
Mbah Dukun, tolong lihat jodohku
Apa mungkin Si Lela menjadi milikku?
Mbah Dukun, jampe-jampekan aku
Agar Si Lela semakin cinta padaku
Dan tak lupa doaku paling utama
Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
Semoga cinta kami abadi
Selamanya ... yeess!
Ghaydan dan Devin terus mendendangkan lagu ini setelah mendengar dari Keynan jika Icha memanggil Afnan dengan sebutan simbah.
"Kalau mbah dukun asli kita disembur air putih. Kalau sama yang ini nih disembur bir bintang hahaha"
"Iya bang dev yang cap kepala botak itu kan hahaha"
"Kalian disembur pake air cucian beras"
"Jiah mbah dukunnya ngamuk. Awas disantet loe ghay hahaha"
"Kalian berbahagialah sekarang. Tunggua saja uncle dapat celah buat ngebales kalian"
"Kami tunggu saat itu uncle"
Afnan masih kesal karena Icha terus saja memanggilnya simbah kung. Jika di Indonesia Afnan merdeka karena semua makanan kesukaannya mudah didapatkan.
"Eneng masak apa"
"Makanan sunda pesenan neng Icha"
"Bau bau sambal terasi ini"
"Iya"
Ini adalah hidangan yang diinginkan oleh Icha. Mata Afnan berbinar melihat jengkol dan petai disana.
"Wah makanan lezat ini. Emang Icha makan kayak ginian neng"
"Iya tuan afnan"
"Bukannya dia ngidam makanan barat"
"Siapa bilang"
Eneng langsung menceritakan semua yang dialami oleh Icha selama hamil. Afnan langsung bahagia karena doanya terkabul keturunan Malik berselera makanan biasa. Bahkan Eneng juga menceritakan tentang lasagna petai dan tragedi Jay harus joged dan bernyanyi dangdut dihadapan keluarga mereka.
"Hahaha. Sayang sekali saya tidak melihat langsung. Ingin rasanya saya melihat itu semua neng"
"Berdoa saja neng Icha gak mood tuan"
Afnan sudah menyiapkan piring untuknnya. Eneng mencoba mengingatkan jika itu makanan pesanan Icha dan diminta untuk tidak menyentuhnya dulu. Tak lama keluarga lainnya ikut berkumpu.
"Wuih makan besar ini"
"Sudah ayo kita makan dulu"
Icha duduk disofa tengah karena perutnya yang semakin besar membuat dia susah duduk di kursi ruanh makan. Dan semua anggota keluarga mengikuti Icha duduk diruang tengah beralaskan katpet. Eneng juga sudah menyiapkan semua makanan untuk keluarga majikannya. Tak lupa aturan lama keluarga ini. Semua karyawan harus makan diwaktu yang sama dengan mereka makan dan menu yang sama juga.
"Abah tolong ambilin petai sama jengkolnya"
"Iya sayang tapi sambelnya dikurangi ya. Kan kemarin dokter nganjurin gitu"
"Okay"
Afnan cekikikan melihat Icha makan dengan lahap jengkol beserta bala tentaranya.
"Tak apalah aku kalian panggil uwak ataupun simbah, karena anak kalian ternyata menjadi pengikutku bule rasa lokal hahaha. Hidup petai jengkol. Hidup sambel terasi"
Icha cuek saja karena sedang menikmati makanannya. Saat Afnan akan mengambil sambel terasi untuk kedua kalinya Icha baru berkomentar.
"Jangan banyak-banyak mbah kung uda tua sayang lambung"
"Lambung mbah kung aman saja kok. Mumpung disini mwnikmati hidup"
"Dasar bule ndeso. Lihat trasi kayak lihat berlian. Dan Icha baru tau selera makan bule itu kayak kuli bangunan. Amit amit"
Beruntung semua sudah selesai makan kecuali Afnan yang entah sudah kali keberapa dia mengisi piringnya dengan nasi berlaukan ikan dan sambal terasi tak lupa jengkol dan petai.
"Hahaha. Rash bini loe emang the best"
Arash hanya diam saja. Menyaksikan drama baru untuk Afnan.
"Tak masalah kamu mau bilang mbah kung kuli bangunan. Tapi yang terpenting selera anak kalian mengikuti seleraku. Itu sudah sangat membuatku bahagia. Oya kalianau hadiah apa akan mbah kung kabulkan. Hari ini mbah kung bahagia"
Mendengar kata hadiah mereka semangat untuk meminta barang-barang mewah. Kapan lagi bisa menguras dompet Afnan. Afnan bahkan berdendang karena merasa calon anak Arash bisa membalaskan kekesalannya selama ini.
"Icha kamu mau sesuatu"
Icha diam menatap netra sang suami. Arash hanya tersenyum dan meminta agar Icha memutuskan sendiri hadiah apa yang diinginkannya.
"Kalau masalah uang, Icha yakin suami icha bisa kasih. Barang mewah hal yang mudah untuk mas arash. Jadi untuk saat ini icha belum mengingikan sesuatu mbah kung. Nanti kalau Icha kepingin sesuatu icha ngomong deh"
"Oh baiklah. Jangan sungkan mbah kung mu ini tak kalah kaya dengan suamimu icha"
"Ya ya ya. Anggap saja benar"
Mereka beralih ke ruang televisi sambil bersantai. Icha yang lelah ingin segera istirahat. Apalagi acara Chila sudah semakin dekat. Dia tak ingin nanti kelelahan dan sakit.
"Icha tunggu bentar".
"Kenapa mbah kung"
"Sudah memikirkan siapa nama calon anak kalian"
"Mbah kung mau kasih ide nama untuk anak kalian"
"Siapa memangnya"
"Kalau mereka kembar cowok semua kasih nama Sukimin dan Sukiman. Dan jika mereka wanita semua, kalian kasih nama Jamilah sama Juminten. Baguskan"
"Hemm bisa diatur tapi ada syaratnya"
"Apa"
"Mbah kung ganti nama bukan Afnan lagi tapi Sukijo"
"Gak gak. Mana ada bule namanya sukijo"
"Terus kenapa memberikan ide nama anak kamu seperti itu. Sebelum mbah kung memberikan ide sebaiknya terapkan pada diri sendiri terlebih dahulu"
Arash langsunh mencium kening sang istri dan langsung menuntunnya masuk kedalam kamar. Sedangkan diluar ruangan Afnan kesal karena Icha bisa membalikkan keadaan.
"Ternyata istri arash sangat ganas ya"
"Loe belum tau aja icha itu seperti apa. Jadi nikmatilah keadaan ini"
"Tak masalah yang penting selera calon si kembar sama denganku. Oh bahagianya hatiku"
Pagi hari telah menjelang. Seperti biasa semenjak hamil dan kembali ke tanah air, Icha selalu menyempatkan jalan pagi ditemani oleh Arash. Itu juga disarankan oleh Jasmine dan Melany.
"Sayang pagi ini mau makan apa"
"Dedek pengen buryam tapi gak pake ayam"
"Terus mau diganti apa"
"Daging bebek goreng"
"Ya sudah. Kita beli buburnya dulu. Terus bebeknya masak sendiri dirumah gimana"
"Iya ayah. Tapi Bunda pengennya yang masak si mbah kung"
"Hmm bunda memang cerdas"
"Yuk pulang uda siang"
"Ayo sayang"
Icha hanya akan memanggil Arash abah jika didalam rumah saja. Diluar rumah dia akan memanggil Ayah. Sepertinya anak-anak mereka tau bagaimana cara menjaga kehormatan orangtuanya.
Tiba dirumah, mereka sedang melihat Afnan menggendong Serkan. Tanpa basa basi Icha langsung mengungkapkan keinginannya itu.
"Mbah kung. Icha mau nagih janji"
"Janji apa"
"Apapun permintaan icha akan dituruti"
"Iya. Sekarang kamu sudah ada permintaan"
"Sudah. Tapi janji gak boleh menolak"
"Pasti. Apapun itu akan mudah buat mbah kung"
"Oke. Icha minta mbah kung buatkan icha buryam tapi ayamnya diganti pake bebek. Dan bebek itu harus mbah kung tangkap sendiri dan mbah kung sembelih sendiri. Pokoknya semua proses awal memasak mbah kung lakuin sendiri"
Afnan hanya melongo mendengar ucapan Icha. Arash menahan tawanya. Sepertinya anak mereka sama liciknya dengan dirinya.
"Bisa diganti dengan yang lain"
"Nggak Icha lagi pengen makan itu"
"Tapi itu sepertinya susah"
"Katanya semua bisa dilakukan oleh seorang mbah kung. Ternyata cuma hoak. Daddy saja bisa menuruti permintaan Icha. Masa mbah kung gak bisa"
Afnan paling tidak suka jika dibandingkan dengan oranglain terutama dengan Jay. Afnan langsung menyetujui tanpa berfikir seperti apa proses sebenarnya.
"Baik mbah kung setuju. Itu sangat mudah bagi mbah kung. Kamu tunggu nanti setelah siap mbah kung panggil"
"Oke"
Arash yang melewati uwaknya berbisik kepada uwaknya.
"Selamat berjuang uwak"
Afnan langsung meminta mang toyib untuk diantar membeli bebek hidup dipasar dan bahan bahan lainnya. Setelah kembali dari pasar peejuangan Afnan untuk menyembelih bebek adalah sesuatu yang sanngat menegangkan. Karena afnan takut darah.
"Duh sialan loe bek kenapa buang hajat ditangan gue. Mau mati aja ngulah"
Semua keluarga hanya boleh menyaksikan tanpa boleh membantu. Karena tragedi buang hajat sang bebek. Afnan tak sengaja melepaskan bebek itu. Jadilah Afnan mengejar ngejar bebek itu.
Icha yang melihat tertawa dan begitu juga yang lainnya. Mereka bersorak sorak. Akhirnya afnan bisa menangkap bebek itu. Dengan kesal langsung menyembelihnya. Namun sesuatu terjadi setelah bebek itu dipenggal.
"Mati kau. Siapa suruh ngerjain gue. Kupenggal kau sekarang"
Darah segar mengalir. Tangan afnan yang terkena darah diangkat olehnya. Perlahan kepalanya pusing dan terjatuh disamping sang bebek.
"Hah pingsan"
Melihat afnan tak bergerak mereka bukan langsung menolong malah menertawakannya.
"Kalua gini kapan Icha mau makan. Ternyata imannya kalah setelah melihat darah. Cemen"
_______
Ada yang mau nyumbang nama untuk calon anak Icha
Jangan lupa jempol
Happy reading