskan sisa mukena yang masih dipakai oleh seila. Dan juga melepaskan kain sarungnya sendiri. Beruntung seila menggunakan piama dress dengan kancing didepan. Atha terus melahap habis bibir itu hingga mereka kehabisan oksigen. Mereka saling melepaskan tautan untuk menghirup udara.


"Kak"


"Iya sayang"


Atha kembali melahap bibir itu setelah tadi dia sempat melepaskan baju kokonya sendiri. Kini dia hanya menggunakan sagita bermuda untuk menutupi senjatanya. Atha membaringkan tubuh sang istri perlahan dan mulai membuka satu persatu kancing bajunya. Ciumannya pun berpindah menuju jalan tol kearah dua gunung Fuji seila yang tadi sempat dia nikmati.


"Ahhhh"


"Mendesahlah sayang"


"Kakkk"


"Ahhhh"


Atha terus menjelajahi jalan nan mulus itu dan tangannya juga sudah berhasil melepas segitiga biru milik sang istri. Atha menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melepaskan rudalnya yang sudah meronta ingin segera bertempur. Atha berdiri didepan tubuh istrinya yang sudah sangat polos dan memandanginya sebentar. Atha lalu melepaskan segitiga bermuda miliknya. Tampak rudalnya sudah berdiri tegak siap bertempur.


Seila memalingkan wajahnya karena baru pertama kali melihat benda itu. Perlahan Atha kembali mendekati sang istri. Dan kembali menciuminya. Tangannya sangat aktif sekarang.


"Sayang ijinkan aku memasukimu. Dan menjadikanmu satu-satunya wanita di hidupku setelah mami"


"Iya kak"


Perlahan Atha mengarahkan rudal miliknya kearah kandang yang akan menjadi tempat tinggalnya nanti.


"Kak ishhh"


"Tahan sebentar sayang. Gigitlah pundakku jika kamu merasa sakit"


Atha terus mendorong senjatanya perlahan. Karena masih sangat sempit, Atha terus berusaha untuk menjebol gawang sang istri.


"Ahhhh kakkk"


"Ahhhh sayang sem pit banget"


Pertempuran pun terjadi. Suara horor terus bersautan dari dalam kamar Atha.


"Ahhhh ahhhh"


"Uhhhhhhh. Seill aa"


"Kak mau pipis"


"Barengan sayang bentar lagi tahan dulu"


"Kakakkkk"


"Ahhhh seilaaaa"


_____


Dah ah.....panasssss


Jangan lupa jempolnya


Happy reading